Sisi Lain Obama: Cerita Alice alias Suratmi

alice dewey

MATA Alice Dewey berkaca-kaca. Senyum professor emeritus jurusan antropologi University of Hawaii at Manoa (UHM) itu mengembang lebar. Ia membolak-balik dan membuka halaman demi halaman buku berjudul “Pendekar-pendekar Besi Nusantara” yang diangkat dari disertasi salah satu mantan mahasiswanya, Stanley Ann Dunham-Soetoro.

Juga dimuat di myRMnews.

Lalu ia mengulangi kalimat itu — yang pernah disampaikannya beberapa kali kepada saya.

“Menerbitkan disertasi ini ke dalam bahasa Indonesia adalah salah satu mimpi Ann.”

alice dan annAlice Dewey adalah ketua komite penguji disertasi Ann Dunham, ibunda Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama. Disertasi yang ditulis Ann Dunham itu, yang setelah menikah dengan Lolo Soetoro asal Indonesia tahun 1967 dikenal dengan sebutan Ann Soetoro, mengenai kehidupan pandai besi di pedesan di Jawa. Dalam disertasinya, Ann menganalisa bagaimana kelompok pandai besi tradisional di Jawa bertahan dari gerusan modernasiasi dan ideologi pembangunan. Ia juga mengkritik kebijakan pembangunan pemerintah Indonesia di awal-awal Orde Baru itu, selain tentu saja menawarkan sejumlah jalan keluar. 

Buku yang siang itu diterima Alice Dewey merupakan terjemahan dari Bab I dan Bab V disertasi Ann Dunham. Alice Dewey juga memberikan kata pengantar untuk buku itu.

Saya membicarakan rencana penerbitan disertasi ibu Barack Obama itu sejak setahun lalu. Ketika itu, di ruang kerjanya, di lantai tiga gedung Saunders, UHM, Alice Dewey memperlihatkan disertasi itu. Dengan ketebalan lebih dari 1000 halaman, disertasi itu dibagi tiga volume. Ditumpuk diantara deretan dan tumpukan buku, jurnal ilmiah, dan berbagai dokumen lain, serta berbagai benda di dalam ruang kerja Alice Dewey.

img_4603

Bukan kebetulan Alice Dewey menjadi pembimbing dan ketua komite penguji disertasi Ann Soetoro. Ia termasuk antropolog Amerika generasi pertama yang masuk ke Indonesia pasca Proklamasi 1945. Pengetahuannya mengenai masyarakat Jawa cukup memadai. Ia memulai penelitian di Jawa pada tahun 1952 hingga 1954 untuk tesis dan disertasinya di jurusan antropologi Harvard University yang kemudian diterbitkan sebagai buku berjudul “Peasant Marketing” tahun 1962. Setelah itu, ia bolak balik ke Indonesia dan Jogjakarta.

img_4612Nama Alice disejajarkan dengan antropolog Amerika lainnya, juga dari Harvard, Clifford Geertz, yang teorinya mengenai priyayi, santri dan abangan di kalangan masyarakat Jawa hingga hari ini masih menjadi acuan peneliti dan praktisi.

Jawa dan Indonesia adalah tanah air kedua baginya. Kedekatan emosi Alice pada Indonesia sudah sebegitu dalam. Di Hawaii, ia selalu menyempatkan diri hadir ke setiap acara yang diselenggarakan masyarakat Indonesia. Dan ia kerap diminta berbicara di berbagai kesempatan itu. Alice juga menjadi penonton tetap pergelaran kelompok kesenian gamelan Jawa yang dimiliki UHM. Tak usah heran bila mendengar Alice bersenandung mengikuti nyanyian pesinden.

Sebegitu dekatnya dengan Jawa, Alice pun punya nama Jawa: Suratmi. Nama itu, cerita Alice dalam sebuah pertemuan, diberikan oleh seorang lurah. Saat saya bertanya apakah ia masih mengingat nama sang lurah, dengan mudah Alice menyebutkannya: Sumoharjo. Seperti keluarga keraton yang memberikan nama khusus kepada kereta kuda keraton, Alice pun memberikan sebuah nama untuk mobilnya: Suprobo.

img_4608Dia juga punya tokoh idola di dunia pewayangan. Saya menyebut kelima nama anggota keluarga Pandawa: Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa. Alice menggelengkan kepala. Tidak satu pun.

Lantas saya sebut nama Semar atau Putra Batara Indra. Ia kembali menggelengkan kepala.

Apakah ketiga punawakan? Kali ini Alice menggangguk. “Gareng,” katanya cepat.

Mengapa Gareng, tanya saya.

Alasan Alice sederhana. Gareng orang yang berada di tengah. Tidak terlalu menonjol seperti Petruk yang punya lakon sendiri, “Petruk Dadi Ratu”, juga tidak senang membuat onar seperti Bagong. Gareng, di mata Alice, adalah tokoh sederhana yang melihat ke semua arah.

Gareng, sang tokoh idola Suratmi alias Alice itu memang tergantung di salah satu dinding di ruang kerjanya.

img_4613

Alice yang terbilang sepuh kini tengah mengerjakan tulisan kesekiannya mengenai Jawa. Diberi judul “Guided by the Wahyu: The Yogyakarta Court in Modern Indonesia,” merupakan bagian dari buku berjudul “Traditional Powers for a Modern King: The Investiture of Sultan Hamengku Buwono X” yang diedit Nancy I. Cooper, juga profesor di UHM, mantan murid Alice, dan salah seorang teman dekat Ann Soetoro.

So, how do you feel now?” tanya saya setelah Alice berhenti membuka-buka buku Ann Soetoro itu. 

“Terkadang saya masih tak percaya. Little Barry yang dulu sering saya lihat tertawa, berlari kesana-kemari di dekat ibunya, bermain bersama adiknya, Maya, kini menjadi the one in the White House.”

Alice bercerita, beberapa waktu lalu, sebelum Obama dilantik menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat, dirinya dan seorang jurnalis yang sedang menulis biografi Ann Dunham berjalan-jalan ke pantai tempat Obama biasa berselancar alias surfing.

“Ketika itu saya baru menyadari bahwa Barry dibesarkan oleh filosofi di balik olahraga surfing,” kata Alice.

img_4567Surfing bukan olahraga yang mengajarkan kekerasan dan penaklukan. Surfing mengajarkan orang untuk memahami dan mengerti sapuan dan ayunan ombak.

It is not an easy thing. It is a power of nature. Tetapi setelah mengerti dan memahami sifat ombak, kita dapat menitinya dengan baik.”

Alice merasa, filosofi di balik surfing itu mempengaruhi sifat orang Hawaii sehingga mereka lebih damai, bisa menerima perbedaan dan hidup berdampingan dengan orang lain.

Surfing juga mempengaruhi Obama.

Obama yang lahir dan besar di Hawaii itu pun, sebut Alice, pada dasarnya sedang berselancar  di lautan politik yang ganas.

“Lihatlah, dia berhasil,” demikian Alice.

dsc07681

Advertisements

3 thoughts on “Sisi Lain Obama: Cerita Alice alias Suratmi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s