Panduan Memetakan Konflik

Black Hawk Down

BAGI Anda yang (ingin) gemar mengintervensi konflik perlulah kiranya membuat peta konflik secermat dan sedetil mungkin. Bila tak cermat, target intervensi Anda akan berantakan, dan bukan tak mungkin malah berubah menjadi bumerang.

Ingat kisah intervensi pasukan Amerika Serikat pada suatu pagi, tahun 1993 di sebuah pasar di pusat kota Mogadishu, Somalia. Kisah kekonyolan peacekeeping troops Amerika yang direka-ulang oleh seorang jurnalis, Mark Bowden, itu kemudian diangkat ke layar lebar: Black Hawk Down. Operasi menculik Farah Aidit yang diperkirakan akan berlangsung “hanya” beberapa jam berubah menjadi hari panjang yang menyiksa. Di akhir pertempuran kota (city war), pasukan Amerika mundur ke stadion sepak bola yang menjadi markas pasukan penjaga perdamaian dari Pakistan. Beberapa angota Delta dan Ranger tewas dibantai massa. Di pihak lain, ratusan orang Somalia tewas diterjang peluru armada perang Amerika Serikat.

Banyak yang menilai kekonyolan itu lahir dari kegagalan pihak Amerika, khususnya pihak militer Amerika yang sedang bertugas di lapangan, dalam memetakan konflik yang tengah berlangsung. Jadi, kekonyolan itu tidak semata-mata terjadi karena seorang tentara Amerika terjatuh ketika turun dari helikopter Black Hawk, yang akhirnya tertembak jatuh. Kesalahan utama terletak pada sikap pasukan Amerika di lapangan yang terlalu menyederhanakan peta konflik. Mereka tak menduga bahwa rakyat Mogadishu akan memberikan perlawanan keras dalam perang kota. Kok bisa salah memetakan? Ya bisa aja. Menurut orang bijak, memandang remeh persoalan adalah titik awal kejatuhan.

Pemetaan adalah langkah pertama in conflict management. Dalam buku-buku teks konflik resolusi disebutkan bahwa pemetaan konflik membuat para pihak yang bertikai maupun intervenor (yang melakukan intervensi–dalam arti positif mediator, dalam arti negatif provokator) mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai akar konflik, nature dan dinamika konflik serta berbagai kemungkinan untuk mengakhiri atau memperpanjang konflik.

Perlu disadari bahwa bagaimanapun juga konflik adalah sebuah proses sosial yang berubah terus menerus. Karenanya, pemetaan konflik juga harus dilakukan berulang-ulang.

Dalam beberapa tulisan mengenai resolusi konflik, seperti Kenneth E. Boulding (pengantar untuk Conflict Regulation karya Paul Wehr), disebutkan bahwa peta konflik yang baik hendaklah meliputi conflict history, conflict context, conflict parties, issues, dynamics, dan alternative routes to solution. Hal lain yang menurut Boulding penting untuk disertakan pada peta itu adalah kemungkinan berbagai conflict regulation dan the using of the map.

Conflict history memuat berbagai akar konflik dan peristiwa-peristiwa besar yang menandai perjalanan konflik dari waktu ke waktu. Hal ini penting untuk mengetahui mana yang merupakan hasil relasi interaktif antar-pihak yang terlibat dalam konflik (termasuk pihak ketiga), dan mana yang merupakan the origin conflict.

Sementara bagian conflict context idealnya menjelaskan lingkup dan karakter konteks maupun setting yang melahirkan dan melatari konflik. Mulai dari wilayah geografi, struktur politik, berbagai bentuk relasi (sosial, politik dan ekonomi), juga badan-badan otoritas, pola komunikasi dan jaringan, proses pengambilan keputusan di tingkat lokal, nasional, dan internasional.

Penjelasan mengenai pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah konflik juga memegang peranan penting. Peneliti konflik yang baik mestilah mampu membedakan para pihak dan peranan mereka dalam medan konflik. Kesalahan membaca siapa melakukan apa dan memperoleh apa dari sebua medan konflik yang penuh intrik dan tarik menarik akan membuat peta konflik tak berguna sama sekali. Setidaknya ada tiga jenis pihak dalam sebuah medan konflik. Primary party adalah pihak yang memiliki tujuan jelas dari konflik tersebut. Kelompok ini tampak secara terang-terangan melakukan aksi untuk menarik kepentingan dari pihak lawan. Secondary party adalah pihak yang tidak terlibat langsung, namun jelas memiliki kepentingan yang juga tidak sedikit dalam sebuah konflik. Dalam kenyataan, primary dan secondary party ini dapat berubah posisi satu sama lain, tergantung pada perkembangan konflik.

Pihak ketiga atau interested third party adalah pihak yang memiliki kepentingan terhadap hasil akhir dari konflik: apakah perdamaian atau perluasan konflik.

Sekarang mengenai issues dalam konflik. Umumnya konflik muncul menyusul satu atau lebih keputusan politis yang tak memuasakan, disusul oleh keputusan politis yang juga tak memuaskan sebagai perlawanan. Issues atau inti persoalan dapat diidentifikasi berdasar pada, setidaknya tiga penyebab utama: ketidaksepakatan mengenai what is, ketidaksepakatan mengenai what is should be, dan ketidaksepakatan mengenai who will get what.

Hampir semua konflik sosial memiliki pola dinamika yang sama. Mulai dari dinamika yang tampak dipermukaan, dinamika yang muncul, berubah dan dikembangkan, dinamika polarisasi, dinamika yang berputar seolah meninggalkan medan konflik namun sebenarnya kembali masuk menusuk, dan dinamika yang dihasilkan oleh praduga-praduga atau stereotyping and mirror-imaging.

Pada bagian-bagian akhir, sebagai seorang calon intervenor, Anda juga perlu mencatat gagasan-gagasan yang berkembang di sekitar medan konflik, baik yang ditujukan untuk menyelesaikan konflik maupun yang sesungguhnya ingin memperpanjang atau mentransformasi konflik.

Bila Anda termasuk golongan yang ingin menyelesaikan konflik, maka kembangkanlah gagasan-gagasan positif yang menguntungkan para pihak di medan konflik. Sedapat mungkin jembatani dan hilangkan ketidaksepakatan di antara mereka. Sebagai orang yang berada di luar medan konflik, atau mengambil jarak dari konflik, Anda diharapkan dapat bersikap netral dalam menawarkan gagasan-gagasan perdamaian.

2 thoughts on “Panduan Memetakan Konflik

  1. Selamat siang Pak…sy tertarik membaca tulisan ini.. Saya sedang membantu pimpinan saya membuat tulisan akhir kuliah…apakah saya dapat meminjam buku resolusi konflik dari bapak…Berhubung saya sudah menghubungi beberapa tokoh buku dan penerbit, sudah tidak ada lagi…terima kasih untuk bantuannya. Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s