Dubes An Kwang Il: Kami Sudah Siap Menghadapi Situasi Paling Buruk

Screen Shot 2017-10-07 at 12.37.38 AM

Tanggal 29 Agustus lalu Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK) atau Korea Utara meluncurkan misil antarbenua jarak menengah Hwasong-12. Melesat sejauh 2.700 kilometer dan mencapai titik tertinggi 550 meter, Hwasong-12 melintasi Hokkaido, Jepang, sebelum akhirnya menghujam satu titik di Samudera Pasifik, sekitar 1.180 kilometer dari wilayah Jepang.

Peluncuran Hwasong-12 ini adalah respon Korea Utara terhadap latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Republik Korea atau Korea Selatan di kawasan perbatasan. Latihan militer Ulji Freedom Guardian dipandang Korea Utara sebagai provokasi dan ekspresi kebijakan permusuhan AS yang tiada henti terhadap negeri itu.

Provokasi AS yang diikuti respon Korea Utara ini dikhawatirkan membuat pembicaraan damai Utara-Selatan kembali ke titik nol.

Berikut adalah penjelasan Dutabesar RRDK untuk Republik Indonesia, YM An Kwang Il, di Kedubes Korea Utara, Jalan Teluk Betung, Menteng, Jakarta, dua hari setelah peluncuran Hwasong-12.

Bisa Anda jelaskan apa yang menjadi latar belakang dari peluncuran rudal antarbenua jarak menengah Hwasong-12 tersebut?

Alasan utama peluncuran Hwasong-12 karena Amerika Serikat mempertahankan kebijakan permusuhan mereka pada RRDK. Terutama setelah Donald J. Trump terpilih sebagai presiden, kebencian AS pada RRDK semakin memuncak. Mereka terus-menerus melakukan latihan gabungan yang berbahaya serta memasokkan asset pukulan strategi ke Semenanjung Korea, dengan demikian membawa situasinya ke ambang perang. Aksi mereka ini tidak bisa dibiarkan.

Kami sudah sampaikan agar AS tidak melakukan tindakan provokatif seperti itu. Tetapi mereka tidak peduli dengan peringatan kami, mereka kembali melakukan latihan perang Ulji Freedom Guardian.

Akhirnya pemerintah kami memutuskan untuk memperlihatkan kemampuan militer yang kami punyai dengan merencanakan serangan ke Guam, Pangkalan Militer Amerika. Ini adalah adalah babak pertama respon kami terhadap Latihan Gabungan militer AS-Korea Selatan sebagai langkah pertama operasi militer tentara kami di kawasan Pasifik.

Tahun lalu, pemerintahan Korea Selatan memberi restu pada Amerika Serikat untuk menempatkan persenjataan canggih Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Penempatan THAAD dimulai awal tahun 2017 dan memicu protes tidak hanya dari Korea Utara, tapi juga dari Republik Rakyat China (RRC) dan dan Republik Federasi Rusia. Bagi China dan Rusia pun kehadiran THAAD adalah ancaman bagi wilayah mereka.

Sementara Korea Utara, membalas kehadiran THAAD dengan meningkatkan kapasitas sistem pertahanan. Pada tanggal 4 Juli Korea Utara meluncurkan misil antarbenua jarak jauh Hwasong-14, diikuti peluncuran kedua pada tanggal 28 Juli. Korea Utara berharap, uji coba Hwasong-14 yang memiliki jarak jelajah sampai Alaska dan Daratan Amerika itu dapat menghentikan tekanan AS.

Apakah latihan militer AS dan Korea Selatan ini mempengaruhi pembicaraan damai dengan Korea Utara terlebih setelah pemerintahan baru di Amerika dan Korea Selatan terbentuk?

Kami mengobservasi sikap dan pernyataan-pernyataan presiden baru di AS juga presiden baru di Korea Selatan. Kami tidak melihat satu pun kebijakan mereka yang positif dalam rangka mencari jalan keluar yang baik terhadap persoalan di Semenanjung Korea secara tuntas.

Kami sudah memilih membangun persenjataan nuklir untuk mempertahankan sistem dan pemerintah kami dari ancaman nuklir dan kebijakan permusuhan Amerika yang dilaksanakan sampai sekarang ini cuma karena alasan perbedaan ide dan sistem. Senjata nuklir kami bukan alat tawar-menawar di meja dialog atau negosiasi yang bertujuan untuk melucuti persenjataan kami.

Pemerintahan Donald Trup sedang memanaskan ketegangan di Semenanjung Korea dengan mengabaikan dasar dari masalah ini, menciptakan berbagai resolusi PBB dengan mobilisasi masyarakat internasional untuk lebih menekan negara kami dari segi militer dan ekonomi sambil melakukan latihan perang menentang pihak lawan dan bicara tentang dialog. Ini tidak masuk akal. Tak ada harapan.

Presiden Moon Jaein pernah mendampingi Presiden Roh Moohyun (2003-2008) yang dianggap memiliki kebijakan bersahabat dengan RRDK. Apakah menurut Anda, Moon Jaein tidak mewarisi semangat seniornya?

Saat baru berkuasa, Moon Jaein sempat menyampaikan pernyataan-pernyataan yang mengisyaratkan bahwa dirinya akan melakukan perubahan dan mengambil kebijakan yang berbeda dari Presiden Park Geunhye sebelumnya.

Tetapi faktanya, kami tidak melihat ada perubahan dan perbedaan. Dari sikap mereka kami tidak dapat melihat titik apa pun yang positif untuk menyelesaikan masalah secara tuntas dengan mengedepankan posisi dan kepentingan bangsa Korea. Sebaliknya mereka membikin hubungan Utara-Selatan lebih buruk dengan mengikuti sterategi Amerika. Moon Jaein mengunjungi AS dan dia mengatakan bahwa hubungan Utara-Selatan akan berjalan sesuai kerangka perjanjian Korea Selatan dan AS. Sikap dan pernyataannya itu membuat banyak orang kehilangan harapan.

Kalau dia ingin benar-benar memperbaiki hubungan antara Utara dan Selatan, dia harus mengubah mindset. Walaupun Korea Selatan sering mengatakan ingin menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea dan menyatukan bangsa Korea, tetapi pikiran mereka tidak terlepas dari kontrol dan pengaruh AS. Inilah masalah yang sebenarnya.

Dua pekan lalu, saat berpidato menyambut 100 hari pemerintahannya, Presiden Moon Jaein mengatakan tidak akan membiarkan perang kembali terjadi di Semenanjung Korea dan tidak akan memperbolehkan AS mengambil tindakan militer tanpa izin Korea Selatan. Bagaimana menurut Anda?

Dia bisa berkata apapun, tetapi Korea Selatan tidak punya power untuk mengontrol situasi. Karena Korea Selatan benar-benar dikontrol oleh AS.

Dari catatan sejarah kita bisa melihat AS selalu mengabaikan permintaan Korea Selatan.

Masyarakat internasional merasa takut dan khawatir ketegangan di Semenanjung Korea bisa membuahkan perang dalam skala besar. Bagaimana pandangan masyarakat Korea Utara?

Memang ketika saya berada di luar Korea saya bisa menyaksikan masyarakat di luar sangat khawatir dengan situasi di Semenanjung Korea. Mereka bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya setelah kami menjawab provokasi AS dan Korea Selatan dengan meluncurkan rudal kami ke Pasifik. Apakah akan terjadi perang?

Kami tidak ingin perang, tapi jika kami terpaksa berperang, kami pasti menang. Inilah jawaban kami. Alasan kami yang sedang memperkuat kemampuan senjata nuklir itu pun berada pada posisi itu (untuk menghadapi kemungkinan terpaksa berperang. Red). Ada banyak pelajaran sejarah yang memperlihatkan bila lemah kakuatan, tak bisa menahan kedaulatan negara. Ini dibuktikan kejadian di Timur Tengah. Kalau Amerika memilih opsi yang berbahaya, kami juga mempersiapkan serangan daratan terhadap Amerika sebagai pilihan terburuk. Apakah akan terjadi perang atau tidak, ini sepenuhnya tergantung sikap Amerika.

Masyarakat kami tidak khawatir tentang perang. Mereka sibuk dengan berbagai program pembangunan yang tengah digalakkan pemerintah. Mereka percaya bahwa mereka memiliki pemerintahan yang kuat dan dapat diandalkan serta angkatan bersenjata yang juga kuat dan mampu menghadapi berbagai kemungkinan terburuk, termasuk invasi negara lain. Masyarakat kami sudah siap menghadapi keadaan darurat.

Beralih ke hubungan antara Indonesia dan Korea Utara saat ini, di tengah krisis Semenanjung Korea. Bagaimana hubungan kedua negara menurut Anda?

Sangat baik. Rakyat Korea punya perasaan baik terhadap bangsa Indonesia sebagai tempat asli Bunga Kimilsungia. Saya bisa merasakan itu saat saya berkunjung ke banyak kota di Indonesia. Saat bertemu dengan masyarakat awam saya sering bertanya, apa yang mereka ketahui tentang negara kami.

Mereka tahu tentang Kim Il Sung, pendiri negara kami. Mereka tahu hubungan baik Presiden Sukarno dengan Presiden Kim Il Sung di masa lalu. Juga tahu tentang bunga Kimilsung yang diberikan Presiden Sukarno pada Presiden Kim Il Sung.

Ini adalah pondasi yang dibutuhkan untuk hubungan baik kedua negara.

Beberapa puluhan tahun lampau, kedua negara kita terus memajukan hubungan persahabatan dengan menghargai sejarah dan teradisi antara kita, tidak peduli perubahan situasi.

Saya kira tugas kami yang penting adalah terus memajukan hubungan bilateral kita secara multidimensi dengan menghargai perasaan sahabat, sejarah dan teradisi cukup lama antara kita setinggi-tingginya.

Akan tetapi ada juga kelompok yang ingin memasang ganjal pada hubungan bilateral kita. Kalau sudah faham apa akarnya masalah Semenanjung Korea, bisa saja mengetahui dengan mudah apa masud mereka sebenarnya.

Menurut catatan redaksi, sikap Indonesia terhadap ketegangan di Semenanjung Korea tidak dapat dikatakan netral. Dalam pertemuan Asean Regional Forum (ARF) di Filipina awal Agustus lalu, misalnya, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi secara terbuka mengecam uji coba misil Hwasong-14 yang dilakukan Korea Utara.

Pemerintah Indonesia mengabaikan konteks besar yang melatari ketegangan di Semenanjung Korea dan mengabaikan hak Korea Utara untuk membela diri dari tekanan negara lain. Indonesia, bersama negara-negara ASEAN lainnya mengecam Korea Utara yang dianggap tidak mematuhi Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama ASEAN yang ditandatangani negara itu tahun 2005. Amerika Serikat yang memicu ketegangan di Semenanjung Korea dan mempertahankan kebijakan permusuhan terhadap Korea Utara sama sekali tidak diberi teguran apapun, walaupun sebenarnya menandatangani Perjanjian yang sama.

Baru-baru ini seorang budayawan Indonesia, Jaya Suprana, berkunjung ke Pyongyang. Beliau berkeinginan memperkuat dan melebarkan hubungan masyarakat kedua negara di bidang kebudayaan. Bagaimana perasaan Anda tentang hal itu?

Saya suka gagasan itu. Saya selalu memikirkan berbagai program pertukaran kebudayaan. Karena pertukaran kebudayaan adalah hal yang paling dibutuhkan untuk memperkuat hubungan kedua negara.

Bila masyarakat awam secara aktif melakukan pertukaran kebudayaan dan saling mengunjungi, ini akan menjadi pondasi kebijakan pemerintah. Ini bagus untuk membangun dan membina hubungan Korea Utara dan Indonesia.

Dalam kunjungan ke Pyongyang, budayawan Jaya Suprana dan istri Aylawati Sarwono menyaksikan konser grup musik Samjiyon yang diselenggarakan bersamaan dengan Pertemuan 2017 untuk Mengenang Orang Besar Gunung Paektu.

Pendiri Jaya Suprana Institute itu juga berkunjung ke Sekolah Persahabatan Indonesia-Korea dan menyaksikan siswa sekolah itu menyanyikan lagu-lagu Indonesia dengan sangat baik. Tempat lain yang dikunjungi Jaya Suparana dan istri adalah taman kanak-kanak khusus tempat pembibitan pianis di Korea.

Jaya Suprana berencana mengundang seorang painis muda Korea dan menyelenggarakan konser di Jakarta tahun depan. Selain itu, Jaya Suprana juga berencana mengirimkan tim tari untuk mengikuti Festival Musim Semi pada bulan April 2018.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s