Dutabesar Abdalla: Afrika (Kembali) Melihat Indonesia

INDONESIA kembali memainkan peranan penting dalam hubungan dengan negara-negara di benua Afrika. Di tahun 1955 silam, Presiden Sukarno mengundang bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang baru merdeka di akhir Perang Dunia Kedua untuk berkumpul di Bandung. Dalam Konferensi Asia-Afrika itu dirumuskan satu dokumen politik yang diberi nama Dasa Sila Bandung, yang dalam prinsipnya mendoronga agar negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika mengembangkan kerjasama yang positif dan konstruktif dengan sesama mereka.

Kini, giliran Presiden Joko Widodo yang mengambil inisiatif merapatkan kembali hubungan Indonesia dengan benua Afrika. Di tahun 2018, Kementerian Luar Negeri menggelar Indonesia-Africa Forum (IAF). Di tahun 2019, pembicaraan ditingkatkan ke level yang lebih konkret dalam pertemuan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID).

Continue reading Dutabesar Abdalla: Afrika (Kembali) Melihat Indonesia

Karena Mongolia Ingin Kembali Ke Tengah Panggung Dunia

“Kami ingin menempatkan kembali Mongolia di tengah panggung dunia.”

Itu yang dikatakan Gantuya Tuya, dalam peresmian Chinggis International News Agency (Chinggis INA), di Ulaanbaatar, Mongolia, pekan lalu (Sabtu (7/9). Dengan nada percaya diri dan optimistis.

Continue reading Karena Mongolia Ingin Kembali Ke Tengah Panggung Dunia

Dubes Joseph R. Donovan Jr.: Indonesia Mencapai Milestone Baru Demokrasi

Sebelum ditugaskan di Jakarta, ia menduduki posisi Direktur Utama Bagian Washington di American Institute, Taiwan. Dubes Donovan juga pernah bekerja sebagai Penasihat Kebijakan Luar Negeri untuk pemimpin Kepala Staf Gabungan di Pentagon (2012-2014), Associate Professor di National Defense University di Washington, D.C. (2011-2012), dan Kepala Deputi Asisten Menteri Luar Negeri untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Departemen Luar Negeri AS (2009-2011).

Selain itu Dubes Donovan juga pernah menjabat sebagai Konsul Jenderal AS di Hong Kong (2008-2009), Wakil Duta Besar AS di Tokyo, Jepang (2005-2008), dan Direktur Bagian Tiongkok dan Mongolia, Deplu AS (2003-2005). Dalam kariernya sebagai pejabat dinas luar negeri, Dubes Donovan pernah ditempatkan di Taiwan, Tiongkok, Korea Selatan, dan Qatar.

Continue reading Dubes Joseph R. Donovan Jr.: Indonesia Mencapai Milestone Baru Demokrasi

Dubes Al Hamar: Jalan Keluar Perseteruan Dan Perselisihan Adalah Dialog

SIAPAPUN tahu Qatar adalah salah satu pendukung utama war on terror yang dipimpin Amerika Serikat menyusul serangan terhadap Menara WTC di New York pada 11 September 2001. Qatar memberikan kesempatan kepada pasukan multinasional yang dipimpin AS untuk menggunakan wilayahnya sebagai pangkalan militer. Dukungan Qatar pada perang melawan teror berlangsung hingga kini.

Di pertengahan 2017, hubungan Qatar dengan negara-negara tetangganya memburuk. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Maladewa, Senegal, Djibouti, Komoro, Jordania, pemerintahan Libya di Tobruk dan pemerintahan Yaman yang dipimpin Hadi, menghentikan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Continue reading Dubes Al Hamar: Jalan Keluar Perseteruan Dan Perselisihan Adalah Dialog

Dubes Al Hamar: Bagi Qatar, Indonesia Negara Yang Penting

DAWLAT Qatar atau Negara Qatar terletak pada wilayah geografis yang unik. Di tengah Teluk Parsi, di sebuah semenanjung di sisi timur jazirah Arab. Berbatasan langsung dengan Saudi Arabia di selatan. Dipisahkan oleh laut dengan Uni Emirat Arab di sebelah tenggara, dengan negara pulau Bahrain di baratdaya, dan dengan Iran di seberang timur.

Negeri semenanjung seluas 11.581 kilometer persegi itu dipimpin Bani Thani sejak tahun 1868 saat Mohammed bin Thani dan Inggris menandatangani pemisahan Qatar dan  Bahrain yang sebelumnya diikat perjanjian dengan Inggris pada 1820. Pada periode 1871 hingga 1915 Qatar berada di bawah pengaruh Turki Ustmaniah, dan sejak 1916 hingga 1971 berada di bawah perlindungan Inggris.

Continue reading Dubes Al Hamar: Bagi Qatar, Indonesia Negara Yang Penting

Dubes Tunisia: Faktanya, Persaingan Dagang Mempengaruhi Seluruh Dunia

GELOMBANG demonstrasi di Tunisia semakin menjadi oleh sebuah peristiwa di Sidi Bouzid, sekitar 300 kilometer sebelah selatan Tunis, pada 17 Desember 2010. Seorang penjual buah, Mohamed Bouazizi (26), membakar diri di depan kantor polisi sebagai tanda protes atas tindakan aparat menyita gerobak buahnya.

Bouazizi sempat dilarikan ke sebuah rumah sakit di dekat Tunis untuk mendapatkan perawatan intensif. Presiden Zine El Abidin Ben Ali menjenguk Bouzizi pada 28 Desember. Namun karena luka yang begitu parah, Bouazizi meninggal dunia pada 4 Januari 2011.

Continue reading Dubes Tunisia: Faktanya, Persaingan Dagang Mempengaruhi Seluruh Dunia

Dubes Dridi: Indonesia Dukung Transisi Demokrasi Tunisia

TERLETAK di Afrika Utara, diapit Aljazair, Libya dan Laut Mediterania, Republik Tunisia memiliki hubungan istimewa dengan Republik Indonesia.

Pemimpin gerakan kemerdekaan Tunisia, Habib Bourguiba, berkunjung ke Jakarta dan bertemu Bung Karno pada tahun 1951. Sejak itu, Indonesia secara aktif memberikan dukungan untuk kemerdekaan Tunisia. Puncak dari upaya diplomatik Tunisia untuk meraih kemerdekaan adalah lobi yang dilakukan di arena Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Setahun kemudian, Prancis angkat kaki dari negeri itu.

Continue reading Dubes Dridi: Indonesia Dukung Transisi Demokrasi Tunisia

Dubes Jepang: Tidak Ada Hubungan Bertetangga Yang Bebas Dari Masalah

UNIPOLARISME pasca Perang Dingin tak berumur panjang. Hanya dalam waktu kurang lebih satu dekade berbagai kekuatan ekonomi dan politik baru bermunculan. Di Asia Timur, China yang untuk waktu cukup lama memilih menutup diri di balik tirai bambu secara mengagetkan muncul ke permukaan.

Tidak hanya meningkatkan anggaran militer berkali lipat, China juga mengumumkan ambisi menjadi lokomotif Jalur Sutra baru yang dikenal dengan nama One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI). Seperti China, Jepang juga tidak mau kalah.

Continue reading Dubes Jepang: Tidak Ada Hubungan Bertetangga Yang Bebas Dari Masalah

Dubes Jepang: Kompetisi Selalu Bagus

PADA bulan Oktober 2015 pemerintah Indonesia memberikan proyek kereta api cepat (High Speed Railways/HSR) Jakarta-Bandung kepada Republik Rakyat China (RRC) yang belakangan juga tampak semakin agresif mendekati Indonesia.

Keputusan ini mengecewakan pemerintah Jepang yang merasa telah terlibat cukup jauh. Untuk mengobati kekecewaan Jepang itu, Presiden Joko Widodo mengutus Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ketika itu, Sofyan Djalil, bertemu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Continue reading Dubes Jepang: Kompetisi Selalu Bagus

Dubes Jepang: Bila Ekonomi Tumbuh 6,5 Persen, Indonesia Nomor 4 Terkuat Di Dunia

NIHON atau Nippon. Negeri matahari terbit. Kemenangan dalam perang melawan Kekaisaran Rusia di Manchuria dan Semenanjung Korea pada 1904-1905 melambungkan reputasi Kekaisaran Jepang sebagai saudara tua Asia. Kemenangan ini menyempurnakan supremasi Jepang di kawasan Asia Timur sejak merebut Formosa dari China dalam perang 1895.

Jepang sudah memperlihatkan tanda-tanda ke arah kegemilangan sejak Kaisar Meiji yang berkuasa di pertengahan abad ke-19 memulai restorasi besar-besaran yang berdampak pada penguatan sistem politik yang lebih tersentralisir dan pertumbuhan ekonomi yang ditopang industrialisasi demi mengejar ketertinggalan dari dunia Barat.

Continue reading Dubes Jepang: Bila Ekonomi Tumbuh 6,5 Persen, Indonesia Nomor 4 Terkuat Di Dunia

Kalender 2019 Sama Dengan 1895, Apa Saja Kejadiannya?

Kalendar tahun 2019 pada sistem penanggalan Gregorian yang biasa kita gunakan sama dengan kalendar tahun 1895. Tanggal 1 Januari 2019 dan 1895 sama-sama jatuh pada hari Selasa. Begitu juga dengan tanggal 31 Desember sama-sama jatuh pada hari Selasa. Kedua tahun yang berjarak 124 tahun itu sama-sama bukan tahun kabisat.

Continue reading Kalender 2019 Sama Dengan 1895, Apa Saja Kejadiannya?

Di Tepi Amu Darya, Di Ujung Kredibilitas Profesi…

DI Sumatera orang menyebut sungai dengan bermacam nama.

Orang Batak Mandailing menyebutnya, Aek. Batak Karo, Lau. Orang Aceh, Krueng. Orang Lampung, Way. Dan banyak lagi…

Continue reading Di Tepi Amu Darya, Di Ujung Kredibilitas Profesi…

Dubes Meksiko Armando G. Álvarez: Dunia Memang Sedang Rumit

SITUASI politik global sedang tidak menentu. Sering diibaratkan seperti laut yang sedang diterpa badai atau the turbulent ocean. Badai ini membahayakan perjalanan setiap kapal yang sedang melintasi samudera dari satu benua ke benua lainnya.

Continue reading Dubes Meksiko Armando G. Álvarez: Dunia Memang Sedang Rumit

Kita Di Antara Tujuh Tahun Damai Dan Tujuh Tahun Perang

6c4c6c55-1d2d-436d-966a-27d834dfa1bc

TIDAK berlebihan bila menilai Panama berada di tengah dua raksasa dunia yang sedang bertarung, Amerika Serikat dan Republik Rakyat China (RRC). Panama toh tidak sendirian. Ada banyak negara yang bernasib serupa. Continue reading Kita Di Antara Tujuh Tahun Damai Dan Tujuh Tahun Perang

Ini Penjelasan Dubes Panama Tentang Panama Papers Dan Kopi Termahal Di Dunia

Mossack Fonseca Currently Embroiled In Panama Papers Tax Scandal

TAHUN 2015 masyarakat internasional dikagetkan oleh 11,5 juta dokumen yang berasal dari firma hukum Mossack Fonsesca di Panama.
Berita Terkait

Dokumen-dokumen itu dibocorkan oleh sumber yang hingga kini dirahasiakan kepada Bastian Obemeyer, wartawan harian Jerman, Suddeutsche Zeitung (SZ). Tak lama setelah dipublikasikan SZ, Konsorsium Internasional Wartawan Investigatif (ICIJ) memuat semua dokumen dalam website mereka. Continue reading Ini Penjelasan Dubes Panama Tentang Panama Papers Dan Kopi Termahal Di Dunia

Kami Ingin Lebih Banyak Orang Indonesia Berkunjung Ke Panama

PSX_20181031_183800

DUTABESAR Deborah Ho Ng De Cogley baru dua tahun bertugas di Jakarta. Alumni Universitas Santa Maria La Antigua dan Universitas Latin Panama ini lahir 53 tahun lalu di kota Colon. Itu adalah kota terbesar kedua di Republik Panama, yang berada di sisi utara Samudera Atlantik.

Dua tahun bertugas di Indonesia memberikan pelajaran yang begitu berharga baginya. Dubes Deborah Ho menyadari dirinya kini lebih sabar dan memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan segala hal, terutama sebelum mengambil keputusan. Continue reading Kami Ingin Lebih Banyak Orang Indonesia Berkunjung Ke Panama

Teroris Tidak Selalu Datang Membawa Senjata

Setelah dua tahun bertugas sebagai Dutabesar Republik Arab Suriah di Jakarta, DR. Ziad Zaheredin semakin memahami bahwa Indonesia dan Suriah memiliki banyak persamaan. Sama-sama negeri muslim yang moderat, menghargai keberagaman, dan memiliki sejarah yang panjang. Kedua negara juga memiliki hubungan baik sejak lama. Setidaknya sejak tahun 1947, ketika Suriah menyampaikan dukungan kepada kemerdekaan Indonesia di hadapan sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Continue reading Teroris Tidak Selalu Datang Membawa Senjata

Dubes Roya Rahmani: Indonesia Promosikan Perdamaian Di Afghanistan

175673_07354805092018_WWC_DUBES_AFGHANISTAN_DWI_PAMBUDO_RM_23

KEKERASAN masih terus terjadi di Afghanistan. Namun demikian, pondasi perdamaian di negara itu sudah jauh lebih baik dari masa-masa sebelumnya.
Berita Terkait

Indonesia termasuk yang berperan dalam memperkuat pondasi perdamaian di Afghanistan. Hal itu dikatakan Dutabesar Republik Islam Afghanistan Roya Rahmani dalam dialog dengan redaksi beberapa waktu lalu. Continue reading Dubes Roya Rahmani: Indonesia Promosikan Perdamaian Di Afghanistan

Dubes Kim Changbeom: Indonesia Adalah Partner Alami Korea

497271_07081711072018_Dubes_Korsel-1

DUTABESAR Republik Korea atau Korea Selatan, Kim Changbeom, senang bisa kembali ke Indonesia. Dia menganggap Indonesia adalah negeri keduanya, dan penugasannya di Jakarta kali ini seperti pulang kampung saja.

Alumni Seoul National University (SNU) yang meraih gelar doktor dari John Hopkins University ini ditugaskan pertama kali ke Indonesia pada 2003-2005. Sebelum itu dia bertugas di Kedubes Korsel di Amerika Serikat (1998-2001), Pakistan (1993-1995), dan Jepang (1987-1995). Continue reading Dubes Kim Changbeom: Indonesia Adalah Partner Alami Korea

Dubes Korsel: Untuk Waktu Yang Cukup Panjang, Solusi Akhirnya Adalah Satu Korea

Pertemuan dua pemimpin Korea, Presiden Republik Korea Moon Jaein dan Pemimpin Tertinggi Republik Rakyat Demokratik Korea Kim Jong Un di Panmunjom, akhir April lalu menghasilkan kesepakatan yang mengarahkan keduanya kepada perdamaian abadi. Continue reading Dubes Korsel: Untuk Waktu Yang Cukup Panjang, Solusi Akhirnya Adalah Satu Korea

Dutabesar Lyudmila Vorobieva: Perdamaian yang Buruk Lebih Baik dari Perang yang Bagus

PEMERINTAH dan media yang dikuasai dan dipengaruhi “blok Barat” masih sering menggambarkan Rusia sebagai ancaman bagi perdamaian dunia. Ketegangan antara Rusia dengan Amerika Serikat dan sekutunya sangat terasa akhir-akhir ini, terutama di kawasan Timur Tengah. Continue reading Dutabesar Lyudmila Vorobieva: Perdamaian yang Buruk Lebih Baik dari Perang yang Bagus

Dr. Zuhair Al Shun: Jerusalem Ibukota Abadi Negara Palestina

PERJUANGAN bangsa Palestina masih panjang. Walaupun faktanya dalam sidang Majelis Umum PBB di bulan November 2012 sebanyak 138 dari 193 anggota PBB memberikan pengakuan kepada Negara Palestina sebagai negara peninjau bukan anggota (non-member observer state). Continue reading Dr. Zuhair Al Shun: Jerusalem Ibukota Abadi Negara Palestina

Kami akan Kembalikan Kedaulatan dengan Operasi Militer

thumbnail-4

thumbnail-2

thumbnail-3

thumbnail-5

thumbnail-6

Yang Mulia Tamerlan Garayev menyambut Majalah RMOL di ruang kerjanya di Jalan Karang Asem Tengah, kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Wajahnya oval dengan garis dagu yang tegas dan hidung tinggi. Rambut dan kumisnya telah memutih. Continue reading Kami akan Kembalikan Kedaulatan dengan Operasi Militer

Taiwan Tidak Pernah Dikuasai Komunis China

Untitled

REVOLUSI Xinhai di tahun babi besi 1911 yang dipimpin DR. Sun Yat-sen mengakhiri era kekaisaran China. Menyusul kemenangan revolusi kaum nasional itu, Republik China pun diproklamasikan pada 1 Januari 1912.

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, daratan China juga ikut merasakan ketegangan antara blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan blok Timur yang dipimpin Uni Soviet. Puncak dari ketegangan ini adalah Perang Saudara 1949 yang dimenangkan Partai Komunis China (PKC) yang dipimpin Mao Tse-tung. Continue reading Taiwan Tidak Pernah Dikuasai Komunis China

Valiollah Mohammadi: Mereka Memperluas Iran Phobia

8d685852-672f-4b82-adc8-18a7c4178e1b

20171127_161907

DUTABESAR Republik Islam Iran, Yang Mulia Valiollah Mohammadi, menyambut Majalah RMOL di ruang kerjanya di lantai dua gedung Kedubes Iran di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta. Di luar sana langit mendung, hujan rintik tengah turun membasahi bumi.

Kurma dan kopi menemani perbincangan kami. Valiollah Mohammadi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan runut dan jelas. Terkadang diselingi tawa kecil dan senyum lebar.

Dimulai seputar hubungan Iran dengan Indonesia dan ASEAN, perbincangan akhirnya melebar hingga ke berbagai persoalan yang sedang terjadi di arena global termasuk mengenai relasi Iran dengan Amerika Serikat, Republik Rakyat China, Saudi Arabia hingga Korea Utara. Continue reading Valiollah Mohammadi: Mereka Memperluas Iran Phobia

Mereka Ingin Hentikan Revolusi Bolivarian

SECARA umum ada dua pendapat mengenai asal-usul nama Venezuela. Pandangan pertama mengatakan bahwa nama Venezuela diperkenalkan penjelajah Amerigo Vespucci dari Venize, Italia, yang pada 1499 dalam sebuah ekspedisi menyusuri pesisir negeri itu dari Delta Orinoco hingga ke Danau Maracaibo. Rumah-rumah panggung yang berjejer rapi di sekeliling Danau Maracaibo mengingatkan Vespucci pada kampung halaman. Vespucci menyebut daerah itu sebagai Veneziola yang juga berarti Piccola Venezia atau Venezia Kecil. Continue reading Mereka Ingin Hentikan Revolusi Bolivarian

YM Oudia Benabdellah: Indonesia dan Maroko Sama-sama Penghubung Kawasan

20171026_160739

20171026_160823

TERLETAK di pojok barat belahan utara benua Afrika, persis pada persimpangan Samudera Atlantik di barat dan Laut Mediterania di utara, Maroko bukan negeri yang asing bagi Indonesia. Continue reading YM Oudia Benabdellah: Indonesia dan Maroko Sama-sama Penghubung Kawasan

Trump Membuat Hubungan AS dan Kuba Kembali Memburuk

eb456c24-2f8e-4013-a3b1-de54b673a249

NIRSIA Castro Guevara bertugas sebagai Dutabesar Republik Kuba untuk Republik Indonesia sejak bulan Agustus 2015. Sebelum dikirim pemerintahan Raul Castro ke Jakarta, wanita kelahiran Provinsi Granma, 4 Maret 1956, ini pernah menjadi Dutabesar Kuba di Republik Sri Lanka dan Republik Maladewa (2008-2012) dan di Kerajaan Kamboja, Kerajaan Thailand dan Republik Myanmar (2002-2006). Continue reading Trump Membuat Hubungan AS dan Kuba Kembali Memburuk

Dubes An Kwang Il: Kami Sudah Siap Menghadapi Situasi Paling Buruk

Screen Shot 2017-10-07 at 12.37.38 AM

TANGGAL 29 Agustus 2017 Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK) atau Korea Utara meluncurkan misil antarbenua jarak menengah Hwasong-12. Melesat sejauh 2.700 kilometer dan mencapai titik tertinggi 550 meter, Hwasong-12 melintasi Hokkaido, Jepang, sebelum akhirnya menghujam satu titik di Samudera Pasifik, sekitar 1.180 kilometer dari wilayah Jepang.

Peluncuran Hwasong-12 ini adalah respon Korea Utara terhadap latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Republik Korea atau Korea Selatan di kawasan perbatasan. Latihan militer Ulji Freedom Guardian dipandang Korea Utara sebagai provokasi dan ekspresi kebijakan permusuhan AS yang tiada henti terhadap negeri itu.

Provokasi AS yang diikuti respon Korea Utara ini dikhawatirkan membuat pembicaraan damai Utara-Selatan kembali ke titik nol.

Berikut adalah penjelasan Dutabesar RRDK untuk Republik Indonesia, YM An Kwang Il, di Kedubes Korea Utara, Jalan Teluk Betung, Menteng, Jakarta, dua hari setelah peluncuran Hwasong-12.

Bisa Anda jelaskan apa yang menjadi latar belakang dari peluncuran rudal antarbenua jarak menengah Hwasong-12 tersebut?

Alasan utama peluncuran Hwasong-12 karena Amerika Serikat mempertahankan kebijakan permusuhan mereka pada Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK). Terutama setelah Donald J. Trump terpilih sebagai presiden, kebencian AS pada RRDK semakin memuncak. Mereka terus-menerus melakukan latihan gabungan yang berbahaya serta memasok asset pukulan strategi ke Semenanjung Korea, dengan demikian membawa situasi ke ambang perang. Aksi mereka ini tidak bisa dibiarkan.

Kami sudah sampaikan agar AS tidak melakukan tindakan provokatif seperti itu. Tetapi mereka tidak peduli dengan peringatan kami, mereka kembali melakukan latihan perang Ulji Freedom Guardian.

Akhirnya pemerintah kami memutuskan untuk memperlihatkan kemampuan militer yang kami punyai dengan merencanakan serangan ke Guam, Pangkalan Militer Amerika. Ini adalah adalah babak pertama respon kami terhadap Latihan Gabungan militer AS-Korea Selatan. Ini akan menjadi langkah pertama operasi militer tentara kami di kawasan Pasifik.

***

Tahun lalu, pemerintahan Korea Selatan memberi restu pada Amerika Serikat untuk menempatkan persenjataan canggih Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Penempatan THAAD dimulai awal tahun 2017 dan memicu protes tidak hanya dari Korea Utara, tapi juga dari Republik Rakyat China (RRC) dan Republik Federasi Rusia. Bagi China dan Rusia pun kehadiran THAAD adalah ancaman bagi wilayah mereka.

Sementara Korea Utara, membalas kehadiran THAAD dengan meningkatkan kapasitas sistem pertahanan. Pada tanggal 4 Juli Korea Utara meluncurkan misil antarbenua jarak jauh Hwasong-14, diikuti peluncuran kedua pada tanggal 28 Juli. Korea Utara berharap, uji coba Hwasong-14 yang memiliki jarak jelajah sampai Alaska dan Daratan Amerika itu dapat menghentikan tekanan AS.

***

Apakah latihan militer AS dan Korea Selatan ini mempengaruhi pembicaraan damai dengan Korea Utara terlebih setelah pemerintahan baru di Amerika dan Korea Selatan terbentuk?

Kami mengobservasi sikap dan pernyataan-pernyataan presiden baru di AS juga presiden baru di Korea Selatan. Kami tidak melihat satu pun kebijakan mereka yang positif dalam rangka mencari jalan keluar yang baik terhadap persoalan di Semenanjung Korea secara tuntas.

Kami sudah memilih membangun persenjataan nuklir untuk mempertahankan sistem dan pemerintah kami dari ancaman nuklir dan kebijakan permusuhan Amerika yang dilaksanakan sampai sekarang ini. Senjata nuklir kami bukan alat tawar-menawar di meja dialog atau negosiasi yang bertujuan untuk melucuti persenjataan kami.

Pemerintahan Donald Trup sedang memanaskan ketegangan di Semenanjung Korea dengan mengabaikan dasar dari masalah ini, dan mendorong kelahiran berbagai resolusi PBB dengan memobilisasi masyarakat internasional untuk lebih menekan negara kami dari segi militer dan ekonomi kami. Mereka melakukan latihan perang yang mengancam kami dan di saat yang sama berbicara tentang dialog. Ini tidak masuk akal. Tak ada harapan.

Presiden Moon Jaein pernah mendampingi Presiden Roh Moohyun (2003-2008) yang dianggap memiliki kebijakan yang lebih bersahabat dengan RRDK. Apakah menurut Anda, Moon Jaein tidak mewarisi semangat seniornya?

Saat baru berkuasa, Moon Jaein sempat menyampaikan pernyataan-pernyataan yang mengisyaratkan bahwa dirinya akan melakukan perubahan dan mengambil kebijakan yang berbeda dari Presiden Park Geunhye sebelumnya.

Tetapi faktanya, kami tidak melihat ada perubahan dan perbedaan. Dari sikap mereka sejauh ini kami tidak dapat melihat titik apa pun yang positif untuk menyelesaikan masalah secara tuntas dengan mengedepankan posisi dan kepentingan bangsa Korea. Sebaliknya mereka membikin hubungan Utara-Selatan lebih buruk dengan mengikuti sterategi Amerika. Moon Jaein mengunjungi AS dan dia mengatakan bahwa hubungan Utara-Selatan akan berjalan sesuai kerangka perjanjian Korea Selatan dan AS. Sikap dan pernyataannya itu membuat banyak orang kehilangan harapan.

Kalau dia ingin benar-benar memperbaiki hubungan antara Utara dan Selatan, dia harus mengubah mindset. Walaupun Korea Selatan sering mengatakan ingin menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea dan menyatukan bangsa Korea, tetapi pikiran mereka tidak terlepas dari kontrol dan pengaruh AS. Inilah masalah yang sebenarnya.

Dua pekan lalu, saat berpidato menyambut 100 hari pemerintahannya, Presiden Moon Jaein mengatakan tidak akan membiarkan perang kembali terjadi di Semenanjung Korea dan tidak akan memperbolehkan AS mengambil tindakan militer tanpa izin Korea Selatan. Bagaimana menurut Anda?

Dia bisa berkata apapun. Tetapi, Korea Selatan tidak punya power untuk mengontrol situasi. Karena Korea Selatan benar-benar dikontrol oleh AS.

Dari catatan sejarah kita bisa melihat AS selalu mengabaikan permintaan Korea Selatan.

Masyarakat internasional merasa takut dan khawatir ketegangan di Semenanjung Korea bisa membuahkan perang dalam skala besar. Bagaimana pandangan masyarakat Korea Utara?

Memang ketika saya berada di luar Korea saya bisa menyaksikan masyarakat di luar sangat khawatir dengan situasi di Semenanjung Korea. Mereka bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya setelah kami menjawab provokasi AS dan Korea Selatan dengan meluncurkan rudal kami ke Pasifik. Apakah akan terjadi perang?

Kami tidak ingin perang. Tapi jika kami terpaksa berperang, kami pasti menang. Inilah jawaban kami. Alasan kami yang sedang memperkuat kemampuan senjata nuklir pun berada pada posisi ini (untuk menghadapi kemungkinan terpaksa berperang).

Banyak pelajaran dalam sejarah yang memperlihatkan bila lemah, kita tak bisa mempertahankan kedaulatan negara. Kalau Amerika memilih opsi yang berbahaya, kami juga mempersiapkan serangan terhadap Amerika sebagai pilihan terburuk. Apakah akan terjadi perang atau tidak, ini sepenuhnya tergantung sikap Amerika.

Masyarakat kami tidak khawatir tentang perang. Mereka sibuk dengan berbagai program pembangunan yang tengah digalakkan pemerintah. Mereka percaya bahwa mereka memiliki pemerintahan yang kuat dan dapat diandalkan, serta angkatan bersenjata yang juga kuat dan mampu menghadapi berbagai kemungkinan terburuk, termasuk invasi negara lain. Masyarakat kami sudah siap menghadapi keadaan darurat.

Beralih ke hubungan antara Indonesia dan Korea Utara saat ini, di tengah krisis Semenanjung Korea. Bagaimana hubungan kedua negara menurut Anda?

Sangat baik. Rakyat Korea punya perasaan baik terhadap bangsa Indonesia sebagai tempat asli Bunga Kimilsungia. Saya bisa merasakan itu saat saya berkunjung ke banyak kota di Indonesia. Saat bertemu dengan masyarakat awam saya sering bertanya, apa yang mereka ketahui tentang negara kami.

Mereka tahu tentang Kim Il Sung, pendiri negara kami. Mereka tahu hubungan baik Presiden Sukarno dengan Presiden Kim Il Sung di masa lalu. Juga tahu tentang bunga Kimilsung yang diberikan Presiden Sukarno pada Presiden Kim Il Sung.

Ini adalah pondasi yang dibutuhkan untuk hubungan baik kedua negara.

Sejak puluhan tahun yang lampau, kedua negara kita terus memajukan hubungan persahabatan dengan menghargai sejarah dan tradisi antara kita, tidak peduli perubahan situasi.

Saya kira tugas kami yang penting adalah terus memajukan hubungan bilateral kita secara multidimensi dengan menghargai perasaan sahabat, sejarah dan teradisi cukup lama antara kita setinggi-tingginya.

Akan tetapi ada juga kelompok yang ingin memasang ganjal pada hubungan bilateral kita. Kalau sudah paham apa akarnya masalah Semenanjung Korea, bisa saja mengetahui dengan mudah apa masud mereka sebenarnya.

***

Menurut catatan , sikap Indonesia terhadap ketegangan di Semenanjung Korea tidak dapat dikatakan netral. Dalam pertemuan Asean Regional Forum (ARF) di Filipina awal Agustus lalu, misalnya, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi secara terbuka mengecam uji coba misil Hwasong-14 yang dilakukan Korea Utara.

Pemerintah Indonesia mengabaikan konteks besar yang melatari ketegangan di Semenanjung Korea dan mengabaikan hak Korea Utara untuk membela diri dari tekanan negara lain. Indonesia, bersama negara-negara ASEAN lainnya mengecam Korea Utara yang dianggap tidak mematuhi Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama ASEAN yang ditandatangani negara itu tahun 2005. Amerika Serikat yang memicu ketegangan di Semenanjung Korea dan mempertahankan kebijakan permusuhan terhadap Korea Utara sama sekali tidak diberi teguran apapun, walaupun sebenarnya menandatangani Perjanjian yang sama.

***

Baru-baru ini seorang budayawan Indonesia, Jaya Suprana, berkunjung ke Pyongyang. Beliau berkeinginan memperkuat dan melebarkan hubungan masyarakat kedua negara di bidang kebudayaan. Bagaimana perasaan Anda tentang hal itu?

Saya suka gagasan itu. Saya selalu memikirkan berbagai program pertukaran kebudayaan. Karena pertukaran kebudayaan adalah hal yang paling dibutuhkan untuk memperkuat hubungan kedua negara.

Bila masyarakat awam secara aktif melakukan pertukaran kebudayaan dan saling mengunjungi, ini akan menjadi pondasi kebijakan pemerintah. Ini bagus untuk membangun dan membina hubungan Korea Utara dan Indonesia.

***

Dalam kunjungan ke Pyongyang, budayawan Jaya Suprana dan istri Aylawati Sarwono menyaksikan konser grup musik Samjiyon yang diselenggarakan bersamaan dengan Pertemuan 2017 untuk Mengenang Orang Besar Gunung Paektu.

Pendiri Jaya Suprana Institute itu juga berkunjung ke Sekolah Persahabatan Indonesia-Korea dan menyaksikan siswa sekolah itu menyanyikan lagu-lagu Indonesia dengan sangat baik. Tempat lain yang dikunjungi Jaya Suparana dan istri adalah taman kanak-kanak khusus tempat pembibitan pianis di Korea.

Jaya Suprana berencana mengundang seorang painis muda Korea dan menyelenggarakan konser di Jakarta tahun depan. Selain itu, Jaya Suprana juga berencana mengirimkan tim tari untuk mengikuti Festival Musim Semi pada bulan April 2018.

Dubes Korut: Malaysia Lebih Percaya Informasi Pihak Ketiga

744458_09200512032017_17190542_10155006121161668_6009590915962505908_n

HUBUNGAN Repulik Rakyat Demokratik Korea (RRDK) atau Korea Utara dengan Malaysia memburuk setelah peristiwa kematian seorang pria warganegara Korea Utara di Bandara International Kuala Lumpur pertengahan Februari lalu. Continue reading Dubes Korut: Malaysia Lebih Percaya Informasi Pihak Ketiga