Kedekatan Ba’asyir-Parpol Soal Strategi

Gelombang reformasi yang bergulir sejak 1998 lalu, telah memberi berkah tersendiri bagi kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Salah satunya adalah lahirnya partai-partai politik, termasuk partai politik berasas Islam maupun berbasis massa Islam. Kehidupan multipartai itu sekaligus menandai berakhirnya era asas tunggal Pancasila Orde Baru yang mengharuskan hanya ada tiga partai, yakni Golkar, PPP, dan PDI.

Namun, sekian tahun berjalan, partai-partai Islam maupun berbasis massa Islam itu bisa dibilang belum dapat merealisasikan janji-janji mereka yang menegaskan peningkatan kesejahteraan dan pembelaan terhadap umat Islam. Bahkan, ketika umat Islam dirundung kecurigaan atas berbagai kasus terorisme pun, mereka nyaris tak bersuara.

Tapi, kini ada fenomena menarik pasca dibebaskannya Ustad Abu Bakar Baasyir yang selama ini dituding pemerintah dan Barat terkait kasus terorisme, namun tidak terbukti. Partai Islam seperti Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) telah siap menerima Ustad Baasyir. Padahal dulu ketika ramai isu terorisme, partai-partai Islam itu terkesan menjauh, mungkin takut dikaitkan dengan kelompok teroris. Membahas lebih lanjut masalah tersebut, tim At-Tanwir mewawancarai ketua Komisi Fatwa MUI dan tokoh NU, KH Ma’ruf Amin. Petikannya:

Ada fenomena menarik, partai-partai Islam mulai mendekat dengan tokoh-tokoh Islam, termasuk yang dulu dicurigai terlibat kasus terorisme seperti Ustad Baasyir. Pendapat Kiai?

Saya kira itu hal yang wajar, bila partai-partai Islam atau partai sekuler sekalipun, mendekati tokoh-tokoh yang mempunyai pengaruh dan kharismatik, termasuk dari kalangan Islam. Ustad Abu Bakar Baasyir kini sudah dibebaskan, dan ternyata tidak terbukti dengan kasus terorisme yang dituduhkan kepadanya. Baasyir hanya bersalah dalam hal administrasi, yakni masalah keimigrasian. Jadi ini hanya soal kepentingan saja.

Maksud kiai, kepentingan apa?

Ya pasti ada kepentingan antara Ustad Baasyir dengan PBB, PPP, atau partai lain. Ustad Baasyir memiliki pengaruh dan konstituen yang banyak. Kalkulasi politiknya, partai-partai Islam akan berhitung, sekecil dan sebesar apapun, tokoh itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan politik partai tersebut. Di sini kan nilai konstituennya strategis. Dari pihak Ustad Baasyir pasti akan berhitung, hal itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan aspirasi mereka, misalnya, upaya penerapan Syariat Islam dalam bentuk legal-formal (perundang-undangan). Saya melihat, ini hanya strategi parpol dalam menjaring konstituen.

Mendekatnya Ustad Baasyir ke parpol, apa itu pertanda dia sudah menerima demokrasi? Kalau benar, apa itu bukan inkonsistensi dia?

Saya tidak tahu pasti. Kita tahu bahwa Ustad Baasyir menolak demokrasi dan sistem sekuler lain. Bagi Baasyir, sistem Islam harus jadi pilihan. Tapi, perubahan bisa saja terjadi pada diri Ustad Baasyir. Mungkin lebih jelas bisa ditanyakan ke Ustad Baasyir.

Kedekatan itu apa tidak merugikan parpol karena bisa dituding dekat dengan kelompok radikal?

Saya kira tidak. Ini kan politik, praktis perhitungan untung-rugi. Parpol sendiri tidak akan membiarkan ada konstituen ‘ngambang’ tak bertuan, sekecil apapun konstituen itu. Saya sendiri menilai, Islam itu satu, tidak ada radikal, tidak ada liberal, yang ada adalah Islam yang hanif (benar dan lurus). Radikal atau liberal itu hanya pencitraan pihak luar saja.

Tapi kiai, sampai saat ini tokh partai-partai Islam lebih banyak mengumbar janji, sementara nasib umat Islam tak beranjak membaik. Menurut kiai?

Ya, itu harus diakui, bukan hanya partai Islam saja, hampir semua partai pun demikian. Tapi menurut saya, umat Islam ini semakin kritis. Mereka semakin pandai menilai partai mana yang sungguh-sungguh berupaya merealisasikan aspirasi mereka dan partai mana yang tidak peduli. Partai Islam punya tiga tanggung jawab, yakni tanggung jawab keagamaan (mas’uliyah diniyyah), tanggung jawab kebangsaan dalam rangka mensejahterakan masyarakat, dan tanggung jawab membela hak-hak rakyat, utamanya yang terzholimi. Masyarakat akan menilai semua itu.

Menurut kiai, partai Islam mana yang mesti dipilih umat Islam?

Itu terlalu dini, saya tidak mau mengarahkan partai mana. Yang pasti umat semakin cerdas.

Kedepan, apa yang harus dilakukan agar partai-partai Islam tetap diminati umat?

Saya kira terus berkomitmen memperjuangkan aspirasi umat, dan secara serius berupaya menyalurkan hak-hak politik dan keinginan mereka, seperti legalisasi nilai-nilai Islam dalam perundang-undangan, serta pembelaan yang tegas terhadap hak-hak umat. Selain itu, perlu diupayakan partai-partai Islam saling kerjasama satu sama lainnya untuk kepentingan umat.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s