Wawancara RRI Pro-3 dengan Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute yang membahas upaya diplomatik terkait putaran kedua negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang akan diadakan di Pakistan.
Peran Strategis Pakistan (0:12 – 1:04): Pakistan dipilih sebagai mediator karena memiliki hubungan yang relatif baik dengan Iran dan Amerika Serikat, serta memiliki ikatan geopolitik historis dengan kawasan tersebut. Isu Inti (1:30 – 3:00):
Negosiasi berpusat pada dua poin utama:
Program Nuklir: Keinginan Iran untuk mengembangkan uranium, yang dikhawatirkan AS dapat menyebabkan pengembangan senjata nuklir (1:37 – 1:49).
Selat Hormuz: Sebuah “titik kritis” bagi energi global. Iran berhati-hati terhadap perjanjian UNCLOS 1982, karena khawatir akan kehilangan kendali atas lalu lintas kapal militer asing melalui perairan ini (1:51 – 2:59).
Tantangan terhadap Multilateralisme (3:40 – 5:13): Dr. Santosa menyoroti bahwa kurangnya ratifikasi hukum internasional seperti UNCLOS oleh pihak-pihak yang terlibat—dan penarikan diri sebelumnya dari perjanjian nuklir JCPOA 2015—menghambat kemajuan. Status Perundingan (5:42 – 6:24):
Pada saat perekaman, Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap undangan untuk putaran kedua perundingan, meskipun AS tertarik. Dinamika Kekuasaan (7:44 – 8:36):
Situasi ini dipandang sebagai perebutan kekuasaan yang lebih luas yang melibatkan Tiongkok, Rusia, dan Amerika Serikat, dengan Iran berperan sebagai “teater” sekunder untuk kepentingan global ini. Prospek Masa Depan (11:15 – 11:53):
Bahkan jika kesepakatan penuh tidak tercapai, Dr. Teguh Santosa memperkirakan bahwa periode gencatan senjata atau de-eskalasi kemungkinan akan terjadi, mencegah perang terbuka dan meluas yang serupa dengan status Semenanjung Korea yang telah berlangsung lama.
