Jalan Baru

Economic Outlook 2009: Tahun Mengkerut

PEJABAT pemerintah sering mengatakan bahwa krisis ekonomi jilid II saat ini sepenuhnya adalah akibat dari krisis ekonomi global. Memang betul bahwa pemicu utama krisis ekonomi dunia saat ini adalah Amerika Serikat dan sejumlah negara maju lainnya.

Ringkasan Economic Outlook 2009 ini disampaikan DR. Rizal Ramli [Econit Advisory] awal Februari 2009.

Tetapi Indonesia dengan sengaja telah membiarkan terbentuknya gelembung-gelembung finansial yang semakin membesar, sehingga menjadi sangat rentan terhadap pengaruh gejolak ekonomi dunia. Seperti dipaparkan dalam “Econit’s Economic Outlook 2008” pada awal Januari 2008, gelembung disektor pasar modal, kredit properti komersial dan kredit konsumen dibiarkan membesar. Aliran modal spekulatif (hot money) yang hanya US$14.8 miliar sepuluh tahun yang lalu dibiarkan meningkat dua kali menjadi US$ 24 miliar sampai dengan pertengahan 2008. Dengan berbangga atas peningkatan aliran modal spekulatif kedalam ekonomi Indonesia, pada hakekatnya, pemerintah SBY membuka diri terhadap gejolak dan gelombang ketidakstabilan ekonomi dunia.

Seandainya pemerintah SBY lebih membuka diri terhadap perkiraan dan pendapat Econit tersebut, maka ekonomi Indonesia hanya akan mengalami soft landing (mendarat dengan perlahan), artinya hanya akan terjadi sedikit perlambatan ekonomi setelah adanya krisis ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya akan turun dari 6% an menjadi 5% untuk tahun 2009.

Tetapi karena sikap terlalu percaya diri yang berlebihan dan sikap tertutup, pemerintah SBY tidak melakukan langkah antisipatif antara bulan Januari sampai Agustus 2008. Sehingga gelembung finansial tersebut semakin membesar. Ketika krisis di Amerika mulai terjadi pada kuartal III 2008, gelembung domestik itu pecah di pasar modal, sektor keuangan, sektor industri dan sehingga akhirnya akan terjadi PHK besar-besaran pada tahun 2009. Akibat percaya diri yang berlebihan tersebut, ekonomi Indonesia akhirnya terpaksa mengalami hard landing (mendarat dengan benturan). Sehingga pertumbuhan ekonomi tahun 2009 kemungkinan akan merosot dari 6% tahun 2008 menjadi hanya 3.3% tahun 2009. Biaya ekonomis dan sosial akibat percaya diri yang berlebihan, kelemahan prediksi dan antisipatif pemerintah SBY, akan mengakibatkan penurunan daya beli dan PHK besar-besaran.

Pada awal krisis, Bank Indonesia mengikuti nasehat IMF untuk menaikkan tingkat bunga padahal seluruh Bank Sentral di Amerika, Eropa dan Asia justru menurunkan tingkat bunga. Ternyata pimpinan Bank Indonesia tidak belajar dari pengalaman krisis sepuluh tahun yang lalu. Atas saran IMF pada semester II 1997, Bank Indonesia menaikkan tingkat bunga sangat tinggi (tingkat bunga inter-bank naik 16% ke 60%) sehingga hampir seluruh bank mengalami kesulitan likuiditas, yang akhirnya memicu rush dan kebangkrutan bank-bank seperti BCA, bank Danamon, dll. Blunder Bank Indonesia pada awal krisis jilid II tersebut dapat memicu berulangnya kasus kebangkrutan di bank seperti sepuluh tahun yang lalu. Untunglah akibat kritik banyak pakar di media masa, Bank Indonesia akhirnya balik badan mulai menurunkan tingkat bunga. Jika kenaikan tingkat bunga dan pengetatan likuiditas tersebut berlanjut maka bukan tidak mungkin ekonomi Indonesia akan mengalami crash, bagaikan pesawat jatuh seperti halnya sepuluh tahun yang lalu.

Ekonomi dunia yang mengalami perlambatan sangat tajam pada dua kuartal terakhir 2008 dan banyak negara maju akan mengalami resesi cukup serius pada tahun 2009. Diperkirakan ekonomi dunia hanya akan tumbuh 0,6% pada tahun 2009. Amerika diperkirakan akan anjlok -1.6% pada tahun 2009. Persoalan yang semula hanya menyangkut sub-prime lending telah berkembang menjadi kebangkrutan perbankan dan sektor keuangan di Amerika dan sebagian negara Eropa. Deregulasi finansial yang ugal-ugalan telah mengakibatkan pertumbuhan produk-produk finansial mortgage-backed securities, collateralized debt obligations, credit default swaps, derivatives, dll yang sangat luar biasa. Berbagai produk tersebut ternyata tidak didukung oleh aset riil yang memadai, yang menunjukkan tingginya tingkat leverage sektor keuangan di negara maju. Gelembung global financial tersebut akhirnya meledak pada kuartal III tahun 2008. Biaya penanggulangan krisis, termasuk biaya penyelamatan bank-bank di negara maju dan biaya stimulus untuk mempercepat pemulihan ekonomi ternyata sangat besar.

Di Amerika misalnya biaya krisis dapat mencapai US$ 3,5 triliun sehingga budget defisit pemerintah Amerika Serikat pada tahun 2009 diperkirakan akan mencapai (25% dari GDP). Hal yang sama juga terjadi dengan negara-negara OECD lainnya. Pembiayaan deficit yang sangat besar tersebut suatu saat akan menaikkan tingkat bunga internasional dan mengakibatkan crowding out atau semakin sulitnya negara berkembang mendapatkan akses kredit dan pasar uang. Kebijakan stimulus negara-negara maju juga sering dikaitkan dengan kewajiban untuk menggunakan produk dalam negeri negara maju, sehingga proteksionisme melalui kebijakan fiskal tersebut akan semakin mengurangi permintaan produk-produk dari negara berkembang. Resesi ekonomi dan crowding out finansial tersebut akan semakin memperlemah posisi negara berkembang seperti Indonesia. Dari sisi lain, kondisi eksternal yang buruk tersebut seharusnya semakin mendorong negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk mengurangi ketergantungan ekonomi dan finansial dari negara maju.

Ada kenyataan yang sangat berbeda antara krisis ekonomi sepuluh tahun yang lalu dengan krisis ekonomi jilid II. Sepuluh tahun yang lalu pemintaan dunia dan harga komoditi masih relatif tinggi sehingga, satu-satunya masalah adalah anjloknya nilai tukar rupiah. Kondisi seperti itu, justru menguntungkan para eksportir dan petani komoditas diluar pulau Jawa. Mereka justru mendapatkan windfall profit (keuntungan dadakan) karena pendapatan mereka dalam rupiah meningkat. Tetapi krisis jilid II ini sangat berbeda, permintaan dunia dan harga komoditi justru turun merosot tajam karena adanya resesi yang akan berlanjut sepanjang tahun 2009. Akibatnya walaupun rupiah telah merosot dari Rp. 9.000,- mendekati Rp.12.000,- per dollar tetapi tidak banyak membantu penurunan pendapatan eksportir dan petani komoditas.

Memang 10 tahun yang lalu [1997-1998] rasio hutang terhadap GDP Indonesia lebih tinggi (50%) dibandingkan dengan tahun 2008 (37.3%) Tetapi stok hutang pada tahun 2008 mencapai US$ 146 milliar, lebih tinggi daripada stok hutang pada tahun 1997 yang hanya US$ 129 milliar. Stok hutang saat ini cenderung akan meningkat karena peningkatan defisit anggaran yang akan mencapai 2.5% GDP pada tahun 2009.

Perlu juga dicatat bahwa tingkat konsumsi saat ini (Rp. 5.100 trilliun) 5,3 kali lebih tinggi dari tingkat konsumsi 10 tahun yang lalu (Rp.900 trilliun). Selama 5 tahun terakhir peningkatan konsumsi tersebut pada dasarnya hanya didukung oleh peningkatan harga komoditi, produk tambang dan aliran modal spekulatif. Padahal aliran modal, portfolio dan investasi, sedang “pulang kampung”, kembali ke negara asalnya yang sedang mengalami krisis. Aliran modal keluar, penurunan harga komoditas dan produk tambang sangat jelas menunjukkan bahwa tingkat konsumsi saat ini tidak dapat dipertahankan (unsustainable). Itulah salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya retrenchment (pengkerutan) ekonomi Indonesia pada tahun 2009.

Dari keempat motor pertumbuhan ekonomi, 3 diantaranya, yaitu ekspor, investasi, dan konsumsi swasta akan mengalami retrenchment yang cukup besar pada tahun 2009. Ekspor dalam GDP yang biasanya meningkat rata-rata 11.8 % selama 2004–2008, diperkirakan pertumbuhannya akan merosost menjadi hanya 2.1% tahun 2009. Konsumsi swasta yang meningkat rata-rata 4.5% selama 2004–2008, diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 3,5% pada tahun 2009.

Salah satu motor pertumbuhan yang diharapkan dapat menjadi bagian dari kebijakan counter-cyclical adalah kebijakan fiskal. Efektifitas penggunaan kebijakan moneter, dalam bentuk pelonggaran likuiditas dan penurunan tingkat bunga, sebagai bagian dari kebijakan counter-cyclical sangat terbatas. Kebijakan likuiditas dan tingkat bunga yang terlalu longgar justru dapat memicu tekanan spekulatif dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Harapan tinggal hanya pada kebijakan fiscal tetapi sayangnya, efektifitas kebijakan fiskal selama 4 tahun terakhir sangat rendah, seperti tingkat penggunaan anggaran dan pencapaian sasaran-sasaran makro ekonomi nyaris tidak pernah tercapai, suatu hal yang menunjukkan kelemahan operasional otoritas fiskal (Departemen Keuangan). Jika dalam kondisi booming saja, efektivitas kebijakan fiskal sangat rendah, sulit diharapkan kebijakan fiskal akan efektif pada saat retrenchment.

Setelah 5 kali berganti-ganti angka besaran stimulus fiskal, pemerintah SBY akhirnya mengumumkan anggaran stimulus sebesar Rp. 71.3 trilliun. Sebagian besar stimulus fiskal tersebut (81%) adalah dalam bentuk potongan pajak, yang akan berakibat pada pengurangan potensi penerimaan pajak, tetapi bukan program pengeluaran langsung (direct spending) pemerintah untuk mendorong pemulihan ekonomi. Pola stimulus seperti ini sangat berbeda dengan program stimulus yang dilakukan negara-negara lain yang lebih mengutamakan pengeluaran langsung untuk memacu pemulihan ekonomi. Sangat sulit untuk mengharapkan peranan kebijakan fiskal yang lebih agresif untuk memulihkan ekonomi Indonesia, karena adanya kelemahan dalam perencanaan implementasi stimulus dan track record of under-performance dari otoritas fiskal pemerintah SBY.

Disamping retrenchment (pengkerutan ekonomi) yang akan terjadi pada tahun 2009, terdapat sejumlah hidden risks (resiko-resiko tersembunyi) dalam ekonomi Indonesia. Resiko-resiko tersebut “tersembunyi” karena adanya peningkatan ketertutupan informasi dan banyaknya rekayasa statistik, suatu hal yang jarang terjadi dalam ekonomi Indonesia di masa lalu. Pertama, resiko tersembunyi di sektor perbankan mencakup resiko besarnya produk derivatif yang dijual oleh 15 bank dan nilai jatuh temponya mencapai US$ 4 miliar pada pertengahan tahun 2009. Sementara total nilai transaksi hedging mencapai US$ 70 miliar, lebih besar dari cadangan devisa, yang menunjukan besarnya faktor spekulatif diluar kebutuhan riil transaksi. Resiko tersembunyi lainnya adalah ketatnya likuiditas terutama untuk bank-bank menengah dan kecil. Nilai transaksi pasar uang antar bank juga sangat rendah, transaksi hanya terjadi antara sesama bank besar atau antara sesama bank menengah-kecil, menunjukkan pasar uang antar bank yang sangat tersegmentasi. Resiko perbankan juga akan lebih besar pad atahun 2009 karena peningkatan resiko kredit macet disektor riil karena penurunan ekspor, daya beli masyarakat dan peningkatan PHK.

Kedua, resiko tersembunyi dipasar modal terutama akibat tingginya transaksi repo (gadai saham) dan transaksi margin, yaitu pemberian fasilitas pinjaman untuk pembelian saham. Kasus yang terjadi dalam kebangkrutan perusahaan sekuritas Sarijaya hanyalah contoh kecil dari gejala yang lebih besar.

Ketiga, resiko rekayasa statistik (bubble statistics). Terdapat kontradiksi antara data inflasi yang dilaporkan BPS dengan fakta kenaikan kebutuhan pokok di masyarakat. Upaya Memperkecil angka inflasi dengan memperkecil bobot beras dalam perhitungan inflasi). Rekayasa statistik juga terjadi secara sangat mencolok pada penggelembungan angka penciptaan lapangan kerja dan penurunan angka pengangguran, terutama dalam peningkatan kategori jasa kemasyarakatan, (seperti bidang keagamaan, politik, ormas, penjahit, tukang semir sepatu, pemangkas rambut, dll) yang meningkat sebesar 41.2% antara Agustus 2007-2008.

Resiko-resiko yang tersembunyi tersebut dapat memicu pengkerutan (retrenchment) lebih lanjut dalam ekonomi Indonesia tahun 2009. Resiko yang disembunyikan akan memperbesar masalah dan memperlambat upaya untuk memperbaikinya. Pada akhirnya masyarakat yang akan menanggung resiko-resiko yang tersembunyi tersebut.

Pengkerutan ekonomi akan berdampak pada perubahan landscape business di Indonesia. Setelah terjadi krisis ekonomi 1997/98, sebagian besar pengusaha telah mengambil pelajaran sehingga bersikap relatif konservatif, menghindari ekspansi tanpa fokus dan memperkecil leverage finansial (rasio hutang terhadap modal). Kelompok bisnis seperti ini akan mampu bertahan menghadapi krisis jilid II, walaupun banyak dari mereka yang mengalami kesulitan cash flow temporer. Namun, banyak pengusaha yang tidak belajar dari krisis 1997/98, mereka tetap melakukan ekspansi dan pinjaman besar-besaran sehingga leverage mereka sangat tinggi. Kelompok inilah yang pada tahun 2008 & 2009 akan mengalami kesulitan finansial dan pengkerutan bisnis secara signifikan.

Pengkerutan ekonomi pada tahun 2009 juga akan mempengaruhi political landscape Indonesia. Dominasi dan kontinuitas incumbent akan sangat ditentukan oleh besarnya dampak pengkerutan ekonomi dan kemampuan operasional dan implementasi untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Tetapi track record operasional dan implementasi yang sangat rendah selama 4 tahun terakhir membuka kemungkinan terjadinya perubahan politik pada tahun 2009. Pola pendekatan hands-off dalam penanganan krisis, yaitu anggapan bahwa hanya dengan mengeluarkan peraturan, instruksi, dan paket kebijakan, masalah akan selesai dengan sendirinya merupakan fatamorgana yang bertentangan dengan realitas di lapangan. Pengalaman di negara-negara lain dan di masa lalu, hanya kepemimpinan yang hands on, yang memiliki kemampuan opersional dan implementasi yang akan mampu mempercepat pemulihan ekonomi.

Standard

One thought on “Economic Outlook 2009: Tahun Mengkerut

  1. Dibandingkan negara lain, indonesia termasuk “terlambat”terkena dampak krisis, kalau nggak boleh dibilang kita cukup kuat. Saya barusan keliling eropa, china, dan russia. Kondisinya, secara financial, lebih mengerikan dibandingkan indonesia. Percayalah. So, silakan para petinggi econit jalan jalan dulu, dan bandingkan. Saat ini, negeri yang kuat dan penuh perhitungan seperti china pun parah banget, singapore, malaysia kalangkabut. Jangan dikira timur tengah aman krisis, disana, pembangunan infratrustur mandeg, karena arus modal yang terhenti, dan demand yang turun drastis. So….mari bersama sama optimis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s