Tetangga Obama di Seberang Gedung Putih Sedang Berduka

concepcion4

CONNIE, atau sering disapa Conchita.

Begitu teman-teman sesama demonstran dan aktivis memanggilnya.

Lahir di Spanyol tahun 1936 dan pindah ke Amerika Serikat 18 tahun kemudian, pemilik nama lengkap Concepcion Picciotto ini sudah menjadi penghuni Taman Lafayette di seberang White House, Washington DC sejak 1981 silam, saat Ronald Reagent berkuasa, jauh sebelum Obama punya mimpi menjadi penguasa Amerika Serikat.

Concepcion, Connie atau Conchita adalah ikon lain di pojokan panggung politik Amerika. 

Ia memilih menetap di Taman Lafayette karena dari tempat itu dia merasa pesan-pesannya –kampanye anti-nuklir adalah pesan pertamanya– atau pesan yang dititipkan orang lain untuk tetangganya, penghuni 1600 Pennsylvania Avenue, dapat terdengar dengan jelas. Walau  dia pun sadar bahwa pada kenyataannya pesan-pesan itu diabaikan sang tetangga.

Juga dimuat di myRMnews. Foto atas diambil dari sini.

Cerita tentang Concepcion telah menjadi buah bibir yang menyebar melintasi benua dan samudera. “Profesinya” sebagai demonstran sejati telah diceritakan di banyak negara dalam bahasa yang berbeda-beda. Sineas Amerika Serikat, Michael Moore pun ikut mengangkat figur Concepcion dalam filmnya Fahrenheit 9/11 yang diproduksi tahun 2004. Film itu berusaha memberikan penjelasan lain di balik serangan terhadap World Trade Center (WTC) di New York dan Petagon di selatan Washington DC pada 11 September 2001.

Jumat siang waktu Washington DC (6 Februari) saya menyempatkan diri mampir ke gubuk Concepcion. Sebuah tenda yang direbahkan di sisi patung Jendral Stonewall Jackson, salah seorang tokoh penting dalam epik Perang Revolusi AS, dan ditutupi plastik tebal untuk tempat berteduh, dengan beberapa bantal lusuh dan karpet tipis di bagian dalamnya.

Spanduk-spanduk berisi aneka pesan anti-perang dan pro-perdamain menghiasi bagian luar tenda itu. Pamflet-pamflet berukuran kecil ditempatkan di dalam sebuah kotak, diberikan kepada siapa saja yang ingin membacanya. Sebagian besar pamflet itu berisi rekaman media massa tentang aktifitas Concepcion.

Beberapa “batu perdamaian” yang dikerjakan oleh tangan Concepcion tergeletak di sisi kanan tenda, di bawah spanduk yang menampilkan gambar-gambar korban reaktor nuklir Chernobyl milik Rusia yang bocor tahun 1986 lalu. Batu-batu perdamaian ini adalah suvenir yang dicari banyak tamu yang mengunjungi Concepcion.

Di belakang tenda Concepcion, di luar pagar Taman Lafayette dan persis di tengah ruas Pennsylvania Avenue yang memisahkan tempat tinggal Concepcion dan Gedung Putih, beberapa pekerja sedang sibuk mengerjakan dua bangunan semi permanen. Dua orang polisi yang mengendarai sepeda berseragam kuning sedang berbicara di pojok taman, tak jauh dari patung Marie-Joseph Paul Yves Roch Gilbert du Motier alias Marquis de Lafayette, jenderal Perang Revolusi AS kelahiran Prancis yang beberapa tahun kemudian menjadi pemimpin pasukan Prancis dalam Revolusi 1789.

Tapi sayang, siang itu saya tak menemui Concepcion di gubuknya.

Hanya Steve, satu dari dua “asisten” Concepcion yang saya jumpai di sana. Mengenakan jaket tebal lusuh dan topi yang hampir menyembunyikan wajahnya yang berewokan itu, Steve menyambut saya dengan senyum lebar.

dsc083031
Steve di tenda Concepcion.

Concepcion sedang berduka, kata Steve. Tanggal 23 Januari lalu, William Thomas meninggal dunia karena terserang penyakit paru-paru. Jenazah Thomas sudah dikremasi, dan besok (Sabtu, 7 Februari), abunya akan disebarkan oleh teman-temannya di Sungai Potomac.

Thomas adalah sahabat sejati Concepcion. Mereka bertemu di Taman Lafayette ketika Concepcion baru memulai jalan hidupnya yang baru. Thomas menemani Concepcion melewati hari-hari yang panjang di Taman Lafayette sejak saat itu.

Steve menggambarkan Thomas sebagai seorang living philosopher. Catatan mengenai dirinya menyebutkan Thomas lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di Washington DC.

Thomas lebih dahulu menjadi demonstran di Pennsylvania Avenue. Tak ada catatan yang jelas, namun disebutkan dia memulai “kariernya” sebagai demonstran beberapa tahun sebelum Concepcion tiba di Taman Lafayette. Thomas memutuskan menjadi demonstran abadi setelah ia diekstradisi dari Inggris karena membakar paspor Amerika yang dikantonginya. Sampai akhir hayatnya, Thomas tak pernah mencabut statusnya sebagai manusia tanpa negara alias stateless.

Setelah abu jenazah Thomas ditebarkan di Sungai Potomac, yang menandai akhir dari masa berduka, Concepcion akan kembali ke gubuknya di Taman Lafayette.

Well, karena tak bertemu sang tuan rumah, maka pertanyaan yang sudah saya siapkan untuk Concepcion saya tanyakan kepada Steve.

“Kira-kira, Steve, apakah Concepcion akan mengakhiri demonstrasinya setelah Barack Obama menjadi presiden?” tanya saya.

Steve tersenyum lagi. Katanya dia tak tahu pasti soal itu. Hanya Concepcion yang bisa menjawab pertanyaan yang memang ditujukan untuk Concepcion.

Namun yang jelas, sambung Steve, kemenangan Obama membawa harapan besar bagi banyak orang, tak terkecuali Concepcion. Tetapi proses perubahan harus terus dikawal dari dekat, sambung Steve.

Lihat saja, masih kata Steve, sampai dua tahun lalu gagasan tentang orang berkulit hitam tinggal di Gedung Putih adalah gagasan yang dianggap konyol dan tidak pada tempatnya. Tetapi sekarang justru gagasan yang tadinya dianggap tak mungkin itu yang terjadi.

Entah apakah kemenangan Obama akan menjadi jawaban dari berbagai persoalan, namun yang jelas kehadiran Obama menandakan bahwa sudah demikian banyak rakyat Amerika yang muak dengan hiprokasi kaum oligarkis yang menguasai negara itu.

Apakah Obama kelak dapat mewujudkan semua yang disampaikannya dalam kampanye, atau justru akan menjadi bagian dari kelompok itu, hanya waktu yang bisa menjawab.

“Dan untuk sementara itu, saya kira Concepcion masih akan tinggal di tempat ini, menjalani hari-harinya seperti biasa,” demikian Steve.

Sebelum meninggalkan Taman Lafayette saya menyempatkan diri memotret Steve yang duduk di bawah tenda. Dia mengacungkan dua jarinya, membentuk huruf V, dan katanya: “Peace.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s