Prabowo Subianto dan Obsesi Elang Muda

Boramae dalam bahasa Korea. Elang Muda dalam bahasa Indonesia. Ini nama jet tempur pertama buatan Korea Selatan yang diluncurkan hari ini, Jumat (9/4), di fasilitas Korea Aerospace Industries (KAI) di Sacheon, Provinsi Gyeongsang, Korea Selatan.

Nama lengkapnya KF-21 Boramae.

Continue reading “Prabowo Subianto dan Obsesi Elang Muda”

A Letter on Juche

Juche, which is often interpreted as an ideology of independence or self-reliance, was developed by the founder of the DPRK, Kim Il Sung, in the era of the Korean nation’s struggle against Japanese colonialism.

In 1982 President Kim Jong Il wrote down his main thoughts on Juche in a book. However, Juche was widely recognized among Korean founding fathers during the struggling era.

Initially, Juche was seen as an ideology of struggle influenced by Marxism. However, in subsequent developments, Juche succeeded in growing into a distinctive ideology in the Korean independence struggle. In principle, this ideology teaches that every human being is the master of his own destiny, as well as the master of its revolution.

Continue reading “A Letter on Juche”

Joe Biden dan Persimpangan Jalan Perdamaian Korea

PEMBICARAAN damai di Semenanjung Korea akan menghadapi dinamika baru tak lama lagi. Joe Biden memperlihatkan tanda-tanda akan mengambil kebijakan yang berbeda dari pendahulunya, Donald Trump.

Di masa kampanye yang lalu, Biden menyebut Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un sebagai “thug” atau penjahat, dan mengatakan, hanya bersedia bertemu dan melanjutkan pembicaraan damai dengan Korea Utara bila Korea Utara sepakat untuk melakukan denuklirisasi.

Apa yang disampaikan Joe Biden ini mengabaikan kenyataan bahwa pendahulunya, Donald Trump, telah mencatat sejumlah pencapaian yang manis untuk perbaikan hubungan negara itu dengan Korea Utara.

Joe Biden akan terlihat tidak bijaksana bila mengembalikan hubungan Amerika Serikat dan Korea Utara ke titik sebelum pertemuan antara Kim Jong Un dan Donald Trump di Singapura bulan Juni 2018. Bagaimanapun setelah pertemuan itu, Korea Utara memperlihatkan sikap koperatif dengan melucuti fasilitas nuklir mereka.

Continue reading “Joe Biden dan Persimpangan Jalan Perdamaian Korea”

Agresifitas China dan Fragmentasi Sikap Indonesia

Menlu RI Retno Marsudi (kanan) dan Menlu China Wang Yi.

Sikap tegas yang diperlihatkan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, ketika menerima Menteri Luar Negeri RRC, Wang Yi, di Pejambon, Rabu sore (13/1), patut diapresiasi.

Dalam pertemuan itu, Menlu Retno Marsudi mengingatkan kembali arti penting menjaga perdamaian dan stabilitas di perairan Laut China Selatan dengan menghormati hukum internasional United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982.

Sikap tegas Menlu Retno Marsudi memang perlu disampaikan langsung di hadapan Menlu China dengan harapan China mengkoreksi agresifitas yang mereka perlihatkan beberapa tahun belakangan ini.

Continue reading “Agresifitas China dan Fragmentasi Sikap Indonesia”

A Letter from Pyongyang on Christmas

Dear Mr. Teguh Santosa,

I hope this email finds you good in health.

The unexpectedly worldwide Covid-19 stopped us from having face-to-face meetings, but neverthless this further deepened feelings towards and trust in you. Especially, the October international E-seminar in commemoration of the 75th anniversary of the WPK’s founding was held on the plateform of the website of Indonesia-Korea Friendship and Cultural Exchange: www.kawankorea.com. This reminded us of the initiative and position taken by the Indonesian friends and your society in putting the support and solidarity with the Korean people on the global basis. I am really proud of having you as my friend and working with IKFCE.

Continue reading “A Letter from Pyongyang on Christmas”

Dubes Kuba Tania Velazquez Lopez: Ini Seperti Sebuah Keajaiban

KEMENANGAN Fidel Castro, Ernesto Che Guevara, Camilo Cienfuegos, dan kawan-kawan, di penghujung 1958 dalam perjuangan menggulingkan rezim diktator Fulgencio Batista telah menempatkan Kuba sebagai episentrum dan simbol revolusi dunia di era Perang Dingin.

Revolusi Kuba mewabah dan menginspirasi gerakan serupa setelahnya di banyak negara di berbagai belahan dunia. Kata-kata “Kuba”, “Revolusi”, “Castro”, dan “Che Guevara” menjadi identik dan diucapkan dalam satu tarikan nafas yang sama.

Di luar tema revolusi, Kuba identik dengan cerutu, mobil tua, atau novelis legendaris Ernest Hemingway yang menghabiskan sekitar 30 tahun waktunya di Cuba dimana dia menghasilkan banyak novel kelas dunia, termasuk “The Old Man and the Sea”.

Tentu saja Kuba lebih dari itu. Apalagi belakangan ini, ketika dunia dilanda pandemi Covid-19. Dunia telah menyaksikan bagaimana Kuba menangani penyebaran Covid-19 dan di saat yang sama juga memberikan bantuan yang tidak sedikit untuk banyak negara.

Adalah Henry Reeve Brigade yang dikirimka Kuba untuk membantu negara-negara yang membutuhkan pertolongan dalam perang melawan Covid-19. Didirikan Fidel Castro pada tahun 2005, nama brigade ini diambil dari nama Brigardir Jenderal Henry Reeve, seorang pahlawan Kuba dalam Perang Kemerdekaan Pertama yang berlangsung selama sepuluh tahun dari tahun 1868 sampai tahun 1878.

Sejak awal penyebaran Covid-19, Henry Reeve Brigade telah memberikan bantuan kepada 40 negara dan melibatkan lebih dari 3.700 tenaga medis. Berbagai pihak tengah menominasikan Henry Reeve Brigade untuk menerima Nobel Perdamaian tahun 2021.

Kuba juga aktif mempromosikan kerjasama bioteknologi dan produksi vaksin Covid-19 dengan ASEAN. Dalam ASEAN Summit ke-37 yang diselenggarakan secara virtual dari Hanoi, Viet Nam, bulan November 2021, Kuba bersama Kolombia dan Afrika Selatan secara resmi bergabung dengan platform kerjasama kawasan setelah menandatangani Treaty of Amity and Cooperation (TAC).

Selain isu Covid-19 di Kuba dan peranan Kuba dalam memberikan bantuan kepada banyak negara, Dutabesar Republik Kuba untuk Republik Indonesia, Tania Velázquez López, dalam wawancara dengan Republik Merdeka juga menjelaskan tekanan demi tekanan yang diberikan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Kuba sejak awal berkuasa.

Hubungan Kuba dengan Amerika Serikat sempat mengalami perbaikan menjelang masa pemerintahan Presiden Barack Obama. Namun pemerintahan Trump mementahkan semua upaya itu, bahkan memperberat tekanan kepada Kuba.

Kini setelah Joe Biden memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat, apakah peluang perbaikan hubungan kedua negara akan kembali terbuka?

Berikut adalah petikan wawancara dengan Dubes López yang dilakukan secara virtual:

Kuba dianggap sebagai salah satu negara yang mampu menangani pandemi Covid-19 dengan baik. Pemerintah Kuba tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan untuk rakyat Kuba tetapi juga untuk rakyat di banyak negara yang membutuhkan bantuan. Ini bukan kali pertama Kuba mengirimkan bantuan ke negara lain. Ketika Aceh dilanda tsunami tahun 2004, Kuba juga memberikan bantuan yang tidak sedikit. Bagaimana Kuba membangun sektor kesehatan dan penanggulangan bencana seperti yang ada sekarang ini?

Anda benar. Kami pernah mengirimkan tim penanggulangan bencana dan tim kesehatan ke Indonesia sebanyak dua kali. Pertama, di tahun 2005 setelah tsunami di Aceh. Kedua, di tahun 2006 setelah gempa di Jogjakarta. Tim yang kami kirim itu kini dikenal sebagai Henry Reeve Brigade. Mereka memiliki kemampuan khusus dalam menangani bencana dan pandemi. Mereka membantu 40 negara dalam menangani pandemi Covid-19.

Keberhasilan Kuba menghadapi pandemi Covid-19, menanganinya di dalam negeri maupun di banyak negara di berbagai belahan dunia adalah buah dari strategi yang kami miliki. Di Kuba kami menjalin hubungan yang sangat erat antara pemerintah, dunia kesehatan dan riset ilmu pengetahuan. Selain itu, kami juga memiliki sistem politik yang baik yang memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan dengan cepat. Sistem kesehatan nasional kami bersifat inklusif, gratis, universal, dan dapat diakses secara luas.

Anda pernah mengunjungi Kuba, dan Anda tahu bahwa masyarakat Kuba memiliki dokter keluarga yang berada dekat dengan mereka. Di Kuba untuk setiap seribu orang ada dokter keluarga dan juga perawat keluarga. Mereka memiliki riwayat penyakit setiap pasien yang menjadi tanggung jawab mereka. Dengan begitu, mereka mampu memberikan bantuan pertama terhadap penyakit apapun yang diderita pasien.

Ketika pandemi Covid-19 mulai melanda, semua dokter secara aktif mengunjungi dan memeriksa anggota masyarakat yang menjadi tanggung jawab mereka. Setiap hari mereka mendatangi rumah-rumah penduduk. Dengan itu mereka memiliki kemampuan untuk mengetahui apa yang menjadi sebab seseorang terjangkit.

Anda juga tahu bahwa sejak awal Revolusi, kami memberikan perhatian besar pada bidang pendidikan dan penelitian. Kami fokus membangun sumber daya manusia sehingga memiliki kualitas yang tinggi. Pemerintah Kuba juga aktif mendirikan berbagai pusat penelitian berbagai cabang ilmu pengetahuan.

Hal inilah yang membuat hari ini Kuba memiliki kemampuan di sektor bioteknologi yang dibutuhkan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Tingkat kesembuhan dari Covid-19 di Kuba sebesar 87 persen.

Bila kita bicara tentang Covid-19 di Kuba bagaimana dampaknya sejauh ini. Berapa kasus aktif dan berapa yang menjadi korban?

Saya tidak membawa catatan mengenai jumlah pastinya. Hal yang dapat saya katakan kepada Anda saat ini adalah di Kuba tidak ada anak-anak yang meninggal karena Covid-19, juga tidak ada wanita hamil yang meninggal dunia. Juga tidak ada tenaga kesehatan yang berdiri di garis depan yang meninggal dunia karena Covid-19.

Sejak sekitar 20 atau 25 tahun lalu kami menciptakan banyak obat-obatan untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh manusia. Contohnya untuk penyakit kanker, Kuba menciptakan banyak obat-obatan. Dan kini melakukan penelitian pada tingkat advance untuk menghadapi Covid-19.

(Sampai wawancara ini diturunkan total kasus Covid-19 di Kuba tercatat sebanyak 8.610 kasus. Dari angka itu sebanyak 7.858 pasien berhasil disembuhkan dam 136 pasien meninggal dunia.)

Pengiriman tim kesehatan Kuba ke negara-negara lain apakah atas inisiatif Kuba atau atas permintaan negara-negara itu?

Kami menerima banyak permintaan resmi dari berbegai negara di saat yang kritikal antara bulan Maret sampai Agustus lalu. Kuba mempersiapkan semua hal. Pemerintah pusat menyusun berapa banyak yang harus dikirimkan ke suatu negara. Juga menanyakan kepada dutabesar negara yang meminta bantuan hal-hal apa saja yang mereka butuhkan dalam. Juga menanyakan berapa besar kasusnya. Ini informasi yang dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan. Pemerintah Kuba juga memberikan perhatian besar kepada setiap tenaga medis yang terlibat, baik dokter maupu perawat, sehingga mereka dapat melindungi diri mereka dengan maksimal.

Kuba juga menciptakan vaksin Covid-19, dikenal dengan nama Soberana atau Sovereign. Bagaimana perkembangannya sejauh ini?

Sejauh ini Kuba sudah memiliki empat kandidat vaksin Covid-19 yang telah mendapatkan otorisasi untuk ujicoba klinis yang dimulai bulan Agustus lalu. Ini adalah kandidat vaksin ke-30 di dunia dan yang pertama di Amerika Latin dan Karibia.

Kuba merasa penting untuk memiliki satu vaksin khusus untuk anak-anak di samping untuk orang dewasa. Juga ada vaksin untuk orang dewasa yang berusia di atas 60 tahun. Ini adalah kelompok usia yang sangat rentan dan perlu meningkatkan sistem daya tahan tubuh mereka sampai tingkat tertentu.

Vaksin Soberana apakah diproduksi Kuba sendiri, atau mendapatkan bantuan dari negara lain, misalnya China?

Kami membuat vaksin kami sendiri. Itu 100 persen produksi Kuba.

Di saat bersamaan Kuba menghadapi tekanan yang tidak kecil dari Amerika Serikat. Banyak yang bertanya bagaimana mungkin dalam situasi seperti ini Kuba bisa menciptakan sistem kesehatan publik yang baik dan di saat bersamaan memproduksi vaksin Covid-19…

Harus diakui, ini sesuatu yang sulit bagi kami. Ini seperti sebuah keajaiban (miracle) bagi kami. Sungguh sesuatu yang luar biasa (incredible) bagi Kuba bisa mencapai semua ini, pembangunan di sektor bioteknologi, produksi vaksin, juga membantu negara-negara lain, di tengah situasi yang sangat sulit seperti ini di mana Amerika Serikat menerapkan blokade ekonomi, perdagangan, dan keuangan sekaligus.

Penting untuk memahami hal ini. Ini sungguh luar biasa, dan situasi yang sangat sulit bagi kami rakyat Kuba. Kami menderita. Setiap hari Amerika Serikat melakukan embargo ekonomi. Selama 60 tahun blokade dilakukan oleh sebuah negara yang paling berkuasa di dunia terhadap sebuah negara yang sangat kecil, hanya sebuah pulau yang tidak punya sumber daya alam, hanya punya sektor pariwisata.

Karena itulah kami membangun sumber daya manusia kami di sektor ilmu pengetahuan. Di balik kemampuan kami di bidang pelayanan kesehatan publik adalah hal-hal yang telah saya sebutkan tadi, yakni kerja keras mereka-mereka yang terlibat di bidang bioteknologi dan pikiran Fidel Castro yang selalu menstimulasi kami untuk membangun bidang penelitian ilmu pengetahuan.

Kami harus membangun sumber daya manusia kami untuk bisa bertahan hidup. Karena harta karun paling utama bagi Kuba adalah kehidupan.

Bagaimana situasi kehidupan sehari-hari di Kuba di tengah pandemi Covid-19?

Anda perlu memahami bahwa kehidupan sehari-hari di Kuba sebelum pandemi Covid-19 sudah sulit. Kini dengan pandemi Covid-19 menjadi jauh lebih sulit. Amerika Serikat yang sangat powerful selama 60 tahun menerapkan sanksi kepada kami yang adalah sebuah negara kecil. Sanksi perdagangan, ekonomi, dan keuangan. Terjadi persekusi keuangan terhadap aktivitas rakyat Kuba dan negara ketiga yang berkeinginan menjalin hubungan bisnis dengan Kuba. Ketika mereka ingin mengirimkan uang, Amerika Serikat menutup akses transfer.

Tetapi kami telah memetik pelajaran berharga dari Castro yang berjuang melawan Amerika Serikat, dan dia mengatakan, kami telah mengakumulasi pengalaman dan praktik terbaik sehingga menghasilkan sesuatu yang besar dan berdampak sosial walaupun sumber daya kami sangat kecil.

Tahun ini sungguh luar biasa dampak dari pandemi Covid-19 dan Kuba sejauh ini berusaha untuk menanggulanginya dan di saat bersamaan berusaha untuk ikut membantu negara lain. Namun begitu, Amerika Serikat terus memberikan tekanan berupa blokade kepada Kuba.

Di bulan Maret tahun ini, Amerika Serikat memblokade pengiriman donasi untuk Kuba, termasuk di dalamnya ventilator dan alat diagnosa, masker dan berbagai alat bantuan kesehatan lainnya yang dikirimkan perusahaan China, Alibaba. Di bulan April, bank dari Swiss menolak mentrasfer donasi dari Solidaritas Swis untuk Kuba karena nama Kuba tertulis dalam dokumen pengiriman uang.

Setelah WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global, banyak aktor di dalam sistem internasional mengecam blokade dan aksi unilateral Amerikat Serikat itu. Begitu banyak petisi yang telah disampaikan kepada Presiden Donald Trump agar menggunakan kekuasaan eksekutif yang dimilikinya untuk mencabut blokade itu. Tetapi dia malah semakin mengetatkan blokade di saat-saat yang sangat sulit seperti sekarang. Mereka terus menekan kami.

Walaupun di tengah blokade Amerika Serikat yang di saat yang sangat sulit ini, kami tetap bekerja menyediakan alat-alat kesehatan berkualitas tinggi untuk rakyat kami. Tanpa mengabaikan prinsip solidaritas, kami mengirimkan Henry Reeve Brigade ke lebih dari 40 negara di Amerika Latin, Afrika, Eropa, juga Asia.

Anda tahu, Amerika Serikat bahkan menekan Kuba dengan menciptakan tuduhan palsu terkait penyelundupan manusia. Mereka tidak menghormati sama sekali perjuangan Henry Reeve Brigade membantu banyak negara yang membutuhkan. Mereka juga mengabaikan apa yang telah kami lakukan selama ini untuk memerangi penyelundupan manusia.

Walaupun begitu, Kuba memiliki pondasi hubungan luar negeri dan solidaritas yang solid dan esensial untuk menyelamatkan nyawa rakyat dari Covid-19.

Dalam kaitannya dengan hal ini, banyak kelompok solidaritas, organisasi politik, dan figur terhormat lainnya membuat sebuah prosposal agar Henry Reeve Brigade mendapatkan Nobel Perdamaian tahun depan untuk kontribusi mereka dalam melawan pandemi Covid-19.

Henry Reeve Brigade didirikan pada 2005 oleh Fidel Castro. Tugas utamanya adalah memberikan bantuan kesehatan dan kemanusiaan untuk rakyat Kuba, baik akibat bencana alam maupun pandemi. Saya menjelaskan ini agar Anda paham mengapa banyak pihak yang meminta agar Henry Reeve Brigade mendapatkan Nobel Perdamaian.

Selama pandemi ini bagaimana sekolah di Kuba? Apakah dibuka? Apa yang Kuba lakukan sebelum membuka sekolah?

Tanggal 2 November kami kembali membuka sekolah yang ditutup sejak bulan Mei lalu. Sebelum membuka sekolah, sangat penting untuk mengontrol penyebaran virus. Bila virus tidak terkontrol, sangat bahaya membuka sekolah. Tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa.

Anak-anak punya sistem kekebalan tubuh yang lebih baik. Tapi mereka tetap bisa meninggal karena Covid-19. Kondisi tubuh anak-anak pun tidak sama. Mungkin ada yang memiliki imunitas tubuh yang bagus. Tetapi yang lain barangkali memiliki alergi, atau asma. Jadi mereka bisa meninggal bila terinfeksi.

Di sisi lain, mereka pun bisa tanpa sengaja ikut menularkan virus kepada orang tua mereka. Dan kalau itu terjadi, rumah sakit bisa lumpuh.

Di Kuba kami memiliki pelayanan kesehatan publik yang bebas dan gratis. Rumah sakit gratis. Orang Kuba tidak khawatir datang ke rumah sakit.

Anda tahu, di era 1980an Amerika Serikat juga pernah mengirimkan senjata biologi untuk menghantam Kuba. Mereka menyebarkan nyamuk pembawa virus demam berdarah dengue di Kuba. Banyak orang tewas termasuk anak-anak. Ini salah satu situasi yang membuat Kuba merasa harus mempersiapkan diri dan terus mempelajari epidemi dan pandemi. Kami punya pengalaman untuk menghadapi hal seperti ini.

Kami punya pengalaman, kami punya produk, kami memiliki sistem kesehatan publik yang baik dan gratis. Populasi kami juga cukup kecil. Di awal pandemi Covid-19 kami menutup sektor pariwisata, kami menutup berbagai sektor ekonomi lainnya, dan juga menutup transportasi. Kami mengontrol keadaan.

Sekarang kami membuka diri secara gradual, sedikit demi sedikit. Semua orang Kuba yang datang ke Kuba mendapatkan isolasi secara gratis di rumah sakit selama 14 hari. Temperatur tubuh mereka diperiksa dan diawasi setiap hari. Kalau mereka memiliki gejala, mereka akan dikirimkan ke fasilitas khusus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka. Mereka tidak boleh bertemu dengan keluarga untuk sementara waktu.

Kami telah melakukan banyak hal dan sekarang kami mulai membuka diri. Kami membuka sekolah dan juga membuka beberapa kementerian. Di kementerian saya, pernah ada masa di mana hanya ada satu direktur yang bekerja untuk melayani kedutaan Kuba di Asia. Sekarang kami sudah membuka sekolah dengan melaksanakan sejumlah protokol kesehatan seperti mengenakan masker dan seterusnya. Inilah situasi di Kuba saat ini.

Apakah di Kuba orang biasa (ordinary people) memiliki kesempatan untuk melakukan penelitian dan memproduksi vaksin Covid-19? Apakah Kuba menawarkan vaksin Covid-19 kepada Indonesia?

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, Kuba telah memiliki empat jenis vaksin. Kuba memiliki pengalaman. Di masa lalu Kuba telah memulai riset untuk menemukan vaksin. Dari 11 vaksin yang digunakan dalam program imunisasi anak-anak di Kuba, delapan di antaranya adalah produksi Kuba. Ini sudah dikerjakan sejak 25 tahun lalu.

Pemerintah memberikan prioritas kepada lembaga-lembaga penelitian karena Kuba memiliki problem ekonomi. Di dalam APBN kami anggaran banyak yang diberikan kepada penelitian bioteknologi, pendidikan gratis, rumah sakit gratis. Banyak yang mengira hal-hal itu kami lakukan karena Kuba adalah developed country. Tidak, tentu saja. Kami memiliki persoalan ekonomi di banyak sektor lain. Tetapi, semua sektor yang memiliki dampak sosial yang besar kepada masyarakat menjadi prioritas bagi kami.

Itu sebabnya sekarang kami memiliki vaksin Covid-19, rumah sakit gratis, sekolah gratis, dan pembangunan di sektor-sektor tersebut.

Tentu saja Kuba berkeinginan menawarkan solidaritas dan memberikan dukungan kepada Indonesia dan semua negara yang memerlukan bantuan. Tapi sekarang ini vaksin Covid-19 sedang diproses. Ujicoba klinik vaksin Soberana-1 dimulai pada bulan Agustus lalu. Bulan ini (November) mereka mendapatkan otorisasi untuk tiga kandidat vaksin lainnya yang akan memulai proses ujicoba. Diharapkan pada tiga bulan pertama tahun depan mereka sudah bisa digunakan sebagai vaksin. Kalkulasi ini saya buat dari berita-berita yang saya baca di media massa Kuba. Saya tidak punya kalkulasi yang sebenarnya. Ini adalah perkiraan saya.

Tentu saja kami menawarkan solidaritas dan bantuan kepada Indonesia, terlebih karena kita memiliki hubungan kerjasama dan persahabatan selama 60 tahun.

Apakah Kuba melihat potensi kerjasama dengan ASEAN di era pandemi sekarang ini?

Pada tanggal 10 November yang lalu Kuba telah menandatangani Treaty of Amity and Cooperation (TAC) dalam ASEAN Summit ke-37 yang diselenggarakan secara virtual dari Hanoi, Viet Nam. Kuba menjadi negara Karibia pertama yang bergabung dengan platform kerjasama regional di Asia Tenggara itu. Dalam sambutannya, kepada seluruh negara ASEAN, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez menawarkan kerjasama pembangunan pusat penelitian dan pengembangan produk bioteknologi di sebuah taman teknologi salah satu negara anggota ASEAN. Dia juga menawarkan studi klinik bersama untuk kandidat vaksin Covid-19 yang diproduksi Kuba.

Ini dasar yang kita punya saat ini dengan ASEAN dan juga Indonesia. Saya tidak dapat melakukan perjalanan ke banyak tempat di Indonesia di era pandemi saat ini. Tetapi saya tahu Indonesia memiliki banyak taman ilmiah dan teknologi. Misalnya, saya pernah bertemu dengan Direktur Sumbawa Technopark. Saya tahu Indonesia punya banyak fasilitas seperti ini.

Saya akan sangat senang apabila pihak Indonesia menawarkan ke Kuba program kerjasama menyambut apa yang disampaikan Menlu Kuba (dalam ASEAN Summit ke-37). Kita bisa mengembangkan vaksin Covid-19 yang diproduksi Kuba. Vaksin ini adalah 100 persen buatan Kuba. Kita dapat bekerjasama untuk memproduksi lebih banyak lagi.

Saya bukan ilmuwan, saya bukan ahli. Tapi saya tahu mereka akan memproduksi vaksin untuk seluruh rakyat Kuba. Penduduk Kuba hanya sebelas juta jiwa. Apabila kita bisa bekerjasama di sini, di Indonesia, hanya dengan satu technopark, hasilnya akan sangat signifikan.

Saya tahu, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi, seperti yang saya baca di media-media Indonesia, sangat aktif dalam hal mencari vaksin Covid-19. Seperti dengan China atau Korea Selatan. Bulan lalu ia berkunjung ke Swiss dan Inggris untuk menjamin ketersediaan vaksin Covid-19 untuk populasi Indonesia yang sangat besar.

Dengan penawaran yang telah disampaikan Menlu Kuba, dan jaminan personal saya sebagai Dubes Kuba di Indonesia, Anda bisa mengandalkannya.

Bagaimana peranan kaum wanita di Kuba saat ini? Apakah mereka memiliki partisipasi yang sangat besar dalam pembangunan Kuba?

Sejak kemenangan Revolusi, pemerintah Kuba memberikan prioritas kepada kaum wanita. Sebelum Revolusi, kebanyakan kaum wanita bekerja di dalam rumah bersama keluarga. Atau sebagai pelacur, karena sebelum Revolusi, banyak orang Amerika Serikat yang berkunjung ke Kuba setiap hari atau di akhir pekan menggunakan Kuba sebagai night club dengan wanita-wanita Kuba yang mereka jadikan pelacur.

Tetapi Revolusi memberikan kesempatan kepada kami, kaum wanita, untuk belajar. Saya belajar Hubungan Internasional tanpa membayar satu sen pun. Bukan hanya saya, tapi semua kolega saya. Revolusi juga memberikan kesempatan kepada Ibu saya sejak awal. Mungkin sekitar dua atau tiga tahun setelah kemenangan Revolusi, Ibu saya mulai belajar dan dia bekerja sebagai guru.

Sekarang di Kuba kami memiliki lebih banyak mahasiswa wanita daripada laki-laki. Wakil Menteri di Kementerian Luar Negeri, di Kementerian Perdagangan, di Kementerian Keuangan, Wakil Presiden adalah wanita. Saya kira sekarang lebih banyak dokter perempuan daripada dokter laki-laki. Saya tidak memiliki figur mengenai hal ini. Di Majelis Nasional kami juga memiliki banyak wanita. Juga, kami memiliki banyak wanita yang bertugas sebagai dutabesar di negara-negara sahabat. Dutabesar Kuba di Indonesia, di Viet Nam, di Kamboja, dan di banyak negara lain di Eropa, di Afrika, dan di Amerika Latin.

Baru-baru ini Western Union menutup kantornya di seluruh Kuba. Apa yang terjadi dengan masyarakat Kuba yang selama ini menggunakan pelayanan Western Union?

Sejak tahun lalu sampai pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini, pemerintah Amerika Serikat menerapkan sekitar 200 tindakan blokade terhadap Kuba, salah satunya adalah melarang Western Union beroperasi di Kuba. Proses ini dimulai tahun lalu, karena perusahaan jasa keuangan Kuba, Fincimex, yang menjadi partner Western Union, dimasukkan pemerintahan Donald Trump dalam daftar perusahaan terlarang di Kuba. Tidak ada perusahaan asing yang dapat bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan Kuba yang dimasukkan pemerintah Amerika Serikat ke dalam daftar itu. 

Anda tahu, mereka memiliki semua daftar yang mereka inginkan, untuk semua negara di muka bumi, seakan mereka adalah direktur di dunia ini.

Jadi bulan ini Western Union mengumumkan mereka tidak dapat lagi berbisnis dengan Kuba. Amerika Serikat menuding Fincimex dioperasikan oleh kelompok militer Kuba. Ada sebanyak 147 kantor pelayanan Western Union yang ditutup sehingga menyulitkan transfer keuangan dari orang-orang Kuba yang berada di Amerika Serikat untuk keluarga mereka di Kuba.

Ini hanya satu dari sekitar 200 tindakan blokade yang diterapkan Amerika Serikat kepada Kuba dan memberikan dampak yang sangat besar bagi keluarga Kuba yang dipisahkan selat, baik yang di Amerika Serikat maupun yang Kuba.

Selain itu mereka juga melarang penerbangan ke kota-kota lain di Kuba. Penerbangan dari luar negeri hanya bisa menuju bandara internasional di Havana. Misalnya, bagi warga Kuba yang tinggal di Miami, Amerika Serikat, dan memiliki keluarga di Santiago de Cuba atau di Guantanamo dan provinsi lain, mereka tidak bisa terbang langsung ke provinsi-provinsi yang jauh itu. Mereka harus terbang dulu ke Havana, lalu dari Havana mereka harus menggunakan alat transport lain untuk mencapai tempat keluarganya, misalnya di Santiago de Cuba, dan ini memakan waktu. Ini menyulitkan karena waktu yang mereka miliki sangat singkat, karena mereka harus kembali ke Amerika Serikat untuk bekerja.

Semua ini mereka (Amerika Serikat) lakukan untuk membuat kehidupan sehari-hari rakyat Kuba semakin sulit.

Orang Kuba yang tinggal di Amerika Serikat, apakah mereka pro Revolusi atau anti Revolusi?

Ada orang Kuba yang mendukung Kuba, tetapi ada juga orang Kuba yang tidak mendukung Revolusi. Bila ada orang Kuba yang tinggal di Amerika Serikat dan memiliki pemikiran dan ideologi berbeda, yang tidak mendukung pemerintah Kuba, yang tidak mendukung Revolusi, itu OK saja. Karena setiap orang boleh memiliki pemikiran yang berbeda, ide yang berbeda.

Tetapi situasi ini tidak sama bila mereka menerima uang dari pemerintah Amerika Serikat untuk mempersiapkan tindakan kekerasan terhadap warga Kuba di Amerika Serikat maupun di Kuba, untuk mendukung kontra revolusi, untuk mendukung serangan terorisme di Kuba, untuk mendukung Amerika Serikat sehingga Amerika Serikat melarang transfer uang dari orang-orang Kuba yang bekerja di Amerika Serikat untuk keluarga mereka di Kuba, untuk mencegah turis datang ke Kuba, untuk mencegah penerbangan ke semua bandara di Kuba, atau mencegah bisnis antara perusahaan-perusahaan Kuba dengan perusahaan-perusahaan negara lain, untuk mencegah ekspor produk-produk yang memiliki komponen Amerika Serikat sebanyak 10 persen, juga untuk menekan pemerintahan negara lain sehingga tidak mau menerima tim kemanusiaan Kuba.

Mereka menekan dan mempengaruhi negara lain yang membutuhkan bantuan di masa sulit ini dengan mengatakan bahwa dokter-dokter Kuba adalah penyelundup manusia. Mereka juga membuat larangan bagi perusahaan-perusahaan lain, tidak hanya perusahaan Amerika Serikat, untuk menjual ventilator kepada Kuba.

Jelas ini dua hal yang tidak sama. Memiliki pemikiran yang berbeda dibandingkan dengan pikiran saya dan melakukan tindakan demi tindakan yang membuat kehidupan di Kuba semakin hari semakin sulit, memblokade makanan, obat-obatan, mengintervensi urusan dalam negeri kami. Juga berbeda dengan meletakkan bom di salah satu hotel kami untuk mencegah kami mendapatkan pemasukan dari sektor industri pariwisata.

Kembali ke sistem kesehatan nasional. Kelihatannya sistem kesehatan Kuba tidak memiliki persoalan dengan budget. Bagaimana Kuba membangun sistem kesehatannya?

Revolusi telah mengubah model dan sistem di Kuba. Sebelum Revolusi, rakyat Kuba tidak memiliki peluang untuk mendapatkan pendidikan gratis. Kehidupan sebelum Revolusi adalah buah dari kapitalisme yang sangat kejam (cruel). Tetapi ketika Revolusi menang, dan Kuba berubah, Kuba memprioritaskan pendidikan nasional karena mayoritas rakyat Kuba tidak dapat membaca, tidak bisa menulis. Setelah itu prioritas diberikan kepada sistem kesehatan (health care). Banyak.

Kuba memiliki masalah ekonomi yang luar biasa. Masalah yang barangkali Indonesia tidak miliki. Kami negara kecil, tidak memiliki sumber daya alam. Hanya sedikit sumber daya alam, seperti nikel. Kami memiliki sektor pariwisata. Kami harus membangun sumber daya manusia melalui sistem kesehatan nasional dan bioteknologi.  

Kuba menilai sangat penting untuk memberikan alokasi dana yang besar pada sistem kesehatan nasional, untuk menggratiskan rumah sakit, dan memberikan perawatan kesehatan terbaik. Ini semua karena manusia adalah hal yang paling penting di Kuba. Lebih penting daripada uang. Apa yang akan Anda lakukan dengan uang Anda apabila Anda tidak punya kehidupan? Atau tidak memiliki kesehatan yang baik. Itu sebabnya bagi Kuba yang paling penting adalah manusia.

Dan untuk memberikan perhatian kepada manusia penting untuk menyediakan rumah sakit yang gratis. Terkadang saya mengunjungi dua atau tiga rumah sakit dalam satu hari karena saya tidak puas dengan satu opini dokter, dan saya ingin mendengarkan opini kedua. Ini saya lakukan untuk memeriksa dan mengkonfirmasi, sehingga saya bisa tenang di rumah saya saat malam hari.

Kami memiliki kemungkinan karena pemerintah mengembangkan hal itu. Bila seseorang di Kuba tidak ingin belajar, dia bisa langsung bekerja. Tetapi bila Anda ingin belajar, Anda akan belajar disiplin ilmu yang Anda dapat pelajari berdasarkan ujian masuk. Tidak diperlukan uang untuk belajar di perguruan tinggi, tetapi dibutuhkan usaha. Ini prioritas yang dimiliki negara kami sejak saya lahir. Saya dibesarkan dan dididik dengan prioritas seperti ini.

Kelihatannya beberapa waktu belakangan ini Kuba melakukan semacam reformasi. Sebelumnya kekuasaan berada di tangan pemimpin Partai Komunis Kuba. Sekarang Kuba membagi kekuasaan. Bagaimana Anda menjelaskan persoalan ini? Atau, apakah Anda setuju dengan saya bahwa ini adalah reformasi?

Ya (setuju). Seperti yang Anda tahu, Covid-19 merusak perekonomian di dunia. Dan tentu saja ia semakin mempersulit perekonomian Kuba. Selain menghadapi pandemi Covid-19 serta tekanan dan blokade Amerika Serikat, pemerintah kami juga harus fokus mengaplikasikan berbagai program yang telah diputuskan dalam Kongres Partai Komunis Kuba yang terakhir, terutama yang terkait dengan strategi ekonomi dan sosial. Tidak ada waktu untuk menunda reformasi di kedua sektor ini.

Model yang digunakan memiliki tujuan untuk meng-update model yang ada termasuk di dalamnya reorganisasi sistem moneter Kuba. Anda tahu di Kuba kami masih memiliki tiga mata uang, yakni Cuban Peso (CUP), Cuban Convertible Peso (CUC), dan dolar AS. Upaya mengeliminasi sistem dua mata uang dan nilai tukar mata uang adalah hal yang sangat penting saat ini. Ini tidak memecahkan semua masalah yang terakumulasi dalam sistem ekonomi Kuba. Tetapi sangat penting untuk meng-update model ekonomi. Ini akan memiliki dampak ekonomi dan sosial.

Kuba sedang menghadapi situasi yang sulit yang menghalangi sistem ekonomi berfungsi normal, seperti inefisiensi perusahaan negara (state enterprises), masalah dalam menyediakan insentif dan stimulus untuk meningkatkan ekspor, dan juga gaji yang rendah. Ini karena kami tidak harus membayar rumah sakit, pendidikan, vaksin Covid-19. Tetapi, itu membebani rumah sakit, untuk obat-obatan, untuk gaji dokter dan perawat. Ini menjadi beban bagi pemerintah.

Kami memiliki makroekonomi yang tidak berimbang, dengan defisit fiskal yang tinggi yang membuat pemerintah harus menyetujui transfer anggaran nasional ke sistem keuangan perusahaan negara.

Terlepas dari persoalan ini berbagai sektor publik telah mencapai kemajuan yang sangat berarti berkat kebijakan yang diambil dalam beberapa tahun belakangan. Tetapi juga penting untuk menciptakan perubahan yang produktif baik di sektor negara (publik) maupun sektor non-negara (private).

Kami harus memberikan stimulus untuk mendorong ekspor agar mengurangi beban impor. Ini semua bertujuan agar perusahaan negara memiliki motivasi yang lebih tinggi dalam berproduksi, lebih kompetitif, dan mendukung kebijakan negara untuk meningkatkan ekspor dan menggantikan impor.

Persoalan yang ditimbulkan dual system moneter tidak bisa diatasi dalam waktu singkat karena ini berdampak pada rakyat. Kami harus menjalankan hal ini secara gradual.

Perusahaan negara mungkin di tahun pertama proses ini akan menderita kerugian, dan anggaran negara yang diberikan pemerintah harus mendukung mereka. Pemerintah tidak berencana menutup perusahaan-perusahan negara yang tidak begitu efisien. Mengapa? Karena pelayanan penting yang harus tetap mereka berikan kepada masyarakat, dan sekarang harus meningkatkan gaji pekerja.

Itu sebabnya ini akan dilakukan secara gradual, dan pemerintah telah mengumumkan ini adalah ide awal, dan setiap tahap akan dijelaskan secara gradual pula. Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut, karena ini masih proses.

Apakah Kuba akan tetap menjadi negara komunis?

Kami akan tetap menjadi negara komunis. Karena kami memiliki ideologi komunis. Ideologi kami tidak bisa diubah, karena terbukti kami dapat bertahan melawan Amerika Serikat yang sangat berkuasa dan sangat kejam.

Kami dapat bertahan dengan ideologi sosialisme dan ideologi komunisme untuk melindungi seluruh warganegara kami untuk mendapatkan pelayanan rumah sakit gratis, pendidikan gratis, untuk tidak memiliki kelompok kaya dan miskin. Kami memiliki sosialisme yang paling memungkinkan untuk sama rasa dan sama rasa, dan keseimbangan (equilibrium).

Ini berarti Partai Komunis Kuba akan tetap menjadi satu-satunya kekuatan politik di Kuba?

Kami akan tetap mempertahankan Partai Komunis Kuba dengan panduan keseluruhan proses ini, dan kami akan meng-update sistem ekonomi kami karena situasi, karena krisis global setelah pandemi, dan setelah penerapan (reinforcement) sanksi dari Amerika Serikat yang lebih berat dari sebelumnya.

Saya rasa Anda paham bahwa di Indonesia komunisme memiliki konotasi yang buruk…

Itu tergantung pada apa yang Anda pahami mengenai komunisme. Atau, apa yang dilakukan orang-orang tertentu yang mengatasnamakan komunisme.

Saya paham. Tetapi, tidakkah Anda merasa bahwa perbedaan penilaian mengenai komunisme ini akan mempersulit upaya kedua negara memperkuat hubungan?

Saya tidak tahu apakah penting untuk bertanya kepada pihak-pihak yang memiliki dan memahami komunisme. Mungkin saya akan memiliki kesempatan, atau barangkali saya harus, di dalam berbagai pertemuan dan pembicaraan dengan teman-teman di Indonesia, menjelaskan tentang apa itu komunisme Kuba, apa itu sosialisme Kuba. 
Sosialisme Kuba adalah kesempatan yang sama bagi semua orang Kuba. Kesempatan yang sama untuk mendapatkan, misalnya, pendidikan dan kesehatan.

Juga (menjelaskan) apa konsep sosialisme di negara lain. Kita tahu, sebagai contoh, China memiliki apa yang mereka sebut sebagai sosialisme gaya China. Atau sosialisme Viet Nam. Karena setiap negara memiliki keunikan (particularity) masing-masing, pembangunan masing-masing, taraf ekonomi masing-masing, jumlah populasi, sumber daya alam. Sehingga kita harus menyesuaikan (adapt) sosialisme kita dan ideologi kita, tujuan kita, strategi kita, dengan situasi yang kita miliki di negara kita masing-masing.

Saya bekerja sepanjang karier diplomatik saya di China. Mereka tahu apa itu sosialisme Kuba. Kami bekerjasama dengan erat. Banyak kunjungan delegasi satu sama lain. Mungkin kalau sebelumnya saya bertugas di Indonesia, saya memiliki kesempatan untuk menjelaskan apa itu sosialisme dan komunisme Kuba.  

Di tahun 2015, di era pemerintahan Barack Obama, Kuba dan Amerika Serikat sempat memperbaiki hubungan diplomatik. Tetapi di era Donald Trump, hal itu kembali dirusak. Baru-baru ini Joe Biden memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat. Apakah menurut Anda perubahan rezim di Amerika Serikat akan mempengaruhi Kuba dan hubungan Kuba dengan Amerika Serikat?

Pertama, saya ingin memberikan komentar bahwa pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama, walaupun mereka mengakui kebijakan blokade terhadap Kuba sebagai kebijakan yang tidak up to date dan memperbaiki hubungan bilateral dengan Kuba, tapi Presiden Barack Obama tidak menggunakan kekuasaan eksekutif prerogatif yang dimilikinya. He didn’t make it, untuk menghentikan kebijakan blokade terhadap Kuba. Dia tidak mencabut blokade.

Tentu saja di era Donald Trump semua dimentahkan. Dia membuat kebijakan yang membuat kehidupan orang Kuba setiap hari semakin sulit.

Terkait dengan pemilihan presiden yang baru berlalu, kami mengakui bahwa rakyat Amerika Serikat telah memilih arah baru. Dan kami percaya pada kemungkinan (bagi kedua negara) memiliki hubungan bilateral yang konstruktif sambil di saat bersamaan saling menghormati perbedaan di antara kami.

Untuk memiliki hubungan yang konstruktif penting untuk menghormati perbedaan kita dan untuk mengetahui bahwa kesulitan utama dalam hubungan Kuba dan Amerika Serikat ini adalah bila pemerintahan baru mempertahankan blokade perdagangan, ekonomi, dan keuangan secara sepihak (unilaterally) yang telah berlangsung selama 60 tahun. Itulah hambatan utama bagi hubungan bilateral kami dengan Amerika Serikat, bagi pembangunan Kuba di semua aspek, dan bagi kehidupan sehari-hari rakyat Kuba.

Apa yang bisa kita katakan bila Amerika Serikat setiap hari menekan rakyat Kuba, setiap hari menekan negara ketiga yang ingin memiliki hubungan dagang dengan Kuba. Kita tidak bisa mengatakan itu adalah hubungan, apalagi menyebutnya sebagai hubungan yang konstruktif.

Tahun ini tahun terburuk yang kami hadapi terkait pemerintahan Amerika Serikat. Karena tujuan dari blokade Amerika Serikat adalah untuk menghancurkan ekonomi kami dan memecah belah rakyat kami. Tapi mereka merasa mereka membantu rakyat Kuba. Kami sungguh tidak dapat memahami jalan pikiran mereka.

Seperti yang tadi saya sampaikan, mereka melarang penerbangan ke kota-kota Kuba. Bahkan mereka melarang penerbangan yang membawa bantuan makanan dan kemanusiaan.

Jadi apakah Anda percaya Joe Biden akan mengambil kebijakan yang berbeda terhadap Kuba?

Kami percaya bahwa rakyat Amerika Serikat telah memilih jalan baru. Kami memiliki kemampuan untuk berdialog lagi, untuk berkomunikasi lagi, untuk memiliki hubungan yang konstruktif, sambil di saat bersamaan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada.

Tetapi saya tidak tahu apa yang akan dilakuan Joe Biden. Tidak ada yang tahu. Kita harus menunggu sampai tanggal 20 Januari 2021. Kita tidak tahu apa yang terjadi karena Trump mengatakan dirinya lah yang menang.

Apakah Kuba masih membuka Kedubes di Washington DC?

Kami masih membuka Kedubes kami di Washington DC. Amerika Serikat hanya memiliki Interest Office di Havana karena tahun lalu mereka pergi dari Kuba dan menuduh Kuba melakukan serangan sonic terhadap diplomat-diplomat mereka.  

Mereka memiliki kebijakan terhadap Kuba yang sangat kejam dan brutal selama masa pemerintahan Trump. Kami menunggu sampai Joe Biden memulai pemerintahannya (took the office), dan mengambil prioritas kebijakan. Kita tahu bahwa Amerika Serikat sedang menghadapi banyak persoalan di dalam negeri. Mereka negara yang paling kaya, namun memiliki jumlah kasus Covid-19 paling tinggi. Masyarakatnya juga terbelah. Jadi kita harus menunggu apa yang akan jadi perspektif mereka terhadap dunia, terhadap Amerika Latin, terhadap Kuba, atau terhadap Asia.

Tetapi kami, sejak awal, Presiden Miguel Diaz-Canel menginformasikan bahwa kami memiliki sikap yang konstruktif untuk memiliki hubungan yang konstruktif pula dengan Amerika Serikat, dan di saat bersamaan saling menghormati perbedaan dan kedaulatan. []

Rachmawati Inisiasi Pembentukan Juche Study Group Indonesia

Putri proklamator Republik Indonesia Rachmawati Soekarnoputri memprakarsai pendirian Juche Study Group Indonesia (JSGI).

Selain untuk mempelajari Juche, ideologi negara Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara, JSGI juga didirikan untuk membicarakan pikiran-pikiran kebangsaan dan kedaulatan yang relevan bagi bangsa-bangsa di dunia dalam menghadapi neokolonialisme dan neoimperialisme dengan segala manifestasinya.

Juche yang kerap diartikan sebagai ideologi kemandirian atau self reliance dikembangkan pendiri Korea Utara, Kim Il Sung, di masa perlawanan bangsa Korea terhadap penjajahan Jepang.

Continue reading “Rachmawati Inisiasi Pembentukan Juche Study Group Indonesia”

ASEAN Berpeluang Besar Menjadi Partner Terbesar Korea Selatan

Asia Tenggara dan negara-negara anggota ASEAN memiliki arti penting bagi Republik Korea atau Korea Selatan. Hubungan Korea Selatan dengan kawasan ini dimulai pertama kali melalui ASEAN-ROK Partnership Dialogue yang diselenggarakan November 1989.

Kualitas hubungan itu meningkat dari tahun ke tahun dan semakin signifikan setelah dalam kunjungan ke Jakarta di bulan November 2017 Presiden Moon Jaein mengumumkan kebijakan baru yang diberi nama New Southern Policy (NSP).

Dengan kebijakan ini, Korea Selatan ingin meningkatkan kualitas hubungannya dengan India dan Asia Tenggara sehingga memiliki kualitas yang sama seperti hubungan Korea Selatan dengan mitra tradisional mereka yakni Republik Rakyat China, Jepang, Amerika Serikat, dan Federasi Rusia.

Continue reading “ASEAN Berpeluang Besar Menjadi Partner Terbesar Korea Selatan”

Menengok Sejarah Sahara Maroko, Apa Maksud Provokasi Polisario?

Wilayah Sahara Maroko atau Sahara Barat kembali menjadi perhatian masyarakat internasional. Perhatian dunia tertuju ke wilayah itu setelah kelompok separatis Front Polisario melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Kerajaan Maroko yang telah berlangsung selama 29 tahun pada akhir pekan kemarin.

Konflik antara Maroko dan Polisario ini menjadi tema yang dibahas khusus dalam pertemuan rutin Dewan Kerjasama Perdagangan dan Investasi Indonesia-Maroko (DK-PRIMA) yang diselenggarakan Kamis malam (19/11).

Pertemuan dihadiri mantan Dubes RI untuk Maroko, Tosari Widjaja, dan Presiden DK-PRIMA Heppy Trenggono bersama sejumlah pengurus lain.

Sebagai narasumber adalah pengamat hubungan internasional Teguh Santosa yang pernah dua kali menjadi petisioner masalah Sahara Barat di Komisi IV di Markas PBB, New York, Amerika Serikat, pada tahun 2011 dan 2012.

Continue reading “Menengok Sejarah Sahara Maroko, Apa Maksud Provokasi Polisario?”

Menyesali Nyanyi Revolusi

Namanya Kadhim al Jabbouri. Di dalam video yang diproduksi BBC tahun 2016 ini disebutkan pria asal Baghdad itu pernah bekerja mereparasi sepeda motor Saddam Hussein.

Tidak diceritakan secara detail, Khadim al Jabbouri juga sempat dipenjara selama 1,5 tahun. Lalu, belasan anggota keluarganya pun dieksekusi rezim. Itu yang membuat rasa simpatinya pada Saddam Hussein berubah menjadi benci.

Tanggal 9 April 2003 Kadhim al Jabbouri ikut memukulkan palunya ke pondasi patung Saddam Hussein di Taman Firdaus di pusat Baghdad.

Continue reading “Menyesali Nyanyi Revolusi”

Dubes Viet Nam: Kompetisi adalah Hal yang Biasa

DENGAN wilayah seluas 331 kilometer per segi yang memanjang dari utara ke selatan di lengkungan paling timur daratan Asia Tenggara, Viet Nam yang memiliki populasi sebanyak 96,2 juta jiwa kini menjadi salah satu tujuan utama investasi dunia.

Negeri ini pernah koyak moyak dihancurkan perang saudara yang berlangsung cukup lama di era Perang Dingin, dari 1955 hingga 1975. Perang Viet Nam adalah salah satu pertikaian bersenjata paling berdarah pasca Perang Dunia Kedua yang merengut korban jiwa sekitar 1,5 juta orang dari kalangan sipil maupun militer. Konflik kedua Viet Nam telah mengundang kehadiran negara-negara asing yang membuat konflik semakin parah. Namun akhirnya perang saudara berakhir jua dan pada 2 Juli 1976, Viet Nam Utara dan Viet Nam Selatan sepakat mendirikan Republik Sosialis Viet Nam.

Kebangkitan ekonomi Viet Nam dimulai di bulan Desember 1986. Di dalam Kongres Nasional Ke-6 Partai Komunis Viet Nam ketika itu politisi muda yang berorientasi reformis menggantikan kelompok politisi senior. Doi Moi atau Renovasi yang diperkenalkan Sekjen PKVN Nguyen Van Linh sejatinya adalah serangkaian kebijakan yang mengadopsi prinsip pasar bebas dengan mempertahankan orientasi sosialisme. Viet Nam pun mulai membuka diri.

Continue reading “Dubes Viet Nam: Kompetisi adalah Hal yang Biasa”

Mengenang Ondos

Ondoslah yang menarik tangan saya, di saat saya sedang mengagumi bagian tengah Aya Sofya.

Ia mengajak saya ke salah satu sudut, tidak jauh dari tempat saya berdiri.

“Kau harus lihat ini,” katanya berjalan cepat di depan saya.

Di pojok itu dia menengadahkan kepala.

Saya ikuti Ondos, juga menengadahkan kepala.

Continue reading “Mengenang Ondos”

Bila Pecah Perang Antara Dua China, Indonesia Pilih Apa?

Seorang teman yang bekerja untuk kantor berita Republik Rakyat China (RRC) mengajukan lima pertanyaan mengenai ketegangan yang sedang atau kembali terjadi antara RRC yang dikuasai Partai Komunis China (PKC) dan dipimpin Xi Jinping dengan Taiwan yang dikuasai Partai Progresif Demokrat dan dipimpin Tsai Ingwen. Juga ditanyakan bagaimana Indonesia melhat ketegangan itu, serta adakah kemungkinan Indonesia melibatkan diri atau terpaksa terlibat di dalamnya.

Continue reading “Bila Pecah Perang Antara Dua China, Indonesia Pilih Apa?”

Kami Tidak Harus Memilih Salah Satu dari Mereka

SETIDAKNYA sejak 12 ribu tahun sebelum Masehi negeri seluas 1,1 kilometer persegi di belahan utara Amerika Selatan ini telah didiami penduduk pribumi, dari bangsa Chibcha, Muisca, Quimbaya, Tairona, dan Inca yang berkembang di baratdaya Kolombia modern.

Pengelana Spanyol Alonso de Ojeda melihat wilayah ini pertama kali ketika melintasinya di tahun 1499. Tak lama kemudian, pengelana Spanyol berikutnya, Juan de la Cosa, mendarat di Tanjung Sails, La Guajira. Tiga tahun kemudian, giliran Vasco Nunez de Balboa menduduki wilayah di sekitar Sungai Atrato, satu dari begitu banyak sungai di Kolombia.

Hingga pertengahan abad ke-16 kekuasaan kolonial Spanyol berkembang pesat. Negeri-negeri di kawasan itu disatukan di bawah payung Kerajaan Baru Granada (Nuevo Reino de Granada) dengan ibukota Santa Fe de Bogota.

Continue reading “Kami Tidak Harus Memilih Salah Satu dari Mereka”

19 Tahun 9/11

Pak Jaya Suprana memegang medali persahabatan kelas dua yang saya terima dari pemerintah Korea Utara di teras Hotel Yanggakdo di Pyongyang, Korea Utara, Agustus 2017.
Saya bersama Pak Dahlan Iskan berfoto di atas Tugu Juche di tepi Sungai Taedong di Pyongyang, Korea Utara, Oktober 2018.

Pak Jaya Suprana mengirimkan link tulisannya di Kompas untuk mengenang kepergian maestro pers nasional Jakob Oetama yang wafat dua hari lalu (9/9). Seperti biasa tulisan Pak Jaya tidak bertele-tele, dipadati perenungan dan pesan moral.

“Jelas bahwa jasa-jasa Pak Jakob terasa bukan hanya di bidang pers tetapi juga di bidang percetakan, penerbitan, retailer, manufacturing, perhotelan yang membuka lapangan kerja bagi puluhan ribu kepala keluarga di Indonesia,” tulis pendiri Museum Rekor Indonesia-Dunia (MURI) itu.

“Maka kita semua wajib menyampaikan ucapan terima kasih atas segenap mahakarsa dan mahakarya yang telah dipersembahkan oleh Pak Jakob kepada negara, bangsa dan rakyat Indonesia!” tutupnya di akhir tulisan.

Continue reading “19 Tahun 9/11”

Dibantah, Berita Yang Mengatakan Timor Leste Ingin Kembali Ke Indonesia

Bersama Julio Tomas Pinto, 2010

Beberapa hari belakangan ini berita mengenai keinginan warga Timor Leste kembali bergabung dengan Indonesia ramai dibicarakan.

Disebutkan, keinginan itu dipicu pada kenyataan bahwa kini Timor Leste termasuk salah satu negara termiskin di dunia. Menurut laporan United National Development Programme (UNDP) yang dikutip Kompas, Timor Leste berada di peringkat 152 dari 162 negara di dunia.

Sementara Heritage.org menempatkan Timor Leste pada posisi ke-171 dengan skor kebebasan ekonomi 45,9. Adapun laporan resmi Bank Dunia tahun 2020 menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Timor Leste paling lambat dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Continue reading “Dibantah, Berita Yang Mengatakan Timor Leste Ingin Kembali Ke Indonesia”

Maduro Ampuni Musuh Politik, Dubes Venezuela: Kami Menjunjung Tinggi Demokrasi Dan Hak Asasi

Pemerintah Republik Bolivarian Venezuela membebaskan sebanyak 110 tokoh oposisi dari berbagai tuduhan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpartisipasi dalam pemilihan Kongres Nasional yang akan diselenggarakan 6 Desember mendatang.

Mereka yang dibebaskan ini terlibat dalam kerusuhan di tengah protes yang terjadi sepanjang April hingga pertengahan Agustus 2017 lalu.

Sebagian dari mereka ditahan. Tidak sedikit yang bersembunyi di sejumlah kedutaan asing di Caracas. 

Continue reading “Maduro Ampuni Musuh Politik, Dubes Venezuela: Kami Menjunjung Tinggi Demokrasi Dan Hak Asasi”

Juara Tour De France 2019 Dari Kolombia Titipkan Cindera Mata Untuk Jokowi Yang Dikaguminya

Namanya Egan Arley Bernal Gomez. Biasa disapa Ergan Benal. Lahir di Bogota, ibukota Kolombia, 13 Januari 1997, Ergan Bernal adalah juara Tour de France tahun 2019 lalu sejauh 3.365 kilometer.

Egan Bernal pembalap dari Amerika Latin pertama yang memenangkan balap sepeda dunia tahunan yang mulai pada 1903 itu. Di saat bersamaan dia juga berhasil mencatatkan diri sebagai orang termuda yang memenangkannya. Ketika memenangkan Tour de France, Egan Bernal baru berusia 23 tahun.

Continue reading “Juara Tour De France 2019 Dari Kolombia Titipkan Cindera Mata Untuk Jokowi Yang Dikaguminya”

Dubes Turki Prof. Kılıç: Kami Tidak Mengubah Aya Sofya Menjadi Diskotik

RASANYA Prof. Dr. Mahmut Erol Kılıç adalah orang yang tepat untuk menjelaskan duduk persoalan ini: keputusan pemerintah Turki mengembalikan fungsi Aya Sofya sebagai masjid.

Pria kelahiran Istanbul, 2 Juni 1961, ini adalah Dutabesar Republik Turki untuk Republik Indonesia. Ia pernah menjadi Presiden Museum Turki dan Islam selama tiga tahun dari 2005 hingga 2008.

Tesis untuk gelar master di Universitas Marmara yang ditulisnya tahun 1988 berjudul “Hermes and Hermetic Thought in the light of Islamic Sources”. Di tahun 1993, setelah pembentukan Jurusan Sufisme di Universitas Turki yang dipimpinnya, Prof. Kılıç menulis disertasi berjudul “Existence and its Stages in Ibn Arabi’s Thought”.

Continue reading “Dubes Turki Prof. Kılıç: Kami Tidak Mengubah Aya Sofya Menjadi Diskotik”

Lele Korea Utara

Peternakan ikan lele ini terletak di distrik Samchon, sedikit di luar Pyongyang, ibukota Korea Utara. Disebut Samchon karena di tempat ini ada tiga sumber air panas dengan suhu antara 48 sampai 50 derajat celcius.

Didirikan sekitar 20 tahun lalu, sejak tiga tahun lalu pemerintah Korea Utara memberikan perhatian yang lebih serius untuk memaksimalkan produksi ikan lele di tempat ini.

Lebih ilmiah, intensif, dan mengadopsi pendekatan industri yang lebih mapan. Begitu tulis majalah Democratic People’s Republic of Korea edisi 774, bulan Juni tahun Juche 109 (2020) yang format .pdf-nya saya terima beberapa minggu lalu. Foto ini diambil oleh Hong Thae Ung, dan artikel singkatnya ditulis Choe Song Sun.

Continue reading “Lele Korea Utara”

Sapardi Djoko Damono

Lahir di Surakarta, 20 Maret 1940, pujangga Sapardi Djoko Damono yang dikenal dengan larik-larik sederhana sarat makna dalam karya-karyanya meninggal dunia di Jakarta, 19 Juli 2020.

Ada saya baca, terkait kesederhanaan karya-karyanya ya g memukau dan memikat pembaca lintas era, alm. Sapardi mengatakan, kira-kira, dirinya tak pernah memaksakan makna. Kesederhanaan, atau apa yg dipandang orang sbg kesederhanaan, dalam larik-larik sajak yang ditulisnya, tidak pernah diniatkan sebagai kesederhanaan. Rasanya, Sapardi menulis mengikuti ayunan jiwa.

Harus diakui, tak banyak karya SDD yang saya baca. Sajak “Aku Ingin” tentu populer di era 1990an. Musikalisasinya dalam berbagai kegiatan keseniaan yang saya ikuti di Bandung kala itu mengiris-iris gendang telinga.

Continue reading “Sapardi Djoko Damono”

Di Ujung Putus Asa

Di ujung putus asa menunggu kesempatan memasuki Irak dari Suriah, saya memutuskan untuk berangkat ke Turki. Naik bis malam, dari Damaskus. Ke utara. Bulan Maret 2003.

Perjalanan dari Damaskus ke Ankara selama 12 jam. Malam hari tak banyak yang bisa saya lihat, kecuali kegelapan.

Kota Turki pertama yang disinggahi bis adalah Antakya. Hari masih pagi. Bis berhenti kira-kira satu jam. Atau lebih. Cukup bagi saya untuk melihat-lihat keadaan di sekitar terminal dan pasar. Menyeberangi jembatan di atas Sungai Arsi.

Continue reading “Di Ujung Putus Asa”

Mereka Tak Peduli Berapa Banyak Rakyat Kami Yang Menderita

VIRUS corona baru yang untuk pertama kali diketahui menyebar dari Wuhan, Republik Rakyat China (RRC), pada Desember 2019 menghantam hampir semua negara di muka bumi. Saat wawancara ini dituliskan (Kamis, 9/7), Badan Kesehatan Dunia mencatat 11,8 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia. Sebanyak 544 ribu di antaranya berakhir dengan kematian.

Di Republik Bolivarian Venezuela, pandemik Covid-19 tiba di tengah persoalan lain yang sejak beberapa tahun belakangan ini dihadapi pemerintahan Nicolas Maduro: aksi kekerasan sepihak atau unilateral coercive measures yang dilakukan lawan-lawan negara itu.

Dutabesar Venezuela untuk Indonesia, Radames Jesus Gomez Azuaje dalam pertemuan dengan Republik Merdeka pada akhir bulan Juni lalu menceritakan berbagai upaya yang dilakukan negaranya dalam menangani pandemic Covid-19 dan di saat bersamaan menghadapi intervensi asing, termasuk invasi yang dilakukan kelompok tentara bayaran (mercenaries) pada awal Mei lalu.

Dubes Gomez menjelaskan secara umum strategi dan kebijakan yang diterapkan pemerintahan Maduro untuk mencegah penyebaran Covid-19. Sampai awal Juni, Venezuela hanya memiliki sekitar 300 kasus Covid-19. Namun dalam waktu beberapa minggu setelah itu, jumlah kasus Covid-19 di Venezuela meningkat drastis hingga menyentuh angka 4.000 kasus. Peningkatan jumlah kasus ini terjadi menyusul gelombang kepulangan warganegara Venezuela yang sempat melarikan diri ke sejumlah negara lain di Amerika Latin, terutama Kolombia, Brazil, Chili, dan Peru. Tidak sedikit di antara mereka yang kembali dari negara-negara tetangga tersebut terjangkit Covid-19.

Continue reading “Mereka Tak Peduli Berapa Banyak Rakyat Kami Yang Menderita”

Provokasi Talbukja

PANMUNJOM, SOUTH KOREA – APRIL 27: North Korean Leader Kim Jong Un (L) and South Korean President Moon Jae-in (R) shake hands over the military demarcation line upon meeting for the Inter-Korean Summit on April 27, 2018 in Panmunjom, South Korea. Kim and Moon meet at the border today for the third-ever inter-Korean summit talks after the 1945 division of the peninsula, and first since 2007 between then President Roh Moo-hyun of South Korea and Leader Kim Jong-il of North Korea. (Photo by Korea Summit Press Pool/Getty Images)

Pemerintah Korea Selatan tdk boleh menutup mata dan membiarkan provokasi yang dilakukan talbukja, pembelot Korea Utara yg sekarang menetap di Korea Selatan.

Korea Selatan sbg negara yg menampung kelompok talbukja punya kewajiban moral dan politik utk menghentikan provokasi itu.

Provokasi talbukja ini menciptakan ketegangan baru di Semenanjung dlm bbrp hari terakhir. Membuat niat dan itikad Korea Selatan utk perdamaian jd patut dan pantas dipertanyakan.

Continue reading “Provokasi Talbukja”

Membicarakan Indonesia Maroko

Sebuah kehormatan diundang Alumni Maroko (HIMAMI) ikut hadir dalam halal bihalal hari Senin yang akan datang.

Saya diundang dalam kapasitas sebagai Presiden Perhimpunan Persahabatan Indonesia Maroko yang kebetulan juga mengajar di UIN Jakarta.

Saya tak seperti Ustad Abdul Somad dan kawan2 di HIMAMI yg pernah sekolah atau kuliah di Maroko.

Continue reading “Membicarakan Indonesia Maroko”

Mahkota Wartawan

Ilham Bintang

Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat

SAYA termasuk orang yang senang meluapkan kegembiraan dan ikut  bahagia setiap kali ada sejawat wartawan menulis buku. Buku adalah mahkota wartawan, kata ungkapan klasik.

Tetapi tidak banyak wartawan yang bisa menulis buku. Ini memang bukan perkara mudah. Banyak teman wartawan yang terlalu sibuk dalam karier jurnalistik sampai akhir hayat lupa menulis buku.

Selagi masih reporter sibuk dengan agenda pemberitaan. Meliput peristiwa, mengumpulkan bahan,  kemudian menuliskannya. Satu hari  bisa enam sampai tujuh berita. Memburu sendiri berita ke sana kemari sampai berdebu baru balik kantor. Dan, subuh baru tiba di rumah. Setiap hari.

Continue reading “Mahkota Wartawan”

Dari Kacamata Post-Truth

Rudiantara

Menteri Komunikasi dan Informatika (2014-2019)

PADA era yang disebut-sebut sebagai era post-truth saat ini, informasi menjadi senjata untuk menguasai. Pada era post-truth, informasi digelontorkan bertubi-tubi agar menjadi opini, tak peduli benar atau salah. Pada gilirannya, opini masyarakat atau seseorang terbentuk hanya oleh saking intensnya sebuah informasi terpapar, bukan oleh faktual atau tidaknya informasi tersebut.

Pada masa lalu penulisan sejarah mungkin relatif lebih sederhana justru karena terbatasnya informasi yang harus diseleksi. Hari ini, kita tidak dapat membayangkan akan ditulis jadi seperti apa sejarah kita kelak, mengingat banjir informasi sekarang ini juga membawa serta banjir hoaks atau kabar bohong di dalamnya.

Oleh sebab itu, salah satu cara paling pas menurut saya adalah dengan bersama-sama memerangi hoaks melalui pasokan informasi yang benar dan konten yang positif di dunia maya. Memang kegiatan penanggulangan hoaks seperti ini adalah kegiatan yang sangat menguras energi, terutama bagi bangsa yang sebetulnya sedang lebih butuh memfokuskan energinya untuk mengejar banyak ketertinggalan seperti bangsa kita, namun kita harus melewatinya bersama-sama.

Oleh sebab itu saya mengapresiasi setiap upaya untuk memenuhi dunia ini dengan informasi yang sahih, detil, dan faktual seperti yang disampaikan oleh Mas Teguh Santosa ini. Karena latar belakangnya yang wartawan, maka tulisan yang umumnya becerita tentang Afganishtan ini mengalir dengan runtut, enak dibaca, namun tidak kehilangan detil-detil yang memperkuat posisi tulisan ini sebagai kaya jurnalistik yang berbobot.

Continue reading “Dari Kacamata Post-Truth”

Damaskus

Usai shalat Maghrib, mereka mendengarkan ceritaku ttg kota itu: Damaskus.

Hal pertama yg aku ceritakan adalah makam Nabi Yahya di dalam Masjid Umayyad. Sebelum Al Walid bin Abdul Malik dari Bani Ummayah menduduki Damaskus (706 M), bangunan itu adalah basilika utk menghormati Nabi Yahya yg dalam tradisi kristiani dikenal sebagai John the Baptist. Sebelumnya lagi, bangunan itu adalah kuil Romawi utk menyembah Dewa Yupiter.

Nabi Yahya adalah anak dari Nabi Zakaria yg lahir di saat kedua orang tuanya sudah sangat sepuh. Dalam riwayat populer dia disebutkan meninggal dunia dibunuh oleh Herodes, penguasa Romawi di Yudaea yg meliputi Palestina, Lebanon, dan sebagian Suriah kini.

Continue reading “Damaskus”

Gracias Fidel

Santa Clara, Ibukota Villa Clara, Kota Che Guevara. Sekitar 260 kilometer dari Havana ke arah tenggara. Didirikan tahun 1689.

Pertempuran Santa Clara di akhir Desember 1958 menjadi penentu kemenangan Revolusi Kuba. Adalah Che Guevara bersama pasukannya, di fase terakhir pertempuran berhasil melumpuhkan kereta baja berisi tentara cadangan dan peralatan tempur yg dikirim Fulgencio Batista utk memperkuat pasukannya yg sedang menghadapi pasukan Fidel Castro di Santiago de Cuba.

Continue reading “Gracias Fidel”

Perang Dagang Ini Harus Dikapitalisasi

BERADA di ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut di pegunungan timur Peru, Machu Picchu diperkirakan dibangun di era Raja Pachacuti yang berkuasa di Inca dari tahun 1438 sampai 1472. Pada pertengahan abad ke-16 bersamaan dengan kedatangan bangsa Spanyol, komplek Machu Picchu ditinggalkan dan perlahan menjadi reruntuhan.

Di tahun 1911 arkeolog dari Universitas Yale, Amerika Serikat, Hiram Bingham III, menemukan reruntuhan Machu Picchu dan mengeksposnya sehingga menjadi tujuan wisata dunia. Di tahun 1983, UNESCO menyatakan Machu Picchu sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.

Machu Picchu hanya satu dari sejumlah sumbangan Peru pada peradaban dunia. Sumbangan lainnya yang sangat terkenal, dan masih jarang diketahui, adalah kentang.

Belum banyak yang tahu kentang tanaman asli Peru. Menurut Dutabesar Republik Peru, Julio Cardinas, negaranya memiliki lebih dari 3.000 jenis kentang. Sedemikian seriusnya Peru pada kentang, sebuah lembaga studi khusus didirikan untuk budidaya kentang. Namanya Centro Internacional de la Papa, atau Pusat Kentang Internasional.

Continue reading “Perang Dagang Ini Harus Dikapitalisasi”

Blog at WordPress.com.

Up ↑

<span>%d</span> bloggers like this: