
Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute
PEKAN lalu saya diundang menjadi penguji naskah tesis S-2 seorang mahasiswi Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Secara ringkas, tesis itu menguji pendekatan dua presiden AS, Donald Trump (2017-2021) dan Joe Biden (2021-2025) menghadapi upaya China mempengaruhi kawasan Indo-Pasifik.
Di bagian awal, tesis ini menyebut Trump menggunakan pendekatan offensive realism, sementara Biden mempraktikkan defensive realism. Sementara pada bagian akhir disimpulkan bahwa pendekatan Biden walaupun berbeda dengan pendekatan Trump, namun tidak sama sekali berbeda. Dia menggunakan istilah berikutnya: hybrid realism.
Saya tidak bermaksud membedah lebih lanjut tesis itu dalam kesempatan ini. Tetapi dua kali pertemuan untuk menguji tesis itu mengingatkan saya pada buku “Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap?” yang ditulis Graham Allison, profesor Harvard Kennedy School. Buku ini diterbitkan pada 2017.
Buku ini diakui sebagai salah satu rujukan berpengaruh dalam memahami dinamika hubungan AS-China di abad 21. Allison membangun argumennya dari sejarah, data, dan analisis politik internasional untuk menjawab pertanyaan besar: apakah perang antara kekuatan yang sedang naik dan kekuatan yang sedang mapan tidak bisa dihindari?
Konsep sentral buku ini adalah Thucydides’s Trap. Allison meminjam istilah dari sejarawan Yunani Thucydides yang menjelaskan Perang Peloponnesia antara Sparta dan Athena pada abad ke-5 SM. Menurut Thucydides, perang terjadi karena Sparta takut pada kebangkitan Athena. Allison menyebut pola ini sebagai “perangkap”: ketika kekuatan yang sedang naik menantang status quo, ketakutan dan salah kalkulasi dari kedua pihak bisa memicu konflik.
Allison meneliti 16 kasus sepanjang 500 tahun terakhir di mana kekuatan yang naik menantang kekuatan yang mapan. Hasilnya mengejutkan: 12 dari 16 kasus berakhir dengan perang. Hanya 4 kasus yang berhasil menghindari konflik. Statistik ini menjadi dasar pesimisme sekaligus peringatan dalam bukunya.
China saat ini adalah kasus klasik kekuatan yang sedang naik. Selama 40 tahun reformasi ekonomi, PDB China tumbuh lebih dari 40 kali lipat. China menjadi pabrik dunia, kreditor terbesar AS, dan penantang utama dalam teknologi, militer, dan diplomasi. Pertumbuhan ini mengubah keseimbangan kekuatan global yang selama ini didominasi Amerika Serikat sejak Perang Dingin.
Di sisi lain, Amerika Serikat adalah kekuatan mapan. Setelah Perang Dunia II, AS membangun tatanan internasional liberal: NATO, WTO, PBB, sistem dolar, dan aliansi di Asia-Pasifik. Bagi AS, tatanan ini menjamin stabilitas dan kepentingannya. Kebangkitan China dianggap sebagai tantangan langsung terhadap struktur itu.
Allison mengidentifikasi tiga dimensi utama ketegangan AS-China: ekonomi, militer, dan ideologi. Secara ekonomi, China mengejar AS dengan cepat. Pada 2014, PDB China berdasarkan paritas daya beli melampaui AS. China juga menjadi mitra dagang utama bagi lebih dari 120 negara, menggeser posisi AS.
Secara militer, China melakukan modernisasi besar-besaran. Anggaran pertahanan China naik hampir 10 kali lipat sejak 1990. Fokusnya adalah mengusir pengaruh AS dari Laut China Selatan dan Taiwan. AS merespons dengan pivot ke Asia dan memperkuat aliansi dengan Jepang, Australia, dan Filipina.
Dimensi ideologi juga tak kalah penting. AS mempromosikan demokrasi liberal, pasar bebas, dan hak asasi manusia. China menawarkan model otoritarianisme dengan kapitalisme negara. Bagi Allison, benturan nilai ini memperdalam rasa saling curiga dan mempersulit kompromi.
Menelusuri Masa Lalu
Allison tidak hanya menganalisis masa kini. Ia menelusuri sejarah untuk menemukan pola. Ia membandingkan kebangkitan Jerman pada akhir abad 19 yang menantang Inggris, kebangkitan Jepang sebelum Perang Dunia II, dan kasus-kasus lain. Polanya konsisten: ketakutan, prestise, dan salah persepsi sering mendorong perang bahkan ketika kedua pihak tidak menginginkannya.
Salah satu contoh yang dibahas adalah Perang Dunia I. Inggris dan Jerman tidak ingin perang, tetapi dinamika aliansi, perlombaan senjata, dan krisis Balkan menjerumuskan mereka ke konflik. Allison menyebut ini sebagai “sleepwalking into war”. Artinya, tanpa sadar berjalan menuju perang.
Dalam konteks AS-China, Allison melihat beberapa titik rawan. Laut China Selatan hanya salah satunya. China membangun pulau buatan dan mengklaim hampir seluruh perairan itu. AS melakukan freedom of navigation operation untuk menantang klaim China. Setiap insiden kecil bisa memicu eskalasi.
Taiwan adalah titik rawan lain. China menganggap Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan. AS menjalankan kebijakan strategic ambiguity. Jika China menyerang Taiwan, AS menghadapi dilema: intervensi berisiko perang besar, tidak intervensi berarti kehilangan kredibilitas.
Allison juga membahas perdagangan dan teknologi. Perang dagang AS-China di era Trump menjadi bukti bahwa persaingan ekonomi bisa memanas cepat. Huawei, 5G, dan chip semikonduktor menjadi medan baru persaingan. Bagi Allison, teknologi adalah sumber kekuasaan baru yang bisa menentukan pemenang abad ini.
Tidak Pasti Terjadi
Meski pesimis, Allison tidak mengatakan perang pasti terjadi. Ia menekankan bahwa sejarah bukan takdir. Dari 16 kasus, 4 berhasil menghindari perang. Inggris dan AS pada awal abad 20 adalah contohnya. Keduanya menghindari konflik melalui diplomasi, konsesi, dan penyesuaian kepentingan.
Allison menyebut ini sebagai “jalan keluar dari perangkap”. Kuncinya adalah pengakuan realitas: kekuatan yang mapan harus menerima bahwa dunia telah berubah, dan kekuatan yang naik harus menahan ambisi agar tidak memprovokasi perang. Keduanya harus menciptakan mekanisme untuk mengelola persaingan.
Ia menyarankan AS untuk berhenti bersikap seolah-olah China bisa dibendung. Sebaliknya, AS perlu menerima peran China sebagai kekuatan besar dan menegosiasikan ruang hidup baru. China, di sisi lain, harus lebih transparan dan tidak menggunakan kekuatan secara agresif.
Allison juga menekankan pentingnya komunikasi strategis. Salah persepsi adalah pemicu utama perang dalam sejarah. Ia mendorong dialog tingkat tinggi, hotline militer, dan aturan main yang jelas untuk mencegah insiden kecil menjadi perang besar.
Buku ini mendapat pujian karena metodologinya yang kuat. Allison menggunakan data sejarah, wawancara dengan pemimpin, dan analisis kebijakan. Ia juga tidak memihak. Ia mengkritik AS ketika perlu, dan juga menyoroti ambisi China yang berbahaya.
Tidak Sepi Kritik
Buku ini tidak sepi kritik. Kelemahan buku Allison ini, tulis Crispin Rovere dari Australia dalam reviewnya di The Interpreter, bukanlah pada peringatannya bahwa AS dan Tiongkok berisiko jatuh ke dalam Perangkap Thucydides, melainkan pada penjelasannya mengenai mengapa perang tetap dapat dihindari.
Kritik lain dialamatkan pada era yang dijadikan Allison sebagai pembanding ketegangan antara AS dan China masa kini. Allison juga dinilai terlalu menekankan pada konflik dan sikap bermusuhan, tanpa berusaha menawarkan pendekatan alternatif yang sampai saat ini nyatanya membuat AS dan China masih berjarak dari perang.
Meski begitu, “Destined for War” tetap relevan hingga 2026. Persaingan AS-China semakin tajam di Laut China Selatan, Taiwan, AI, dan rantai pasok global. Narasi “perang dagang” telah berkembang menjadi “persaingan sistemik”.
Allison berhasil membuat konsep Thucydides’s Trap menjadi bahasa publik. Frasa itu kini sering muncul di media, pidato pejabat, dan debat kebijakan. Buku ini mengubah cara kita melihat hubungan AS-China: bukan sekadar persaingan ekonomi, tetapi pertarungan sejarah.
Bagi pembaca Indonesia, buku ini penting. Asia Tenggara berada di garis depan persaingan AS-China. Indonesia harus memahami logika kedua kekuatan besar agar bisa menjaga otonomi strategis dan menghindari terseret konflik.
Allison menutup bukunya dengan pesan mendesak: pemimpin AS dan China harus belajar dari sejarah. Mereka harus berani membuat keputusan sulit untuk menghindari perangkap. Jika gagal, konsekuensinya bisa berupa perang yang menghancurkan tatanan dunia.
Pada akhirnya, “Destined for War” bukan ramalan. Ia adalah peringatan. Allison menunjukkan bahwa perang bukan takdir, tetapi pilihan. Dan pilihan itu tergantung pada kebijaksanaan pemimpin hari ini.
Buku ini wajib dibaca bagi siapa saja yang ingin memahami geopolitik abad 21. Ia menantang kita untuk berpikir lebih dalam tentang kekuasaan, ketakutan, dan tanggung jawab negara besar dalam menjaga perdamaian dunia.[]
