Around the World, Book Reviews, News, Notes, Uzbekistan

Perang Afghanistan, Teringat Alm. ZA Maulani

Alm. Letjen (Purn) ZA Maulani. Saya mengenangnya sebagai sosok yang santun, rendah hati, berpengetahuan luas, menghargai kawan bicara tua dan muda.

Alm. pernah memimpin Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) dari Mei 1998 sampai November 1999 di era Presiden BJ Habibie. Menggantikan Letjen Moetojib dan digantikan Letjen Arie J. Kumaat. Di tahun 2001, Bakin berubah nama menjadi Badan Intelijen Negara (BIN).

Saya berkenalan dengannya tak lama setelah peristiwa serangan yang menghancurkan WTC di New York City, 11 September 2001, hampir 20 tahun lalu.

Awalnya, seorang senior meminta saya mencari pakar atau pengamat yang bersedia menulis setiap hari di kolom khusus di halaman satu harian kami mengenai hal-hal terkait peristiwa 9/11 dan operasi AS memburu pentolan Al Qaeda Osama bin Laden yang dilindungi Taliban di Kandahar, Afghanistan.

Continue reading
Standard
Around the World, Book Reviews, News, Notes, Reviews, Uzbekistan

Lagi, Negeri yang Jadi Rebutan

KEINGINAN menerbitkan kumpulan reportase dari tepi sungai Amu Darya yang memisahkan Uzbekistan dan Afghanistan, mulai muncul di pertengahan 2018.

Ya, 17 tahun setelah saya berkunjung ke kota Termez di Uzbekistan pada bulan Oktober dan November 2001. Di kota kecil yang sedang merayakan ulang tahun ke 2.500 tahun itu saya menunggu kesempatan menyeberangi Amu Darya dan menginjakkan kaki di Afghanistan.

Tapi tanda-tanda Jembatan Persahabatan akan dibuka tak kunjung tiba. Sampai saya akhirnya kembali ke Jakarta dan Kabul direbut Aliansi Utara.

Juli 2018 saya mewawancarai Dubes Afghanistan di Jakarta, Roya Rahmani. Kami membahas beragam hal terkait reformasi negeri itu di berbagai bidang pasca-Taliban.

Kami juga membahas ajakan pemerintahan Ashraf Ghani kepada Taliban untuk ikut dalam proses demokrasi, yang artinya ikut pemilu yang sudah direncanakan di tahun itu.

Continue reading
Standard
Around the World, Book Reviews, News, Notes, Reviews, Uzbekistan

Andaikatamologi dan Mahajurnalis Nusantara Jamanow

DI samping Kelirumologi, Humorologi, Alasanologi, Malumologi saya juga menggagas Andaikatamologi sebagai telaah melalui jalur andaikata terhadap berbagai aspek kehidupan manusia di planet bumi ini.

Andaikatamologi pada hakikatnya sudah kerap digunakan oleh para ilmuwan sejarah ketika melakukan telaah sejarah terhadap berbagai aspek kehidupan manusia di planet bumi ini.

Namun ternyata andaikatamologi juga potensial didayagunakan memenuhi kebutuhan untuk menyusun Kata Pengantar terhadap buku “Di Tepi Amu Darya” mahakarya mahajurnalis Nusantara jamanow, Teguh Santosa.

Andaikata saya Presiden Republik Indonesia maka pasti saya memilih para menteri saya bukan berdasar transaksi politik dengan para parpol, namun berdasar kenyataan kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan berdasar pertim- bangan profesionalisme the right man on the right place on the right time.

Jaya Suprana, Pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia

Continue reading
Standard
Book Reviews, News, Notes, Uzbekistan

Mahkota Wartawan

Ilham Bintang

Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat

SAYA termasuk orang yang senang meluapkan kegembiraan dan ikut  bahagia setiap kali ada sejawat wartawan menulis buku. Buku adalah mahkota wartawan, kata ungkapan klasik.

Tetapi tidak banyak wartawan yang bisa menulis buku. Ini memang bukan perkara mudah. Banyak teman wartawan yang terlalu sibuk dalam karier jurnalistik sampai akhir hayat lupa menulis buku.

Selagi masih reporter sibuk dengan agenda pemberitaan. Meliput peristiwa, mengumpulkan bahan,  kemudian menuliskannya. Satu hari  bisa enam sampai tujuh berita. Memburu sendiri berita ke sana kemari sampai berdebu baru balik kantor. Dan, subuh baru tiba di rumah. Setiap hari.

Continue reading
Standard
Book Reviews, News, Notes

Setiap Terjadi Gejolak, Wartawan Bergolak

Dahlan Iskan

Ketua Umum Serikat Penerbit Surat Kabar

SETIAP terjadi gejolak, wartawan bergolak. Dalam hatinya. Ingin terjun ke pergolakan itu. Melaporkan dari tangan pertama. Apa yang terjadi di sana.

Itulah yang dialami Teguh Santosa. Wartawan Rakyat Merdeka. Yang masih muda. Yang darah wartawannya terus bergolak.

Tahun 2001 Teguh nekat ingin ke Afghanistan. Meliput perang di sana. Tapi lewat mana? Lewat Pakistan? Lalu ke Peshawar? Masuk perbatasan?

Di situlah gejolak paling brutal. Mungkin sulit juga lewat Pakistan. Saya baca novel-novel tentang Afghanistan. Termasuk kisah penyelundupan manusia di perbatasan Peshawar itu. Menegangkan. Mengharukan.

Continue reading
Standard
Book Reviews, News, Notes, Uzbekistan

Dari Kacamata Post-Truth

Rudiantara

Menteri Komunikasi dan Informatika (2014-2019)

PADA era yang disebut-sebut sebagai era post-truth saat ini, informasi menjadi senjata untuk menguasai. Pada era post-truth, informasi digelontorkan bertubi-tubi agar menjadi opini, tak peduli benar atau salah. Pada gilirannya, opini masyarakat atau seseorang terbentuk hanya oleh saking intensnya sebuah informasi terpapar, bukan oleh faktual atau tidaknya informasi tersebut.

Pada masa lalu penulisan sejarah mungkin relatif lebih sederhana justru karena terbatasnya informasi yang harus diseleksi. Hari ini, kita tidak dapat membayangkan akan ditulis jadi seperti apa sejarah kita kelak, mengingat banjir informasi sekarang ini juga membawa serta banjir hoaks atau kabar bohong di dalamnya.

Oleh sebab itu, salah satu cara paling pas menurut saya adalah dengan bersama-sama memerangi hoaks melalui pasokan informasi yang benar dan konten yang positif di dunia maya. Memang kegiatan penanggulangan hoaks seperti ini adalah kegiatan yang sangat menguras energi, terutama bagi bangsa yang sebetulnya sedang lebih butuh memfokuskan energinya untuk mengejar banyak ketertinggalan seperti bangsa kita, namun kita harus melewatinya bersama-sama.

Oleh sebab itu saya mengapresiasi setiap upaya untuk memenuhi dunia ini dengan informasi yang sahih, detil, dan faktual seperti yang disampaikan oleh Mas Teguh Santosa ini. Karena latar belakangnya yang wartawan, maka tulisan yang umumnya becerita tentang Afganishtan ini mengalir dengan runtut, enak dibaca, namun tidak kehilangan detil-detil yang memperkuat posisi tulisan ini sebagai kaya jurnalistik yang berbobot.

Continue reading
Standard
Book Reviews, News, Notes

Indonesia Punya Modal untuk Jadi Bangsa Besar, Tapi Harus Terus Waspada pada Ancaman dari Luar

Indonesia memiliki modal yang cukup untuk tumbuh menjadi bangsa dan negara terpandang di dunia. Founding fathers Indonesia merajut rasa kebangsaan di atas penderitaan hidup di bawah penjajahan bangsa asing, dan mendirikan negara untuk melindungi dan mensejahterahkan rakyat.

Setelah kemerdekaan diproklamasikan, rakyat Indonesia melanjutkan hidup sebagai satu bangsa yang sama. Perkawinan dan berbagai bentuk hubungan kekerabatan dan pertemanan membuat rajutan kebangsaan itu semakin kuat.

Continue reading
Standard
Ambassador Talks, China, Germany, News, North Korea, Reviews, Russia, South Korea, Taiwan, Venezuela

Kalender 2019 Sama Dengan 1895, Apa Saja Kejadiannya?

Kalendar tahun 2019 pada sistem penanggalan Gregorian yang biasa kita gunakan sama dengan kalendar tahun 1895. Tanggal 1 Januari 2019 dan 1895 sama-sama jatuh pada hari Selasa. Begitu juga dengan tanggal 31 Desember sama-sama jatuh pada hari Selasa. Kedua tahun yang berjarak 124 tahun itu sama-sama bukan tahun kabisat.

Continue reading
Standard
Book Reviews, News, Notes, Uzbekistan

Peluncuran Buku #DiTepiAmuDarya

“Ketika Wartawan Membingkai Konflik”
Hari: Kamis, 20 Desember 2018
Pukul: 14.00 – 16.00 WIB
Tempat: Press Room, Nusantara III, Senayan

Continue reading
Standard
Book Reviews, News, Notes

Sedikit Tentang “Paradoks Indonesia” yang Ditulis Prabowo Subianto

279ba3ee-0611-4ef7-86f3-d55dd555fc7a

Dalam sebuah pertemuan antara pimpinan media grup kami dengan Prabowo di Hambalang menjelang Pilpres 2014, saya menjadi penanya atau komentator kedua.

Saya katakan pada Prabowo, bahwa saya tidak menyangka ia akan menyampaikan hal-hal yang disampaikannya dalam presentasi itu. Continue reading

Standard
Book Reviews, News, Notes

Ironi Politik Rente

dinasti-rente

Persoalan politik rente di Indonesia sudah lama menjadi keprihatinan kalangan akademisi dan aktivis pro demokrasi.

Di era 1990an yang lalu Prof. Arief Budiman dalam salah satu bukunya yang berjudul Negara dan Pembangunan memperlihatkan bukti-bukti yang membuat proses pembangunan di Indonesia tersendat-sendat, tidak berkeadilan dan me­nyisakan jejak kesenjangan yang luar biasa. Continue reading

Standard
Book Reviews, News, North Korea, Notes, Photos

President Sukarno and President Kim Il Sung

BEDAH BUKU KARYA RAHMAWATI SOEKARNOPUTRI (31) Continue reading

Standard
Book Reviews, News, Notes

Dari Gerson Poyk’s Keliling Indonesia

Continue reading

Standard
Book Reviews

Politik Anti-Politik

0816624372big

READING James Ferguson’s The Anti-Politics Machine: “development,” depoliticization and bureaucratic power in Lesotho (2005) reminds me of what the global developmentalist regime has done in Indonesia from the second half of 1960s until recent time; even though these two countries have different characteristics in many ways.

Nevertheless Ferguson’s presentation tells how the idea of developmentalism being spread through out what is then called and categorized the third world, developing, or under developed countries mostly in Africa and Asia. This idea has been used as political banners to widen and strengthen the developed countries’ power in the regions. Continue reading

Standard
Book Reviews, Hawaii, Notes

Question on Resistance and Hegemony

JAMES C. Scott’s Domination and the Arts of Resistance: Hidden Transcript deals with conflicting circumstances between the powerful and powerless group, between colonizer and colonized people, between the rulers and the ruled. Continue reading

Standard
Book Reviews, Hawaii

Imagined Community, Imagined Study

INDONESIAN study was directly and indirectly shaped by dynamic of the conflict between the West-capitalist and East-communist blocks throughout the Cold War drama. Continue reading

Standard
Book Reviews

On “Under Three Flags” of Benedict Anderson

339.jpg

THIS is a colorful, sparkling, and rich narratives of how an imagination of a particular nationality, society, and polity has been assembled, shaped, campaigned and delivered by the radicals and avant-garde persons, scholars and political activists among the colonized people during the second half of the nineteenth century in an archipelago that later become the Philippines. The story line in this book is full of dramatic intrigues and conflicts, agreements and schisms, comradeship and resistances, treason, and sacrifices as well. The author, Benedict Anderson, once again shows his talent and capability to provide vivid and detail accounts about the making process of nationalism and external factor that influenced its trajectory.

Continue reading
Standard
Book Reviews, News

Resensi: Cerita Para Pandai Besi

TENTU seorang perempuan istimewa telah melahirkan Barack Obama—presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat. Dan buku ini memperlihatkan satu sisi perempuan berkulit putih yang bernama Stanley Ann Dunham itu. Continue reading

Standard
Book Reviews, Hawaii, News, Notes

Resensi: Kisah Ibunda Barack Obama

SUKSES Barack Husein Obama Jr dalam pemilu presiden AS membuat apa pun di sekitar dirinya menarik, termasuk buku Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving and Thriiving Against All Odds yang diterjemahkan menjadi Pendekar-Pendekar Besi Nusantara. Demikian juga buku yang ditulis Barack Obama sendiri yang berjudul Dreams from My Father yang juga menyebut sosok S. Ann Dunham, ibundanya. Continue reading

Standard
Barack Obama, Book Reviews, Notes

Pendekar-Pendekar Besi Nusantara: Kajian Antropologi tentang Pandai Besi Tradisional di Indonesia

viewimagephp

Dikutip dari Mizan.

Penulis : S. Ann Dunham (Ibu Barack Obama, Presiden Terpilih AS)
Tebal : 220 halaman
Penerbit : Mizan Pustaka
Harga : Rp 44500.00
ISBN : 978-979-433-534-5

“Aku tahu ibu adalah orang yang paling baik, paling murah hati, dan aku berutang budi kepadanya untuk hal-hal terbaik pada diriku.”
-Barack Obama, tentang Ann Dunham, ibunya, dalam Dreams from My Father Continue reading

Standard
Movie Reviews, News, Notes

In the Name of the Father

BEGITU ketua majelis hakim mengetuk palu dan menyatakan dirinya tak bersalah, laki-laki berwajah tirus dan berambut ikal gondrong itu melemparkan ke udara bunga putih yang tadi diberikan ibunya.

Berdiri di atas meja sambil membuka jas dan mengipas-ngipaskannya, Gerry Conlon melabrak barisan polisi yang berusaha menahan langkahnya.

Continue reading
Standard
Book Reviews, Hawaii, Notes, Reviews

Ke Honolulu bersama Amartya Sen dan Identitas yang Mengada-ada

KALI ini saya ditemani Amartya Sen. Ekonom yang juga filsuf, peraih Nobel 1998 untuk bidang ekonomi.

Seperti beberapa profesor yang saya kenal di University of Hawaii, ia juga mengkritik habis teori benturan antarperadaban Samuel Huntington sebagai sebuah teori yang cacat metodologi dan lebih parah lagi sangat bertolak belakang dengan realita.

Setidaknya, menurut Amartya Sen dalam Identity and Violence: the Illusion of Destiny yang tahun lalu dialihbahasakan oleh penerbit Marjin Kiri menjadi Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas, teori benturan antarperadaban yang dipopulerkan Huntington di awal era 1990-an dan menjadi semakin populer di “dunia Barat” pasca peristiwa 11 September 2001 memiliki dua kelemahan fundamental.

Kelemahan pertama berkaitan dengan karakter tunggal yang diberikan Huntington pada masing-masing peradaban yang dipilihnya, seperti peradaban Barat, Islam, Hindu, dan Budha. Pada kenyataannya, tidak ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang lahir dengan karakter identitas tunggal.

Continue reading
Standard
Book Reviews, Notes

Enola Gay Tiba Kemarin Pagi

ENOLA GAY tiba kemarin pagi. Di halaman pertama saya menemukan tandatangan sang penulis, Paul W. Tibbets, tertanggal 9-12-02 dengan tinta biru.

Saya sedang terburu-buru dan tak punya banyak waktu. Maka di lobby Hale Manoa saya bolak-balik halaman demi halaman, meneliti daftar isi, lalu membaca bab paling akhir: 44 Epilog. Continue reading

Standard
Book Reviews, Hawaii, Notes, Reviews

Panduan Memetakan Konflik

Black Hawk Down

BAGI Anda yang (ingin) gemar mengintervensi konflik perlulah kiranya membuat peta konflik secermat dan sedetil mungkin. Continue reading

Standard
Book Reviews, Hawaii, Notes

Writing A History of Nationalism

NATIONALISM is acknowledged as an outcome of historical aspect of human being. In his monumental book “The Idea of Nationalism” (first published in April 1944), historian and philosopher Hans Kohn underlines that as a state of mind and an act of consciousness, nationalism is the product of the growth of social and intellectuals’ factors at certain stage of history. Continue reading

Standard
Book Reviews, Hawaii, Notes

Hasrat Nuklir Di Balik Operasi Buddha Tersenyum

SANKARAN Krishna tampil sebagai pembicara pada sesi ketiga untuk mata kuliah POLS 600 tentang metode ilmu politik, Selasa malam (4/9). Sejak seminggu sebelumnya kami disarankan membaca dua tulisan Krishna, yakni “The Bomb, Biography and the Indian Middle Class” yang dimuat di jurnal Economic and Political Weekly, 10 Juni 2006, dan “The Social Life of Bomb: India and the Ontology of an ‘Overpopulated’ Society”.

Continue reading
Standard
Book Reviews, Notes

Blowback, Konsekuensi yang Tak Terbayangkan

a03_0RTRMNQW

Jepang akhirnya menyerah kalah tanpa syarat pada Sekutu. Perang Dunia Kedua sungguh telah memporakporandakan negara itu. Pengakuan kekalahan disampaikan Kaisar Hiroito pada 15 Agustus 1945, setelah dua kota penting Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, hancur lebur oleh bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat pada 6 dan 9 Agustus 1945. Continue reading

Standard
Movie Reviews, Notes

Silent Waters

DI akhir cerita Ayesha memilih bunuh diri.

Usai shalat shubuh, ia menggulung sajadah dan mukenanya. Sedetik kemudian layar menjadi gelap. Hitam. Hening. Pada adegan berikutnya, Ayesha telah berdiri di bibir sumur tua di sudut desa Charki, tanah kelahiran tempat ia dibesarkan sampai perang memaksa dirinya mengubah identitas.

Layar kembali gelap. Kembali hitam. Kembali hening. Sedetik, sebelum akhirnya Ayesha melompat ke dalam sumur tua yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dikunjunginya itu.

Ayesha dan sumur tua itu adalah figur utama dalam film berbahasa Urdu produksi tahun 2003, “Silent Waters” atau “Khamosh Pani”. Walaupun fiksional, film ini menggambarkan kisah nyata konflik atas nama Langit yang digerakkan motif politik—yang lagi-lagi membelah-belah kemanusiaan.

***

send-off-delhi19471

Tahun 1947 setelah Inggris angkat kaki, Pakistan dan India memilih untuk membelah diri. India yang mayoritas Hindu berada di timur, sementara Pakistan yang mayoritas Muslim di belahan barat. Di sepanjang garis perbatasan dua negara baru itu, seperti di Punjab, sudah beratus tahun lamanya orang Islam, Hindu dan Sikh hidup berdampingan berbagi bumi.

Ketika era pembelahan (partition) dimulai tahun itu, orang Islam yang berada di wilayah India dipaksa berpindah ke Pakistan, begitu juga dengan orang Hindu dan Sikh yang berada di Pakistan. Mereka ramai-ramai mengungsi masuk India. Kedua belah pihak menghilangkan sebagian dari identitas, memisahkan masa lalu dari masa depan mereka.

Ayesha yang baru saja mengakhiri hidupnya dikisahkan lahir dan besar di sebuah desa di dekat kota kecil Rawalpindi, Pakistan. Ia melewati masa remaja di desa itu sebagai seorang Sikh bernama Verro. Ketika terusir dari Charki, ayahnya meminta Verro bersama ibu dan saudaranya perempuannya bunuh diri di sumur tua di kampung mereka. Ini permintaan yang tak masuk akal.

Tetapi ayah Ayesha, atau Verro ketika itu, juga saudara laki-laki berikut paman-pamannya tak punya pilihan lain. Mereka tak mau kaum wanita Sikh disentuh oleh orang-orang Muslim. Mereka tak mau darah mereka bercampur dengan darah orang Muslim yang kini jadi musuh mereka.

partition

Tidak seperti ibu dan saudara perempuannya yang dengan ikhlas melompat ke dalam sumur itu, Ayesha memilih melarikan diri. Dia meninggalkan ayah dan saudara laki-lakinya, kembali ke tengah perkampungan yang kini dimiliki orang Muslim seutuhnya.

Dalam pelarian, Verro disekap kelompok Muslim yang menangkapnya. Entah berapa lama, sampai salah seorang di antara mereka membebaskannya.

Tak ada cerita bagaimana Ayesha dan laki-laki itu saling jatuh cinta. Yang ada hanya adegan ketika mata mereka saling menatap. Tak lama, sampai Verro menyandarkan kepalanya ke dada laki-laki Muslim itu.

Pemuda inilah yang kemudian menikahi Verro, dan mengajaknya masuk Islam. Setelah mengucap dua kalimat syahadat, Verro mengubah namanya menjadi Ayesha.

Malang tak dapat ditolak, suami Ayesha lebih dahulu meninggal dunia.

Beberapa tahun berlalu, Ayesha yang dulu adalah Verro yang Sikh, kini dikenal sebagai guru mengaji di kampung itu.

Kebahagian hidup Ayesha berubah drastis dan sekejap sirna di tahun 1979. Setelah anaknya, Saleem, berkenalan dengan kelompok mujahid; dan di saat bersamaan peziarah Sikh datang ke kampung mereka.

***

5 Juli1977, Jenderal Zia-ul-Haq, petinggi militer Pakistan yang akrab dengan gerakan fundamentalis Islam dan didukung dinas intelijen Amerika, Central Intelligent Agency (CIA), mengkudeta Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto. Syahdan, sudah sejak lama Ali Bhutto si pendiri Partai Rakyat Pakistan itu tak disukai Amerika. Walau mengecap pendidikan di University of California di Berkeley dan Oxford di Inggris, Ali Bhutto tak mau begitu saja mengikuti agenda politik negeri adikuasa itu. Pakistan, menurutnya, punya hak untuk menentukan masa depan sendiri.

Puncak dari kekesalan Amerika adalah ketika Ali Bhutto bersikeras mempertahankan program nuklir Pakistan yang sudah dirintis Ali Bhutto sejak ia masih duduk di kursi menteri energi dan sumber daya mineral beberapa tahun sebelumnya. Ali Bhutto juga menjadi motor utama pembangunan Pusat Energi Atom Pakistan di tahun 1950-an.

Dalam buku “If I am Assassinated” yang ditulisnya ketika berada dalam penjara, Ali Bhutto menceritakan ancaman yang disampaikan Henry Kissinger, menteri luar negeri Amerika, setahun sebelumnya. Kissinger memastikan bahwa Ali Bhutto akan membayar mahal bila tak mengikuti keinginan Amerika menghentikan program nuklir Pakistan.
Setelah keluar dari penjara di akhir bulan Juli, Ali Bhutto menggalang kekuatan untuk mendapatkan kembali kekuasaannya.

Di bulan September 1977 Ali Bhutto lagi-lagi ditangkap, dan sebulan kemudian diadili atas tuduhan konspirasi membunuh lawan-lawan politiknya di masa lalu. Adalah Panglima Tentara Pakistan Masood Mahmood yang memberikan pengakuan di depan pengadilan tentang perintah pembunuhan itu. Ali Bhutto menolak semua tuduhan yang menurutnya sengaja diciptakan Jenderal Zia dan CIA untuk memojokkan dirinya.

Bulan Maret 1978, Pengadilan Tinggi Lahore menjatuhkan hukuman mati untuk Ali Bhutto. Ia digantung setahun kemudian, April 1979.

Setelah berkuasa penuh, Jenderal Zia menerapkan hukum Islam di seantero Pakistan. Keputusan politik ini disambut dengan tangan terbuka oleh kelompok Islam fundamentalis. Inilah awal di mana kelompok Islam fundamentalis membangun kekuatan dan jaringan untuk mengusir Uni Soviet yang tengah menjajah kaum Muslim di Afghanistan. Inilah masa di mana cikal-bakal Taliban, kelompok pelajar suku Pasthun yang melarikan diri dari Afghanistan, ditampung, dilatih dan dipersenjatai di Pakistan dengan dukungan Kongres Amerika Serikat. Ini adalah masa di mana kelompok-kelompok Islam garis keras ini masuk ke dalam perangkap.

Masih di tahun yang sama, Jenderal Zia juga menandatangani kesepakatan dengan India untuk memberikan kesempatan kepada kaum Sikh berziarah ke kuil-kuil Sikh yang ada di Pakistan, termasuk di Rawalpindi, di kampung Ayesha.

***

Silent Waters.

Konflik dalam film “Silent Waters” mulai membuncah menyusul kehadiran dua kelompok di Charki yang sama-sama membawa “misi suci”. Pertama, kelompok fundamentalis Islam yang tengah merekrut pemuda-pemuda di desa itu untuk bergabung dengan mujahiddin, dan selanjutnya akan digerakkan untuk menyerang Soviet-Komunis yang sedang bercokol di Afghanistan. Saleem, putra Ayesha yang sedang mencari jatidiri dan pekerjaan kesana kemari, adalah satu dari begitu banyak pemuda Charki yang bersedia bergabung dengan mujahiddin.

Kelompok kedua adalah kaum Sikh yang datang untuk berziarah ke kuil Sikh di Charki yang sudah begitu lama tak pernah lagi dikunjungi oleh orang Sikh. Beberapa dari peziarah itu dilahirkan dan dibesarkan di desa itu, sebelum akhirnya terpaksa angkat kaki tiga dekade yang lalu.

Sementara Saleem sedang tergila-gila dengan ide mengusir Uni Soviet dari Afghanistan dan menjadikan Pakistan sebagai negeri Islam yang sesungguhnya; Ayesha sibuk menata emosi setelah ia bertemu dengan salah seorang peziarah yang ternyata adalah adiknya dari masa lalu.

Sang adik mengajak Ayesha atau Verro mengikutinya ke India dan bertemu ayah mereka yang sedang sekarat. Verro menolak ajakan itu. Dia tak mau bertemu lagi dengan laki-laki yang pernah memintanya bunuh diri.

Konflik bathin Ayesha atau Verro semakin bertambah. Satu persatu tetangga mulai menjauhinya setelah mengetahui latar belakang Ayesha. Anak-anak tetangga tak lagi datang ke rumahnya untuk mengaji dan membantunya mengambilkan air dari sumur di desa mereka.

Adapun Saleem, begitu tahu Ayesha adalah keturuan Sikh meminta ibunya menegaskan keislaman di muka umum. Seperti tiga puluh tahun lalu Ayesha menolak. Dia memilih menenggelamkan diri ke dalam sumur itu, bertemu jiwa ibu dan saudara perempuannya, menuntaskan perintah ayahnya.

Beberapa hari setelah Ayesha bunuh diri, Saleem menghanyutkan benda-benda peninggalan kedua orang tuanya di sungai. Bagi Saleem, masa lalu biarlah berlalu. Kehidupan mujahiddin kini jauh lebih menarik perhatiannya.

Standard
Around the World, Movie Reviews, Notes, Turkey

Ini Lembah Srigala, Bukan Film Rambo

FEBRUARI 2006 tentara Amerika yang sedang bertugas di Eropa, khususnya di negara-negara yang didiami banyak keturunan Turki, seperti Jerman, Perancis dan Inggris, disarankan untuk tidak menonton film “Kurtlar Vadisi Irak” alias “Lembah Srigala Irak”.

Continue reading
Standard