My First Thanksgiving Day (with pictures…)

Hari Selasa, Tim mengirimkan sepucuk e-mail. Bunyinya:


Dear Sophan, Baipo, Brian, and Teguh,

I would like to invite you all to join me for a Thanksgiving feast on Thursday. We have been invited by my best friend and his wife, Todd and Maryann Capen, to join them at their lovely home near Olemana Mountain in Kailua.

The feast starts at 2:30 p.m. and will go for 2-3 hours. I can pick everyone up at 1:00 p.m. in front of the Hale Manoa dorm and drive you there. On the way we can stop at the Pali Mountain lookout and take pictures from the top of the mountain.

When the feast is over, either I or the Capens will drive you back to campus. We have planned for two kinds of diets. Some of you prefer vegetarian so we have prepared many vegetarian dishes. Some of you prefer meat, so in addition we have prepared turkey, ham, and lamb. Please email me to let me know whether you can come. My red van will be right outside the Hale Manoa dorms at 1:00 p.m. Please call me with any questions at 267 939 xxxx.

Thanks!
Tim Conkling

Tim adalah teman saya di kelas POLS 600 dan POLS 610. Dia sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Ilmu Politik. Lahir dan besar di Los Angeles, sudah belasan tahun terakhir Tim bekerja di Taipei, Taiwan sebagai seorang pastor. Tak usah heran kalau dia dapat berbicara dalam bahasa China dengan lancar. Anak laki-lakinya yang akan masuk universitas tahun depan kini masih berada di Taiwan. Sementara istrinya tinggal di California.

Tim juga sering berkunjung ke Thailand. Dalam satu tahun dia mengunjungi negeri gajah putih itu setidaknya empat kali untuk membagi-bagikan injil kepada turis-turis di Thailand terutama turis dari Republik Rakyat China. Dalam setiap kunjungan ke Thailand, Tim pun selalu menyempatkan diri mengunjungi dokternya. Tim kelihatannya begitu puas dengan dokternya itu. Selain bagus perawatan medisnya, harganya juga murah. Menurut Tim, dibandingkan berobat di Hawaii atau mainland, jauh lebih bagus berobat di Thailand. Baru-baru ini Tim punya pengalaman jelek dengan dokter di Hawaii. Sudahlah mahal, masih kata Tim, sang dokter salah pula mendiagnosa penyakitnya.

Hari Kamis, jam 13.00 kurang sedikit saya sudah berdiri di depan pintu masuk Hale Manoa. Brian yang tinggal di luar kampus sudah lebih dahulu berada di sana. Brian lahir di Korea Selatan. Duabelas tahun lalu dia ikut orangtuanya berimigrasi ke Hawaii. Dan seperti orangtuanya, ia pun ikut mengubah kewarganegaraan menjadi warganegara AS. Brian baru tamat dari undergraduate program tahun lalu. Jadi ia adalah freshgraduate. Kalau tidak salah, major-nya di undergraduate dulu bukan Ilmu Politik.

Tak lama kemudian, Baipo, teman dari Thailand, tiba. Baipo yang mengajar di salah satu universitas di utara Thailand itu merasa beruntung karena tahun ini ia mendapat beasiswa dari Fulbright. Baipo tertarik pada teori politik dan filsafat politik. Ia tinggal di luar kampus, dekat Ala Wai Canal.

Satu teman lagi dari Kamboja, Sophan, tidak bisa ikut. Sophan adalah seorang monk. Kemanapun pergi, dia selalu mengenakan baju biksu; kain panjang berwarna oranye yang dibalut dan diselempangkan di pundak kanan. Pernah pada suatu hari, Sophan datang ke kelas dengan tubuh yang hampir basah kuyup diguyur hujan lebat di luar sana. Di dalam kelas, Sophan terpaksa membuka kain oranyenya. Tinggallah kini tubuhnya hanya dibalut kaos oranye dan celana gombrong yang juga oranye. Seperti Baipo, Sophan juga tertarik dengan teori dan filsafat politik. Oh ya, tahun ini Sophan mengabdikan dirinya sebagai wakil presiden EWC Participants Association.

Seorang teman lagi yang membatalkan ikut di detik terakhir adalah Igor Nikitin dari Vladivostok, Rusia. Seperti saya, Igor juga mendapat beasiswa dari IFP Ford Foundation. Juga seperti saya, dia adalah seorang jurnalis.

Setelah menunggu beberapa belas menit, Tim tiba dengan van merahnya. “Happy Thanksgiving,” kata Tim menjabat tangan saya.

Tidak seperti yang ditulisnya dalam e-mail, Tim membawa kami melewati jalur timur. Katanya, dia berubah pikiran karena hendak memperlihatkan keindahan jalur timur Pulau Oahu, melintasi pantai-pantai cantik dan laut berwarna amat biru. Sepanjang perjalanan Tim berhenti beberapa kali. Ia memberikan kesempatan pada kami untuk mengabadikan keindahan alam Oahu ini.

Saya dan Tim. Di belakang kami adalah Coco Head.

Salah satu pemandangan indah di jalur timur Oahu.

Berlatar belakang Rabbit Island.

Pantai di kawasan Kailua.

Berbeda dengan Honolulu, pemerintah Hawaii tak mengizinkan pembangunan resort wisata di jalur ini. Jadi sejauh mata memandang, yang tampak adalah perbukitan, padang rumput dan gunung. Tak ada hotel atau mall. Kalau mau lihat hotel dan mall, silakan ke Waikiki atau Ala Moana. Kami melewati Coco Head, salah satu landmark Pulau Oahu, letaknya di utara Diamond Head yang lebih populer. Lalu Hanauma Bay, Sandy Beach, Rabbit Island, dan sebuah pantai lagi di dekat rumah Tim di Kailua.

Dari pantai yang berbatasan dengan kawasan militer itu, kami mampir sebentar ke rumah Tim untuk menjemput Pedro, anjing miliknya. Kata Tim, chiwawa atau chihuahua berusia empat tahun ini sudah jadi bagian dalam keluarga mereka. Hari itu dia tak mau terlalu lama meninggalkan Pedro di rumah sendirian. “Dia sedang sakit. Beberapa hari lalu saya membawanya ke dokter,” kata Tim. Seperti Tim, Pedor juga “bilingual”. Ia pun bisa mengerti beberapa perintah dalam bahasa China.

Tak sampai sepuluh menit setelah meninggalkan rumah Tim, kami pun tiba di rumah keluarg Capens di Olemana Mountain, Kailua. Todd, menyambut kami di depan rumahnya. Ia adalah pastor dan pemimpin gereja Trinity di Oahu. Gereja dan sekolah yang diasuhnya terletak beberapa ratus meter di dekat pengkolan jalan masuk ke rumahnya.

Dari kiri ke kanan: Kim, Tim, Brian dan Baipo.

Rumah Todd luar biasa cantik. Terbuat dari kayu, dengan kaca lebar dan besar di setiap dindingnya. Bukan hanya sinar matahari, angin sejuk pun bebas masuk ke ruang tamu rumah ini lewat nako kayu di bagian bawah dinding rumah. Angin sejuk ini mendorong udara yang berada di rumah ke atas, dan membuangnya keluar lewat nako kayu di bumbungan rumah. Sistem ventilasi ini membuat udara di dalam rumah selalu segar. Tak ada AC, hanya satu ceiling fan yang berputar sekenanya.

Nah, menurut Todd, rumah ini sudah berusia 30 tahun lebih. Tetapi terlihat begitu bagus dan kokoh. “Kami baru mengecat dinding luar,” kata Todd lagi. “Arsitekturnya meniru gaya dari Afrika Selatan,” sambungnya.

Satu persatu tamu keluarga Capens berdatangan. Sementara Todd menerima kami, istrinya Marry Ann yang bekerja sebagai pramugari di salah satu maskapai penerbangan milik Amerika itu sibuk menyiapkan makanan di dapur. Beberapa tamu mereka yang lebih dahulu tiba membantu Marry Ann menyiapkan makanan, menyusun piring-piring di atas dua meja besar di ruang tamu.

Oh ya, satu lagi teman saya di POLS 600, Kim dari Belgia, juga sudah tiba lebih dahulu di sana. Seperti Tim, Kim juga tengah menyelesaikan pendidikan doktoral di Ilmu Politik. Usianya masih terbilang muda, belum mencapai 30 tahun. Ia menyelesaikan second masternya di Hawaii Pacific University (HPU) di pusat Honolulu. Kini selain mengajar di kampus itu, ia mengajar di beberapa pangkalan militer AS di Oahu. Di pangkalan-pangkalan militer ini, Kim mengajar mata kuliah pengantar Ilmu Politik.

Tamu-tamu keluarga Capens terus berdatangan. Sekitar 20-an. Beberapa dari mereka adalah jemaat di gereja Todd. Selebihnya kerabat dekat. Pukul 14.30, Todd mulai bicara. Dia mengucapkan terima kasih kepada semua tamu yang bersedia hadir di rumahnya hari itu. Setelah memimpin doa, dia mempersilakan kami mengambil makanan. Hmm, jamuan Thanksgiving pun dimulai.

Todd memimpin doa.

Saya duduk dengan Baipo, Tim, Kim, sepasang pengantin baru, dan seorang tentara yang sedang berpikir untuk melanjutkan sekolah tahun depan. Todd juga duduk bersama kami. Tim meminta Todd bercerita tentang asal muasal Thanksgiving, agar kami yang tak tahu duduk persoalannya bisa mengerti. Thanksgiving, cerita Rodd, adalah ucapan terima kasih yang disampaikan oleh kelompok orang kulit putih pertama yang tiba di Amerika utara. Mereka berterima kasih kepada orang-orang Indian yang telah mengajarkan cara-cara bercocok tanam dan beternak di tanah yang baru “ditemukan” itu. Untuk menyampaikan ucapan terimakasih, orang-orang kulit menggelar festival dan makan besar bersama orang-orang Indian. Adalah George Washington yang menetapkan hari Kamis terakhir di bulan November sebagai hari Thanksgiving.

Makanan khas Thanksgiving. Turkey di nampan hitam.

Todd juga bercerita tengan Black Friday, hari Jumat setelah Thanksgiving. Belakangan ini, katanya, Black Firiday jadi erat hubungannya dengan budaya konsumerisme di kalangan orang Amerika. Black Friday digunakan para pedagang untuk mengundang sebanyak mungkin pembeli ke toko mereka, dan harga-harga diturunkan. Black Friday karenanya juga dikenal dengan crazy sale. Black Friday uga merupakan awal dari musim belanja menjelang Christmas.

Bingung pilih makan yang mana…

Selesai makan, Marry Ann mempersilakan tamu-tamunya menyampaikan ucapan terima kasih tentang apa saja kepada siapa saja. Ada yang mengucapkan terimakasih kepada Tuhan atas semua rezeki yang dimilikinya hingga saat ini. Ada juga yang menyampaikan terimakasih kepada istrinya; lalu sang istri mengucapkan terima kasih kepada suaminya. Seorang ibu menyampaikan terimakasih pada anak wanitanya yang tengah beranjak remaja, yang belajar keras dan menjadi anak yang patuh pada orang tua. Gerry, seorang pelari marathon yang setiap hari bekerja sebagai supir di rumah jompo mengucapkan terimakasih pada Tuhan. Beberapa tahun lalu, dia mengalami kecelakan, sehingga harus absen dari gelanggang marathon. Dan baru-baru ini dia menjalani operasi. Sebuah plat titanium dipasang di pangkal paha kanan Gerry. Walau keadaanya kini sudah jauh lebih baik, namun Gerry belum bisa ikut berlaga pada perlombaan marathon akbar yang akan digelar bulan Desember nanti. “Tahun depan, saya pasti akan ikut marathon lagi,” kata Gerry.

Tamu-tamu di rumah Capens.

Teman saya Baipo, berterimakasih pada ibunya. Adalah ibunya yang selalu berdoa agar dia suatu kali Baipo bisa sekolah di Amerika. Dan kini, doa ibunya itu terkabul, kata Baipo. Adapun saya berterima kasih pada Allah atas semua yang saya miliki hingga hari ini. Tak lupa saya juga mengucapkan terimakasih pada Tim dan keluarga Capens yang telah mengundang saya.

Selesai dengan ucapan-ucapan terimakasih itu, selanjutnya Todd memimpin permainan tebak gambar. Kami dibagi dua kelompok. Dan masing-masing kelompok harus menebak apa yang digambarkan oleh wakil kelompok mereka di whiteboard. Setiap anggota kelompok yang bertugas menggambar diberikan kartu-kartu yang berisi petunjuk harus menggambar apa. Tim sempat protes sambil bercanda, karena menurutnya permainan ini cenderung ethnocentric dan Amerika-sentris.

Tapi menurut saya dan Baipo tak mengapa. Kami bisa mengikuti permainan. Nah, mereka sempat kaget waktu saya bisa menebak gambar yoyo. Tim bertanya, “Kamu tahu yoyo?” Saya hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaannya.

Juga ketika saya menjawab “Pinokio”. Mata beberapa dari mereka menatap saya. Kim, teman dari Belgia, malah melemparkan pertanyaan itu, “Kamu pernah nonton Pinokio?” Lagi-lagi saya hanya cengengesan. Belum lagi ketika saya menjawab “Rapunzel”, ketika seseorang menggambar kepala (wanita) berambut amat panjang.

Kemeriahan di rumah Capens berakhir jam 18.30. Todd dan Marry Ann mengucapkan terimakasih karena kami, mahasiswa internasional, bersedia meramaikan Thaksgiving di rumahnya tahun ini. Kapan-kapan, kata Todd, kalau mau mampir, ya mampir saja.

Karena Tim harus mengantar temannya yang lain, maka Todd-lah yang menggantikan Tim mengantar kami pulang. Todd mengambil jalur tengah, belok ke arah barat, lalu ke selatan menuju pusat kota lewat dataran tinggi Pali. Di atas bukit itu, ada sebuah situs, tempat dimana Kamehameha I menumpas raja lokal di Oahu ketika ia menyatukan gugusan kepulauan ini di bawah kekuasaannya. Setelah raja lokal Oahu takluk, Kamehameha pun memindahkan pusat kerajaan dari Pulau Hawaii alias Big Island ke Honolulu di Oahu. Saya mengunjungi situs bulan Juli lalu.

Todd mengantarkan saya sampai Hale Manoa. Setelah mengucapkan terimakasih dan menjabat tanggannya saya turun dari mobil, menyusuri trotoar yang diterangi lampu-lampu merkuri menuju pintu utama Hale Manoa. Tiba di lantai sembilan, seorang teman mengajak saya menyetor muka ke acara Thanksgiving yang digelar anak-anak Hale Manoa di lounge lantai sembilan. “Nggak enak kalau kita nggak datang. Setor muka sajalah. Tadi kamu ditanyain.”

Well, lalu saya pun datang ke pesta itu. Tapi tak lama. Setelah menghabiskan pumpkin pie, saya kembali ke kamar.

Hmm, by the way, itu adalah pumpkin pie kedua yang saya makan hari itu. Sebelumnya di rumah Todd, saya telah menghabiskan sepotong pumpkin pie dan sepotong apple pie. Yummy…

Thanksgiving di Hale Manoa.

Advertisements

2 thoughts on “My First Thanksgiving Day (with pictures…)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s