Kami Tidak Harus Memilih Salah Satu dari Mereka

SETIDAKNYA sejak 12 ribu tahun sebelum Masehi negeri seluas 1,1 kilometer persegi di belahan utara Amerika Selatan ini telah didiami penduduk pribumi, dari bangsa Chibcha, Muisca, Quimbaya, Tairona, dan Inca yang berkembang di baratdaya Kolombia modern.

Pengelana Spanyol Alonso de Ojeda melihat wilayah ini pertama kali ketika melintasinya di tahun 1499. Tak lama kemudian, pengelana Spanyol berikutnya, Juan de la Cosa, mendarat di Tanjung Sails, La Guajira. Tiga tahun kemudian, giliran Vasco Nunez de Balboa menduduki wilayah di sekitar Sungai Atrato, satu dari begitu banyak sungai di Kolombia.

Hingga pertengahan abad ke-16 kekuasaan kolonial Spanyol berkembang pesat. Negeri-negeri di kawasan itu disatukan di bawah payung Kerajaan Baru Granada (Nuevo Reino de Granada) dengan ibukota Santa Fe de Bogota.

Kami Tidak Harus Memilih Salah Satu dari Mereka

Dubes Tunisia: Faktanya, Persaingan Dagang Mempengaruhi Seluruh Dunia

GELOMBANG demonstrasi di Tunisia semakin menjadi oleh sebuah peristiwa di Sidi Bouzid, sekitar 300 kilometer sebelah selatan Tunis, pada 17 Desember 2010. Seorang penjual buah, Mohamed Bouazizi (26), membakar diri di depan kantor polisi sebagai tanda protes atas tindakan aparat menyita gerobak buahnya.

Bouazizi sempat dilarikan ke sebuah rumah sakit di dekat Tunis untuk mendapatkan perawatan intensif. Presiden Zine El Abidin Ben Ali menjenguk Bouzizi pada 28 Desember. Namun karena luka yang begitu parah, Bouazizi meninggal dunia pada 4 Januari 2011.

Dubes Tunisia: Faktanya, Persaingan Dagang Mempengaruhi Seluruh Dunia

Dubes Dridi: Indonesia Dukung Transisi Demokrasi Tunisia

TERLETAK di Afrika Utara, diapit Aljazair, Libya dan Laut Mediterania, Republik Tunisia memiliki hubungan istimewa dengan Republik Indonesia.

Pemimpin gerakan kemerdekaan Tunisia, Habib Bourguiba, berkunjung ke Jakarta dan bertemu Bung Karno pada tahun 1951. Sejak itu, Indonesia secara aktif memberikan dukungan untuk kemerdekaan Tunisia. Puncak dari upaya diplomatik Tunisia untuk meraih kemerdekaan adalah lobi yang dilakukan di arena Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Setahun kemudian, Prancis angkat kaki dari negeri itu.

Dubes Dridi: Indonesia Dukung Transisi Demokrasi Tunisia

Dubes Jepang: Tidak Ada Hubungan Bertetangga Yang Bebas Dari Masalah

UNIPOLARISME pasca Perang Dingin tak berumur panjang. Hanya dalam waktu kurang lebih satu dekade berbagai kekuatan ekonomi dan politik baru bermunculan. Di Asia Timur, China yang untuk waktu cukup lama memilih menutup diri di balik tirai bambu secara mengagetkan muncul ke permukaan.

Tidak hanya meningkatkan anggaran militer berkali lipat, China juga mengumumkan ambisi menjadi lokomotif Jalur Sutra baru yang dikenal dengan nama One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI). Seperti China, Jepang juga tidak mau kalah.

Dubes Jepang: Tidak Ada Hubungan Bertetangga Yang Bebas Dari Masalah

Dubes Jepang: Kompetisi Selalu Bagus

PADA bulan Oktober 2015 pemerintah Indonesia memberikan proyek kereta api cepat (High Speed Railways/HSR) Jakarta-Bandung kepada Republik Rakyat China (RRC) yang belakangan juga tampak semakin agresif mendekati Indonesia.

Keputusan ini mengecewakan pemerintah Jepang yang merasa telah terlibat cukup jauh. Untuk mengobati kekecewaan Jepang itu, Presiden Joko Widodo mengutus Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ketika itu, Sofyan Djalil, bertemu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Dubes Jepang: Kompetisi Selalu Bagus

Dubes Jepang: Bila Ekonomi Tumbuh 6,5 Persen, Indonesia Nomor 4 Terkuat Di Dunia

NIHON atau Nippon. Negeri matahari terbit. Kemenangan dalam perang melawan Kekaisaran Rusia di Manchuria dan Semenanjung Korea pada 1904-1905 melambungkan reputasi Kekaisaran Jepang sebagai saudara tua Asia. Kemenangan ini menyempurnakan supremasi Jepang di kawasan Asia Timur sejak merebut Formosa dari China dalam perang 1895.

Jepang sudah memperlihatkan tanda-tanda ke arah kegemilangan sejak Kaisar Meiji yang berkuasa di pertengahan abad ke-19 memulai restorasi besar-besaran yang berdampak pada penguatan sistem politik yang lebih tersentralisir dan pertumbuhan ekonomi yang ditopang industrialisasi demi mengejar ketertinggalan dari dunia Barat.

Dubes Jepang: Bila Ekonomi Tumbuh 6,5 Persen, Indonesia Nomor 4 Terkuat Di Dunia

Trump Membuat Hubungan AS dan Kuba Kembali Memburuk

eb456c24-2f8e-4013-a3b1-de54b673a249

NIRSIA Castro Guevara bertugas sebagai Dutabesar Republik Kuba untuk Republik Indonesia sejak bulan Agustus 2015. Sebelum dikirim pemerintahan Raul Castro ke Jakarta, wanita kelahiran Provinsi Granma, 4 Maret 1956, ini pernah menjadi Dutabesar Kuba di Republik Sri Lanka dan Republik Maladewa (2008-2012) dan di Kerajaan Kamboja, Kerajaan Thailand dan Republik Myanmar (2002-2006). Trump Membuat Hubungan AS dan Kuba Kembali Memburuk

Dubes An Kwang Il: Kami Sudah Siap Menghadapi Situasi Paling Buruk

Screen Shot 2017-10-07 at 12.37.38 AM

TANGGAL 29 Agustus 2017 Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK) atau Korea Utara meluncurkan misil antarbenua jarak menengah Hwasong-12. Melesat sejauh 2.700 kilometer dan mencapai titik tertinggi 550 meter, Hwasong-12 melintasi Hokkaido, Jepang, sebelum akhirnya menghujam satu titik di Samudera Pasifik, sekitar 1.180 kilometer dari wilayah Jepang.

Peluncuran Hwasong-12 ini adalah respon Korea Utara terhadap latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Republik Korea atau Korea Selatan di kawasan perbatasan. Latihan militer Ulji Freedom Guardian dipandang Korea Utara sebagai provokasi dan ekspresi kebijakan permusuhan AS yang tiada henti terhadap negeri itu.

Provokasi AS yang diikuti respon Korea Utara ini dikhawatirkan membuat pembicaraan damai Utara-Selatan kembali ke titik nol.

Berikut adalah penjelasan Dutabesar RRDK untuk Republik Indonesia, YM An Kwang Il, di Kedubes Korea Utara, Jalan Teluk Betung, Menteng, Jakarta, dua hari setelah peluncuran Hwasong-12.

Bisa Anda jelaskan apa yang menjadi latar belakang dari peluncuran rudal antarbenua jarak menengah Hwasong-12 tersebut?

Alasan utama peluncuran Hwasong-12 karena Amerika Serikat mempertahankan kebijakan permusuhan mereka pada Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK). Terutama setelah Donald J. Trump terpilih sebagai presiden, kebencian AS pada RRDK semakin memuncak. Mereka terus-menerus melakukan latihan gabungan yang berbahaya serta memasok asset pukulan strategi ke Semenanjung Korea, dengan demikian membawa situasi ke ambang perang. Aksi mereka ini tidak bisa dibiarkan.

Kami sudah sampaikan agar AS tidak melakukan tindakan provokatif seperti itu. Tetapi mereka tidak peduli dengan peringatan kami, mereka kembali melakukan latihan perang Ulji Freedom Guardian.

Akhirnya pemerintah kami memutuskan untuk memperlihatkan kemampuan militer yang kami punyai dengan merencanakan serangan ke Guam, Pangkalan Militer Amerika. Ini adalah adalah babak pertama respon kami terhadap Latihan Gabungan militer AS-Korea Selatan. Ini akan menjadi langkah pertama operasi militer tentara kami di kawasan Pasifik.

***

Tahun lalu, pemerintahan Korea Selatan memberi restu pada Amerika Serikat untuk menempatkan persenjataan canggih Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Penempatan THAAD dimulai awal tahun 2017 dan memicu protes tidak hanya dari Korea Utara, tapi juga dari Republik Rakyat China (RRC) dan Republik Federasi Rusia. Bagi China dan Rusia pun kehadiran THAAD adalah ancaman bagi wilayah mereka.

Sementara Korea Utara, membalas kehadiran THAAD dengan meningkatkan kapasitas sistem pertahanan. Pada tanggal 4 Juli Korea Utara meluncurkan misil antarbenua jarak jauh Hwasong-14, diikuti peluncuran kedua pada tanggal 28 Juli. Korea Utara berharap, uji coba Hwasong-14 yang memiliki jarak jelajah sampai Alaska dan Daratan Amerika itu dapat menghentikan tekanan AS.

***

Apakah latihan militer AS dan Korea Selatan ini mempengaruhi pembicaraan damai dengan Korea Utara terlebih setelah pemerintahan baru di Amerika dan Korea Selatan terbentuk?

Kami mengobservasi sikap dan pernyataan-pernyataan presiden baru di AS juga presiden baru di Korea Selatan. Kami tidak melihat satu pun kebijakan mereka yang positif dalam rangka mencari jalan keluar yang baik terhadap persoalan di Semenanjung Korea secara tuntas.

Kami sudah memilih membangun persenjataan nuklir untuk mempertahankan sistem dan pemerintah kami dari ancaman nuklir dan kebijakan permusuhan Amerika yang dilaksanakan sampai sekarang ini. Senjata nuklir kami bukan alat tawar-menawar di meja dialog atau negosiasi yang bertujuan untuk melucuti persenjataan kami.

Pemerintahan Donald Trup sedang memanaskan ketegangan di Semenanjung Korea dengan mengabaikan dasar dari masalah ini, dan mendorong kelahiran berbagai resolusi PBB dengan memobilisasi masyarakat internasional untuk lebih menekan negara kami dari segi militer dan ekonomi kami. Mereka melakukan latihan perang yang mengancam kami dan di saat yang sama berbicara tentang dialog. Ini tidak masuk akal. Tak ada harapan.

Presiden Moon Jaein pernah mendampingi Presiden Roh Moohyun (2003-2008) yang dianggap memiliki kebijakan yang lebih bersahabat dengan RRDK. Apakah menurut Anda, Moon Jaein tidak mewarisi semangat seniornya?

Saat baru berkuasa, Moon Jaein sempat menyampaikan pernyataan-pernyataan yang mengisyaratkan bahwa dirinya akan melakukan perubahan dan mengambil kebijakan yang berbeda dari Presiden Park Geunhye sebelumnya.

Tetapi faktanya, kami tidak melihat ada perubahan dan perbedaan. Dari sikap mereka sejauh ini kami tidak dapat melihat titik apa pun yang positif untuk menyelesaikan masalah secara tuntas dengan mengedepankan posisi dan kepentingan bangsa Korea. Sebaliknya mereka membikin hubungan Utara-Selatan lebih buruk dengan mengikuti sterategi Amerika. Moon Jaein mengunjungi AS dan dia mengatakan bahwa hubungan Utara-Selatan akan berjalan sesuai kerangka perjanjian Korea Selatan dan AS. Sikap dan pernyataannya itu membuat banyak orang kehilangan harapan.

Kalau dia ingin benar-benar memperbaiki hubungan antara Utara dan Selatan, dia harus mengubah mindset. Walaupun Korea Selatan sering mengatakan ingin menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea dan menyatukan bangsa Korea, tetapi pikiran mereka tidak terlepas dari kontrol dan pengaruh AS. Inilah masalah yang sebenarnya.

Dua pekan lalu, saat berpidato menyambut 100 hari pemerintahannya, Presiden Moon Jaein mengatakan tidak akan membiarkan perang kembali terjadi di Semenanjung Korea dan tidak akan memperbolehkan AS mengambil tindakan militer tanpa izin Korea Selatan. Bagaimana menurut Anda?

Dia bisa berkata apapun. Tetapi, Korea Selatan tidak punya power untuk mengontrol situasi. Karena Korea Selatan benar-benar dikontrol oleh AS.

Dari catatan sejarah kita bisa melihat AS selalu mengabaikan permintaan Korea Selatan.

Masyarakat internasional merasa takut dan khawatir ketegangan di Semenanjung Korea bisa membuahkan perang dalam skala besar. Bagaimana pandangan masyarakat Korea Utara?

Memang ketika saya berada di luar Korea saya bisa menyaksikan masyarakat di luar sangat khawatir dengan situasi di Semenanjung Korea. Mereka bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya setelah kami menjawab provokasi AS dan Korea Selatan dengan meluncurkan rudal kami ke Pasifik. Apakah akan terjadi perang?

Kami tidak ingin perang. Tapi jika kami terpaksa berperang, kami pasti menang. Inilah jawaban kami. Alasan kami yang sedang memperkuat kemampuan senjata nuklir pun berada pada posisi ini (untuk menghadapi kemungkinan terpaksa berperang).

Banyak pelajaran dalam sejarah yang memperlihatkan bila lemah, kita tak bisa mempertahankan kedaulatan negara. Kalau Amerika memilih opsi yang berbahaya, kami juga mempersiapkan serangan terhadap Amerika sebagai pilihan terburuk. Apakah akan terjadi perang atau tidak, ini sepenuhnya tergantung sikap Amerika.

Masyarakat kami tidak khawatir tentang perang. Mereka sibuk dengan berbagai program pembangunan yang tengah digalakkan pemerintah. Mereka percaya bahwa mereka memiliki pemerintahan yang kuat dan dapat diandalkan, serta angkatan bersenjata yang juga kuat dan mampu menghadapi berbagai kemungkinan terburuk, termasuk invasi negara lain. Masyarakat kami sudah siap menghadapi keadaan darurat.

Beralih ke hubungan antara Indonesia dan Korea Utara saat ini, di tengah krisis Semenanjung Korea. Bagaimana hubungan kedua negara menurut Anda?

Sangat baik. Rakyat Korea punya perasaan baik terhadap bangsa Indonesia sebagai tempat asli Bunga Kimilsungia. Saya bisa merasakan itu saat saya berkunjung ke banyak kota di Indonesia. Saat bertemu dengan masyarakat awam saya sering bertanya, apa yang mereka ketahui tentang negara kami.

Mereka tahu tentang Kim Il Sung, pendiri negara kami. Mereka tahu hubungan baik Presiden Sukarno dengan Presiden Kim Il Sung di masa lalu. Juga tahu tentang bunga Kimilsung yang diberikan Presiden Sukarno pada Presiden Kim Il Sung.

Ini adalah pondasi yang dibutuhkan untuk hubungan baik kedua negara.

Sejak puluhan tahun yang lampau, kedua negara kita terus memajukan hubungan persahabatan dengan menghargai sejarah dan tradisi antara kita, tidak peduli perubahan situasi.

Saya kira tugas kami yang penting adalah terus memajukan hubungan bilateral kita secara multidimensi dengan menghargai perasaan sahabat, sejarah dan teradisi cukup lama antara kita setinggi-tingginya.

Akan tetapi ada juga kelompok yang ingin memasang ganjal pada hubungan bilateral kita. Kalau sudah paham apa akarnya masalah Semenanjung Korea, bisa saja mengetahui dengan mudah apa masud mereka sebenarnya.

***

Menurut catatan , sikap Indonesia terhadap ketegangan di Semenanjung Korea tidak dapat dikatakan netral. Dalam pertemuan Asean Regional Forum (ARF) di Filipina awal Agustus lalu, misalnya, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi secara terbuka mengecam uji coba misil Hwasong-14 yang dilakukan Korea Utara.

Pemerintah Indonesia mengabaikan konteks besar yang melatari ketegangan di Semenanjung Korea dan mengabaikan hak Korea Utara untuk membela diri dari tekanan negara lain. Indonesia, bersama negara-negara ASEAN lainnya mengecam Korea Utara yang dianggap tidak mematuhi Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama ASEAN yang ditandatangani negara itu tahun 2005. Amerika Serikat yang memicu ketegangan di Semenanjung Korea dan mempertahankan kebijakan permusuhan terhadap Korea Utara sama sekali tidak diberi teguran apapun, walaupun sebenarnya menandatangani Perjanjian yang sama.

***

Baru-baru ini seorang budayawan Indonesia, Jaya Suprana, berkunjung ke Pyongyang. Beliau berkeinginan memperkuat dan melebarkan hubungan masyarakat kedua negara di bidang kebudayaan. Bagaimana perasaan Anda tentang hal itu?

Saya suka gagasan itu. Saya selalu memikirkan berbagai program pertukaran kebudayaan. Karena pertukaran kebudayaan adalah hal yang paling dibutuhkan untuk memperkuat hubungan kedua negara.

Bila masyarakat awam secara aktif melakukan pertukaran kebudayaan dan saling mengunjungi, ini akan menjadi pondasi kebijakan pemerintah. Ini bagus untuk membangun dan membina hubungan Korea Utara dan Indonesia.

***

Dalam kunjungan ke Pyongyang, budayawan Jaya Suprana dan istri Aylawati Sarwono menyaksikan konser grup musik Samjiyon yang diselenggarakan bersamaan dengan Pertemuan 2017 untuk Mengenang Orang Besar Gunung Paektu.

Pendiri Jaya Suprana Institute itu juga berkunjung ke Sekolah Persahabatan Indonesia-Korea dan menyaksikan siswa sekolah itu menyanyikan lagu-lagu Indonesia dengan sangat baik. Tempat lain yang dikunjungi Jaya Suparana dan istri adalah taman kanak-kanak khusus tempat pembibitan pianis di Korea.

Jaya Suprana berencana mengundang seorang painis muda Korea dan menyelenggarakan konser di Jakarta tahun depan. Selain itu, Jaya Suprana juga berencana mengirimkan tim tari untuk mengikuti Festival Musim Semi pada bulan April 2018.

Dubes Korut: Malaysia Lebih Percaya Informasi Pihak Ketiga

744458_09200512032017_17190542_10155006121161668_6009590915962505908_n

HUBUNGAN Repulik Rakyat Demokratik Korea (RRDK) atau Korea Utara dengan Malaysia memburuk setelah peristiwa kematian seorang pria warganegara Korea Utara di Bandara International Kuala Lumpur pertengahan Februari lalu. Dubes Korut: Malaysia Lebih Percaya Informasi Pihak Ketiga

Little Story on Indonesia and TPP

500x304xThe-TPP.png.pagespeed.ic.Xr3T8Vb4WV

Friend [10/29, 5:33 PM]: You free to lunch tomorrow. Didn’t get chance to hear your Korea utara stories.

Me [10/29, 5:57 PM]: Unfortunately I will be in Kemang Village for meeting at lunch, Sir…

Friend [10/29, 6:03 PM]: Ok when u have free moment. Pres J surprised all his officials on TPP. We touched on briefly. Jkt Post headline today quoting Djisman is right out of my thoughts. No 1 will need to front up to DPR with all the UUs changes to meet TPP requirements. Not easy. Who are advising him? He could have said we are still studying…why rush to commit? He will lose further credibility đź‘Ž

Me [10/29, 6:06 PM]: Yes Sir… Little Story on Indonesia and TPP

Ternyata, Pernyataan “Timor Leste Ingin Bergabung dengan Indonesia” Disalahartikan

Dalam dua hari terakhir sebagian publik Indonesia dikagetkan dengan berita yang mengatakan bahwa Perdana Menteri yang juga mantan Presiden Timor Leste, Xanana Gusmao, ingin Timor Leste kembali bergabung dengan Indonesia. Ternyata, Pernyataan “Timor Leste Ingin Bergabung dengan Indonesia” Disalahartikan

Post Script: Tentang Politik yang Dibikin Sangat Sederhana

Bagi saya yang pernah kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan di era 1990an silam, wacana tentang otonomi daerah, titik tekannya, dan metode2 atau sistem2 yang bisa digunakan dalam praktiknya, termasuk soal pemekaran wilayah, adalah hal biasa.

Saya punya pandangan sendiri mengenai diskursus ini. Post Script: Tentang Politik yang Dibikin Sangat Sederhana

Sedikit tentang Nasionalis Palsu dan Ayat Setan yang diwarnai Broery dan Melati dari Jayagiri

Saya baru kembali dari Medan.

Dalam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju rumah, saya teringat beberapa pembicaraan dengan sejumlah kawan-kawan di Medan tentang persoalan-persoalan pasca Pilpres 2014, dan yang paling mutakhir soal UU Pilkada yang menjadi landasan bagi sistem baru pemilihan kepala daerah. Sedikit tentang Nasionalis Palsu dan Ayat Setan yang diwarnai Broery dan Melati dari Jayagiri

Setelah Elektabilitas Bowie Meningkat Tajam

Ajakan SBY ke Mega itu serius kah?

Koalisi bisa tinggal dua kubu JKW dan Bowie. Yang pending Demokrat, Hanura dan Golkar. Bisa saja ini bergabung. Mega tetap gak mau dengan SBY. Gak percaya dia.

Golkar Gerindra bagaimana? Kayaknya ada yang bekerja untuk itu. Setelah Elektabilitas Bowie Meningkat Tajam

Dialog tentang Nasionalisme 2.0

Mejuah-juah. Coba download JKW4P Media Monitoring di google play store. App ini scan sekitar 100-150 ribu new artikel setiap hari. Kalo yang seperti ini kita buat juga untuk Brand, menarik gak loe rasa?

Mejuah juah Bang. Bang, bantu carikan yang pas untuk Jokowi.

Carikan apa nih?

Wapres yang pas untuk Jokowi, sehingga pemerintahan berikutnya benar-benar pro rakyat.

Gak dilelang? Banyakan nama yang udah muncul banyak dosa/skeleton masa lalunya. Kriteria apa nih?

Trisakti. Jangan dilelang. Nanti yang menang uang. Dialog tentang Nasionalisme 2.0

Saturday Morning Discourse with AS Hikam

Pembicaraan Sepintas tentang Papua, Nasionalisme, Sejarah dan Metodologi yang Terjajah

Dimana Kin?

Jakarta, Guh Pembicaraan Sepintas tentang Papua, Nasionalisme, Sejarah dan Metodologi yang Terjajah

Sedikit tentang Laut Nusantara dan Revolusi Kelautan

Laut Indonesia, menurut Perdana Menteri Juanda, bukanlah pemisah pulau yang satu dengan pulau lainnya di wilayah Republik Indonesia. Sebaliknya, ia adalah faktor yang menghubungkan dan karenanya juga mempersatukan pulau-pulau di negara ini. Sedikit tentang Laut Nusantara dan Revolusi Kelautan

“Abang Mulai Percaya tentang Strategi Mafia Berkeley”

Abg mulai percaya ttg strategi Mafia Berkeley

🙂 Ngeri memang. SBY terus terpojok

Boediono lg di Canberra, Gerakan utk Ibu Sri Mulyani kabarnya dah mulai bergerak. “Abang Mulai Percaya tentang Strategi Mafia Berkeley”

Tentang Krisis Korea dan Pemberitaan Media yang Cenderung Pro Barat

2:21pm
saya sepakat pak dengan komunitas internasional termakan propaganda AS-Korsel

2:23pm
trims

2:23pm
selama ini framing media cenderung tdk berimbang, terlalu tendensius Tentang Krisis Korea dan Pemberitaan Media yang Cenderung Pro Barat

Tentang: Semenanjung Korea, China dan Amerika

6.46pm
Yuyuk
terima kasih tlh dikonfirmasi, td saya tlh melihat & membaca content dr blok anda Tentang: Semenanjung Korea, China dan Amerika

Emang Indonesia Ini Hanya Ada Kasus Century?

Risco Sirait
Emang Indonesia ini hanya ada kasus Century? Coba main ke Papua, NTT dan NTB masih banyak masalah yang jauh lebih mulia dari Century. Emang Indonesia Ini Hanya Ada Kasus Century?

Pembicaraan Singkat Mengenai Wartawan Infotainment, Luna Maya, AJI dan PWI, Jurnalis Profetik dan Crusading Journalist yang Menabrak-nabrakkan Kepala ke Tembok China

10:04pm
Ahmad
guh, gimana dengan wartawan infotainmen, apa mereka bisa disebut wartawan?? Pembicaraan Singkat Mengenai Wartawan Infotainment, Luna Maya, AJI dan PWI, Jurnalis Profetik dan Crusading Journalist yang Menabrak-nabrakkan Kepala ke Tembok China

Wawancara Bila SBY dan Megawati Berkoalisi

megaUNTUK menelusuri kemungkinan koalisi Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono saya menghubungi beberapa pihak di Jakarta yang saya anggap memahami konstelasi politik di tanah air belakangan ini.

Beberapa saya hubungi via Skype, dan beberapa lainnya saya hubungi via FB.

Berikut ini adalah kutipan pembicaraan saya dengan salah seorang diantara mereka. Sebut saja Robert.

10:50pm
Teguh
aloha

10:51pm
Robert
aloha too
apa kabar kawan Wawancara Bila SBY dan Megawati Berkoalisi

Pemilu 2009: Pembicaraan Dua Pria tentang Tokoh-tokoh Politik juga BLT

Pria Satu
coi, kebetulan lu OL
gua mau tanya… jadi gmana konstelasi terakhir Pemilu 2009: Pembicaraan Dua Pria tentang Tokoh-tokoh Politik juga BLT

Timur, Autis, ADHD, Farah, Algojo dan Tante Oom-Pasikom

intansantosa
halo Timur, Autis, ADHD, Farah, Algojo dan Tante Oom-Pasikom

Bila Tuhan Bisa Gantian

INI cerita tentang Farah yang tengah membangun konsep Tuhan di benaknya. Bila Tuhan Bisa Gantian

Setiap Anak adalah Unik, Jangan Pernah Membandingkan

YOU currently appear offline to intansantosa

intansantosa Setiap Anak adalah Unik, Jangan Pernah Membandingkan

Obrolan Menjelang Eksekusi Amrozy

This is a combo pictures of convicted Bali bombers, from left to right, Ali Ghufron, Imam Samudra and Amrozi Nurhasyim who are currently on death row, taken during Eid al-Fitr prayer marking the end of the holy fasting month of Ramadan at Batu prison on Nusakambangan island, Indonesia, Wednesday, Oct. 1, 2008. The militants, who maintain their acts were meant to punish the U.S. and its Western allies for alleged atrocities in Afghanistan, have exhausted the appeals process and could be put to death within weeks. The Oct. 2002 attacks on the resort island killed 202 people, mostly foreign tourists. (AP Photo/Dita Alangkara)

TADI malam, seorang teman di Jakarta tak dapat terlelap dan memejamkan matanya barang sekejap. Hatinya sedang gundah gulana menyaksikan keadaan di tanahair yang semakin aneh dan membingungkan. Dalam obrolan yang difasilitasi facebook, teman itu menyampaikan keluhannya tentang beberapa hal mulai dari ancaman bom, sampai tingkah laku politisi yang semakin norak.

Obrolan Menjelang Eksekusi Amrozy