
SEMINAR Freedom of Press and Freedom of Information yang digelar Friedrich Naumann Stiftung di Gummersbach, Jerman, memang terbilang unik. Continue reading “Nazi (Tidak) Mudah Dikebiri”

Melintasi Batas Peradaban, Mencatat Perjalanan, Menawarkan Cara Pandang

SEMINAR Freedom of Press and Freedom of Information yang digelar Friedrich Naumann Stiftung di Gummersbach, Jerman, memang terbilang unik. Continue reading “Nazi (Tidak) Mudah Dikebiri”

SETELAH Hitler bunuh diri, bunker tempat persembunyiannya di selatan Brandenburg Gate, Berlin, tak pernah disentuh. Pemerintah khawatir bunker itu akan dijadikan situs suci bagi para pendukung Hitler dan Nazisme.
Kini pemerintah Jerman sedang membangun gedung baru di wilayah itu. Dan baru-baru ini pekerja konstruksi menemukan sesuatu yang diduga sebagai atap bunker Hitler. Continue reading “Ketika Adolf Hitler Semakin Lusuh”
8 MEI lalu penulis menghadiri peringatan 60 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua di Eropa. Continue reading “Setali Yahudi Dan Nazi”
BUKU “Mengadili Menteri, Memeriksa Perwira” yang ditulis Iip D Yahya ini bercerita tentang sosok Soeprapto. Untuk mengukur pengetahuan publik akan diri Soeprapto, Iip dan teman-teman yang membantunya melakukan survei dengan mewawancarai banyak orang, termasuk sejarawan. Hasil dari survei itu mengejutkan. Nama Soeprapto nyaris 99,99 persen hilang dari ingatan. Begini salah satu dialog yang dilakukan Iip dengan respondennya.
“Anda pernah ke Blok M?”
“Ya, tentu.”
“Anda tahu gedung bundar di dekat Blok M?”
“Ya, Kejaksaan Agung, kan?”
“Anda tahu ada patung kepala di depan gedung itu?”
“Sebentar… patung yang tertutup pagar dan pohon itu kan? Saya ingat sekarang!”
“Anda tahu patung siapa itu?”
“Ah, itu yang saya tidak tahu.”
“Tidak perlu malu, orang yang bekerja di dalam gedung bundar itu juga belum tentu semuanya tahu. Anda orang kesekian yang tidak tahu. Itu patung mantan Jaksa Agung Soeprapto.”
“Siapa Soeprapto?” (Nah lho…)
Soeprapto adalah penegak hukum karier yang dipercaya Presiden Soekarno menjadi Jaksa Agung pada kurun 1950-1959. Dalam kurun waktu yang dikenal dengan masa demokrasi liberal, yang ditandai jatuh-bangunnya berbagai kabinet, Soeprapto memainkan peran penting dalam meletakkan dasar-dasar hukum yang adil dan tak pandang bulu di republik ini.
Continue reading “Soeprapto dan Misteri Gedung Bundar”
4 AGUSTUS 1944, sekitar pukul 10.30 pagi, sebuah mobil berisi serdadu Schutzstaffeln (SS) Nazi Jerman dan polisi rahasia Belanda berhenti di depan sebuah gedung di Jalan Prinsengracht, Amsterdam. Mereka naik ke tingkat empat, menuju Ruang Rahasia (Annex Secret) di bagian belakang. Continue reading “Anne Frank”

PADA bagian pengantar edisi kemarin, penulis telah menyinggung sedikit tentang konsep Illiberal Democracy yang dipresentasikan delegasi Asia Tenggara dalam seminar di Gummersbach, Jerman. Demokrasi yang alergi terhadap kebebasan itu menjamin freedom of speech. Tetapi tidak menjamin freedom after speech. Banyak jurnalis yang dijerat dengan pasal kriminal setelah menuliskan berita. Continue reading “Raja Telanjang”











ANTARA tanggal 1 hingga 13 Mei lalu, penulis diundang menghadiri Seminar Kemerdekaan Pers dan Kemerdekaan (Memperoleh) Informasi di Gummersbach, Jerman. Acara yang digelar oleh Friedrich Naumann Stiftung (FNS), sebuah lembaga non-pemerintah yang mengusung nilai-nilai liberal-humanisme dan memiliki kantor di banyak negara itu, terbilang unik.
Continue reading “Freedom After Speech, Pro-Yahudi, Dan Neo-Nazi”Rakyat Merdeka, 23 dan 24 Mei 2005
JUMAT dua pekan lalu, tak kurang dari seribu orang berdemonstrasi di Andijan, kota di Lembah Ferghana, Uzbekistan. Pasukan pemerintah menghujani demonstran dengan tembakan membabi buta. Menurut pemerintah 169 orang tewas. Menurut rakyat yang menguburkan mayat-mayat itu, korban tewas mencapai 746 orang. Ferghana salah satu pusat kejayaan Islam di masa lalu, kembali bergolak. Continue reading “Islam Karimov dan Islamic Movement of Uzbekistan”