Saturday Morning Discourse with AS Hikam

  • Teguh Santosa Pak Hikam yang baik, cara Bapak mengantarkan pernyataan saya itu membuat saya merasa Bapak sedang menuding saya sebagai pengamat bayaran yang pandangan-pandangannya sesuai pesanan.
    September 8 at 12:48am
  • Muhammad A S Hikam @Teguh: Maaf bung, saya mengatakan ‘para pengamat politik’, atau plural. Jadi sebelum anda ada beberapa yg lain. Saya tdk single out siapa2nya, tetapi saya berdasar kabar RMOL yg saya ikuti. Saya menganggap bhw analisa seputar izin DPRD Solo tsb tidak cukup beralasan. Bahkan absurd. Dan kampanye RMOL utk mendkng Foke saya kira juga luarbiasa kebablasan, sehingga sering teks komentar pun dikunci.
    September 8 at 6:59am
  • Teguh Santosa Entahlah dengan orang lain. Tetapi saya, Pak Hikam yang baik, sejak awal sebelum putaran pertama dimulai bahkan di luar urusan pilkada Jakarta, bila ditanya orang mengenai fenomena “kutu loncat” ini selalu mengatakan tidak pernah simpati pada tokoh yang sedang mendapatkan amanah dan kepercayaan untuk memimpin tetapi memilih meninggalkan jabatannya untuk jabatan yang lain. Apapun alasannya. Memang tidak ada aturan hukum/UU yang melarang itu. Tetapi bukankah demokrasi tidak hanya dipahami dari teks perundangan yang tertulis. Demokrasi butuh keteladanan, dan keteladanan lebih sering tidak tertulis, melainkan diamalkan. Saya tidak mengenal Jokowi secara pribadi. Tetapi Ahok, saya kira saya cukup mengenalnya. Tahun lalu di Seminari Mertoyudan, setelah kami jadi pembicara diskusi bertema pluralisme, Ahok sempat menyampaikan niatnya menjadi gubernur dari jalur independen. Saya katakan, saya salut dengan dirinya yang konsisten dalam berjuang. Tetapi mengapa tidak pernah istiqomah. Apa kurangnya posisi anggota Dewan? Saya kira kita sedang membutuhkan keteladanan di DPR RI.
    September 8 at 9:47am
  • Teguh Santosa Banyak hal yang tidak tertulis dalam setting demokrasi kita. Itulah sebabnya, tokoh-tokoh yang merasa jumawa di daerah-daerah bisa dengan seenaknya sendiri mencalonkan diri sebagai wakil kepala daerah setelah dua kali periode menjadi kepala daerah. Juga kepala daerah yang kekuasaannya dilanjutkan oleh istri. Dan seterusnya.
    September 8 at 9:26am
  • Teguh Santosa RMOL kebablasan mendukung Fauzi Bowo? Saya sulit menerima penilaian ini. Tapi pernahkah Pak Hikam yang baik membaca berita ini: https://www.google.com/url?q=http://www.rmol.co/read/2012/08/15/74756/Beathor:-PKS-dan-Hidayat-Nur-Wahid-Munafik!-&sa=U&ei=KK1KUN74OaXLmgWXkIDIBw&ved=0CAYQFjAA&client=internal-uds-cse&usg=AFQjCNHIUWrS00VVGm491XQRcSDjd_yMSQ misalnya.
  • rmol.co – Beathor: PKS dan Hidayat Nur Wahid Munafik!
  • www.rmol.co Keputusan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendukung pasangan Fauzi Bowo dan Nac…See More
    September 8 at 9:28am
  • Muhammad A S Hikam @Teguh: Tugas kita semua untuk mendudukkan perkara pada proporsinya. Demokrasi tidak terjadi hanya dalam tempo semalam. Celah-celah akan terus dicoba dimanipulasi oleh mereka yg akan memanfaatkan demokrasi. Tetapi tidak sepantasnya juga membatasi hak mereka yang memang legitimate dan tdk melanggar aturan.
    September 8 at 9:28am
  • Teguh Santosa Ketika rumors mengenai laporan korupsi pemkot Solo yang dilaporkan LBH Mega Bintang beredar luas dan dianggap sebagai kebenaran, saya kira hanya (mungkin saya salah) RMOL yang mendudukkan persoalan. RMOL, dalam hal ini saya, yang kembali menghubungi Mudrick Sangidu, juga ketua LBH Mega Bintang dan bertanya kepada mereka apa yang sebetulnya mereka laporkan. Dan mereka sudah memberikan jawaban. Saya kira jawaban mereka itu mestinya menyenangkan para pendukung Jokowi. KPK pun kami hubungi kembali untuk soal ini.
    September 8 at 9:31am
  • Muhammad A S Hikam @Teguh: Anda berhak merasa keberatan thd kesan publik dan pembaca RMOL mengenai pemihakan yang kebablasan tsb. Kalau tidak kenapa harus dikunci jika ada statemen pro-Foke yang kira-2 akan mendapat komentar negatif? Darti situ saja sudah ketahuan bhw RMOL menganut prinsip “semua orang setara, tetapi ada beberapa orang lebih setara dari yang lain.”
  • Akan susah kalau saya membuat link untuk menunjukkan bukti ketidak seimbangan itu. Link yang anda berikan kalau dibanding dg link yg mendukung Foke tanpa reserve dan lebay sangat kecil.
    September 8 at 9:32am
  • Teguh Santosa Soal fasilitas komentar di beberapa berita RMOL yang ditutup: Inilah dilema kebebasan. Saya kecewa pada kebanyakan komentator yang bersembuyi di balik nickname. Memaki, menghujat. Inikah karakter bangsa Indonesia yang sesungguhnya? Silakan buka link berikut: http://www.rmol.co/disclaimer.php.
  • rmol.co – Disclaimer RakyatMerdeka Online
    www.rmol.coDISCLAIMER Rakyat Merdeka Online tidak bertanggung jawab atas isi opini pemba…See More
    September 8 at 9:35am
  • Teguh Santosa Tentang tuduhan-tuduhan korupsi baik yang dialamatkan kepada Joko Widodo dan Fauzi Bowo: Sikap saya dan RMOL jelas. Semua tuduhan-tuduhan itu belum in kracht.
    September 8 at 9:39am
  • Muhammad A S Hikam @Teguh: Kalau anda sebagai pembaca (bukan sebagai salah satu pim red RMOL) yg awam seperti saya, dan hanya berdasarkan frekuensi pemberitaan ttg Jokowi, saya berani taruhan bhw anda akan menarik kesimpulan yg tidak jauh dari saya. Repot kalau anda mencoba membela diri dg bukti yang selektif. Lebih baik serahkan saja pada publik utk menilainya.
  • Kalau memang anda kecewa, lebih baik fair saja: semua berita anda tidak ada ruang komentar, atau kalau memang ada anda bisa mengeditnya. Saya melakukan hal yg sama di forum ini. Jika ada komentar yg menggunakan bahasa jorok, fitnah atau melecehkan pribadi, ya akan saya hapus. Gak repot sebetulnya.
  • Muhammad A S Hikam @Teguh: Kalau memang belum inkracht, sebaiknya tidak perlu diberitakan dengan judul yg bisa membuat pembaca mempunyai kesan RMOL telah melakukan “trial by the press.”
    September 8 at 9:39am ·
  • Teguh Santosa Karena belum in kracht, ia harus dipandang bukan sebagai kebenaran, melainkan petunjuk atau tanda-tanda. Dan petunjuk atau tanda-tanda ini bisa jadi keliru pula sebelum ada proses pembuktian di pengadilan. Itu sikap saya sejak lama. Itu pula yang membuat saya mendukung habis-habisan ketika Gus Dur dituduh oleh para politisi melakukan korupsi dalam Buloggate bertahun-tahun yang lalu. Saya adalah satu dari dua orang di kantor saya yang secara terbuka mengatakan: fakta tidak bisa divoting.
    September 8 at 9:46am
  • Teguh Santosa Selebihnya Pak Hikam, saya selalu menganggap Bapak sebagai panutan saya. Saya berterima kasih atas perhatian Bapak kepada RMOL dan saya. Saya merasa ini adalah bentuk rasa sayang Bapak kepada kami. 🙂
    September 8 at 9:41am ·
  • Muhammad A S Hikam @Teguh: Dalam konteks bukan kamnpanye, barangkali kebijakan anda dan RMOL sangat masuk akal. Tetapi ketika media anda sudah memiliki posisi memihak salah satu calon (dan saya harap anda tdk mengatakan RMOL netral dlam pemilukada DKI ini, karena tak seorangpun akan percaya), maka posisi tsb sangat berhak dipertanyakan. Makanya saya sangat kritis thd RMOL akhir-akhir ini yang menurut saya sudah “menyimpang dari pakem” yg saya tahu sebelumnya.
  • Bagi saya RMOL (selain urusan Pemilukada DKI) remains and still one of the best. Karenanya saya tdiak pernah melepas RMOL dalam tautan FB atau blog saya. Namun saya tidak akan diam jika saya melihat ada unfairness, baik disengaja atau hanya karena ketidak pahaman saya (krn policy redaksi). Saya sangat berharap bhw RMOL tetap seperti biasa (sebelum urusan Pemilukada DKI) yg kritis, tajam dan akurat beritanya. Terus terang saya sedih karena di Republik ini, media yang cerdas spt milik anda makin hari makin berkurang. Jadi jangan ikut-2an tdk cerdas hanya karena pemihakan politik.
    September 8 at 9:46am
  • Teguh Santosa Secara pribadi saya memang memilih sikap tegas: menawarkan perspektif lain dari perspektif “orang kebanyakan”. Dan sebetulnya, ini metode saya sejak lama. Dulu, ketika kebanyakan kawan saya terpukau pada pencitraan SBY, saya termasuk sedikit orang yang mengatakan: awas, hati-hati. Itu sebabnya saya bukan orang yang kecewa pada SBY. Karena orang yang kecewa pada SBY adalah orang yang pernah berharap pada SBY. Kalau bukan orang yang kecewa, lantas saya ini apa? Sulit menemukan istilah yang tepat. Mungkin istilah yang tepat, saya ini orang yang harus membersihkan konsekuensi irasionalitas politik orang kebanyakan. Ini misalnya. Tetapi intinya, di era komunikasi ini, perasaan suka atau tidak suka, simpati dan antipati menjadi begitu mudah dipertukarkan mengikuti “logika pasar”, publik menjadi semakin tidak substansial, sebaliknya artifisial dan superfisial. Dan ini tidak kalah menyedihkannya. Pak Hikam terima kasih atas diskursus pagi ini.
    September 8 at 10:03am
  • Muhammad A S Hikam @Teguh: Trims juga atas “pandangan dari dalam” nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s