Problematika, Dilema, dan Romantika Dunia

Kedua buku ini telah diluncurkan. Isinya adalah wawancara yang saya lakukan dengan dutabesar negara sahabat di Jakarta.

Kepada setiap dutabesar yang saya wawancarai, saya menanyakan tiga topik umum. Pertama, hal-hal yang bersifat budaya, sejarah negara mereka, dan sebagainya. Kedua, hubungan bilateral dengan Indonesia dan potensi yang ada di depan mata.

Pertanyaan ketiga terkait posisi atau pandangan, dan keterlibatan negara itu pada sejumlah hal yang sedang terjadi di arena global, seperti konflik dan ketegangan di masing-masing kawasan, persaingan Amerika Serikat dan Republik Rakyat China, juga konflik negara tersebut dengan tetangganya. Dan lain sebagainya.

Adapun untuk setiap negara bekas anggota Uni Soviet, saya menambahkan pertanyaan: apa yang salah dengan praktik politik dan ekonomi Uni Soviet sehingga akhirnya hancur.

Jadi sebenarnya, topik di dalam buku itu sangat beragam. Dan saya sengaja menampilkannya dalam format verbatim tanya dan jawab untuk menampilkan keaslian jawaban setiap dutabesar dan menghindarkan bias persepsi dari saya sebagai pewawancara.

Mengenai judul buku, yang pertama, “Perdamaian yang Buruk, Perang yang Baik” terinspirasi dari pernyataan Dubes Rusia yang mengatakan bagi mereka lebih baik berada dalam situasi damai walaupun dipenuhi intrik dan ketegangan daripada harus membayangkan dan merancang sebuah perang yag diyakini sempurna dan menghasilkan kemenangan. Karena sesungguhnya, dalam perang tidak ada pihak yang benar-benar menang.

Buku kedua, “Buldozer dari Palestina”, diangkat dari kenangan sayasaat berinteraksi dengan mantan Dubes Palestina untuk Indonesia Ribhi Y. Awad. Dia adalah dubes asing pertama yang saya wawancarai, di bulan September 2001, tidak lama setelah serangan 9/11 di WTC New York.

Di akhir pertemuan dia meminta saya untuk tidak menyiarkan wawancara karena menyadari ada banyak pernyataan yang kurang pantas atau terlalu keras pada pihak-pihak tertentu.

Walaupun begitu, sejak itu hubungan kami menjadi lebih dekat. Sampai akhirnya dia meninggalkan Indonesia pada 2007, setelah dia terusir dari Kedutaan karena partainya, Fatah, kalah dari Hamas dalam pemilu 2006.

Dia memberikan satu buku kenang-kenangan dimana dia menceritakan hubungannay dengan Yasser Arafat. Adalah Arafat yang memberinya julukan Buldozer dari Palestina.

Jadi singkatnya, setiap wawancara di dalam buku itu berdiri sendiri. Sehingga buku itu akhirnya menjadi rekaman pada berbagai problematika, dilema dan romantika dunia.

Leave a comment