Dubes Liu Jianchao: Kompetisi Membutuhkan Proteksi

IMG_4470

Keterbukaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan dalam pergaulan internasional hari ini. Tidak ada satu pun negara yang dapat menutup pintunya dengan harapan bisa bergerak ke arah kemajuan.

Demikian antara lain yang dapat disimpulkan dari pernyataan-pernyataan yang disampaikan Dutabesar Republik Rakyat China (RRC) atau Tiongkok (RRT). Li Jianchao, ketika berbicara di forum Ambassador Talk yang digelar Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, kemarin siang (Senin, 27/5).

Menjawab pertanyaan salah seorang mahasiswa yang mengkhawatirkan Indonesia hanya dijadikan market oleh negara-negara lain di kawasan, termasuk RRC, Liu Jianchao mengatakan bahwa sebaiknya sebuah negara membuka pintu dan menjadikan dirinya market bagi produk-produk negara lain namun di saat bersamaan membangun industri dalam negeri. Hanya dengan demikian sebuah negara mampu berkompetisi dengan negara lain. Kompetisi, ujarnya, harus dibarengi dengan proteksi.

Liu Jianchao juga mengatakan, menjadi market berarti memiliki kemampuan atau daya beli untuk menerima produk negara lain.

“It means you are able to accept their products, and you are strong enough, your economy is strong enough (Ini berarti Anda memiliki kemampuan untuk menerima produk mereka, Anda cukup kuar, dan ekonomi Anda cukup kuat),” ujar alumni Harvard University ini.

Agar tidak kalah dalam kompetisi dan persaingan global sebuah negara harus memiliki kemampuan untuk berkompetisi. Pemerintah memiliki peran mendorong kaum muda agar inovatif dan di saat bersamaan kreatif.

“Do not close your door. Competition is hard and yet you need protection (Jangan tutup pintu Anda. Kompetisi memang berat, dan karena itu Anda butuh proteksi),” demikian Liu Jianchao.

Advertisements

1 thought on “Dubes Liu Jianchao: Kompetisi Membutuhkan Proteksi”

  1. Proteksi macam apa yang harus dibentuk oleh pemerintah. Lalu yang jadi pertanyaan adalah sistem pendidikan kita hanya melatih kita sebagai pemakai dan pembeli setia. Ambil contoh yang sangat kecil dalam pelajaran membaca anak TK. “Ibu membeli sayur di pasar” Kenapa harus “membeli”, tidak “menjual”. Ayah mengendarai mobil kenapa tidak membuat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s