Dubes Iran Mohammad Azad: Tidak Penting Siapa yang Menjadi Presiden AS

SEPERTI semua negara di muka bumi, di tahun yang baru berlalu Iran dihantam dan terdampak oleh gelombang pandemi Covid-19. Sejumlah pejabat tinggi Iran terinfeksi virus SARS Cov-2 dan beberapa di antaranya meninggal dunia.

Tetapi bukan hanya itu yang membuat 2020 menjadi tahun spesial bagi Iran. Tahun 2020 dibuka dengan peristiwa pembunuhan salah seorang figur penting di tubuh Pasukan Pengawal Revolusi Iran, Mayjen Qassem Soleimani. Ia dan rombongannya yang baru tiba di Baghdad, ibukota Irak, tewas dihantam rudal Amerika Serikat, 3 Januari 2020.

Sementara pada 27 November 2020 seorang ilmuwan dan ahli nuklir Iran, Prof. Mohsen Fakhrizadeh, tewas dibunuh oleh sekelompok orang yang memiliki kaitan dengan Israel di pinggiran kota Tehran. Pembunuhan Prof. Fakhrizadeh menambah panjang daftar kematian ilmuwan nuklir Iran oleh kaki tangan negara musuh.

Continue reading “Dubes Iran Mohammad Azad: Tidak Penting Siapa yang Menjadi Presiden AS”

Dubes Kuba Tania Velazquez Lopez: Ini Seperti Sebuah Keajaiban

KEMENANGAN Fidel Castro, Ernesto Che Guevara, Camilo Cienfuegos, dan kawan-kawan, di penghujung 1958 dalam perjuangan menggulingkan rezim diktator Fulgencio Batista telah menempatkan Kuba sebagai episentrum dan simbol revolusi dunia di era Perang Dingin.

Revolusi Kuba mewabah dan menginspirasi gerakan serupa setelahnya di banyak negara di berbagai belahan dunia. Kata-kata “Kuba”, “Revolusi”, “Castro”, dan “Che Guevara” menjadi identik dan diucapkan dalam satu tarikan nafas yang sama.

Di luar tema revolusi, Kuba identik dengan cerutu, mobil tua, atau novelis legendaris Ernest Hemingway yang menghabiskan sekitar 30 tahun waktunya di Cuba dimana dia menghasilkan banyak novel kelas dunia, termasuk “The Old Man and the Sea”.

Tentu saja Kuba lebih dari itu. Apalagi belakangan ini, ketika dunia dilanda pandemi Covid-19. Dunia telah menyaksikan bagaimana Kuba menangani penyebaran Covid-19 dan di saat yang sama juga memberikan bantuan yang tidak sedikit untuk banyak negara.

Adalah Henry Reeve Brigade yang dikirimka Kuba untuk membantu negara-negara yang membutuhkan pertolongan dalam perang melawan Covid-19. Didirikan Fidel Castro pada tahun 2005, nama brigade ini diambil dari nama Brigardir Jenderal Henry Reeve, seorang pahlawan Kuba dalam Perang Kemerdekaan Pertama yang berlangsung selama sepuluh tahun dari tahun 1868 sampai tahun 1878.

Sejak awal penyebaran Covid-19, Henry Reeve Brigade telah memberikan bantuan kepada 40 negara dan melibatkan lebih dari 3.700 tenaga medis. Berbagai pihak tengah menominasikan Henry Reeve Brigade untuk menerima Nobel Perdamaian tahun 2021.

Kuba juga aktif mempromosikan kerjasama bioteknologi dan produksi vaksin Covid-19 dengan ASEAN. Dalam ASEAN Summit ke-37 yang diselenggarakan secara virtual dari Hanoi, Viet Nam, bulan November 2021, Kuba bersama Kolombia dan Afrika Selatan secara resmi bergabung dengan platform kerjasama kawasan setelah menandatangani Treaty of Amity and Cooperation (TAC).

Selain isu Covid-19 di Kuba dan peranan Kuba dalam memberikan bantuan kepada banyak negara, Dutabesar Republik Kuba untuk Republik Indonesia, Tania Velázquez López, dalam wawancara dengan Republik Merdeka juga menjelaskan tekanan demi tekanan yang diberikan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Kuba sejak awal berkuasa.

Hubungan Kuba dengan Amerika Serikat sempat mengalami perbaikan menjelang masa pemerintahan Presiden Barack Obama. Namun pemerintahan Trump mementahkan semua upaya itu, bahkan memperberat tekanan kepada Kuba.

Kini setelah Joe Biden memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat, apakah peluang perbaikan hubungan kedua negara akan kembali terbuka?

Berikut adalah petikan wawancara dengan Dubes López yang dilakukan secara virtual:

Kuba dianggap sebagai salah satu negara yang mampu menangani pandemi Covid-19 dengan baik. Pemerintah Kuba tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan untuk rakyat Kuba tetapi juga untuk rakyat di banyak negara yang membutuhkan bantuan. Ini bukan kali pertama Kuba mengirimkan bantuan ke negara lain. Ketika Aceh dilanda tsunami tahun 2004, Kuba juga memberikan bantuan yang tidak sedikit. Bagaimana Kuba membangun sektor kesehatan dan penanggulangan bencana seperti yang ada sekarang ini?

Anda benar. Kami pernah mengirimkan tim penanggulangan bencana dan tim kesehatan ke Indonesia sebanyak dua kali. Pertama, di tahun 2005 setelah tsunami di Aceh. Kedua, di tahun 2006 setelah gempa di Jogjakarta. Tim yang kami kirim itu kini dikenal sebagai Henry Reeve Brigade. Mereka memiliki kemampuan khusus dalam menangani bencana dan pandemi. Mereka membantu 40 negara dalam menangani pandemi Covid-19.

Keberhasilan Kuba menghadapi pandemi Covid-19, menanganinya di dalam negeri maupun di banyak negara di berbagai belahan dunia adalah buah dari strategi yang kami miliki. Di Kuba kami menjalin hubungan yang sangat erat antara pemerintah, dunia kesehatan dan riset ilmu pengetahuan. Selain itu, kami juga memiliki sistem politik yang baik yang memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan dengan cepat. Sistem kesehatan nasional kami bersifat inklusif, gratis, universal, dan dapat diakses secara luas.

Anda pernah mengunjungi Kuba, dan Anda tahu bahwa masyarakat Kuba memiliki dokter keluarga yang berada dekat dengan mereka. Di Kuba untuk setiap seribu orang ada dokter keluarga dan juga perawat keluarga. Mereka memiliki riwayat penyakit setiap pasien yang menjadi tanggung jawab mereka. Dengan begitu, mereka mampu memberikan bantuan pertama terhadap penyakit apapun yang diderita pasien.

Ketika pandemi Covid-19 mulai melanda, semua dokter secara aktif mengunjungi dan memeriksa anggota masyarakat yang menjadi tanggung jawab mereka. Setiap hari mereka mendatangi rumah-rumah penduduk. Dengan itu mereka memiliki kemampuan untuk mengetahui apa yang menjadi sebab seseorang terjangkit.

Anda juga tahu bahwa sejak awal Revolusi, kami memberikan perhatian besar pada bidang pendidikan dan penelitian. Kami fokus membangun sumber daya manusia sehingga memiliki kualitas yang tinggi. Pemerintah Kuba juga aktif mendirikan berbagai pusat penelitian berbagai cabang ilmu pengetahuan.

Hal inilah yang membuat hari ini Kuba memiliki kemampuan di sektor bioteknologi yang dibutuhkan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Tingkat kesembuhan dari Covid-19 di Kuba sebesar 87 persen.

Bila kita bicara tentang Covid-19 di Kuba bagaimana dampaknya sejauh ini. Berapa kasus aktif dan berapa yang menjadi korban?

Saya tidak membawa catatan mengenai jumlah pastinya. Hal yang dapat saya katakan kepada Anda saat ini adalah di Kuba tidak ada anak-anak yang meninggal karena Covid-19, juga tidak ada wanita hamil yang meninggal dunia. Juga tidak ada tenaga kesehatan yang berdiri di garis depan yang meninggal dunia karena Covid-19.

Sejak sekitar 20 atau 25 tahun lalu kami menciptakan banyak obat-obatan untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh manusia. Contohnya untuk penyakit kanker, Kuba menciptakan banyak obat-obatan. Dan kini melakukan penelitian pada tingkat advance untuk menghadapi Covid-19.

(Sampai wawancara ini diturunkan total kasus Covid-19 di Kuba tercatat sebanyak 8.610 kasus. Dari angka itu sebanyak 7.858 pasien berhasil disembuhkan dam 136 pasien meninggal dunia.)

Pengiriman tim kesehatan Kuba ke negara-negara lain apakah atas inisiatif Kuba atau atas permintaan negara-negara itu?

Kami menerima banyak permintaan resmi dari berbegai negara di saat yang kritikal antara bulan Maret sampai Agustus lalu. Kuba mempersiapkan semua hal. Pemerintah pusat menyusun berapa banyak yang harus dikirimkan ke suatu negara. Juga menanyakan kepada dutabesar negara yang meminta bantuan hal-hal apa saja yang mereka butuhkan dalam. Juga menanyakan berapa besar kasusnya. Ini informasi yang dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan. Pemerintah Kuba juga memberikan perhatian besar kepada setiap tenaga medis yang terlibat, baik dokter maupu perawat, sehingga mereka dapat melindungi diri mereka dengan maksimal.

Kuba juga menciptakan vaksin Covid-19, dikenal dengan nama Soberana atau Sovereign. Bagaimana perkembangannya sejauh ini?

Sejauh ini Kuba sudah memiliki empat kandidat vaksin Covid-19 yang telah mendapatkan otorisasi untuk ujicoba klinis yang dimulai bulan Agustus lalu. Ini adalah kandidat vaksin ke-30 di dunia dan yang pertama di Amerika Latin dan Karibia.

Kuba merasa penting untuk memiliki satu vaksin khusus untuk anak-anak di samping untuk orang dewasa. Juga ada vaksin untuk orang dewasa yang berusia di atas 60 tahun. Ini adalah kelompok usia yang sangat rentan dan perlu meningkatkan sistem daya tahan tubuh mereka sampai tingkat tertentu.

Vaksin Soberana apakah diproduksi Kuba sendiri, atau mendapatkan bantuan dari negara lain, misalnya China?

Kami membuat vaksin kami sendiri. Itu 100 persen produksi Kuba.

Di saat bersamaan Kuba menghadapi tekanan yang tidak kecil dari Amerika Serikat. Banyak yang bertanya bagaimana mungkin dalam situasi seperti ini Kuba bisa menciptakan sistem kesehatan publik yang baik dan di saat bersamaan memproduksi vaksin Covid-19…

Harus diakui, ini sesuatu yang sulit bagi kami. Ini seperti sebuah keajaiban (miracle) bagi kami. Sungguh sesuatu yang luar biasa (incredible) bagi Kuba bisa mencapai semua ini, pembangunan di sektor bioteknologi, produksi vaksin, juga membantu negara-negara lain, di tengah situasi yang sangat sulit seperti ini di mana Amerika Serikat menerapkan blokade ekonomi, perdagangan, dan keuangan sekaligus.

Penting untuk memahami hal ini. Ini sungguh luar biasa, dan situasi yang sangat sulit bagi kami rakyat Kuba. Kami menderita. Setiap hari Amerika Serikat melakukan embargo ekonomi. Selama 60 tahun blokade dilakukan oleh sebuah negara yang paling berkuasa di dunia terhadap sebuah negara yang sangat kecil, hanya sebuah pulau yang tidak punya sumber daya alam, hanya punya sektor pariwisata.

Karena itulah kami membangun sumber daya manusia kami di sektor ilmu pengetahuan. Di balik kemampuan kami di bidang pelayanan kesehatan publik adalah hal-hal yang telah saya sebutkan tadi, yakni kerja keras mereka-mereka yang terlibat di bidang bioteknologi dan pikiran Fidel Castro yang selalu menstimulasi kami untuk membangun bidang penelitian ilmu pengetahuan.

Kami harus membangun sumber daya manusia kami untuk bisa bertahan hidup. Karena harta karun paling utama bagi Kuba adalah kehidupan.

Bagaimana situasi kehidupan sehari-hari di Kuba di tengah pandemi Covid-19?

Anda perlu memahami bahwa kehidupan sehari-hari di Kuba sebelum pandemi Covid-19 sudah sulit. Kini dengan pandemi Covid-19 menjadi jauh lebih sulit. Amerika Serikat yang sangat powerful selama 60 tahun menerapkan sanksi kepada kami yang adalah sebuah negara kecil. Sanksi perdagangan, ekonomi, dan keuangan. Terjadi persekusi keuangan terhadap aktivitas rakyat Kuba dan negara ketiga yang berkeinginan menjalin hubungan bisnis dengan Kuba. Ketika mereka ingin mengirimkan uang, Amerika Serikat menutup akses transfer.

Tetapi kami telah memetik pelajaran berharga dari Castro yang berjuang melawan Amerika Serikat, dan dia mengatakan, kami telah mengakumulasi pengalaman dan praktik terbaik sehingga menghasilkan sesuatu yang besar dan berdampak sosial walaupun sumber daya kami sangat kecil.

Tahun ini sungguh luar biasa dampak dari pandemi Covid-19 dan Kuba sejauh ini berusaha untuk menanggulanginya dan di saat bersamaan berusaha untuk ikut membantu negara lain. Namun begitu, Amerika Serikat terus memberikan tekanan berupa blokade kepada Kuba.

Di bulan Maret tahun ini, Amerika Serikat memblokade pengiriman donasi untuk Kuba, termasuk di dalamnya ventilator dan alat diagnosa, masker dan berbagai alat bantuan kesehatan lainnya yang dikirimkan perusahaan China, Alibaba. Di bulan April, bank dari Swiss menolak mentrasfer donasi dari Solidaritas Swis untuk Kuba karena nama Kuba tertulis dalam dokumen pengiriman uang.

Setelah WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global, banyak aktor di dalam sistem internasional mengecam blokade dan aksi unilateral Amerikat Serikat itu. Begitu banyak petisi yang telah disampaikan kepada Presiden Donald Trump agar menggunakan kekuasaan eksekutif yang dimilikinya untuk mencabut blokade itu. Tetapi dia malah semakin mengetatkan blokade di saat-saat yang sangat sulit seperti sekarang. Mereka terus menekan kami.

Walaupun di tengah blokade Amerika Serikat yang di saat yang sangat sulit ini, kami tetap bekerja menyediakan alat-alat kesehatan berkualitas tinggi untuk rakyat kami. Tanpa mengabaikan prinsip solidaritas, kami mengirimkan Henry Reeve Brigade ke lebih dari 40 negara di Amerika Latin, Afrika, Eropa, juga Asia.

Anda tahu, Amerika Serikat bahkan menekan Kuba dengan menciptakan tuduhan palsu terkait penyelundupan manusia. Mereka tidak menghormati sama sekali perjuangan Henry Reeve Brigade membantu banyak negara yang membutuhkan. Mereka juga mengabaikan apa yang telah kami lakukan selama ini untuk memerangi penyelundupan manusia.

Walaupun begitu, Kuba memiliki pondasi hubungan luar negeri dan solidaritas yang solid dan esensial untuk menyelamatkan nyawa rakyat dari Covid-19.

Dalam kaitannya dengan hal ini, banyak kelompok solidaritas, organisasi politik, dan figur terhormat lainnya membuat sebuah prosposal agar Henry Reeve Brigade mendapatkan Nobel Perdamaian tahun depan untuk kontribusi mereka dalam melawan pandemi Covid-19.

Henry Reeve Brigade didirikan pada 2005 oleh Fidel Castro. Tugas utamanya adalah memberikan bantuan kesehatan dan kemanusiaan untuk rakyat Kuba, baik akibat bencana alam maupun pandemi. Saya menjelaskan ini agar Anda paham mengapa banyak pihak yang meminta agar Henry Reeve Brigade mendapatkan Nobel Perdamaian.

Selama pandemi ini bagaimana sekolah di Kuba? Apakah dibuka? Apa yang Kuba lakukan sebelum membuka sekolah?

Tanggal 2 November kami kembali membuka sekolah yang ditutup sejak bulan Mei lalu. Sebelum membuka sekolah, sangat penting untuk mengontrol penyebaran virus. Bila virus tidak terkontrol, sangat bahaya membuka sekolah. Tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa.

Anak-anak punya sistem kekebalan tubuh yang lebih baik. Tapi mereka tetap bisa meninggal karena Covid-19. Kondisi tubuh anak-anak pun tidak sama. Mungkin ada yang memiliki imunitas tubuh yang bagus. Tetapi yang lain barangkali memiliki alergi, atau asma. Jadi mereka bisa meninggal bila terinfeksi.

Di sisi lain, mereka pun bisa tanpa sengaja ikut menularkan virus kepada orang tua mereka. Dan kalau itu terjadi, rumah sakit bisa lumpuh.

Di Kuba kami memiliki pelayanan kesehatan publik yang bebas dan gratis. Rumah sakit gratis. Orang Kuba tidak khawatir datang ke rumah sakit.

Anda tahu, di era 1980an Amerika Serikat juga pernah mengirimkan senjata biologi untuk menghantam Kuba. Mereka menyebarkan nyamuk pembawa virus demam berdarah dengue di Kuba. Banyak orang tewas termasuk anak-anak. Ini salah satu situasi yang membuat Kuba merasa harus mempersiapkan diri dan terus mempelajari epidemi dan pandemi. Kami punya pengalaman untuk menghadapi hal seperti ini.

Kami punya pengalaman, kami punya produk, kami memiliki sistem kesehatan publik yang baik dan gratis. Populasi kami juga cukup kecil. Di awal pandemi Covid-19 kami menutup sektor pariwisata, kami menutup berbagai sektor ekonomi lainnya, dan juga menutup transportasi. Kami mengontrol keadaan.

Sekarang kami membuka diri secara gradual, sedikit demi sedikit. Semua orang Kuba yang datang ke Kuba mendapatkan isolasi secara gratis di rumah sakit selama 14 hari. Temperatur tubuh mereka diperiksa dan diawasi setiap hari. Kalau mereka memiliki gejala, mereka akan dikirimkan ke fasilitas khusus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka. Mereka tidak boleh bertemu dengan keluarga untuk sementara waktu.

Kami telah melakukan banyak hal dan sekarang kami mulai membuka diri. Kami membuka sekolah dan juga membuka beberapa kementerian. Di kementerian saya, pernah ada masa di mana hanya ada satu direktur yang bekerja untuk melayani kedutaan Kuba di Asia. Sekarang kami sudah membuka sekolah dengan melaksanakan sejumlah protokol kesehatan seperti mengenakan masker dan seterusnya. Inilah situasi di Kuba saat ini.

Apakah di Kuba orang biasa (ordinary people) memiliki kesempatan untuk melakukan penelitian dan memproduksi vaksin Covid-19? Apakah Kuba menawarkan vaksin Covid-19 kepada Indonesia?

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, Kuba telah memiliki empat jenis vaksin. Kuba memiliki pengalaman. Di masa lalu Kuba telah memulai riset untuk menemukan vaksin. Dari 11 vaksin yang digunakan dalam program imunisasi anak-anak di Kuba, delapan di antaranya adalah produksi Kuba. Ini sudah dikerjakan sejak 25 tahun lalu.

Pemerintah memberikan prioritas kepada lembaga-lembaga penelitian karena Kuba memiliki problem ekonomi. Di dalam APBN kami anggaran banyak yang diberikan kepada penelitian bioteknologi, pendidikan gratis, rumah sakit gratis. Banyak yang mengira hal-hal itu kami lakukan karena Kuba adalah developed country. Tidak, tentu saja. Kami memiliki persoalan ekonomi di banyak sektor lain. Tetapi, semua sektor yang memiliki dampak sosial yang besar kepada masyarakat menjadi prioritas bagi kami.

Itu sebabnya sekarang kami memiliki vaksin Covid-19, rumah sakit gratis, sekolah gratis, dan pembangunan di sektor-sektor tersebut.

Tentu saja Kuba berkeinginan menawarkan solidaritas dan memberikan dukungan kepada Indonesia dan semua negara yang memerlukan bantuan. Tapi sekarang ini vaksin Covid-19 sedang diproses. Ujicoba klinik vaksin Soberana-1 dimulai pada bulan Agustus lalu. Bulan ini (November) mereka mendapatkan otorisasi untuk tiga kandidat vaksin lainnya yang akan memulai proses ujicoba. Diharapkan pada tiga bulan pertama tahun depan mereka sudah bisa digunakan sebagai vaksin. Kalkulasi ini saya buat dari berita-berita yang saya baca di media massa Kuba. Saya tidak punya kalkulasi yang sebenarnya. Ini adalah perkiraan saya.

Tentu saja kami menawarkan solidaritas dan bantuan kepada Indonesia, terlebih karena kita memiliki hubungan kerjasama dan persahabatan selama 60 tahun.

Apakah Kuba melihat potensi kerjasama dengan ASEAN di era pandemi sekarang ini?

Pada tanggal 10 November yang lalu Kuba telah menandatangani Treaty of Amity and Cooperation (TAC) dalam ASEAN Summit ke-37 yang diselenggarakan secara virtual dari Hanoi, Viet Nam. Kuba menjadi negara Karibia pertama yang bergabung dengan platform kerjasama regional di Asia Tenggara itu. Dalam sambutannya, kepada seluruh negara ASEAN, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez menawarkan kerjasama pembangunan pusat penelitian dan pengembangan produk bioteknologi di sebuah taman teknologi salah satu negara anggota ASEAN. Dia juga menawarkan studi klinik bersama untuk kandidat vaksin Covid-19 yang diproduksi Kuba.

Ini dasar yang kita punya saat ini dengan ASEAN dan juga Indonesia. Saya tidak dapat melakukan perjalanan ke banyak tempat di Indonesia di era pandemi saat ini. Tetapi saya tahu Indonesia memiliki banyak taman ilmiah dan teknologi. Misalnya, saya pernah bertemu dengan Direktur Sumbawa Technopark. Saya tahu Indonesia punya banyak fasilitas seperti ini.

Saya akan sangat senang apabila pihak Indonesia menawarkan ke Kuba program kerjasama menyambut apa yang disampaikan Menlu Kuba (dalam ASEAN Summit ke-37). Kita bisa mengembangkan vaksin Covid-19 yang diproduksi Kuba. Vaksin ini adalah 100 persen buatan Kuba. Kita dapat bekerjasama untuk memproduksi lebih banyak lagi.

Saya bukan ilmuwan, saya bukan ahli. Tapi saya tahu mereka akan memproduksi vaksin untuk seluruh rakyat Kuba. Penduduk Kuba hanya sebelas juta jiwa. Apabila kita bisa bekerjasama di sini, di Indonesia, hanya dengan satu technopark, hasilnya akan sangat signifikan.

Saya tahu, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi, seperti yang saya baca di media-media Indonesia, sangat aktif dalam hal mencari vaksin Covid-19. Seperti dengan China atau Korea Selatan. Bulan lalu ia berkunjung ke Swiss dan Inggris untuk menjamin ketersediaan vaksin Covid-19 untuk populasi Indonesia yang sangat besar.

Dengan penawaran yang telah disampaikan Menlu Kuba, dan jaminan personal saya sebagai Dubes Kuba di Indonesia, Anda bisa mengandalkannya.

Bagaimana peranan kaum wanita di Kuba saat ini? Apakah mereka memiliki partisipasi yang sangat besar dalam pembangunan Kuba?

Sejak kemenangan Revolusi, pemerintah Kuba memberikan prioritas kepada kaum wanita. Sebelum Revolusi, kebanyakan kaum wanita bekerja di dalam rumah bersama keluarga. Atau sebagai pelacur, karena sebelum Revolusi, banyak orang Amerika Serikat yang berkunjung ke Kuba setiap hari atau di akhir pekan menggunakan Kuba sebagai night club dengan wanita-wanita Kuba yang mereka jadikan pelacur.

Tetapi Revolusi memberikan kesempatan kepada kami, kaum wanita, untuk belajar. Saya belajar Hubungan Internasional tanpa membayar satu sen pun. Bukan hanya saya, tapi semua kolega saya. Revolusi juga memberikan kesempatan kepada Ibu saya sejak awal. Mungkin sekitar dua atau tiga tahun setelah kemenangan Revolusi, Ibu saya mulai belajar dan dia bekerja sebagai guru.

Sekarang di Kuba kami memiliki lebih banyak mahasiswa wanita daripada laki-laki. Wakil Menteri di Kementerian Luar Negeri, di Kementerian Perdagangan, di Kementerian Keuangan, Wakil Presiden adalah wanita. Saya kira sekarang lebih banyak dokter perempuan daripada dokter laki-laki. Saya tidak memiliki figur mengenai hal ini. Di Majelis Nasional kami juga memiliki banyak wanita. Juga, kami memiliki banyak wanita yang bertugas sebagai dutabesar di negara-negara sahabat. Dutabesar Kuba di Indonesia, di Viet Nam, di Kamboja, dan di banyak negara lain di Eropa, di Afrika, dan di Amerika Latin.

Baru-baru ini Western Union menutup kantornya di seluruh Kuba. Apa yang terjadi dengan masyarakat Kuba yang selama ini menggunakan pelayanan Western Union?

Sejak tahun lalu sampai pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini, pemerintah Amerika Serikat menerapkan sekitar 200 tindakan blokade terhadap Kuba, salah satunya adalah melarang Western Union beroperasi di Kuba. Proses ini dimulai tahun lalu, karena perusahaan jasa keuangan Kuba, Fincimex, yang menjadi partner Western Union, dimasukkan pemerintahan Donald Trump dalam daftar perusahaan terlarang di Kuba. Tidak ada perusahaan asing yang dapat bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan Kuba yang dimasukkan pemerintah Amerika Serikat ke dalam daftar itu. 

Anda tahu, mereka memiliki semua daftar yang mereka inginkan, untuk semua negara di muka bumi, seakan mereka adalah direktur di dunia ini.

Jadi bulan ini Western Union mengumumkan mereka tidak dapat lagi berbisnis dengan Kuba. Amerika Serikat menuding Fincimex dioperasikan oleh kelompok militer Kuba. Ada sebanyak 147 kantor pelayanan Western Union yang ditutup sehingga menyulitkan transfer keuangan dari orang-orang Kuba yang berada di Amerika Serikat untuk keluarga mereka di Kuba.

Ini hanya satu dari sekitar 200 tindakan blokade yang diterapkan Amerika Serikat kepada Kuba dan memberikan dampak yang sangat besar bagi keluarga Kuba yang dipisahkan selat, baik yang di Amerika Serikat maupun yang Kuba.

Selain itu mereka juga melarang penerbangan ke kota-kota lain di Kuba. Penerbangan dari luar negeri hanya bisa menuju bandara internasional di Havana. Misalnya, bagi warga Kuba yang tinggal di Miami, Amerika Serikat, dan memiliki keluarga di Santiago de Cuba atau di Guantanamo dan provinsi lain, mereka tidak bisa terbang langsung ke provinsi-provinsi yang jauh itu. Mereka harus terbang dulu ke Havana, lalu dari Havana mereka harus menggunakan alat transport lain untuk mencapai tempat keluarganya, misalnya di Santiago de Cuba, dan ini memakan waktu. Ini menyulitkan karena waktu yang mereka miliki sangat singkat, karena mereka harus kembali ke Amerika Serikat untuk bekerja.

Semua ini mereka (Amerika Serikat) lakukan untuk membuat kehidupan sehari-hari rakyat Kuba semakin sulit.

Orang Kuba yang tinggal di Amerika Serikat, apakah mereka pro Revolusi atau anti Revolusi?

Ada orang Kuba yang mendukung Kuba, tetapi ada juga orang Kuba yang tidak mendukung Revolusi. Bila ada orang Kuba yang tinggal di Amerika Serikat dan memiliki pemikiran dan ideologi berbeda, yang tidak mendukung pemerintah Kuba, yang tidak mendukung Revolusi, itu OK saja. Karena setiap orang boleh memiliki pemikiran yang berbeda, ide yang berbeda.

Tetapi situasi ini tidak sama bila mereka menerima uang dari pemerintah Amerika Serikat untuk mempersiapkan tindakan kekerasan terhadap warga Kuba di Amerika Serikat maupun di Kuba, untuk mendukung kontra revolusi, untuk mendukung serangan terorisme di Kuba, untuk mendukung Amerika Serikat sehingga Amerika Serikat melarang transfer uang dari orang-orang Kuba yang bekerja di Amerika Serikat untuk keluarga mereka di Kuba, untuk mencegah turis datang ke Kuba, untuk mencegah penerbangan ke semua bandara di Kuba, atau mencegah bisnis antara perusahaan-perusahaan Kuba dengan perusahaan-perusahaan negara lain, untuk mencegah ekspor produk-produk yang memiliki komponen Amerika Serikat sebanyak 10 persen, juga untuk menekan pemerintahan negara lain sehingga tidak mau menerima tim kemanusiaan Kuba.

Mereka menekan dan mempengaruhi negara lain yang membutuhkan bantuan di masa sulit ini dengan mengatakan bahwa dokter-dokter Kuba adalah penyelundup manusia. Mereka juga membuat larangan bagi perusahaan-perusahaan lain, tidak hanya perusahaan Amerika Serikat, untuk menjual ventilator kepada Kuba.

Jelas ini dua hal yang tidak sama. Memiliki pemikiran yang berbeda dibandingkan dengan pikiran saya dan melakukan tindakan demi tindakan yang membuat kehidupan di Kuba semakin hari semakin sulit, memblokade makanan, obat-obatan, mengintervensi urusan dalam negeri kami. Juga berbeda dengan meletakkan bom di salah satu hotel kami untuk mencegah kami mendapatkan pemasukan dari sektor industri pariwisata.

Kembali ke sistem kesehatan nasional. Kelihatannya sistem kesehatan Kuba tidak memiliki persoalan dengan budget. Bagaimana Kuba membangun sistem kesehatannya?

Revolusi telah mengubah model dan sistem di Kuba. Sebelum Revolusi, rakyat Kuba tidak memiliki peluang untuk mendapatkan pendidikan gratis. Kehidupan sebelum Revolusi adalah buah dari kapitalisme yang sangat kejam (cruel). Tetapi ketika Revolusi menang, dan Kuba berubah, Kuba memprioritaskan pendidikan nasional karena mayoritas rakyat Kuba tidak dapat membaca, tidak bisa menulis. Setelah itu prioritas diberikan kepada sistem kesehatan (health care). Banyak.

Kuba memiliki masalah ekonomi yang luar biasa. Masalah yang barangkali Indonesia tidak miliki. Kami negara kecil, tidak memiliki sumber daya alam. Hanya sedikit sumber daya alam, seperti nikel. Kami memiliki sektor pariwisata. Kami harus membangun sumber daya manusia melalui sistem kesehatan nasional dan bioteknologi.  

Kuba menilai sangat penting untuk memberikan alokasi dana yang besar pada sistem kesehatan nasional, untuk menggratiskan rumah sakit, dan memberikan perawatan kesehatan terbaik. Ini semua karena manusia adalah hal yang paling penting di Kuba. Lebih penting daripada uang. Apa yang akan Anda lakukan dengan uang Anda apabila Anda tidak punya kehidupan? Atau tidak memiliki kesehatan yang baik. Itu sebabnya bagi Kuba yang paling penting adalah manusia.

Dan untuk memberikan perhatian kepada manusia penting untuk menyediakan rumah sakit yang gratis. Terkadang saya mengunjungi dua atau tiga rumah sakit dalam satu hari karena saya tidak puas dengan satu opini dokter, dan saya ingin mendengarkan opini kedua. Ini saya lakukan untuk memeriksa dan mengkonfirmasi, sehingga saya bisa tenang di rumah saya saat malam hari.

Kami memiliki kemungkinan karena pemerintah mengembangkan hal itu. Bila seseorang di Kuba tidak ingin belajar, dia bisa langsung bekerja. Tetapi bila Anda ingin belajar, Anda akan belajar disiplin ilmu yang Anda dapat pelajari berdasarkan ujian masuk. Tidak diperlukan uang untuk belajar di perguruan tinggi, tetapi dibutuhkan usaha. Ini prioritas yang dimiliki negara kami sejak saya lahir. Saya dibesarkan dan dididik dengan prioritas seperti ini.

Kelihatannya beberapa waktu belakangan ini Kuba melakukan semacam reformasi. Sebelumnya kekuasaan berada di tangan pemimpin Partai Komunis Kuba. Sekarang Kuba membagi kekuasaan. Bagaimana Anda menjelaskan persoalan ini? Atau, apakah Anda setuju dengan saya bahwa ini adalah reformasi?

Ya (setuju). Seperti yang Anda tahu, Covid-19 merusak perekonomian di dunia. Dan tentu saja ia semakin mempersulit perekonomian Kuba. Selain menghadapi pandemi Covid-19 serta tekanan dan blokade Amerika Serikat, pemerintah kami juga harus fokus mengaplikasikan berbagai program yang telah diputuskan dalam Kongres Partai Komunis Kuba yang terakhir, terutama yang terkait dengan strategi ekonomi dan sosial. Tidak ada waktu untuk menunda reformasi di kedua sektor ini.

Model yang digunakan memiliki tujuan untuk meng-update model yang ada termasuk di dalamnya reorganisasi sistem moneter Kuba. Anda tahu di Kuba kami masih memiliki tiga mata uang, yakni Cuban Peso (CUP), Cuban Convertible Peso (CUC), dan dolar AS. Upaya mengeliminasi sistem dua mata uang dan nilai tukar mata uang adalah hal yang sangat penting saat ini. Ini tidak memecahkan semua masalah yang terakumulasi dalam sistem ekonomi Kuba. Tetapi sangat penting untuk meng-update model ekonomi. Ini akan memiliki dampak ekonomi dan sosial.

Kuba sedang menghadapi situasi yang sulit yang menghalangi sistem ekonomi berfungsi normal, seperti inefisiensi perusahaan negara (state enterprises), masalah dalam menyediakan insentif dan stimulus untuk meningkatkan ekspor, dan juga gaji yang rendah. Ini karena kami tidak harus membayar rumah sakit, pendidikan, vaksin Covid-19. Tetapi, itu membebani rumah sakit, untuk obat-obatan, untuk gaji dokter dan perawat. Ini menjadi beban bagi pemerintah.

Kami memiliki makroekonomi yang tidak berimbang, dengan defisit fiskal yang tinggi yang membuat pemerintah harus menyetujui transfer anggaran nasional ke sistem keuangan perusahaan negara.

Terlepas dari persoalan ini berbagai sektor publik telah mencapai kemajuan yang sangat berarti berkat kebijakan yang diambil dalam beberapa tahun belakangan. Tetapi juga penting untuk menciptakan perubahan yang produktif baik di sektor negara (publik) maupun sektor non-negara (private).

Kami harus memberikan stimulus untuk mendorong ekspor agar mengurangi beban impor. Ini semua bertujuan agar perusahaan negara memiliki motivasi yang lebih tinggi dalam berproduksi, lebih kompetitif, dan mendukung kebijakan negara untuk meningkatkan ekspor dan menggantikan impor.

Persoalan yang ditimbulkan dual system moneter tidak bisa diatasi dalam waktu singkat karena ini berdampak pada rakyat. Kami harus menjalankan hal ini secara gradual.

Perusahaan negara mungkin di tahun pertama proses ini akan menderita kerugian, dan anggaran negara yang diberikan pemerintah harus mendukung mereka. Pemerintah tidak berencana menutup perusahaan-perusahan negara yang tidak begitu efisien. Mengapa? Karena pelayanan penting yang harus tetap mereka berikan kepada masyarakat, dan sekarang harus meningkatkan gaji pekerja.

Itu sebabnya ini akan dilakukan secara gradual, dan pemerintah telah mengumumkan ini adalah ide awal, dan setiap tahap akan dijelaskan secara gradual pula. Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut, karena ini masih proses.

Apakah Kuba akan tetap menjadi negara komunis?

Kami akan tetap menjadi negara komunis. Karena kami memiliki ideologi komunis. Ideologi kami tidak bisa diubah, karena terbukti kami dapat bertahan melawan Amerika Serikat yang sangat berkuasa dan sangat kejam.

Kami dapat bertahan dengan ideologi sosialisme dan ideologi komunisme untuk melindungi seluruh warganegara kami untuk mendapatkan pelayanan rumah sakit gratis, pendidikan gratis, untuk tidak memiliki kelompok kaya dan miskin. Kami memiliki sosialisme yang paling memungkinkan untuk sama rasa dan sama rasa, dan keseimbangan (equilibrium).

Ini berarti Partai Komunis Kuba akan tetap menjadi satu-satunya kekuatan politik di Kuba?

Kami akan tetap mempertahankan Partai Komunis Kuba dengan panduan keseluruhan proses ini, dan kami akan meng-update sistem ekonomi kami karena situasi, karena krisis global setelah pandemi, dan setelah penerapan (reinforcement) sanksi dari Amerika Serikat yang lebih berat dari sebelumnya.

Saya rasa Anda paham bahwa di Indonesia komunisme memiliki konotasi yang buruk…

Itu tergantung pada apa yang Anda pahami mengenai komunisme. Atau, apa yang dilakukan orang-orang tertentu yang mengatasnamakan komunisme.

Saya paham. Tetapi, tidakkah Anda merasa bahwa perbedaan penilaian mengenai komunisme ini akan mempersulit upaya kedua negara memperkuat hubungan?

Saya tidak tahu apakah penting untuk bertanya kepada pihak-pihak yang memiliki dan memahami komunisme. Mungkin saya akan memiliki kesempatan, atau barangkali saya harus, di dalam berbagai pertemuan dan pembicaraan dengan teman-teman di Indonesia, menjelaskan tentang apa itu komunisme Kuba, apa itu sosialisme Kuba. 
Sosialisme Kuba adalah kesempatan yang sama bagi semua orang Kuba. Kesempatan yang sama untuk mendapatkan, misalnya, pendidikan dan kesehatan.

Juga (menjelaskan) apa konsep sosialisme di negara lain. Kita tahu, sebagai contoh, China memiliki apa yang mereka sebut sebagai sosialisme gaya China. Atau sosialisme Viet Nam. Karena setiap negara memiliki keunikan (particularity) masing-masing, pembangunan masing-masing, taraf ekonomi masing-masing, jumlah populasi, sumber daya alam. Sehingga kita harus menyesuaikan (adapt) sosialisme kita dan ideologi kita, tujuan kita, strategi kita, dengan situasi yang kita miliki di negara kita masing-masing.

Saya bekerja sepanjang karier diplomatik saya di China. Mereka tahu apa itu sosialisme Kuba. Kami bekerjasama dengan erat. Banyak kunjungan delegasi satu sama lain. Mungkin kalau sebelumnya saya bertugas di Indonesia, saya memiliki kesempatan untuk menjelaskan apa itu sosialisme dan komunisme Kuba.  

Di tahun 2015, di era pemerintahan Barack Obama, Kuba dan Amerika Serikat sempat memperbaiki hubungan diplomatik. Tetapi di era Donald Trump, hal itu kembali dirusak. Baru-baru ini Joe Biden memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat. Apakah menurut Anda perubahan rezim di Amerika Serikat akan mempengaruhi Kuba dan hubungan Kuba dengan Amerika Serikat?

Pertama, saya ingin memberikan komentar bahwa pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama, walaupun mereka mengakui kebijakan blokade terhadap Kuba sebagai kebijakan yang tidak up to date dan memperbaiki hubungan bilateral dengan Kuba, tapi Presiden Barack Obama tidak menggunakan kekuasaan eksekutif prerogatif yang dimilikinya. He didn’t make it, untuk menghentikan kebijakan blokade terhadap Kuba. Dia tidak mencabut blokade.

Tentu saja di era Donald Trump semua dimentahkan. Dia membuat kebijakan yang membuat kehidupan orang Kuba setiap hari semakin sulit.

Terkait dengan pemilihan presiden yang baru berlalu, kami mengakui bahwa rakyat Amerika Serikat telah memilih arah baru. Dan kami percaya pada kemungkinan (bagi kedua negara) memiliki hubungan bilateral yang konstruktif sambil di saat bersamaan saling menghormati perbedaan di antara kami.

Untuk memiliki hubungan yang konstruktif penting untuk menghormati perbedaan kita dan untuk mengetahui bahwa kesulitan utama dalam hubungan Kuba dan Amerika Serikat ini adalah bila pemerintahan baru mempertahankan blokade perdagangan, ekonomi, dan keuangan secara sepihak (unilaterally) yang telah berlangsung selama 60 tahun. Itulah hambatan utama bagi hubungan bilateral kami dengan Amerika Serikat, bagi pembangunan Kuba di semua aspek, dan bagi kehidupan sehari-hari rakyat Kuba.

Apa yang bisa kita katakan bila Amerika Serikat setiap hari menekan rakyat Kuba, setiap hari menekan negara ketiga yang ingin memiliki hubungan dagang dengan Kuba. Kita tidak bisa mengatakan itu adalah hubungan, apalagi menyebutnya sebagai hubungan yang konstruktif.

Tahun ini tahun terburuk yang kami hadapi terkait pemerintahan Amerika Serikat. Karena tujuan dari blokade Amerika Serikat adalah untuk menghancurkan ekonomi kami dan memecah belah rakyat kami. Tapi mereka merasa mereka membantu rakyat Kuba. Kami sungguh tidak dapat memahami jalan pikiran mereka.

Seperti yang tadi saya sampaikan, mereka melarang penerbangan ke kota-kota Kuba. Bahkan mereka melarang penerbangan yang membawa bantuan makanan dan kemanusiaan.

Jadi apakah Anda percaya Joe Biden akan mengambil kebijakan yang berbeda terhadap Kuba?

Kami percaya bahwa rakyat Amerika Serikat telah memilih jalan baru. Kami memiliki kemampuan untuk berdialog lagi, untuk berkomunikasi lagi, untuk memiliki hubungan yang konstruktif, sambil di saat bersamaan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada.

Tetapi saya tidak tahu apa yang akan dilakuan Joe Biden. Tidak ada yang tahu. Kita harus menunggu sampai tanggal 20 Januari 2021. Kita tidak tahu apa yang terjadi karena Trump mengatakan dirinya lah yang menang.

Apakah Kuba masih membuka Kedubes di Washington DC?

Kami masih membuka Kedubes kami di Washington DC. Amerika Serikat hanya memiliki Interest Office di Havana karena tahun lalu mereka pergi dari Kuba dan menuduh Kuba melakukan serangan sonic terhadap diplomat-diplomat mereka.  

Mereka memiliki kebijakan terhadap Kuba yang sangat kejam dan brutal selama masa pemerintahan Trump. Kami menunggu sampai Joe Biden memulai pemerintahannya (took the office), dan mengambil prioritas kebijakan. Kita tahu bahwa Amerika Serikat sedang menghadapi banyak persoalan di dalam negeri. Mereka negara yang paling kaya, namun memiliki jumlah kasus Covid-19 paling tinggi. Masyarakatnya juga terbelah. Jadi kita harus menunggu apa yang akan jadi perspektif mereka terhadap dunia, terhadap Amerika Latin, terhadap Kuba, atau terhadap Asia.

Tetapi kami, sejak awal, Presiden Miguel Diaz-Canel menginformasikan bahwa kami memiliki sikap yang konstruktif untuk memiliki hubungan yang konstruktif pula dengan Amerika Serikat, dan di saat bersamaan saling menghormati perbedaan dan kedaulatan. []

Dubes Viet Nam: Kompetisi adalah Hal yang Biasa

DENGAN wilayah seluas 331 kilometer per segi yang memanjang dari utara ke selatan di lengkungan paling timur daratan Asia Tenggara, Viet Nam yang memiliki populasi sebanyak 96,2 juta jiwa kini menjadi salah satu tujuan utama investasi dunia.

Negeri ini pernah koyak moyak dihancurkan perang saudara yang berlangsung cukup lama di era Perang Dingin, dari 1955 hingga 1975. Perang Viet Nam adalah salah satu pertikaian bersenjata paling berdarah pasca Perang Dunia Kedua yang merengut korban jiwa sekitar 1,5 juta orang dari kalangan sipil maupun militer. Konflik kedua Viet Nam telah mengundang kehadiran negara-negara asing yang membuat konflik semakin parah. Namun akhirnya perang saudara berakhir jua dan pada 2 Juli 1976, Viet Nam Utara dan Viet Nam Selatan sepakat mendirikan Republik Sosialis Viet Nam.

Kebangkitan ekonomi Viet Nam dimulai di bulan Desember 1986. Di dalam Kongres Nasional Ke-6 Partai Komunis Viet Nam ketika itu politisi muda yang berorientasi reformis menggantikan kelompok politisi senior. Doi Moi atau Renovasi yang diperkenalkan Sekjen PKVN Nguyen Van Linh sejatinya adalah serangkaian kebijakan yang mengadopsi prinsip pasar bebas dengan mempertahankan orientasi sosialisme. Viet Nam pun mulai membuka diri.

Continue reading “Dubes Viet Nam: Kompetisi adalah Hal yang Biasa”

Kami Tidak Harus Memilih Salah Satu dari Mereka

SETIDAKNYA sejak 12 ribu tahun sebelum Masehi negeri seluas 1,1 kilometer persegi di belahan utara Amerika Selatan ini telah didiami penduduk pribumi, dari bangsa Chibcha, Muisca, Quimbaya, Tairona, dan Inca yang berkembang di baratdaya Kolombia modern.

Pengelana Spanyol Alonso de Ojeda melihat wilayah ini pertama kali ketika melintasinya di tahun 1499. Tak lama kemudian, pengelana Spanyol berikutnya, Juan de la Cosa, mendarat di Tanjung Sails, La Guajira. Tiga tahun kemudian, giliran Vasco Nunez de Balboa menduduki wilayah di sekitar Sungai Atrato, satu dari begitu banyak sungai di Kolombia.

Hingga pertengahan abad ke-16 kekuasaan kolonial Spanyol berkembang pesat. Negeri-negeri di kawasan itu disatukan di bawah payung Kerajaan Baru Granada (Nuevo Reino de Granada) dengan ibukota Santa Fe de Bogota.

Continue reading “Kami Tidak Harus Memilih Salah Satu dari Mereka”

Dubes Turki Prof. Kılıç: Kami Tidak Mengubah Aya Sofya Menjadi Diskotik

RASANYA Prof. Dr. Mahmut Erol Kılıç adalah orang yang tepat untuk menjelaskan duduk persoalan ini: keputusan pemerintah Turki mengembalikan fungsi Aya Sofya sebagai masjid.

Pria kelahiran Istanbul, 2 Juni 1961, ini adalah Dutabesar Republik Turki untuk Republik Indonesia. Ia pernah menjadi Presiden Museum Turki dan Islam selama tiga tahun dari 2005 hingga 2008.

Tesis untuk gelar master di Universitas Marmara yang ditulisnya tahun 1988 berjudul “Hermes and Hermetic Thought in the light of Islamic Sources”. Di tahun 1993, setelah pembentukan Jurusan Sufisme di Universitas Turki yang dipimpinnya, Prof. Kılıç menulis disertasi berjudul “Existence and its Stages in Ibn Arabi’s Thought”.

Continue reading “Dubes Turki Prof. Kılıç: Kami Tidak Mengubah Aya Sofya Menjadi Diskotik”

Mereka Tak Peduli Berapa Banyak Rakyat Kami Yang Menderita

VIRUS corona baru yang untuk pertama kali diketahui menyebar dari Wuhan, Republik Rakyat China (RRC), pada Desember 2019 menghantam hampir semua negara di muka bumi. Saat wawancara ini dituliskan (Kamis, 9/7), Badan Kesehatan Dunia mencatat 11,8 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia. Sebanyak 544 ribu di antaranya berakhir dengan kematian.

Di Republik Bolivarian Venezuela, pandemik Covid-19 tiba di tengah persoalan lain yang sejak beberapa tahun belakangan ini dihadapi pemerintahan Nicolas Maduro: aksi kekerasan sepihak atau unilateral coercive measures yang dilakukan lawan-lawan negara itu.

Dutabesar Venezuela untuk Indonesia, Radames Jesus Gomez Azuaje dalam pertemuan dengan Republik Merdeka pada akhir bulan Juni lalu menceritakan berbagai upaya yang dilakukan negaranya dalam menangani pandemic Covid-19 dan di saat bersamaan menghadapi intervensi asing, termasuk invasi yang dilakukan kelompok tentara bayaran (mercenaries) pada awal Mei lalu.

Dubes Gomez menjelaskan secara umum strategi dan kebijakan yang diterapkan pemerintahan Maduro untuk mencegah penyebaran Covid-19. Sampai awal Juni, Venezuela hanya memiliki sekitar 300 kasus Covid-19. Namun dalam waktu beberapa minggu setelah itu, jumlah kasus Covid-19 di Venezuela meningkat drastis hingga menyentuh angka 4.000 kasus. Peningkatan jumlah kasus ini terjadi menyusul gelombang kepulangan warganegara Venezuela yang sempat melarikan diri ke sejumlah negara lain di Amerika Latin, terutama Kolombia, Brazil, Chili, dan Peru. Tidak sedikit di antara mereka yang kembali dari negara-negara tetangga tersebut terjangkit Covid-19.

Continue reading “Mereka Tak Peduli Berapa Banyak Rakyat Kami Yang Menderita”

Perang Dagang Ini Harus Dikapitalisasi

BERADA di ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut di pegunungan timur Peru, Machu Picchu diperkirakan dibangun di era Raja Pachacuti yang berkuasa di Inca dari tahun 1438 sampai 1472. Pada pertengahan abad ke-16 bersamaan dengan kedatangan bangsa Spanyol, komplek Machu Picchu ditinggalkan dan perlahan menjadi reruntuhan.

Di tahun 1911 arkeolog dari Universitas Yale, Amerika Serikat, Hiram Bingham III, menemukan reruntuhan Machu Picchu dan mengeksposnya sehingga menjadi tujuan wisata dunia. Di tahun 1983, UNESCO menyatakan Machu Picchu sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.

Machu Picchu hanya satu dari sejumlah sumbangan Peru pada peradaban dunia. Sumbangan lainnya yang sangat terkenal, dan masih jarang diketahui, adalah kentang.

Belum banyak yang tahu kentang tanaman asli Peru. Menurut Dutabesar Republik Peru, Julio Cardinas, negaranya memiliki lebih dari 3.000 jenis kentang. Sedemikian seriusnya Peru pada kentang, sebuah lembaga studi khusus didirikan untuk budidaya kentang. Namanya Centro Internacional de la Papa, atau Pusat Kentang Internasional.

Continue reading “Perang Dagang Ini Harus Dikapitalisasi”

Mereka Harus Berdamai dengan Sejarah

SETELAH Uni Soviet bubar di akhir 1991, Republik Armenia terkunci di sisi selatan Kaukasus, diapit Georgia di utara, Iran di selatan, Azerbaijan di timur, dan Turki di barat.

Armenia negara yang terbilang muda. Namun sesungguhnya, sejauh sejarah dapat mencatat, peradaban Armenia telah berdiri sejak sekitar 6.000 tahun lalu. Pada puncak keemasannya, Armenia meliputi wilayah yang cukup luas yang terbentang dari Laut Kaspia di timur hingga Laut Mediterania di barat.

Kini, setelah terkunci, Armenia menjadi junction point, titik persimpangan. Itu istilah yang digunakan Dutabesar Armenia untuk Indonesia, Yang Mulia Dziunik Aghajanian, dalam perbincangan dengan Republik Merdeka di kantornya, belum lama ini.

Continue reading “Mereka Harus Berdamai dengan Sejarah”

Tidak Ada yang Membahayakan Integrasi Anda

DUBES Republik Armenia, Dziunik Aghajanian, mulai bertugas di Jakarta bulan Juni 2018. Selain untuk Indonesia, wanita kelahiran Yerevan, 10 Oktober 1966, ini adalah juga Dubes Armenia untuk Malaysia dan ASEAN.

Sebelum bertugas di Jakarta, antara Maret 2011 sampai Maret 2018, Dubes Aghajanian bertugas sebagai Dubes Armenia di Kerajaan Belanda.

Juga antara 2011 sampai 2018, Dubes Aghajanian bertugas sebagai Perwakilan Tetap Republik Armenia di Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).

Continue reading “Tidak Ada yang Membahayakan Integrasi Anda”

Australia adalah Pendukung Terkuat Indonesia…

WARMEST congratulations @jokowi on your re-election as President of Indonesia. Indonesia is one of Australia’s most important strategic relationships. We look forward to further deepening ties between Australia and Indonesia across all of our shared interests.”

Begitu dikatakan Perdana Menteri Australia Scott Morrison melalui akun Twitter @ScottMorrisonMP menyambut kemenangan Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2019.

Seperti banyak negara lain, Australia kelihatannya merasa perlu berhati-hati menyatakan sikap atas hasil pemilihan yang paling menegangkan dalam sejarah Indonesia itu. Perdana Menteri Morrison baru menyampaikan ucapan selamat kepada Jokowi setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan secara resmi hasil pemungutan suara pada dini hari 21 Mei 2019.

Continue reading “Australia adalah Pendukung Terkuat Indonesia…”

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5 Persen Cukup Menjanjikan

HUBUNGAN diplomatik Indonesia dan Finlandia dimulai pada 6 September 1954. Sampai tahun 2019, kedua negara mencatat sejumlah kemajuan penting di berbagai bidang kerjasama.

Pada 24 September 2019 Indonesia dan Finlandia kembali menyelenggarakan Forum Konsultasi Bilateral untuk membicarakan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas hubungan kedua negara. Forum Konsultasi tersebut digelar di Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta.

“Tahun ini adalah kali ke-6 Indonesia menyelenggarakan forum konsultasi dengan Finlandia dan hal tersebut adalah refleksi bagaimana kedua negara berupaya menjaga komitmen untuk meningkatkan kerja sama yang konkret dan menggali potensi kerja sama lainnya,” ujar Dr. Teuku Faizasyah, ketua delegasi Indonesia sekaligus Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI.

Continue reading “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5 Persen Cukup Menjanjikan”

Anda Tidak Bisa Menyamakan Islam dengan Terorisme

BAGI masyarakat dunia hari ini, Sanna Mirella Marin adalah salah satu ikon baru. Wanita muda kelahiran Helsinki, 16 November 1985, itu dilantik sebagai Perdana Menteri ke-46 Finlandia pada tanggal 10 Desember 2019 lalu di saat baru berusia 34 tahun.

Marin bergabung dengan Partai Sosial Demokrat di tahun 2006, dan menjadi Wakil Presiden Pemuda Sosial Demokrat dari tahun 2010 sampai 2012. Dalam Pemilu 2012, Marin terpilih sebagai anggota Dewan Kota Tampere. Usianya baru 27 tahun saat itu. Setahun kemudian, ia menjadi Wakil Ketua Dewan Kota Tampere, dan kembali terpilih dalam Pemilu 2017. Di tahun 2014 alumni University of Tampere ini terpilih sebagai Wakil Ketua Umum Partai Sosial Demokrat. Lalu di tahun 2015, saat usianya 30 tahun, Marin terpilih sebagai anggota Parlemen dari Distrik Pirkanmaa.

Empat tahun kemudian, Juni 2019, istri dari Markus Raikkonen ini kembali terpilih sebagai anggota Dewan. Namun Perdana Menteri Antti Juhani Rinne saat itu meminta ibu satu anak ini bergabung dalam pemerintahan sebagai Menteri Transportasi dan Komunikasi.

Setelah Rinne mengundurkan diri pada 8 Desember 2019, Partai Sosial Demokrat memilih Marin sebagai Perdana Menteri baru. Marin adalah wanita ketiga yang menjadi Perdana Menteri Finlandia setelah dua politisi senior Partai Tengah, yakni Anneli Jaatteenmaki (2003) dan Mari Kiviniemi (2010-2011).

Continue reading “Anda Tidak Bisa Menyamakan Islam dengan Terorisme”

Situasi di Papua dan Timor Leste Berbeda

Berada di Teluk Iberia, sejak berdiri di tahun 868 M Portugal yang kini dihuni sekitar 10,2 juta jiwa nyaris tidak mengalami perubahan batas wilayah.

Di masa lalu, Portugal adalah negeri para penjelajah. Vasco da Gama, Pedro Alvares Cabral, Ferdinand Magellan, Christopher Columbus, Diogo Cao, Diogo Silves, dan Bartolomeu Dias, adalah beberapa dari sekian banyak penjelajah Portugal yang langsung atau tidak langsung ikut menentukan peta dunia dan batas-batas negeri, serta mendorong kebangkitan gagasan kebangsaan di banyak tempat di muka bumi.

Ketika menerima kami di kantornya, Dutabesar Republik Portugal Rui Fernando Sucena Do Carmo tidak sungkan membagi cerita dari masa lalu, termasuk kompetisi di antara negara-negara Eropa dalam menemukan negeri-negeri baru yang kelak menjadi koloni mereka. 

Misalnya tentang Perjanjian Tordesillas tahun 1494 antara Portugal dan Spanyol yang membuat, antara lain, hingga kini hanya Brazil di Amerika Latin yang menggunakan bahasa Portugis. Sementara selebihnya menggunakan bahasa Spanyol, kecuali tiga negara kecil yakni Suriname, Guyana Prancis dan Guyana Inggris.

Continue reading “Situasi di Papua dan Timor Leste Berbeda”

Patung Fidel Castro

BEGITULAH adanya. Tak ada patung Fidel Castro di seantero Kuba.

Memang saya tidak punya waktu untuk berkunjung ke semua sudut Kuba. Tetapi demikian disampaikan oleh teman-teman yang menemani saya dalam perjalanan ke negeri itu bulan lalu.

Continue reading “Patung Fidel Castro”

Reunifikasi Korea Tidak Bisa Terjadi Dalam Satu Malam

KOREA Selatan dan Korea Utara sedang bekerja keras mewujudkan tugas konstitusional yang diemban masing-masing Korea, yakni menyatukan kembali tali persaudaraan yang putus akibat perang di awal 1950an.

Jalan menuju reunifikasi tidak mudah, dan sudah tentu reunifikasi bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu malam.

Begitu dikatakan Duta Besar Republik Korea Kim Chang-beom dalam wawancara dengan Republik Merdeka beberapa waktu lalu.

Ia menyoroti berbagai “keajaiban” yang terjadi dalam 1,5 tahun terkait hubungan kedua negara.

Hal lain yang dibahas dalam bagian kedua wawancara dengan Dubes Kim itu adalah soal hubungan Korea Selatan dengan Jepang belakangan ini. Ia mengatakan, ketegangan yang terjadi hanya semacam jegukan kecil, yang dapat diselesaikan apabila kedua negara meningkatkan komitmen untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut.

Menurutnya Korea Selatan telah memperlihatkan gesture positif dengan mengirimkan Perdana Menteri Lee Nak-yeon dalam penobatan Kaisar Naruhito tanggal 22 Oktober lalu.

Berikut petikan wawancara itu.

Continue reading “Reunifikasi Korea Tidak Bisa Terjadi Dalam Satu Malam”

Bagi Kami Visi dan Misi Jokowi Cukup Jelas

REPUBLIK Indonesia dan Republik Korea atau Korea Selatan memulai hubungan diplomatik pada 17 September 1973. Setelah dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Moon Jae-in di bulan November 2019, kedua kepala negara sepakat meningkatkan hubungan menjadi special strategic partnership, kini kedua negara tengah menyiapkan draft Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Perjanjian ini dipercaya dapat meningkatkan kualitas hubungan kedua negara secara signifikan dibandingkan (FTA) yang selama ini berlaku secara multilateral antara Korea Selatan dan negara-negara anggota ASEAN.

Dutabesar Korea Selatan Kim Chang-beom mengatakan, finalisasi draft CEPA sedang dilakukan sehingga dapat ditandatangani kedua negara dalam pertemuan di Busan, Korea Selatan, pada tanggal 25 November 2019.

Dalam wawancara dengan Republik Merdeka, Dubes Kim juga memberikan komentar mengenai susunan tim ekonomi Kabinet Indonesia Maju yang baru dibentuk. Menurutnya tim ekonomi yang baru dibentuk sangat menjanjikan, terutama karena visi dan misi Presiden Jokowi sudah cukup jelas.

“Bagi kami, visi dan misi Jokowi cukup jelas. Prioritas pertama adalah pembangunan sumber daya manusia; kedua, pembangunan sektor infrastruktur; serta ketiga adalah ekspor dan investasi. Ini semua adalah adalah persis apa yang kami tunggu-tunggu,” ujar Dubes Kim.

Berikut petikan wawancara itu:

Continue reading “Bagi Kami Visi dan Misi Jokowi Cukup Jelas”

Dubes Sudan Abdalla: Mengapa Berpisah Kalau Semua Hak Anda Dijamin

SELAIN Afrika, Sudan juga tengah memasuki era baru. Era baru yang lebih menantang dan menjanjikan.

Dalam wawancara dengan Majalah Republik Merdeka beberapa waktu lalu Dutabesar Republik Sudan Elsiddieg Abdulaziz Abdalla berbagi cerita tentang angin perubahan itu.

Setelah Presiden Omar Al Bashir yang mulai berkuasa pada 1985 berhasil ditumbangkan dari kekuasaannya pada April 2019, kelompok pendukung revolusi yang terdiri dari kelompok sipil dan kelompok militer sepakat membentuk pemerintahan transisi dan membagi rata kekuasaan di antara mereka. Pemerintahan transisi inilah yang ditugaskan untuk mempersiapkan pemilihan umum yang credible dalam waktu tiga tahun.

Continue reading “Dubes Sudan Abdalla: Mengapa Berpisah Kalau Semua Hak Anda Dijamin”

Dutabesar Abdalla: Afrika (Kembali) Melihat Indonesia

INDONESIA kembali memainkan peranan penting dalam hubungan dengan negara-negara di benua Afrika. Di tahun 1955 silam, Presiden Sukarno mengundang bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang baru merdeka di akhir Perang Dunia Kedua untuk berkumpul di Bandung. Dalam Konferensi Asia-Afrika itu dirumuskan satu dokumen politik yang diberi nama Dasa Sila Bandung, yang dalam prinsipnya mendoronga agar negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika mengembangkan kerjasama yang positif dan konstruktif dengan sesama mereka.

Kini, giliran Presiden Joko Widodo yang mengambil inisiatif merapatkan kembali hubungan Indonesia dengan benua Afrika. Di tahun 2018, Kementerian Luar Negeri menggelar Indonesia-Africa Forum (IAF). Di tahun 2019, pembicaraan ditingkatkan ke level yang lebih konkret dalam pertemuan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID).

Continue reading “Dutabesar Abdalla: Afrika (Kembali) Melihat Indonesia”

Karena Mongolia Ingin Kembali Ke Tengah Panggung Dunia

“Kami ingin menempatkan kembali Mongolia di tengah panggung dunia.”

Itu yang dikatakan Gantuya Tuya, dalam peresmian Chinggis International News Agency (Chinggis INA), di Ulaanbaatar, Mongolia, pekan lalu (Sabtu (7/9). Dengan nada percaya diri dan optimistis.

Continue reading “Karena Mongolia Ingin Kembali Ke Tengah Panggung Dunia”

Dubes Joseph R. Donovan Jr.: Indonesia Mencapai Milestone Baru Demokrasi

Sebelum ditugaskan di Jakarta, ia menduduki posisi Direktur Utama Bagian Washington di American Institute, Taiwan. Dubes Donovan juga pernah bekerja sebagai Penasihat Kebijakan Luar Negeri untuk pemimpin Kepala Staf Gabungan di Pentagon (2012-2014), Associate Professor di National Defense University di Washington, D.C. (2011-2012), dan Kepala Deputi Asisten Menteri Luar Negeri untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Departemen Luar Negeri AS (2009-2011).

Selain itu Dubes Donovan juga pernah menjabat sebagai Konsul Jenderal AS di Hong Kong (2008-2009), Wakil Duta Besar AS di Tokyo, Jepang (2005-2008), dan Direktur Bagian Tiongkok dan Mongolia, Deplu AS (2003-2005). Dalam kariernya sebagai pejabat dinas luar negeri, Dubes Donovan pernah ditempatkan di Taiwan, Tiongkok, Korea Selatan, dan Qatar.

Continue reading “Dubes Joseph R. Donovan Jr.: Indonesia Mencapai Milestone Baru Demokrasi”

Dubes Al Hamar: Jalan Keluar Perseteruan Dan Perselisihan Adalah Dialog

SIAPAPUN tahu Qatar adalah salah satu pendukung utama war on terror yang dipimpin Amerika Serikat menyusul serangan terhadap Menara WTC di New York pada 11 September 2001. Qatar memberikan kesempatan kepada pasukan multinasional yang dipimpin AS untuk menggunakan wilayahnya sebagai pangkalan militer. Dukungan Qatar pada perang melawan teror berlangsung hingga kini.

Di pertengahan 2017, hubungan Qatar dengan negara-negara tetangganya memburuk. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Maladewa, Senegal, Djibouti, Komoro, Jordania, pemerintahan Libya di Tobruk dan pemerintahan Yaman yang dipimpin Hadi, menghentikan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Continue reading “Dubes Al Hamar: Jalan Keluar Perseteruan Dan Perselisihan Adalah Dialog”

Dubes Al Hamar: Bagi Qatar, Indonesia Negara Yang Penting

DAWLAT Qatar atau Negara Qatar terletak pada wilayah geografis yang unik. Di tengah Teluk Parsi, di sebuah semenanjung di sisi timur jazirah Arab. Berbatasan langsung dengan Saudi Arabia di selatan. Dipisahkan oleh laut dengan Uni Emirat Arab di sebelah tenggara, dengan negara pulau Bahrain di baratdaya, dan dengan Iran di seberang timur.

Negeri semenanjung seluas 11.581 kilometer persegi itu dipimpin Bani Thani sejak tahun 1868 saat Mohammed bin Thani dan Inggris menandatangani pemisahan Qatar dan  Bahrain yang sebelumnya diikat perjanjian dengan Inggris pada 1820. Pada periode 1871 hingga 1915 Qatar berada di bawah pengaruh Turki Ustmaniah, dan sejak 1916 hingga 1971 berada di bawah perlindungan Inggris.

Continue reading “Dubes Al Hamar: Bagi Qatar, Indonesia Negara Yang Penting”

Dubes Tunisia: Faktanya, Persaingan Dagang Mempengaruhi Seluruh Dunia

GELOMBANG demonstrasi di Tunisia semakin menjadi oleh sebuah peristiwa di Sidi Bouzid, sekitar 300 kilometer sebelah selatan Tunis, pada 17 Desember 2010. Seorang penjual buah, Mohamed Bouazizi (26), membakar diri di depan kantor polisi sebagai tanda protes atas tindakan aparat menyita gerobak buahnya.

Bouazizi sempat dilarikan ke sebuah rumah sakit di dekat Tunis untuk mendapatkan perawatan intensif. Presiden Zine El Abidin Ben Ali menjenguk Bouzizi pada 28 Desember. Namun karena luka yang begitu parah, Bouazizi meninggal dunia pada 4 Januari 2011.

Continue reading “Dubes Tunisia: Faktanya, Persaingan Dagang Mempengaruhi Seluruh Dunia”

Dubes Dridi: Indonesia Dukung Transisi Demokrasi Tunisia

TERLETAK di Afrika Utara, diapit Aljazair, Libya dan Laut Mediterania, Republik Tunisia memiliki hubungan istimewa dengan Republik Indonesia.

Pemimpin gerakan kemerdekaan Tunisia, Habib Bourguiba, berkunjung ke Jakarta dan bertemu Bung Karno pada tahun 1951. Sejak itu, Indonesia secara aktif memberikan dukungan untuk kemerdekaan Tunisia. Puncak dari upaya diplomatik Tunisia untuk meraih kemerdekaan adalah lobi yang dilakukan di arena Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Setahun kemudian, Prancis angkat kaki dari negeri itu.

Continue reading “Dubes Dridi: Indonesia Dukung Transisi Demokrasi Tunisia”

Dubes Jepang: Tidak Ada Hubungan Bertetangga Yang Bebas Dari Masalah

UNIPOLARISME pasca Perang Dingin tak berumur panjang. Hanya dalam waktu kurang lebih satu dekade berbagai kekuatan ekonomi dan politik baru bermunculan. Di Asia Timur, China yang untuk waktu cukup lama memilih menutup diri di balik tirai bambu secara mengagetkan muncul ke permukaan.

Tidak hanya meningkatkan anggaran militer berkali lipat, China juga mengumumkan ambisi menjadi lokomotif Jalur Sutra baru yang dikenal dengan nama One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI). Seperti China, Jepang juga tidak mau kalah.

Continue reading “Dubes Jepang: Tidak Ada Hubungan Bertetangga Yang Bebas Dari Masalah”

Dubes Jepang: Kompetisi Selalu Bagus

PADA bulan Oktober 2015 pemerintah Indonesia memberikan proyek kereta api cepat (High Speed Railways/HSR) Jakarta-Bandung kepada Republik Rakyat China (RRC) yang belakangan juga tampak semakin agresif mendekati Indonesia.

Keputusan ini mengecewakan pemerintah Jepang yang merasa telah terlibat cukup jauh. Untuk mengobati kekecewaan Jepang itu, Presiden Joko Widodo mengutus Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ketika itu, Sofyan Djalil, bertemu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Continue reading “Dubes Jepang: Kompetisi Selalu Bagus”

Dubes Jepang: Bila Ekonomi Tumbuh 6,5 Persen, Indonesia Nomor 4 Terkuat Di Dunia

NIHON atau Nippon. Negeri matahari terbit. Kemenangan dalam perang melawan Kekaisaran Rusia di Manchuria dan Semenanjung Korea pada 1904-1905 melambungkan reputasi Kekaisaran Jepang sebagai saudara tua Asia. Kemenangan ini menyempurnakan supremasi Jepang di kawasan Asia Timur sejak merebut Formosa dari China dalam perang 1895.

Jepang sudah memperlihatkan tanda-tanda ke arah kegemilangan sejak Kaisar Meiji yang berkuasa di pertengahan abad ke-19 memulai restorasi besar-besaran yang berdampak pada penguatan sistem politik yang lebih tersentralisir dan pertumbuhan ekonomi yang ditopang industrialisasi demi mengejar ketertinggalan dari dunia Barat.

Continue reading “Dubes Jepang: Bila Ekonomi Tumbuh 6,5 Persen, Indonesia Nomor 4 Terkuat Di Dunia”

Kalender 2019 Sama Dengan 1895, Apa Saja Kejadiannya?

Kalendar tahun 2019 pada sistem penanggalan Gregorian yang biasa kita gunakan sama dengan kalendar tahun 1895. Tanggal 1 Januari 2019 dan 1895 sama-sama jatuh pada hari Selasa. Begitu juga dengan tanggal 31 Desember sama-sama jatuh pada hari Selasa. Kedua tahun yang berjarak 124 tahun itu sama-sama bukan tahun kabisat.

Continue reading “Kalender 2019 Sama Dengan 1895, Apa Saja Kejadiannya?”

Di Tepi Amu Darya, Di Ujung Kredibilitas Profesi…

DI Sumatera orang menyebut sungai dengan bermacam nama.

Orang Batak Mandailing menyebutnya, Aek. Batak Karo, Lau. Orang Aceh, Krueng. Orang Lampung, Way. Dan banyak lagi…

Continue reading “Di Tepi Amu Darya, Di Ujung Kredibilitas Profesi…”

Dubes Meksiko Armando G. Álvarez: Dunia Memang Sedang Rumit

SITUASI politik global sedang tidak menentu. Sering diibaratkan seperti laut yang sedang diterpa badai atau the turbulent ocean. Badai ini membahayakan perjalanan setiap kapal yang sedang melintasi samudera dari satu benua ke benua lainnya.

Continue reading “Dubes Meksiko Armando G. Álvarez: Dunia Memang Sedang Rumit”

Blog at WordPress.com.

Up ↑

<span>%d</span> bloggers like this: