Pertemuan Hawaii Dicurigai Jadi Tandingan Konferensi Bali

MAJOR Economies Meeting on Energy Security and Climate Change yang akan digelar di Hawaii hari Rabu (30/1) atau hari Kamis (31/1) waktu Indonesia besok disambut pesimis kalangan intelektual dan kelompok pecinta lingkungan. Continue reading “Pertemuan Hawaii Dicurigai Jadi Tandingan Konferensi Bali”

Mengapa Bung Karno Tak Mau Memukul Soeharto

soeharto6
Foto: TIME

TINDAKAN Soeharto memanfaatkan Surat Perintah 11 Maret 1966 menyakiti perasaan Bung Karno. Sejumlah petinggi militer yang masih setia pada Sukarno ketika itu pun merasa geram. Mereka meminta agar Sukarno bertindak tegas, memukul Soeharto dan pasukannya.

Tetapi Sukarno menolak.

Continue reading “Mengapa Bung Karno Tak Mau Memukul Soeharto”

Ada Apa Dengan Prabowo, Mantan Menantu Soeharto?

Panglima ABRI Jenderal Wiranto mencopot Letjen Prabowo Subianto dari jabatan Panglima Komando Strategis Angkatan Darat, Mei 1998.

KABAR tentang Prabowo Subianto, mantan komandan jenderal Kopassus, mantan Pangkostrad, dan juga mantan menantu Soeharto, ingin maju dalam pemilihan presiden 2009 jelas bukan barang baru.

Kekalahan dalam konvensi Partai Golkar menjelang pilpres 2004 tampaknya tak mengubur mati keinginan Prabowo yang lulus dari Akabri tahun 1974 untuk jadi orang nomor satu di republik ini.

Continue reading “Ada Apa Dengan Prabowo, Mantan Menantu Soeharto?”

“Emangnya Aku Suster Ngesot?!”

teguh_timur
BUZZ!!!
OL? Continue reading ““Emangnya Aku Suster Ngesot?!””

Syair Adhie Massardi: Tolak Perkabungan Seminggu untuk Soeharto

Saudara-saudara sebangsa dan setanahair.

HM Soeharto adalah orang besar bagi negeri ini.

Saya setuju

Jasanya banyak, saya juga setuju
(meskipun dengan catatan).

Maka kita perlu menundukkan kepala
atas kepergiannya menghadap Sang Khalik.

Continue reading “Syair Adhie Massardi: Tolak Perkabungan Seminggu untuk Soeharto”

Menteri Era Bung Karno: Posisi Soeharto Misterius

MUHAMMAD Achadi, salah seorang menteri di era Bung Karno, menyarankan agar para pimpinan di MPR, DPR dan DPD segera menghentikan kontroversi mengenai Soeharto: apakah melanjutkan atau menghentikan proses peradilan pemimpin Orde Baru itu. Terlalu lama membiarkan kontroversi mengenai Soeharto merebak dapat memecah belah rakyat, dan seterusnya dapat dimannfaatkan pihak lain untuk menghancurkan bangsa dan negara.

Continue reading “Menteri Era Bung Karno: Posisi Soeharto Misterius”

Soeharto Sehat dan Pancasila Orba Versi Tapol

Oleh: Harsutejo

“Suharto Sehat”, begitulah judul unik sebuah buku yang diterbitkan oleh Galangpress, Yogyakarta, 2006, 296 halaman. Buku itu merupakan kumpulan tulisan sejarawan dan penulis yang sudah kita kenal: Asvi Warman Adam, Baskara T Wardaya, George Junus Aditjondro, Hersri Setiawan, Islah Gusmian, dan Mudhofir Abdullah yang dijelururi benang merah “Suharto sehat wal afiat dengan seluruh pelanggaran HAM, penjarahan kekayaan rakyat Indonesia dan segala macam kejahatan rezimnya yang dilakukan selama 32 tahun,” bahkan dalam berbagai aspeknya masih berlanjut sampai kini tanpa tersentuh hukum. Continue reading “Soeharto Sehat dan Pancasila Orba Versi Tapol”

Mega Dilarang ke Istana Merdeka (Dianggap Kaki-tangan Wiranto)

BARUSAN saya terima pesan pendek dari Mega. Katanya dia dilarang ke Istana Merdeka.

Sebabnya, antara lain, karena dia dicap sebagai orang Jenderal (purn) Wiranto, mantan menteri pertahanan dan panglima TNI yang kini mendirikan sekaligus menjadi ketua umum Partai Hati Nurani Rakyat atau Hanura.

Partai yang ikut dibidani mantan menteri keuangan Fuad Bawazier ini berkantor di seberang rumah dinas Wakil Presiden Jusuf Kalla. Continue reading “Mega Dilarang ke Istana Merdeka (Dianggap Kaki-tangan Wiranto)”

Panduan Memetakan Konflik

Black Hawk Down

BAGI Anda yang (ingin) gemar mengintervensi konflik perlulah kiranya membuat peta konflik secermat dan sedetil mungkin. Continue reading “Panduan Memetakan Konflik”

Antara Warung Buncit dan Honolulu; juga tentang Doktor Pertanian yang Tak Bisa Ngurus Kedelai

teguh_timur
assalamualaikum Pak Haji

jombang_2001
wa’alaikum salam Continue reading “Antara Warung Buncit dan Honolulu; juga tentang Doktor Pertanian yang Tak Bisa Ngurus Kedelai”

Belajar Konflik di Hawaii

CAROLYN Stephenson berdiri di muka pintu ruang kerjanya, Saunders 604. “What can I do for you?” kalimat pertama meluncur dari mulut Carolyn begitu pintu ruang kerjanya terbuka sempurna. Saya tak segera merespon pertanyaan itu, masih kaget dengan view yang terpampang di belakangnya Continue reading “Belajar Konflik di Hawaii”

Raksasa dari Rezim Keropos

OGRE, a man-eating giant, and Dry-Rot Regime are slang names given by Anderson to acknowledge New Order regime under Soeharto (1967-1998). Continue reading “Raksasa dari Rezim Keropos”

Jenderal Besar (Purn) Soeharto Masih Sakti

Oleh: Harsutejo

Jenderal Besar (Purn) Suharto, Bapak Pembangunan, Sang Supersemar, Presiden Republik Indonesia (1968-1998) adalah juga Ketua Dewan Pembina Golkar di sepanjang tiga dekade kekuasaannya. Continue reading “Jenderal Besar (Purn) Soeharto Masih Sakti”

Ke Hawaii Lagi, Dan Masih Dicurigai

Seperti di summer tahun lalu, tadi pagi begitu melihat pasporku petugas imigrasi di check in counter Bandara Honolulu menggeleng-gelengkan kepala. “It’s a problem,” katanya pelan. Continue reading “Ke Hawaii Lagi, Dan Masih Dicurigai”

“Mana Ayah? Bunda Bohongkan…”

Pulang kampung.

Farah menangis. Hanya air matanya yang mengalir satu-satu; tak ada suara keluar dari mulutnya yang tertutup rapat itu. Menyambut pelukanku pun ia ragu-ragu. Continue reading ““Mana Ayah? Bunda Bohongkan…””

Menimbang Sartono Kartodirdjo dan Onghokham

Oleh: Asvi Warman Adam

Mengenang Sejarawan “Gerakan Petani” dan “Ratu Adil” Continue reading “Menimbang Sartono Kartodirdjo dan Onghokham”

SMS Ulang Tahun yang Kecepatan Satu Hari

Barusan saya kirim pesan pendek untuk istri. Mengucapkan selamat ulang tahun Continue reading “SMS Ulang Tahun yang Kecepatan Satu Hari”

Berikan Saja Biskuit, Permen, Susu Kotak…

Kita membuang Rp 1,5 milyar receh setiap hari

Sadarkah Anda, bahwa kita, penduduk Jakarta, setiap harinya membuang uang receh hingga mencapai 10 digit setiap harinya, ke jalanan. Mari kita berhitung. Jumlah anak jalanan di Jabodetabek saat ini berdasarkan data terakhir dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencapai angka 75.000. Continue reading “Berikan Saja Biskuit, Permen, Susu Kotak…”

The Tale of Klinting Ireng and Klinting Kuning

You currently appear offline to intansantosa

intansantosa
hi yah..

teguh_timur
muach…
udah baca tere mujshe? Continue reading “The Tale of Klinting Ireng and Klinting Kuning”

Writing A History of Nationalism

NATIONALISM is acknowledged as an outcome of historical aspect of human being. In his monumental book “The Idea of Nationalism” (first published in April 1944), historian and philosopher Hans Kohn underlines that as a state of mind and an act of consciousness, nationalism is the product of the growth of social and intellectuals’ factors at certain stage of history. Continue reading “Writing A History of Nationalism”

Tera Mujhse Hai Pehle (Sekali-kali Lagu India…)

“Bang ini lagu yang dulu sering kita dengar bersama Mama.”
“Oh ya, lagu apa?”
“Lagu India.” Continue reading “Tera Mujhse Hai Pehle (Sekali-kali Lagu India…)”

My First Thanksgiving Day (with pictures…)

Hari Selasa, Tim mengirimkan sepucuk e-mail. Bunyinya:


Dear Sophan, Baipo, Brian, and Teguh,
Continue reading “My First Thanksgiving Day (with pictures…)”

Tentang kata Nation dalam Terjemahan Al Quran dari Riyadh

teguh_timur
Aloha. Mau konsultasi nih. Aku dapat terjemahan Quran dari Riyadh, surat Al Imran ayat 104. Continue reading “Tentang kata Nation dalam Terjemahan Al Quran dari Riyadh”

The End of A Rainbow from My Window

At the end of a rainbow
You’ll find a pot of gold
At the end of a story
You’ll find it’s all been told

But our love has a treasure
Our heart’s can’t always spend
And it has a story without any end

Tidak seperti di Jakarta, pelangi muncul setiap kali di Honolulu. Seperti siang tadi. Sudah sering kali saya menyaksikan ujung pelangi dari jendela kamar saya di lantai delapan Hale Manoa ini. Continue reading “The End of A Rainbow from My Window”

Tentang Agama, yang oleh Sebagian Orang Disebut Candu

SAYA tak bermaksud menggurui. Tapi kalau ada waktu, mungkin ada baiknya membaca buku Ali Syariati, yang judulnya dalam bahasa Indonesia: Agama versus “Agama”.

Saya juga tak bermaksud mengurui. Tetapi setahu saya, semantik memang seringkali menjebak kita. Sampai pada satu titik, beragama dan tidak-beragama sama saja artinya. Ber-Tuhan dan tidak-ber-Tuhan juga sama saja artinya. Continue reading “Tentang Agama, yang oleh Sebagian Orang Disebut Candu”

Lebaran Pertama di Hawaii

Pernah ada suatu masa, ketika kita merasa sendirian di negeri orang, atau di tengah pengasingan yang sepi menyampaikan ucapan Mohon Maaf Lahir dan Bathin untuk teman yang jauh. Selamat Lebaran, Selamat Idul Fitri 1428 Hijriah. Semoga tidak kurang satu apapun.

BARU kali ini saya merayakan Lebaran jauh dari keluarga. Sepi sendirian di kamar saya yang sempit, ditemani buku-buku yang bergeletakan dimana-mana; di atas meja, di atas lantai, di atas kasur. Kebanyakan mengenai nasionalisme, Islam dan Indonesia. Juga Sukarno. Printout beberapa hasil riset politik juga menumpuk di atas meja. Continue reading “Lebaran Pertama di Hawaii”

Duh, Lebaran di Hawaii

Harmony between the two religions [Moslem and Christian] is not only necessary for world peace; it is natural.

DI Hawaii, shalat Idul Fitri yang dilaksanakan Sabtu pagi (13/10) atau Minggu dinihari (14/10) kemarin dihadiri sekitar 1000 umat Islam dari berbagai negara. Shalat Idul Fitri digelar di padang rumput Magic Islands, kompleks pantai wisata Ala Moana, Honolulu. Tak jauh dari lokasi shalat beberapa pengunjung pantai berjemur di atas pasir putih sementara beberapa lainnya asyik bermain dengan ombak. Beberapa pengunjung pantai juga menyempatkan diri menonton shalat Idul Fitri, dan mendengarkan khutbah yang disampaikan sang khatib Dr. Muhammad Abdullah. Continue reading “Duh, Lebaran di Hawaii”

Menjelang Hari Raya…

1966.KITA semua tentu punya cerita tentang Ibu kita masing-masing. Izinkan aku, di tengah malam ini, di sela-sela mengerjakan tugas yang akan dikumpul besok pagi bercerita tentang sosok itu: Dahlia Ketaren. Wanita yang melahirkanku, membesarkanku dan mengajarkan kepadaku apa yang harus aku lakukan dan apa yang harus tidak aku lakukan.

Bagiku, semoga ini tidak salah, ia-lah penjelmaan Tuhan di atas muka bumi ini.

Pertengahan tahun 2001, Ibuku diserang tekanan darah tinggi hingga mencapai 285. Aku yang baru beberapa bulan bekerja di kantorku memutuskan untuk pulang dan menemani Ibuku di rumah sakit Adam Malik. Dari Polonia, tempat pertama yang kutuju adalah rumah sakit.

Dia yang sedang terbaring, berbinar-binarnya matanya melihat kehadiranku. Tangannya menggapaiku, mulutnya hendak berkata “Anakku”, tapi suaranya tak terdengar jelas. Tekanan darah tinggi telah membuatnya tak bisa menggerakkan sebagian besar anggota tubuhnya, termasuk mulutnya untuk bicara. Saat itu juga aku putuskan akan tinggal di rumah sakit sampai ia kembali pulang ke rumah dalam keadaan sehat, atau sesehat mungkin.

Satu bulan lebih aku di Medan, dan selama masa itu hanya sekali aku bermalam di rumah kami. Selebihnya, seperti yang aku janjikan, aku menghabiskan waktuku di rumah sakit bersama Ibuku. Setiap pagi, aku memapahnya ke luar ruangan, menjemurnya di bawah sinar matahari. Membantu Ibuku menggerakkan kaki dan tangannya, membantunya melangkah dan menggenggam. Menyuapinya. Memberi semangat kepadanya, menjelaskan sebisaku bahwa penyakitnya dapat disembuhkan. Membelikan buah-buahan yang dia suka. Pernah suatu malam, aku berputar-putar kota Medan untuk mencari duku Palembang yang dimintanya. Aku pulang dengan tangan kosong, karena saat itu memang sedang tak musim duku Palembang. Untunglah, Ibuku tak kecewa.

Suatu hari, hapeku berbunyi. Seorang senior dari kantorku di seberang sana memberi tahu bahwa mereka sedang rapat untuk membahas kinerja anak-anak baru. Dan katanya, namaku ada dalam daftar yang akan dipecat karena sudah dua minggu tak hadir di kantor. Kepada senior ini aku katakan, “Bang, terima kasih. Aku tak bisa ke Jakarta sekarang. Ibuku hanya satu. Soal pekerjaan, insya Allah, ada banyak.” Sampai sekarang, mereka, kantorku itu, tak juga memecatku.

Aku tetap memilih tinggal di Medan menemani Ibuku. Keadaannya semakin baik. Tekanan darahnya turun, walau tak bisa normal. Seingatku, sekitar 180. Dan yang paling menggembirakan, Ibuku kembali bisa berjalan, kembali bisa berbicara seperti semula. Walau dari luar tampaknya tak ada fungsi motorik yang terganggu, tetapi ternyata di dalam sana ginjalnya rusak berat hingga tak berfungsi sama sekali. Dan ia harus cuci darah dua kali setiap minggu.

Tiap kali cuci darah sungguh membuat hatiku tak menentu. Bayangkan, aku harus menyaksikan Ibuku ditusuk-tusuk, pada pangkal paha dan lengannya, dengan jarum yang besarnya minta ampun. Itu belum seberapa. Aku harus menyaksikan darahnya dipompa keluar dan dipompa masuk. Setiap kali cuci darah, Ibuku harus tinggal di dalam ruangan yang dingin itu selama 4 jam. Sampai sekarang mesin pencuci darah itu masih melekat di pelupuk mataku, sementara bunyi mesinnya masih terngiang di telingaku.

Di minggu keempat, Ibuku sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Tetapi, ia tetap harus melanjutkan cuci darah, dua kali dalam seminggu.

Bulan Mei 2002, aku kembali pulang. Kali ini Ibuku masuk ruang ICU RS Pirngadi Medan. Seperti setahun sebelumnya, dari Polonia tempat pertama yang kutuju adalah rumah sakit. Di depan rumah sakit, Ayahku telah menunggu. “Lemah, Guh. Keadaan Mama lemah.”

Di ruang ICU, aku melihatnya terbaring. Ia memang melemah. Ya Tuhan, tubuhnya membengkak, wajahnya menguning. Nafasnya satu dua. Secara medis, Ibuku koma. Aku hanya bisa membisikkan doa-doa yang aku tahu. Aku tak cukup yakin, apakah Ibuku bisa mendengar suaraku. Di saat aku kehilangan harapan, tangannya menggenggam tanganku. Cukup erat. Hanya sebentar.

Keesokan harinya, Ibuku meninggal dunia. Aku ada di sana ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Tubuh yang tadinya bengkak kembali normal. Wajahnya kembali kuning langsat.

Selama Ayahku dan kakakku mengurus berbagai hal di luar sana, aku menemani jenazah Ibuku. Mengucapkan janji-janji yang aku harap bisa aku tepati. Membaca Quran kecil yang selalu kubawa kemana-mana (kini tertinggal di Jakarta) untuknya. Berbicara dengannya seolah ia masih bisa mendengarkan suaraku.

Ibuku dimakamkan sehari kemudian. Luar biasa banyak yang datang melihat jenazahnya disemayamkan di rumah kami dan juga yang mengantarnya ke liang kubur. Sepanjang jalan dari rumah kami ke kuburan, di atas ambulans, mulutku hanya bisa berkata “Allahu Akbar”.

Di malam ini, izinkan aku mengenang Ibuku. Izinkan aku mengajak kita semua mengenang Ibu kita. Doakan ia yang sudah berada di alam sana. Sayangi ia yang masih ada bersama kita.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H.

Ya Ganyang Malaysia, Ya Ganyang Indonesia

SULIT BENAR. Tadinya saya sudah “berjanji” dalam hati tidak akan mengirim posting apapun di milis manapun. Janji ini terutama setelah saya membaca (lagi) tulisan Kang Jalal yang saya hormati, yang diposting oleh Bu Ida beberapa waktu lalu. Terima kasih Bu Ida.

Tetapi beberapa hari lalu dan kemarin, terkirim jugalah dua cerita dari masa silam, yang tak ada hubungannya sama sekali dengan konteks apapun saat ini (kecuali kalau mau disambung-sambungkan).

Biasanya, dan mestinya, dalam etika permilisan ditulis kata “OOT:” atawa out of topic sebagai pembuka subject e-mail atau posting. Sehingga pembaca, anggota milis, dapat mengerti sifat dari e-mail itu, dan tak perlu repot membukanya kalau memang merasa sedang tak membutuhkan sesuatu yang OOT. Continue reading “Ya Ganyang Malaysia, Ya Ganyang Indonesia”