Horor Paris, Indonesia Tak Cukup Berduka

screen_shot_2015-11-14_at_11.08.39_am

Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya tengah menghadapi dua jenis fundamentalisme yang sangat berbahaya yang membuat perdamaian di muka bumi hilang digantikan kebencian dan peperangan.

Demikian disampaikan pengajar hubungan internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Teguh Santosa, dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu (15/11).

Aktivis Forum Indonesia 2050 ini mengatakan, fundamentalisme jenis pertama bersifat kasat mata dan dengan mudah dapat dikenali. Sementara fundamentalisme jenis kedua hampir-hampir sulit dikenali, dan bahkan tak banyak yang menyadari kehadirannya.

“Jenis pertama adalah fundamentalisme sektarian, yang menggunakan identitas dan apa yang diyakini benar, sebagai slogan perjuangan dan perlawanan. Sering kali pula menggunakan tema kesukuan, agama, ras, dan yang paling kecil tema golongan,” ujar Teguh Santosa.

Penganut fundamentalisme jenis pertama ini, sambungnya, dengan mudah menciptakan identitas, menarik demarkasi antara “aku” dan “kamu”, “kita” dan “mereka”.

Adapun fundamentalisme jenis kedua yang tidak kasat mata adalah keyakinan bahwa pasar ada di atas segalanya, sebagai aktor tunggal yang menentukan mana yang baik untuk rakyat dan negara.Continue reading “Horor Paris, Indonesia Tak Cukup Berduka”

Potensi Kehadiran Kelompok Radikal semakin Tinggi

Ada sejumlah hal yang mendorong kelahiran kelompok radikal. Dari sekian banyak faktor, tampaknya faktor sosial ekonomi merupakan penyebab kunci kehadiran kelompok radikal dan kekerasan yang mereka lakukan untuk mencapai tujuan.Continue reading “Potensi Kehadiran Kelompok Radikal semakin Tinggi”

Siapa yang Paling Diuntungkan dari Kasus ISIS

Di dunia kepolisian ada teori untuk menemukan pelaku kriminal dengan melacak siapa yang paling diuntungkan dari sebuah kasus kriminal itu. Teori tersebut juga bisa digunakan dalam menyikapi kasus negara Islam Irak dan Syria (ISIS).Continue reading “Siapa yang Paling Diuntungkan dari Kasus ISIS”

ISIS Contoh Kelompok Anti-Islam yang Menggunakan Nama dan Simbol Islam

Kelompok anti-Islam tak sedikit yang menggunakan nama dan simbol Islam. Terlepas dari nama dan simbol yang mereka gunakan, kegiatan-kegiatan mereka sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang hakiki dan substantif.Continue reading “ISIS Contoh Kelompok Anti-Islam yang Menggunakan Nama dan Simbol Islam”

Indonesian Muslims Denounce ISIS Ideology

This article is taken from The Jakarta Globe.

More Indonesian Muslim groups and public figures have voiced their rejection against the Islamic State of Iraq and Syria, or ISIS. Some urge the government to take firmer action against the possible spread of a growing movement in Indonesia, while others suggest that a lack of media attention would reduce interest in the extreme religious campaign.

“We strongly condemn the violence and terror waged by ISIS; they go against Islamic teachings,” Teguh Santosa, deputy chairman of Indonesia’s second-largest Muslim organization, Muhammadiyah, said in a press statement on Saturday.Continue reading “Indonesian Muslims Denounce ISIS Ideology”

Di Indonesia Ada Ribuan Masjid dan Gereja Berdiri Berdampingan

DI sela penyelenggaraan Bali Media Forum awal November 2013, Profesor Cherian George dari Wee Kim Wee School of Communication, Nanyang Technology University (NTU), Singapura, mewawancarai Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Online Teguh Santosa.

Continue reading “Di Indonesia Ada Ribuan Masjid dan Gereja Berdiri Berdampingan”

Interview with Me: The Issue Behind Religious Anger in Indonesia

Professor George Cherian of Singapore interviewed me when we met in Bali Media Forum in November 2013. The interview goes from the 2005 Danish cartoon, up to the issue of intolerance in Indonesia and the role of mass media and social media in Indonesia.Continue reading “Interview with Me: The Issue Behind Religious Anger in Indonesia”

Inilah Kul Sharif atau мечеть Кул-Шариф atau Колшәриф мәчете

IMG_6467

IMG_6465

Masjid Kul Sharif, Qolşärif, Qol Sharif, Qol Sherif atau Kol Sharif. Atau dalam bahasa Rusia dengan aksara cyrillic ditulis мечеть Кул-Шариф (dibaca: mechet Kul-Sharif), dan dalam bahasa Tatar dengan aksara cyrillic ditulis Колшәриф мәчете (dibaca: Qolşärif mäçete).Continue reading “Inilah Kul Sharif atau мечеть Кул-Шариф atau Колшәриф мәчете”

Islam di Rusia: Bagai Berjalan di Ladang Ranjau

MUNGKINKAH suatu hari nanti Federasi Rusia dipimpin seorang Muslim?

Mufti Muhammad Rahimov yang saya temui di satu-satunya masjid di Pyatigorsk, sebuah kota di Krai Stavropol, menganggukkan kepala.

Continue reading “Islam di Rusia: Bagai Berjalan di Ladang Ranjau”

Menjadi Muslim di Pojok Kota Moskwa

SEPASANG suami istri paruh baya yang duduk di deretan belakang tersenyum ramah ketika saya membidikkan kamera ke arah mereka. Sang suami di sebelah kanan mengenakan jas hitam. Semacam lencana berbentuk bintang bersegi banyak tersemat rapi di dada kiri. Adapun sang istri mengenakan jilbab dan blazer merah marun dengan setangkai kembang plastik oranye yang juga disematkan di dada kiri.Continue reading “Menjadi Muslim di Pojok Kota Moskwa”

Persatuan Masyarakat Indonesia Bukan Hanya Ada di Buku Cerita

dsc00665

Pluralisme, kebhinnekaan dan keberagaman di Indonesia sedang menghadapi ancaman. Kekerasan terhadap penganut keyakinan dan kepercayaan yang berbeda seakan menjadi hal yang biasa dalam pembicaraan juga pemberitaan sehari-hari.Continue reading “Persatuan Masyarakat Indonesia Bukan Hanya Ada di Buku Cerita”

Pemimpin Harus Pluralis

Pemimpin di masa depan harus berwawasan pluralisme yang mengedepankan toleransi antarumat beragama, karena kenyataannya Indonesia bukanlah negara agama. Semua perbedaan agama, suku, dan ras harus jadi kekuatan membangun Indonesia yang lebih baik, damai, dan adil di masa mendatang.Continue reading “Pemimpin Harus Pluralis”

Andi Arief: Yugoslavia dan Indonesia Jelas Beda

Spekulasi yang menyebut Indonesia berpeluang mengalami nasib seperti Yugoslavia didasarkan pada pandangan sempit yang mengabaikan faktor kultural masyarakat yang menginginkan harmoni dan stabilitas.Continue reading “Andi Arief: Yugoslavia dan Indonesia Jelas Beda”

Kekerasan atas Nama Agama Karena Negara Lemah

Keberagaman atau pluralisme bukan barang baru di Republik Indonesia. Belakangan ini kekerasan dengan menggunakan agama dan keyakinan sebagai alasan memang terlihat lebih sering terjadi dibandingkan pada masa sebelumnya. Namun, hal itu bukan karena keberagaman. Melainkan karena negara dan pemerintah tidak hadir dan gagal melindungi warga negara dan menegakkan hukum yang berwibawa.Continue reading “Kekerasan atas Nama Agama Karena Negara Lemah”

Andai Saja Semua Pemuka Agama Belajar Pluralisme Sejak Dini

Pendidikan pluralisme dibutuhkan para calon pemimpin umat untuk menumbuhkan sikap toleransi, saling pengertian, dan pembangunan karakter bangsa. Selain tentu saja dibutuhkan untuk memperkuat pondasi kebangsaan Indonesia.Continue reading “Andai Saja Semua Pemuka Agama Belajar Pluralisme Sejak Dini”

Negara Nyaris Gagal, Ulama Tidak Boleh Cuma Jadi Penonton!

Karut-marutnya Indonesia yang oleh berbagai kalangan ditengarai sudah sangat membahayakan, karena berpotensi membawa negeri ini menuju negara gagal, membuat KH Abdullah Faqih bersedih.

Kiai khos pengasuh Pondok Pesantren Langitan ini, sebagaimana diungkapkan Adhie M Massardi, yang menemui beliau di Langitan, Tuban, Jawa Timur, melihat apa yang terjadi sekarang sesungguhnya akibat negeri ini dikuasai kalangan elit saja, tanpa adanya kepemimpinan. Sehingga para penyelenggara pemerintahan menganggap negara dan seluruh kekayaannya yang sangat besar ini milik mereka.Continue reading “Negara Nyaris Gagal, Ulama Tidak Boleh Cuma Jadi Penonton!”

Ahmadinejad Rocks American Journalism

“Good Morning America” anchor George Stephanopoulos interviewed Iranian President Mahmoud Ahmadinejad a day after Ahmadinejad spoke before the U.N.’s conference on the Nuclear Proliferation Treaty Monday, claiming his country’s nuclear program was not a threat to global security, but the United States’ is.

Continue reading “Ahmadinejad Rocks American Journalism”

Let’s Stop the Clash…

Meluruskan Teologi Mati Syahid

Teologi mati syahid model terpidana mati bom Bali I Amrozi bisa memperpuruk nasib jutaan rakyat miskin di Indonesia. Kesediaan mati dengan bom bunuh diri yang sulit diterima akal sehat bukan hal aneh dalam sistem keberagamaan tertutup (ortodoks). Sejumlah pemikiran Islam (dan agama lain) meletakkan dunia kehidupan sebagai daarul harb (wilayah perang) melawan daarussalam (Islam).Continue reading “Meluruskan Teologi Mati Syahid”

Tentang Islam yang Jadi Beraneka Rupa

Kelompok Ahmadiyah, sebagaimana diributkan belakangan ini, adalah salah satu dari ratusan kelompok dan aliran yang ada dalam Islam. Nama Ahmadiyah sendiri dinisbatkan kepada pendiri mazhab ini, yakni Mirza Ghulam Ahmad, yang lahir di Qadiyyan, India, pada tahun 1281 H. Continue reading “Tentang Islam yang Jadi Beraneka Rupa”

Islam, Demokrasi, dan Keadilan

Oleh: Prof Dr Ahmad Syafii Maarif

Hubungan Islam dan demokrasi, sesungguhnya sangat erat dan komplementer. Meski di masa lalu, harus diakui, ada sekelompok intelektual yang memperdebatkan apakah Islam kompatibel dengan nilai-nilai demokrasi atau bahkan sebaliknya.

Beberapa waktu lalu ada pernyataan menarik dari ulama terkenal, Syekh Yusuf Qaradhawi, dalam kunjungannya ke Indonesia awal bulan ini. Menurutnya, Islam selaras dengan nilai-nilai demokrasi. Ia menunjuk bukti Indonesia yang mayoritas Muslim terbesar di dunia, mampu membumikan secara bersamaan nilai-nilai Islam dan demokrasi.

Kalau kita merujuk masa Nabi Muhammad, kehidupan berdemokrasi dengan menjunjung asas musyawarah dan menjunjung perbedaan antar pemeluk agama dan kepercayaan saat itu, membuktikan Islam mampu menjadi pilar kehidupan yang demokratis. Ini juga dapat dibaca dalam Piagam Madinah, yang memuat pasal-pasal kebersamaan, persamaan di mata hukum, dan lain sebagainya.

Sebenarnya, bukan hal baru bila Indonesia dinilai mampu mempraktekkan nilai-nilai Islam dan demokrasi secara damai dan berbarengan. Seperti yang pernah saya tulis dalam buku Tuhan Menyapa Kita (2006), mantan presiden Amerika, Jimmy Carter dalam observasinya terhadap pemilu 2004 menyatakan, “Warga Muslim mampu menerapkan pemerintahan demokratis yang sesungguhnya.” Padahal di sisi lain, politikus elit AS di Washington dan media massa Barat sempat tak percaya, Islam mampu mewujudkan demokrasi.

Membincang Islam dan demokrasi juga tidak lepas dari nilai-nilai keadilan. Mengapa? Karena keadilan menjadi spirit utama tegaknya Islam dan demokrasi. Al-Quran Surat An-Nisa ayat 58: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar Lagi Maha Melihat.”

Ayat ini mencerminkan beberapa prinsip: Pertama, berlaku amanat. Setiap orang mampu menjaga kehidupan materinya dan bekerja untuk menghidupi keluarga. Seorang mukmin tidak diperkenankan untuk berlaku curang, bohong dan khianat. Kedua, berlaku adil dalam menetapkan hukum untuk kemaslahatan manusia.

Ibnu Taimiyah mengomentari ayat tersebut: “Wahai para pemimpin Muslim, Allah memerintahkan kepada kalian untuk berlaku amanat dalam kepemimpinan kalian, tempatkanlah sesuatu pada tempat dan tuannya, jangan pernah mengambil sesuatu kecuali Allah mengizinkannya, jangan berbuat zalim, berlaku adil adalah keharusan dalam menetapkan keputusan hukum di antara manusia. Semua ini adalah perintah Allah yang ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Jangan pernah melanggarnya, karena itu perbuatan dosa.”

Imam Qurthubi menyampaikan bahwa, “Ayat di atas berlaku umum untuk semua manusia yang menjadi pemimpin kalangan Islam. Keadilan dalam distribusi pendapatan, menghancurkan setiap gerakan kezaliman, dan menegakkan keadilan dalam pemerintahan. Seorang pemimpin Muslim harus bisa berlaku amanah setiap menerima titipan, menyampaikan kesaksian dan lain sebagainya. Perintah untuk berlaku adil dan amanah sama halnya dengan perintah shalat dan ibadah lainnya.”

Berlaku amanat mungkin suatu sikap langka di negeri ini. Para politikus yang berkoar-koar tentang amanat rakyat yang akan diperjuangkannya hanyalah isapan jempol belaka. Rakyat ibarat burung pungguk merindukan bulan, yang suaranya mereka perebutkan saat kampanye dan mereka lupakan setelah menduduki jabatan sebagai anggota dewan terhormat. Inilah drama politik yang berlangsung di negeri kita. Meski demikian, masih ada orang-orang yang memegang amanat tapi suaranya tak kedengaran dikalahkan oleh kebisingan dan keriuhan suara kaum hipokrit (munafik).

Mudah-mudahan mereka sadar dan serius mewujudkan amanat yang telah diberikan rakyat.

Menyuburkan Demokrasi dengan Nilai-nilai Islam

Kaum Muslim di Indonesia tak pernah ragu menerima dan menyerap nilai-nilai demokrasi yang sudah sejak lama diperjuangkan bukan hanya oleh para pendiri bangsa, tetapi juga oleh organisasi Islam mainstream yang terus menggagas Islam yang kontekstual, yaitu yang mampu merespons persoalan masa kini.Continue reading “Menyuburkan Demokrasi dengan Nilai-nilai Islam”

Teroris Selewengkan Praktek Jihad

Bagi umat Islam, berjihad merupakan jalan yang sangat dianjurkan oleh Islam. Dalam banyak bentuknya, jihad dapat dilaksanakan secara individu, kelompok, maupun dalam masyarakat yang lebih besar, yakni bangsa dan negara. Namun demikian, tak dipungkiri masih ada segelintir kaum Muslimin yang salah dan menyelewengkan ajaran jihad untuk kepentingan tertentu.Continue reading “Teroris Selewengkan Praktek Jihad”

Reaktualisasi Makna Jihad di Era Global

Jihad menjadi kosakata populer di Indonesia pascatragedi WTC 2001 silam. Namun konotasi negatif masih berhembus sama; sebuah kekerasan fisik, pembantaian, pembunuhan dan teror. Kasus Maluku, Poso, dan Afghanistan adalah beberapa contoh paling riil dari pemaknaan jihad dengan konotasi negatif seperti itu.Continue reading “Reaktualisasi Makna Jihad di Era Global”

Kembangkan Budaya Toleransi

Pluralisme, atau faham yang menghargai keberagaman, baik dari segi suku, agama, gender, dan asal-muasal, sesungguhnya merupakan ajaran ataukonsep yang sangat positif bagi peneguhan kembali pilar-pilar persatuan dan kebangkitan suatu bangsa. Namun, sayangnya ajaran tersebut dalam faktanya kerapkali mengalami distorsi penafsiran yang mengakibatkan terjadinya tindak kekerasan antar pemeluk agama. Continue reading “Kembangkan Budaya Toleransi”

Meneguhkan Pluralisme untuk Memperkokoh Persaudaraan

Wacana pluralisme hingga kini masih mendapati relevansinya dengan terjadinya berbagai peristiwa yang mengganggu hubungan antarpenganut agama-agama di Indonesia. Namun, pluralisme masih sering dipahami secara salah dengan menganggap menyamakan semua pandangan agama-agama yang berbeda.Continue reading “Meneguhkan Pluralisme untuk Memperkokoh Persaudaraan”

Idul Adha: Tingkatkan Semangat Solidaritas dan Berkorban

Akhir 2006, umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Hari Idul Adha atau hari raya kurban merupakan salah satu hari besar agama Islam yang dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Pada hari tersebut, umat Islam disunahkan melaksanakan shalat Ied dua rakaat dan melakukan pemotongan hewan kurban, seperti unta, sapi, dan kambing. Di samping itu, umat Islam juga disunahkan untuk menunaikan puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah.Continue reading “Idul Adha: Tingkatkan Semangat Solidaritas dan Berkorban”

“Poros Islam Beralih ke Asia Tenggara

Gagasan tentang ajaran Islam yang moderat dan santun diakui tidak mudah untuk dibumikan. Kalangan intelektual, dai, dan ulama yang nyaris sehari-hari berurusan dengan dakwah Islam pun mengakui hal tersebut. Sebagai cerminan dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, doktrin moderatisme Islam sesungguhnya diharapkan dapat terus mewarnai kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.Continue reading ““Poros Islam Beralih ke Asia Tenggara”

Islam Moderat di Asia Tenggara: Tantangan dan Peluang

Pascatragedi WTC September 2001, ketika Amerika Serikat (AS) menuduh gerakan Al Qaeda sebagai pelaku dan menangkapi orang-orang Islam yang diduga terkait dengan jaring Al Qaeda, posisi Islam moderat di Asia Tenggara tak luput dari tuduhan. Namun, seiring waktu berjalan, Islam moderat berhasil membuktikan diri sebagai kaum Muslim yang sangat tidak menyetujui adanya radikalisme dan terorisme.Continue reading “Islam Moderat di Asia Tenggara: Tantangan dan Peluang”

Berantas Terorisme, Berdayakan Dai dan Ulama

Ancaman aksi terorisme terus membayangi kehidupan masyarakat. Berbagai upaya pencegahan dan pemberantasan, baik yang dilakukan oleh aparat keamanan dan masyarakat secara keseluruhan terus digalakkan. Kalangan ulama dan tokoh agamapun tak ketinggalan turut memberikan kontribusinya bagi pencegahan dan pembasmian terorisme. Pemberantasan terorisme melalui jalur agama serta peran dai dan ulama dinilai cukup efektif.

Continue reading “Berantas Terorisme, Berdayakan Dai dan Ulama”