With Kim Yong-nam, the Chairman of the Supreme People’s Assembly of Korea

Dubes Kartini Menunggu Kehadiran Sabar Gorky

Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir yang lebih dikenal sebagai Kartini Sjahrir senang mendengar rencana Sabar Gorky mendaki Gunung Aconcagua di Argentina awal Desember yang akan datang. Continue reading Dubes Kartini Menunggu Kehadiran Sabar Gorky

Merangkul SBY

Pendaki tunadaksa berkaki satu dari Indonesia, Sabar Gorky, merangkul Presiden SBY dalam pertemuan di Istana Negara bulan Juli lalu, disaksikan antara lain promotor Ekspedisi Rakyat Merdeka Teguh Santosa (paling kiri) serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh dan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng (latar belakang). Sepanjang 2011 Sabar Gorky telah mendaki dua gunung tertinggi di dunia, yakni Gunung Elbrus di Rusia, Eropa dan Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Afrika. Di tahun 2012 Sabar Gorky dan Ekspedisi Rakyat Merdeka berencana mendaki dua puncak tertinggi di dunia, Carstensz di Papua, Irian dan Aconcagua di Argentina, Amerika Selatan. Selain itu, Sabar Gorky juga direncanakan mendaki Himalaya dalam Ekspedisi Batik dan menjelajahi Gurun Sahara dalam Ekspedisi Sahara.

The Urgency of Strengthening the Corruption Eradication Commission (KPK) in Constitution

Jakarta, dpd.go.id – Corruption Eradication Commission (KPK) as an Indonesian anti-corruption institutions is under pressured by many sides. KPK is seen as half-hearted and selective in combating corruption. Even some people propose the dissolution of the KPK and return the task of eradicating corruption to the police and judiciary. I Wayan Sudirta (DPD PPUU Chairman / Senator of DPD Bali Province) firmly rejected the proposal. He still strongly believes that the Commission could do their job if the strengthening of institutions is done. It was said by Wayan in Talk Show of Perspective DPD at Pressroom DPD Indonesia in Senayan, Jakarta (24/06/11). Continue reading The Urgency of Strengthening the Corruption Eradication Commission (KPK) in Constitution

The Second Meeting with Mari Alkatiri

Kim Jong Il dan Madeleine Albright

In Memoriam: Rosihan Anwar (1922-2011)

Hari Terakhir di Sekolah…

fisik7

2003: Mengejar Saddam Hussein

mengejar saddam

Sisi Lain Obama: Cerita Alice alias Suratmi

alice dewey

MATA Alice Dewey berkaca-kaca. Senyum professor emeritus jurusan antropologi University of Hawaii at Manoa (UHM) itu mengembang lebar. Continue reading Sisi Lain Obama: Cerita Alice alias Suratmi

Foto-foto Rusak dari Korea Utara

SEBUAH ruangan di depan saya memancarkan cahaya merah, sementara alunan lagu yang tadinya samar-samar kini terdengar semakin jelas.

Kami baru saja melewati sebuah mesin besar yang secara otomatis menyedot debu yang mungkin melekat di tubuh kami mulai dari ujung sepatu sampai ujung rambut. Continue reading Foto-foto Rusak dari Korea Utara

Shangri La, Jejak Peradaban Islam di Hawaii

img_4210

SEPERTI dibawa kembali ke Damaskus, Istanbul, dan Beirut. Atau restoran Maroko dan beberapa restoran Timur Tengah lain di Jakarta.

img_4232

Itulah yang saya rasakan ketika kaki ini melangkah masuk, melewati daun pintu yang dikawal dua patung unta dari marmar putih. Bahkan satu-satunya masjid di Honolulu, di 1935 Aleo Place, tak se-Timur Tengah ini.

img_4234

Inilah Shangri-La. Di pojok Pulau Oahu, Hawaii, di bawah kaki Diamond Head, di bibir pantai terjal yang menantang Samudera Pasifik. Buat saya, ini cukup lumayan untuk mengobati kerinduan pada Timur Tengah.

img_4235

Kompleks Shangri-La adalah salah satu peninggalan Doris Duke, yang di masa mudanya disebut sebagai wanita paling kaya di seluruh dunia.

img_4240

Di Shangri-La, Doris mengumpulkan tak kurang dari 3.500 benda bernuansa Timur Tengah dan Islam. Mulai dari gelas, piring, sendok, dan garpu, juga lampu gantung sampai mihrab masjid dari berbagai negeri muslim. Sebuah mihrab yang dibelinya dari Iran telah berusia ratusan tahun. Ada juga guci, keramik, dan kamar mandi, berbagai kaligrafi dan karpet. Pun patung-patung, termasuk dua patung unta berpunuk-dua yang mengawal pintu utama.

img_4247

Shangri-La dikelola oleh Doris Duke Foundation for Islamic Art (DDFIA) yang didirikan Doris untuk mempromosikan studi dan pemahaman tentang Islam di kalangan masyarakat Barat.

img_4249

Salah satu bangunan di Shangri-La, berlantai dua bercat putih, dengan pilar-pilarnya yang kokoh lagi tinggi bermotifkan kubah, juga tangga di bagian luar bangunan itu, mengingatkan saya pada bangunan-bangunan di Byblos, Lebanon, yang terletak di tepi Laut Mediterania.

img_4250

Di Byblos 2005 lalu, saya menyempatkan diri makan di sebuah restoran, Bab el Mina namanya, di pinggir sebuah teluk. Salah satu hidangan yang kami makan adalah sejenis ikan yang oleh masyarakat setempat disebut ikan Sultan Hamid.

img_4262

Sebuah ruangan di bangunan utama Shangri-La yang digunakan untuk menerima tamu mengingatkan saya pada ruang depan pemandian umum di dalam tembok Damaskus Tua, Syria atau Suriah atau Syam, yang saya kunjungi empat tahun silam menjelang invasi tentara sekutu ke wilayah Irak. Di ruangan seperti ini, biasanya para tamu disuguhi teh atau choi atau chai atau sai dalam gelas kecil berukuran sloki di atas nampan perak yang dipenuhi ukiran.

img_4269

Mogul Park yang terletak di sisi kanan kompleks Shangri-La diinspirasi oleh taman yang ada di India pada masa dinasti Mogul berkuasa. Airnya mengalir dari handmade fountain, mengisi kolam yang memanjang dengan beberapa air mancur kecil di sepanjang kolam. Pohon-pohon palm –yang tak biasa tumbuh di daerah ini– berjejer rapi di kedua sisi.

***

img_4275

Doris Duke lahir di New York, November 1912. Ia baru berusia 12 tahun ketika ayahnya, James Buchanan Duke, sang jutawan pendiri American Tobacco Company dan Duke Energy Company, serta penyantun Duke University di North Carolina, meninggal dunia tahun 1925.

img_4286

img_4294

img_4299

Doris yang anak semata wayang dalam keluarga Duke mendapatkan sebagian dari harta ayahnya, 100 juta dolar AS, yang bila diukur dengan uang zaman sekarang setara 1 miliar dolar AS.

img_4305

Dengan uang sebanyak itu, Doris muda punya kesempatan besar untuk mengelilingi dunia, sampai ia jatuh hati pada Timur Tengah di pandangan pertama.img_4317

Tahun 1935, di usia 22 tahun, Doris Duke menikah dengan James Cromwell. Mereka menghabiskan bulan madu di Timur Tengah dan Asia Selatan. Itu adalah kali pertama Doris bersentuhan dengan Timur Tengah dan dunia Islam. Sejak itulah ia bertekad menciptakan Timur Tengah untuk dirinya dan masyarakatnya.

img_4320

Demi mewujudkan mimpi itu, ia berungkali mengunjungi negeri-negeri Muslim, mulai dari Maroko, Mesir, Syria, Irak, Iran, Turki, Uzbekistan, Pakistan, Lebanon, dan India. Kakinya pun pernah singgah di Indonesia. Namun tidak ada catatan yang lebih rinci kapan dan dimana ia menjejakkan kaki. Juga tidak ada catatan tentang benda apa yang dibawanya dari Indonesia.

img_4342

Bulan Agustus 1935, Doris Duke dan Cromwell mengakhiri bulan madu mereka di Hawaii dan tinggal selama empat bulan. Di Honolulu mereka berkenalan dengan keluarga Sam Kahanamoku yang memperkenalkan mereka pada surfing dan mancing, serta keindahan kepulauan Hawaii. Setahun kemudian Doris membeli 4,9 acre tanah yang kini menjadi lokasi Shangri-La.

img_4345

Proyek pembangunan Shangri-La dimulai setahun kemudian. Awalnya, mansion ini dimaksudkan Doris sebagai tempat peristirahatannya di Hawaii. Tetapi siapa yang menduga kalau kemudian ia menjadikannya sebagai museum untuk menyimpan semua koleksi Timur Tengah yang dimilikinya.

img_4346

Sebagai seorang philanthropist, Doris Duke mendedikasikan kekayaannya untuk banyak kegiatan kemanusiaan. Selain Shangri-La, dia juga menyumbang pada berbagai proyek kemanusiaan, perlindungan anak dan kesehatan, serta lingkungan hidup.

***

img_4352

Di sisi lain, kehidupan Doris juga dipenuhi berbagai rumors dan gossip. Maklumlah, ia wanita kaya raya yang pada akhirnya memilih hidup melajang hingga usia tua.

img_4356

Tahun 1940, Doris melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Arden. Sayang, bayi itu tak berumur panjang. Satu hari setelah dilahirkan Arden meninggal dunia.

img_4361

Tahun 1943, Doris bercerai dari Cromwell, dan tahun 1947 menikah dengan Porfirio Rubirosa. Pernikahan kedua ini juga tak berlangsung lama. Tahun 1951 mereka bercerai.

img_4367

Tahun 1983, Doris mengadopsi seorang wanita berusia 35 tahun, bekas penari perut, Chandi Heffner, yang kemudian menjadikan Duke sebagai nama tengahnya. Rumors menyebut Doris Duke menganggap Chandi sebagai reinkarnasi anaknya yang meninggal tahun 1940. Sementara rumors lain menyebut Chandi adalah pasangan lesbian Doris Duke.

img_4375

Doris Duke juga disebut punya affair dengan istri Ferdinand Marcos, Imelda Marcos, ketika Marcos dan Imelda yang punya ratusan pasang sepatu di Istana Malacanyang melarikan diri ke Hawaii. Kedua wanita kaya raya ini menjadi bintang dalam pesta-pesta kaum sosialita di Hawaii.

img_4377

Di usianya yang renta, Doris Duke masih memperhatikan penampilan. Tahun 1992 ia mengoperasi wajah agar terlihat lebih kencang. Dua hari setelah operasi itu, Doris Duke terjatuh. Tulang pinggulnya dikabarkan patah.

img_4389

Setahun terakhir sebelum meninggal dunia, Doris Duke juga disebutkan berulang kali mengubah surat wasiatnya yang setebal 50 halaman.

Doris Duke meninggal dunia bulan Oktober 1993 di California dalam usia 80 tahun.

Kisah hidupnya yang unik dan dramatik telah dituliskan oleh banyak orang. Enam tahun setelah kematiannya, kisah hidup Doris Duke diangkat ke layar televisi, dalam sebuah mini seri berdurasi empat jam berjudul “Too Rich: The Not-So-Secret Life of Doris Duke“.

img_4398

Tahun lalu, sebuah film layar lebar tentang Doris Duke juga dirilis. Film berjudul “Bernard and Doris” itu dibintangi Susan Sarandon dan Ralph Fiennes, berkisah tentang hubungan Doris dan Bernard, sang penjaga mansion. Bernard bernasib mujur karena namanya masuk dalam surat wasiat Doris. Konon lagi, sang Bernard adalah satu dari sekian manusia yang pernah menjalin cinta dengan Doris.

img_4418

Media Australia pernah menuliskan sebuah artikel mengenai kehidupan Doris yang ganjil. Dalam artikel itu seorang kerabat Doris bercerita bahwa sebelum sang ayah, Duke Senior, meninggal dunia, dia sempat membisikkan sebuah pesan pada Doris. Isinya:

“Jangan pernah percaya pada siapapun. Gunakan uangmu untuk membeli mereka.”

img_4396

Kami Menentang Bush dengan Pita Oranye

DEMONSTRASI menentang pemerintah Bush hari Rabu lalu (9/5) tak seperti yang saya bayangkan. Tidak ada kerumunan massa seperti pada demontrasi yang biasa saya saksikan selama ini.

Ratusan mahasiswa Universitas Hawaii hari itu hanya wira-wiri dengan pita oranye di lengan mereka sebagai tanda menolak semua kebijakan pemerintahan Bush. Sebagian bergerombol di anak tangga Student Center menyaksikan para pemain musik yang sedang manggung. Sementara yang lainnya mendatangi “stand” kelompok pendukung demonstrasi.

Seperti ratusan mahasiswa itu, saya juga mengikatkan pita oranye di lengan kanan saya. Sepeda saya parkirkan tak jauh dari Student Center. Setelah puas berbicara dengan penjaga di masing-masing stand, dan membeli “Failed State” karya Noam Chomsky di stand Toko Buku Revolution, saya memilih bergabung dengan kelompok mahasiswa yang duduk di anak tangga menyaksikan seorang mahasiswa memainkan senar gitarnya di panggung. Bukan lagu revolusi yang dia lantunkan. Hanya lagu cinta yang biasa. Untuk orang awam seperti saya, musiknya oke juga. Continue reading Kami Menentang Bush dengan Pita Oranye