News, Notes, Press Freedom

Mega Dilarang ke Istana Merdeka (Dianggap Kaki-tangan Wiranto)

BARUSAN saya terima pesan pendek dari Mega. Katanya dia dilarang ke Istana Merdeka.

Sebabnya, antara lain, karena dia dicap sebagai orang Jenderal (purn) Wiranto, mantan menteri pertahanan dan panglima TNI yang kini mendirikan sekaligus menjadi ketua umum Partai Hati Nurani Rakyat atau Hanura.

Partai yang ikut dibidani mantan menteri keuangan Fuad Bawazier ini berkantor di seberang rumah dinas Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Selain dinilai sebagai orang Wiranto, masih dalam pesan pendeknya, Mega mengatakan dirinya juga dianggap sebagai orang Megawati Soekarnoputri, mantan presiden yang masih tetap memimpin PDI Perjuangan.

Mega Simarmata atau Margawati Rahayu Simarmata adalah kawan baik saya. Empat tahun bekerja untuk Voice of America (VOA) di Jakarta, akhir tahun lalu Mega memutuskan bergabung dengan kantor berita INN Channels (www.innchannels.com) yang belakangan berubah menjadi http://www.inilah.com. Setelah sekian lama hanya bertemu lewat sinyal handphone dan teks pesan pendek, baru beberapa minggu lalu saya bertemu muka dengan Mega di kantornya yang baru, Jalan Ciranjang, Jakarta Selatan.

Mega juga wartawan yang sudah kenyang mencicipi asam dan garam. Sebelum bergabung dengan VOA di tahun 2003, dia bekerja untuk sebuah radio swasta di Jakarta. Saya pun belum pernah mendengar ia melakukan kesalahan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya. Ia dapat menjalin hubungan baik dengan nara sumbernya, dan di saat bersamaan menjaga independensinya sebagai jurnalis–sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan seorang jurnalis.

“Mulai hari ini saya (yang sudah bertugas sembilan tahun meliput di Istana Kepresidenan) secara resmi tidak diperbolehkan meliput kegiatan resmi Presiden SBY; yaitu dengan tidak memberikan kartu peliputan di Istana untuk periode 2008 yang hari ini dibagikan resmi. Sumber resmi menyebutkan bahwa saya dicap sebagai “orangnya” Megawati dan Wiranto. Saya adalah jurnalis independen dan bekerja sebagai secara profesional, yang wajib menyuarakan kebenaran dan keadilan. No hard feeling. Saya hormati Pak SBY sebagai pemimpin bangsa dan sahabat saya. Salam, Mega Simarmata, (Kantor Berita Inilah.com)”

Begitu pesan pendek Mega.

Sejauh yang saya tahu, dari cerita Mega dan cerita banyak wartawan di lingkungan Istana dan militer, hubungan Mega dan SBY terbilang akrab. SBY selalu menyapa Mega sambil menyebut namanya, “Mega”, entah dalam forum resmi maupun dalam forum tidak resmi.

Dalam tulisannya di Inilah.com bulan Desember 2007, Mega bercerita tentang hubungan baiknya dengan SBY. Pada satu kesempatan usai jumpa pers, misalnya, Mega diajak SBY ke ruang makan Istana. “Sini Mega, kamu pasti belum tahu seperti apa ruang makan presiden,” kata SBY yang dikenal Mega sejak awal paruh kedua era 1990-an.

“Dari seratus lebih wartawan pemegang kartu peliputan Istana, penulis (Mega, –guh) termasuk yang sangat beruntung, karena selalu disebut namanya oleh Presiden SBY. Setiap kali lewat, beliau nyaris tak pernah lupa menyapa penulis,” tulis Mega.

Dalam jumpa pers bersama SBY dan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao di Istana Merdeka bulan Maret tiga tahun lalu, SBY memberikan kesempatan pertama kepada Mega untuk mengajukan pertanyaan. “Barangkali ada satu, dua pertanyaan yang ingin disampaikan, baik kepada saya maupun kepada Presiden Xanana, saya persilahkan, Mega.”

Pertanyaan pertama yang disampaikan Mega untuk Xanana adalah mengenai nasib Wiranto dalam kasus kerusuhan pasca-jajak pendapat di Timor Timur 1999. “Sebenarnya hukum nasional di Indonesia sudah berjalan, dan para pelaku kejahatan yang terlibat di Timtim itu sudah diadili. Saya ingin bertanya apakah anda punya perspektif bahwa sebenarnya targetnya itu adalah Jenderal Wiranto.”

Disusul pertanyaan kedua mengenai jaminan pemerintah Timor Timur terhadap umat Islam di negara itu.

Menjawab pertanyaan pertama Mega, Gusmao berkata, “Well, saya bukan hakim, saya bukan human right advocate or lawyer. Saya tidak tuduh siapa pun, kita respect di sini ada … dan Indonesia pun respect … the unity of Timor Leste. Kita tidak mencari pelaku, kita mencari kebenaran.”

Sementara untuk pertanyaan kedua Mega, Gusmao memulainya dengan kalimat, “Saya tidak mengerti, sorry.” Namun diikuti penjelasan bahwa di Timor Timur ada sekitar seribu umat Islam yang hidup tenang dengan hati senang.

Nah, kalau hubungan Mega dan SBY terbilang baik dan Mega tidak tergolong wartawan yang melakukan kesalahan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, lantas apa yang membuat Mega dilarang meliput kegiatan resmi SBY? Apakah memang karena dia dicap sebagai “kaki tangan” Megawati dan Wiranto? Atau karena hal lain?

Standard

2 thoughts on “Mega Dilarang ke Istana Merdeka (Dianggap Kaki-tangan Wiranto)

  1. Tulisan kau ini, menyentuh hatiku kawan.
    Alamak, ngeri kali bahasa pelajar Hawaii, awak disebut kaki tangan. Lebih sadis dari Om Bheyhe … Hahaha. It’s okay. I am okay.
    Jauh kali rasanya Hawaii itu. Macam mana cuaca Hawaii?
    Take care, Brother. We will waiting for you.

    Regards,
    Mega Simarmata
    http://WWW.INILAH.COM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s