Catatan Hantu Komunis

Oleh: Harsutejo

Di seputar pilkada Jawa Timur baru-baru ini beredar lagi hantu komunis yang konon bakal menempati kursi kekuasaan.

Di sepanjang kekuasaan rezim militer Orba lebih dari tiga dekade, jargon “bahaya laten komunis(me)/PKI” termasuk yang paling obral dijajakan. Rakyat terus-menerus ditakut-takuti hantu komunis yang seolah dapat menyelinap di balik dinding kamar tidur, bahkan di dalam selimut, suatu kali bangkit dan mencengkeram.

Pada 1965/1966 PKI dan organisasi massa di bawah pengaruhnya telah dihancurleburkan oleh rezim militer Orba. Berjuta pengikut dan simpatisannya bersama para pendukung Bung Karno yang lain termasuk di kalangan kaum nasionalis dan agama telah dibantai.

Di kancah internasional negara-negara Eropa Timur, termasuk Uni Soviet yang berada di bawah rezim partai komunis telah tumbang, negara raksasa RRT telah menjelma menjadi negara yang menuju sosialisme yang lain, barangkali dewasa ini bisa disebut sebagai negara kapitalis terpimpin. Dalam alur ajaran marxis negeri itu belum sampai pada tahap sosialisme, bahkan dikatakan belum pernah ada masyarakat sosialis, yang ada baru mempersiapkan dasar-dasar menuju sosialisme.

Untuk melindungi dan melestarikan kekuasaannya rezim militer Orba antara lain menakut-nakuti rakyat dan lawan-lawan politiknya dengan kambing hitam hantu komunis, bahaya laten komunis dan komunisme, kapan dan di mana pun selalu ada hantu itu. Bahkan seperti ditulis seorang penyair, JJ Kusni, “komunis dijadikan lambang terburuk dari segala najis”. Komunis dan komunisme serta PKI diperlakukan sebagai sejenis hantu yang terus-menerus bergentayangan sampai saat ini.

Alur bahaya laten komunis dan komunisme selalu dikombinasikan dengan jargon yang lain seperti subversif, menyabot pembangunan dsb. Tema sentral Orba yang sudah ketinggalan jaman itu masih dihidupkan juga oleh sejumlah orang dalam masa reformasi. Dalam hal ini Gunawan Mohamad menulis “…’awas bahaya komunis’, dan masuk lagi ke zaman tak berpikir, dengan sebuah takhayul, 1.000 kisah tentang hantu dari rimba yang sudah membatu, belantara yang tak lagi bernama”.

Komunis, orang komunis digambarkan sebagai manusia setan yang paling jahat dari yang jahat, sehingga sah untuk diapakan saja, disembelih, dicincang, diperkosa, ditusuk vaginanya dst tanpa ada rasa bersalah dan berdosa. Standar ganda kemanusiaan yang ditanamkan rezim militer Orba ini meracuni jutaan orang Indonesia sampai saat ini, suatu kejahatan sejarah dan kejahatan besar kemanusiaan. Seorang peneliti Swedia, Charlotte Simonson (2006), dalam tragedi 1965 menyatakan kata komunis menjadi semata-mata seperangkat pakaian buruk yang bisa dikenakan kepada musuh dengan batas-batas sama sekali tidak jelas.

Setelah reformasi dilupakan, pada waktu-waktu tertentu bertebaran spanduk dengan tulisan kuning berlatar kain hijau berbunyi “Awas Bahaya Laten Komunis”, “Awas Komunis Baru”. Bahkan Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo ketika menjadi Pangdam Jaya menyatakan ada 150 orang komunis anggota DPR RI.

Rupanya makhluk bernama komunis ini benar-benar sakti, mereka mampu bergentayangan ke segala penjuru, membuat risau para petinggi negara militer dan sipil selama berpuluh-puluh tahun tanpa jeda.

Namanya juga hantu, mereka bebas bergentayangan ke segala penjuru angin, berbuat apa pun dan kapan pun, dengan cara apa pun. Hantu itu mampu meracik dan meledakkan bom, mampu menggorok tiga gadis secara sadis di Poso, mampu menempatkan tokoh-tokohnya di badan-badan kekuasaan negara. Lambang paluairt pun sudah berubah menjadi hantu yang membuat jeri orang yang pegang bedil. Disebarkan berita para hantu itu juga menjadi caleg Pemilu 2009.

Sebagian ahli dan kaum [bekas] komunis sendiri menyatakan komunisme termasuk PKI telah tutup buku sejarah, mereka sudah menjadi bagian sejarah masa lampau, bahkan telah menjadi fosil sejarah. Marxisme-Leninisme atau komunisme telah lewat, tak lagi relevan bagi jaman ini dan mendatang. Sebagian yang lain menyatakan jika rakyat miskin dalam ketakadilan, maka komunisme akan dapat hidup subur. PKI mengklaim berjuang untuk kaum buruh, tani dan kaum kecil yang lain yang umumnya miskin. Jika semua tujuan memberantas kemiskinan (dan kebodohan) serta membangun masyarakat tanpa penindasan dan penghisapan alias adil dan makmur benar-benar diwujudkan, maka bahaya laten sama sekali tidak relevan.

Tentu saja ada kalangan yang tetap yakin akan kebenaran dasar-dasar Marxisme dan tetap relevan dalam wacana ideologi, terlepas dari ada dan tidaknya Tap MPRS No.XXV/1966 yang melarangnya. Adakah aparat intelijen beserta mesinnya yang mampu mengontrol apa yang ada dalam benak manusia? Apalagi sejarah manusia tidak diukur dalam batasan umur kita masing-masing maupun ratusan tahun. Peradaban manusia telah berusia ribuan tahun. Seberapa panjang para pakar dapat meramalkan perkembangan masyarakat ke depan? Dan seberapa akurat ramalan itu? Dengan kata lain masih terbuka segala macam kemungkinan, termasuk yang mokal dan mimpi hari ini, baik dalam teknologi maupun ideologi, pandangan politik dan tatanan sosial.

Dalam pamflet politiknya yang tersohor ‘Manifes Komunis’ pada 1848, Marx dan Engels telah menulis “Ada hantu berkeliaran di Eropa, hantu komunisme. Semua kekuatan lama di Eropa telah menyatukan diri ke dalam persekongkolan keramat, Paus dan Tsar, Metternich dan Guizot, kaum radikal Prancis dan mata-mata polisi Jerman untuk mengusir sang hantu.”[*] Jadi soal hantu ini bukan hal baru, sudah setua ideologi komunisme itu sendiri.

[*] Metternich (1773-1859), seorang politisi konservatif, Perdana Menteri Austria ketika itu. Guizot (1787-1876), politisi konservatif dan Perdana Menteri Prancis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s