Dubes Roya Rahmani: Indonesia Promosikan Perdamaian Di Afghanistan

175673_07354805092018_WWC_DUBES_AFGHANISTAN_DWI_PAMBUDO_RM_23

KEKERASAN masih terus terjadi di Afghanistan. Namun demikian, pondasi perdamaian di negara itu sudah jauh lebih baik dari masa-masa sebelumnya.
Berita Terkait

Indonesia termasuk yang berperan dalam memperkuat pondasi perdamaian di Afghanistan. Hal itu dikatakan Dutabesar Republik Islam Afghanistan Roya Rahmani dalam dialog dengan redaksi beberapa waktu lalu.

Dalam dialog itu, Dubes Rahmani membicarakan banyak hal terkait hubungan kedua negara. Walaupun saat ini kerjasama di bidang ekonomi belum seperti yang diharapkan, namun ada banyak potensi kerjasama yang bisa dikerjakan di masa depan.

Berikut kutipannya:

Bagaimana perasaan Anda ditugaskan di Indonesia?

Saya sangat beruntung karena ditugaskan di Indonesia. Saya adalah diplomat karier. Sebelumnya saya pernah berkunjung ke Indonesia saat saya bertugas sebagai Direktur Jenderal Kerjasama Luar Negeri di Kementerian Luar Negeri Afghanistan. Maka ketika saya ditugaskan atas kebaikan hati Menteri Luar Negeri kami, dan terlebih Presiden kami, untuk bertugas di Indonesia, saya sangat gembira.

Saat itu Menlu kami menawarkan semacam pilihan. Tentu saja pilihan saya adalah Indonesia.

Saya sudah pernah mengunjungi Indonesia tiga kali sebelumnya, bahkan sebelum saya bekerja untuk pemerintah.

Ini berarti Anda sudah memiliki pemahaman tentang Indonesia sebelumnya…

Ya. Tetapi tentu saja Indonesia adalah negara yang besar dan sangat dinamis. Saya rasa saya masih berada pada tahap awal mengenal Indonesia. Saya perlu waktu lagi untuk lebih mempelajarinya.

Sebelum ditugaskan sebagai Dutabesar saya pernah mengunjungi Jakarta dan Jogjakarta. Saat itu saya datang menghadiri pertemuan dan konferensi untuk pekerjaan saya sebelumnya.

Setelah 2 tahun 3 bulan, apakah Anda sudah mengunjungi kota-kota lain di Indonesia?

Saya sudah mengunjungi beberapa kota. Tetapi itu masih belum cukup. Saya pernah ke Kalimantan, Lombok, Sulawesi. Di Pulau Jawa saya pernah ke Semarang, Solo. Tentu saja saya pernah ke Bali.

Apakah Anda pernah berkunjung ke kota di Pulau Sumatera?

Saya belum ke sana, termasuk belum ke Medan. Tentu saja Medan adalah kota yang akan saya kunjungi nanti. Saya harus mengunjungi Medan karena ada alasan khusus lain. Di sana ada teman baik saya, juga teman Kedutaan kami. Mereka telah tinggal di sana selama beberapa tahun, bahkan sesungguhnya beberapa dekade. Keluarganya datang dari Afghanistan, tapi kemudian mereka menetap di sana. Mereka warganegara Indonesia. Teman saya lahir di Medan. Dia anggota MPR, dia seorang pengusaha yang sukses, dan juga aktif di kegiatan kemanusiaan. Dia adalah Mr. Rahmad Syah.

Sejauh ini bagaimana hubungan Indonesia dan Afghanistan secara umum?

Saya sangat gembira ditugaskan di sebuah negara yang mana selalu memiliki hubungan positif dan genuine dengan negara kami. Sepanjang sejarah hubungan kedua negara, kita tidak prnah memiliki persoalan atau masalah.

Hubungan kita juga luar biasa, dimulai pada tahun 1954. Di tahun 1955 kami membuka Kedutaan di Indonesia. Dari informasi yang saya kumpulkan, Kedubes Indonesia di Afghanistan bahkan sudah dibuka lebih dahulu. Intinya, hubungan kita berjalan sangat baik dan bersahabat.

Namun dalam hal kerjasama yang lebih praktikal, belum banyak hal yang kita lakukan di masa lalu. Saya sangat gembira dan merasa terhormat karena dalam dua tahun terakhir kita memiliki lebih banyak kunjungan dan pertukaran delegasi dibandingkan dari yang kita lakukan dalam 62 tahun sebelumnya.

Kegiatan terbesar dalam hal pertukaran pejabat di antara kedua negara terjadi dalam dua tahun belakangan ini. Kunjungan pertama Kepala Negara Afghanistan dilakukan di bulan April 2017. Sebelum itu, sejak hubungan kedua negara dimulai, tidak pernah ada kunjungan kenegaraan dari Afghanistan ke Indonesia.

Kunjungan Presiden Ashraf Ghani Ahmadzai kemudian diikuti berbagai kunjungan pejabat tinggi Afghanistan ke Indonesia, juga kunjungan pejabat tinggi Indonesia ke Afghanistan. Presiden Joko Widodo pun mengunjungi Afghanistan di bulan Januari 2018. Jadi, dalam satu tahun, dua kepala negara bersahabat saling mengunjungi satu sama lain.

Saya ingin menjelaskan bahwa kunjungan Kepala Negara Indonesia ke Afghanistan bukan untuk yang pertama kali. Karena Presiden Sukarno di tahun 1961 mengunjungi Afghanistan. Saat itu beliau menjadi tamu Raja Muhammad Zahir Shah.

Saya rasa, kita sedang menyaksikan hubungan dan kerjasama kedua negara akan semakin diperkuat di masa datang.

Di sektor apa saja hubungan kedua negara terjalin baik?

Ada banyak area yang dapat kita kerjasamakan, dimana kita saling mendukung, serta mengembangkan pemahaman. Saya ingin menggarisbawahi keterlibatan Indonesia dalam mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan. Dalam catatan itu, secara khusus mengenai pengenalan dan perluasan pemahaman bahwa Islam adalah agama perdamaian dan toleransi, atau agama rahmatan lil alamin. Hal ini adalah salah satu yang perlu digarisbawahi dalam hubungan kita.

Kami menyambut baik kerjasama selanjutnya dengan intelektual Indonesia, pemimpin agama, pemerintah, rakyat, untuk membawa pemahaman kita atas nilai-nilai kebudayaan, perdamaian dan harmoni yang koeksistensi.

Kerjasama juga terjalin di sektor ekonomi, terlebih karena di dalam dua tahun terakhir kami memiliki delegasi ekonomi dan bisnis dalam jumlah besar yang berkunjung ke Indonesia. Kami pun bekerjasama dengan Kedubes Indonesia di Afghanistan. Mereka memfasilitasi kunjungan delegasi ekonomi dan bisnis Indonesia ke Afghanistan.

Kami bekerjasama dalam mempromosikan pengalaman terbaik dari Indonesia. Kami dapat belajar dari pakar-pakar Indonesia tentang bagaimana Indonesia menghadapi berbagai tantangan, dan bagaimana kami bisa menggunakan model Indonesia untuk konteks yang kami hadapi.

Berapa nilai perdagangan kedua negara?

Kita punya hubungan dagang, namun nilainya tidak tinggi seperti seharusnya. Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan nilai perdagangan antara kedua negara, namun nilainya masih sangat minimum.

Berdasarkan pemahaman saya, karena Afghanistan dikategorikan sebagai salah satu negara Asia Tengah oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia, maka di antara negara-negara Asia Tengah, Afghanistan masih memiliki nilai perdagangan tertinggi dengan Indonesia.

Ada potensi yang sangat besar untuk semakin dikembangkan kedua negara. Banyak produk Indonesia yang dapat diperkenalkan di pasar kami, dan banyak juga produk kami yang dapat digunakan di pasar Indonesia.

Sebetulnya, ini adalah area yang membutuhkan perhatian khusus. Kami berharap ada konsentrasi khusus mengenai hal ini.

Berapa nilai perdagangan Indonesia dan Afghanistan?

Volume perdagangan kedua negara tahun lalu sekitar 40 juta dolar AS.

Saya harus mengklarifikasi. Nilai yang baru saya sebutkan tadi berdasarkan pada statistik yang dikumpulkan Indonesia dari pihak Bea Cukai. Tetapi sebetulnya, pada praktiknya, volume perdagangan kita jauh lebih tinggi dari angka itu. Karena banyak produk dari dan ke Afghanistan yang diperdagangkan lebih dahulu dengan negara ketiga, karena kami land lock country.

Bagaimana dengan kerjasama di sektor pendidikan? Adakah mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di perguruan tinggi Afghanistan?

Selain dari keluarga korps diplomatik Indonesia yang berada di Afghanistan, saya masih belum memiliki pemahaman mengenai warga Indonesia yang belajar di Afghanistan. Namun perlu saya sampaikan ada banyak ketertarikan dan permintaan dari mahasiswa Indonesia belajar di Afghanistan, baik untuk mempelajari subjek tertentu, maupun untuk melanjutkan pendidikannya.

Kami berharap ini bisa terjadi dalam waktu dekat. Kami sedang bekerja untuk mewujudkan hal itu.

Kami memiliki standar pendidikan yang cukup tinggi meskipun kami sempat dilanda perang bertahun-tahun yang mengakibatkan kehancuran banyak infrastruktur pendidikan. Kini situasinya sungguh lebih baik.

Kami memiliki banyak universitas yang bagus, baik universitas negeri maupun swasta. Mereka sangat kompetitif. Kami juga memiliki banyak universitas yang memiliki akreditasi dari lembaga pendidikan internasional. Tidak hanya di Kabul. Dari sisi jumlah bisa dikatakan kebanyakan di Kabul, tetapi tidak hanya di Kabul. Ada banyak universitas bagus di kota-kota lain di Afghanistan.

Dalam hal mahasiswa Afghanistan yang bersekolah di Indonesia, kami memiliki angka yang sedikit. Hanya sekitar 50 mahasiswa yang datang ke Indonesia melalui berbagai program. Kami sungguh berharap jumlah ini akan meningkat. Terlebih karena sudah ada komitmen yang disampaikan pemerintah Indonesia dalam kunjungan tingkat tinggi.

Ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Afghanistan, beliau menjanjikan ratusan beasiswa untuk mahasiswa Afghanistan, serta meminta pemerintah kami untuk mendedikasikan program ini pada sektor pembangunan bisnis.

Sampai sekarang kami masih menunggu respon dari instansi terkait di Indonesia untuk mengetahui bagaimana beasiswa ini dialokasikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s