Denny JA: (Putaran Kedua) Adalah Anomali

Beberapa lembaga survei yang berbeda, seperti Lembaga Survei Indonesia (LSI), Indobarometer, Jaringan Suara Indonesia (JSI), Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) sejak dua bulan lalu telah mengumumkan hasil survei pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dengan hasil yang kurang lebih sama. Yakni, Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli berada di urutan pertama, sementara Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama berada di urutan kedua.

Dari semua survei, selisih perolehan suara di antara kedua pasangan itu pun terbilang jauh. Di sisi lain, tidak ada satu lembaga survei pun yang pernah mengumumkan hasil survei dimana Fauzi Bowo dan pasangannya memperoleh suara di atas 50 persen.

Namun hari ini, setelah pemungutan suara usai dilakukan, dari berbagai perhitungan cepat yang dilakukan dan diumumkan stasiun televisi terlihat Jokowi dan Ahok justru melampaui Foke dan Nara.

“Apa yang sesungguhnya sedang terjadi?”

Menurut Denny JA, pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang juga dikenal sebagai salah seorang tokoh yang membangun tradisi riset dan survei politik di Indonesia, fenomena perolehan suara pilkada DKI Jakarta ini adalah sebuah anomali, atau hal yang menyimpang dari kejadian umum.

“Ini adalah anomali yang kadang terjadi dalam ilmu sosial. Dari 100 kali eksperimen, sangat mungkin 5 persen hasilnya berada di luar yang terduga,” ujar Denny JA kepada Rakyat Merdeka Online, Rabu malam (11/7).

Tetapi, sambungnya, ini bukan hal yang pertama kali terjadi di Indonesia. Selain di Jakarta, hal ini juga pernah terjadi dalam pemilihan gubnernur Jawa Barat. Di Amerika Serikat, yang lebih dahulu mengenal tradisi survei dan riset politik, hal seperti ini pun terjadi beberapa kali.

Tak Banyak Politisi Punya Magnet Seperti Jokowi

Selain sebuah anomali dalam ilmu sosial, putaran kedua pemilihan gubernur DKI Jakarta juga dipengaruhi fenomena Joko Widodo yang berpasangan dengan Basuki Tjahja Purnama.

Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengatakan Jokowi memiliki daya tarik khususyang membuat banyak orang bersedia bekerja sukarela untuknya. Dukungan yang besar ini mengalir pada sepekan terakhir sebelum pemberian suara, dan karenanya tidak terbaca oleh survei.

“Tapi tak banyak politisi dengan magnet sekuat Jokowi,” ujarDenny JA kepada Rakyat Merdeka Online, Rabu malam (11/7).

Selain soal anomali dan Jokowi, faktor lain yang juga mempengaruhi hasil pemungutan suara, sebut Denny JA, adalah jumlah orang yang tidak memilih dengan berbagai alasan alias golput yang mencapai 40 persen. Jumlah ini tidak proporsional.

“Misalnya, jauh lebih banyak pendukung Foke yang tidak datang ke TPS sehingga dukungan riel untuk Foke menurun,” jelas Denny JA sambil mengingatkan bahwa dalam kebanyakan pilkada, lembaga survei yang kredibel biasanya terbukti akurat.

“Kita nantikan Foke versus Jokowi di putaran kedua pilkada,” demikian Denny JA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s