Mencerna Perjalanan Peradaban

Saya mengenal penulis buku ini. Abu Swandana ibn Siddiq, yang dulu biasa kami sapa dengan sebutan persahabatan Endon.

Dahulu penulis saya kenal sebagai seorang wartawan dan pekerja kreatif di media. Ia penuh dengan ide dan gagasan segar, yang dengan tidak banyak bicara dibumikannya, diwujudkannya.

Sejak beberapa tahun terakhir, mungkin sudah lebih dari satu dekade, Abu Swandana giat di dunia pendidikan. Ia berasal dari keluarga pesantren di Malang, Jawa Timur.

Dunia baru dan dunia lama Abu Swandana ini pada dasarnya adalah sama, sama-sama mendidik. Sebagai seorang yang dibesarkan tradisi dunia kreatif, sama-sama menghibur. Dalam arti, tidak membuat proses pendidikan menjadi sesuatu yang kaku dan menyegankan.

Membaca buku ini, saya teringat pada buku harian Ahmad Wahib yang judulnya “Pergolakan Pemikiran Islam”. Buku ini diterbitkan di era 1980an, setelah penulisnya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di Jogjakarta. Ahmad Wahib dikenang teman-temannya sebagai wartawan muda, pemikir dan pekerja keras, yang hari-harinya dipenuhi dengan berbagai kegelisahan menyaksikan pembangunan peradaban yang sedang terjadi dan memerangkap dirinya.

Saya tidak sedang berusaha membandingkan buku harian alm. Ahmad Wahib itu dengan buku karya Abu Swandana ini. Hanya saja, buku ini, yang membuat saya teringat pada buku harian Ahmad Wahib, (kembali) menyadarkan saya bahwa dunia pendidikan, dalam hal ini bagaimana narasi dibangun dan “diwariskan” ke generasi berikutnya sudah pasti bukan hal yang mudah untuk sekadar dibicarakan. Dan semakin tidak mudah untuk dibumikan.

Membumikan pendidikan adalah proses mencerna perjalanan peradaban, mengkonstruksi ulang, dengan memberikan penguatan-penguatan pada elemen baru peradaban yang dirasa perlu untuk ditambahkan.

Di saat yang sama, proses pendidikan juga dapat diartikan sebagai proses membangun frame, kerangka berpikir yang kemudian diharapkan menjadi kerangka bertindak manusia, masyarakat, bangsa, dan akhirnya dunia.

Membentuk frame, atau di sisi lain, membentuk ulang frame, inilah pekerjaan besar seorang pendidik.

Selain pada buku harian Ahmad Wahib, buku karya Abu Swandana ini pun mengingatkan kembali pada salah satu kegiatan saya: pengajar hubungan internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.

Rasanya tidak berlebihan saya mengatakan, buku karya sahabat saya ini adalah manual, pelita, bagi kegamangan yang mungkin saja masih terjadi di tengah proses pendidikan yang saya lakoni.

Saya juga merasa, perlu saya catat baik-baik definisi guru yang baik yang dituliskan Abu Swandana.

“Guru yang baik; senantiasa menjadi pendengar. Pencatat. Pembicara. Dan, penyambung harapan yang baik bagi anak didik. Bukan sekadar mengajar. Mendikte.”

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s