Ini Bukan Imam Tarmizi

 

BARANGKALI bagi banyak orang ini persoalan sederhana. Tetapi tidak begitu sederhana bagi saya. Saya pernah berkunjung ke Termez di Uzbekitan, dan melihat sebuah patung di salah satu taman kota. Untuk waktu yang amat lama, saya mengira itu adalah patung Imam Tarmizi, seorang ahli dan perawi hadis Nabi Muhammad SAW yang hidup di abad ke-9 M.

Dalam sejumlah catatan, Imam al-Hafizh Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami at-Tirmidzi disebutkan lahir di Termez, di selatan Uzbekistan kini, pada tahun 824 dan meninggal dunia di kota yang sama pada 892.

Saya berkunjung ke kota kelahiran Imam Tarmizi pada bulan Oktober dan November 2001.

Ketika itu dunia tengah menyaksikan ketegangan baru di Afghanistan. Amerika Serikat telah melepaskan tembakan ke sejumlah titik yang diyakini sebagai tempat persembunyian kelompok Al Qaeda.

Kelompok yang dipimpin Osama bin Laden itu dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam serangan yang menghancurkan menara kembar WTC di New York, Amerika Serikat, pada 11 September 2001 dan menewaskan tak kurang dari 3.000 orang.

Karena rezim Taliban yang berkuasa di Afghanistan sejak 1996 memberikan perlindungan kepada Al Qaeda, maka operasi melumpuhkan Al Qaeda akhirnya dimodifikasi menjadi operasi menumbangkan Taliban.

Termez hanya sepelemparan batu dari Hairaton, kota kecil di sisi utara Afghanistan. Kedua kota dipisahkan Sungai Amu Darya yang mengalir dari Pegunungan Pamir di Tajikistan di sebelah timur menuju Laut Aral di baratlaut Uzbekistan.

Awalnya, rencana saya adalah: menyeberangi Amu Darya menuju Hairaton, lalu Mazar-i Sharif. Selanjutnya menyusuri pegunungan yang membelah Afghanistan sebelum akhirnya masuk ke Kabul.

Tapi rencana itu tinggal rencana. Sampai akhirnya pasukan Aliansi Utara yang didukung Amerika Serikat menguasai Kabul dan menggulung Taliban, saya masih tertahan di Uzbekistan.

Jembatan Persahabatan yang dibangun Uni Soviet ketika menduduki Afghanistan pada era 1980an tak kunjung dibuka, dan ini tentu saja bikin patah hati banyak wartawan asing yang bermimpi melintasinya.

Sambil menunggu kabar baik dari pemerintah Uzbekistan di Tashkent, saya habiskan hari-hari yang panjang di Termez dengan menyusuri jalanan dan lorong di kota itu, bertemu banyak orang, dan mengunjungi berbagai tempat. Termasuk sebuah taman, dimana saya bertemu dengan sebuah patung yang saya kira adalah patung Imam Tarmizi.

Mengapa saya menduga ini adalah patung Imam Tarmizi? Alasannya cukup sederhana. Seingat saya tidak ada keterangan, misalnya dalam bentuk prasasti, mengenai identitas tokoh patung itu. Karena tidak tersedia informasi dan menyadari saya sedang berada di kota kelahiran Imam Tarmizi, otak saya cepat menyimpulkan bahwa ini adalah patung Imam Tarmizi.

Kesimpulan ini bertahan lama. Bahkan dalam berbagai kesempatan menceritakan perjalanan ke Uzbekistan, khususnya Termez, saya selalu menyelipkan kisah Imam Tarmizi dan “patungnya” di Termez. Apalagi saya sempat berfoto di samping patung itu. Memperlihatkan foto saya di samping patung sang imam rasanya menambah kredibilitas cerita.

Kesimpulan yang salah ini terbongkar pertengahan Agustus 2018 saat saya berada di Moskow, Rusia. Dari KBRI Moskow di Novokuznetskaya Ulitsa, saya dan dua teman berjalan kali menuju Gorky Park di Krimsky Val. Menurut map elektronik, dari KBRI Moskow hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit berjalan kaki ke taman yang didedikasikan untuk sastrawan Alexei Maximovich Peshkov alias Maxim Gorky.

Di bulan Agustus 2018 taman itu persis berusia 90 tahun.

Gorky Park disebutkan dalam lirik Wind of Change (1994) yang dinyanyikan kelompok Scorpion. Rasanya generasi yang melewati masa remaja di era 1990an cukup akrab dengan Scorpion dan Wind of Change.

Lagu itu terinspirasi oleh berbagai perubahan yang tengah terjadi di Uni Soviet setelah pada pertengahan 1980an pemerintahan Mikhail Gorbachev memperkenalkan glasnot dan perestroika, atau transparansi dan reformasi.

Gagasan glasnot dan perestroika dianggap bertanggung jawab atas berbagai perubahan yang terjadi di blok sosialis, hingga akhirnya tembok yang memisahkan sisi barat dan timur kota Berlin di Jerman tumbang pada 1989. Lalu puncak dari semua drama itu adalah kehancuran Uni Soviet pada akhir 1991.

Dalam perjalanan menuju Gorky Park, ketika melintasi sebuah taman di Bolshaya Serpukhovskaya Ulitsa mata saya menangkap sebuah patung pria mengenakan sorban. Saya ajak kedua teman untuk mendatangi taman dan melihat patung itu dari dekat.

Di bagian bawah patung terdapat sebuah prasasti yang memberikan penjelasan mengenai tokoh patung itu dalam huruf Cyillic. Saya potret dan kirimkan gambarnya ke seorang teman staf KBRI di Moskow yang banyak memberikan bantuan selama kunjungan kami.

“Mas tolong bantu cek, ini patung siapa?” tanya saya.

Tak lama pesan saya dibalas.

“Ini patung Alisher Navoi, dihadiahkan pemerintah Uzbekistan pada tahun 2011,” teman itu menjelaskan.

Jawaban ini cukup bagi saya untuk menggali informasi mengenai Alisher Navoi.

Pada catatan di dunia maya, khususnya di Wikipedia, disebutkan bahwa Nizam-al-Din ʿAlisher Herawi atau Alisher Navoi adalah sastrawan yang kerap dikaitkan dengan bahasa Chagatai, rumpun bahasa Turkis yang berkembang luas di kawasan Asia Tengah ketika kawasan itu berada di bawah kekuasaan dinasti Amir Timur dari paruh kedua abad ke-14 hingga pertengahan abad ke-19.

Alisher Navoi lahir di Herat, kini sebuah provinsi di baratlaut Afghanistan, pada 1441.

Karya-karya sastra yang ditulisnya dianggap sebagai pondasi bagi bahasa Chagatai yang selanjutnya ikut membentuk identitas bangsa-bangsa di Asia Tengah, terutama Uzbekistan yang kini menganggap Alisher Navoi bersama Amir Timur sebagai dua tokoh yang sangat penting.

Tak berlebihan agaknya bila Alisher Navoi saya setarakan dengan sastrawan Ali Raja bin Raja Haji Ahmad dari Pulau Penyengat di Kepulauan Riau yang sering dianggap sebagai peletak dasar bahasa Melayu yang kelak menjadi bahasa Indonesia.

Atau saya sejajarkan dengan sastrawan Alexander Pushkin yang karya-karya sastranya juga sering disebut menjadi model bagi bahasa Rusia modern.

Alisher Navoi berasal dari keluarga elit di era itu. Ayahnya, Ghiyath ud-Din Kichkina, adalah seorang pejabat yang bekerja untuk penguasa Khorasan, Shahrukh Mirza. Ayah Alisher juga disebutkan pernah menjadi gubernur di Provinsi Sabzawar.

Setelah ayahnya meninggal dunia, Alisher muda diadopsi oleh penguasa Khorasan berikutnya, Babur Ibn Baysunkur. Ia satu sekolah dengan Husayn Bayqarah yang di masa berikutnya menjadi penguasa Khorasan.

Saat masih berusia enam tahun, Alisher ikut keluarganya meninggalkan Herat. Kematian Shahrukh Mirza menciptakan krisis politik yang bisa membahayakan mereka. Bersama keluarganya, Alisher menetap di Samarkand, kini bagian Uzbekistan.

Di tahun 1469, sahabat kecilnya Husayn Bayqarah mendapat giliran menjadi penguasa Khorasan. Alisherpun kembali ke Herat dan bekerja untuk penguasa baru hingga ia wafat pada tahun 1501. Tidak ada catatan yang menyebutkan Alisher pernah menikah dan memiliki keturunan.

Sepanjang perjalanan ke Gorky Park, saya terus memikirkan  patung Alisher Navoi. Saya seperti pernah melihat sosok tokoh di patung itu: mengenakan sorban dengan satu tangan memegang buku dan satu tangan lainnya diulurkan seakan menyambut seseorang.

Ketika tengah mereka-reka soal patung itulah saya teringat pada “patung Imam Tarmizi” di Termez. Sosok tokoh kedua patung itu sepintas mirip. Selain itu, tentulah penyerahan patung Alisher Navoi sebagai hadiah kepada kota Moskow merupakan ekspresi hubungan baik antara Uzbekistan dan Rusia yang pernah sama-sama hidup di bawah payung Uni Soviet dan kini bersama di Commonwealth of Independent States (CIS).

Di Gorky Park, sambil menikmati sinar matahari dan hembusan angin musim panas, saya duduk di bangku yang dijejerkan di sisi danau. Puas melihat pemandangan Gorky Park di depan mata, saya kembali membuka aplikasi pencari Google.

Kali ini saya memasukkan kata-kata baru di kolom pencarian: Statues in Termez.

Maka muncullah begitu banyak gambar patung, ada yang dari Termez, ada juga yang dari kota-kota lain di Uzbekistan.

Setelah beberapa kali scrolling down, akhirnya saya temukan gambar patung yang sangat akrab di mata saya: “patung Imam Tarmizi” di Termez.

Setelah saya klik, informasi yang keluar pun meluruskan keyakinan saya selama ini. Ternyata ia bukan Imam Tarmizi, ia adalah Alisher Navoi.

***

Saya melihat-lihat kembali beberapa foto lama yang saya ambil pada kunjungan ke Uzbekistan di tahun 2001. Sambil mengamati objek demi objek di dalam foto, pikiran saya melayang ke Termez dan masa lalu. Setelah 17 tahun berlalu, pastilah telah banyak hal yang berubah di kota itu.

Ketika saya berkunjung, Termez tengah merayakan ulang tahun ke 2.500 tahun. Setidaknya, kini ia bertambah dewasa, usianya 17 tahun lebih tua.

Saya teringat sebuah restoran di persimpangan jalan di depan balai kota, juga perkampungan di pinggiran rel kereta. Pasar Termez yang kerap saya kunjungi untuk sekadar membeli es krim atau mengamati berbagai hal yang menarik, juga masjid-masjid dan reruntuhan bangunan kuno. Tak lupa kebun binatang yang berada persis di tepi Amu Darya.

Terbersit di benak saya untuk kembali ke Termez, menyusuri jalanan dan lorong-lorong di kota itu sekali lagi. Mendatangi Jembatan Persahabatan, menyeberangi Amu Darya, menuju Hairaton, Mazari Sharif dan melintasi pegunungan yang membelah Afghanistan sebelum akhirnya tiba di Kabul.

Seperti yang pernah saya rencanakan 17 tahun lalu. [***]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s