Taufiq Kiemas Proklamirkan Mega-Buwono

RAKERNAS PDIP di Solo dimulai hari ini. Agenda penting yang di tung gu masyarakat cuma satu. Siapa ca wapres yang diputuskan mendampingi Megawati?

Dikutip dari Rakyat Merdeka.

Beberapa jam sebelum kegiatan tersebut dibuka, Sri Sul­tan kelihatan sibuk wara wiri di kandang Banteng. Se olah “kampanye”, Raja Yogya itu berbicara di depan ri buan kader PDIP dalam acara Pembekalan Struktural Par tai dan Calon Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten PDIP Yogyakarta, di Jogya Expo Cen tre. Ada Taufik Kiemas (TK) yang me nyam but hangat ke datangan Sultan di situ.

Menurut TK –sapaan akrab Taufiq Kie mas— Megawati tak bisa hadir da­lam pertemuan itu. Bukan karena ber halangan, tapi bagi-bagi tugas. Mega me ngunjungi korban bencana alam di De sa Karangtengah Imogiri, Bantul. “Mbak Mega pergi ke daerah Imogiri un tuk menyapa rakyat Sri Sultan. Dan Ngar sa Dalem datang ke sini untuk me nyapa PDI Perjuangan,” kata Taufik saat pidato di depan kadernya. Pada ma lam harinya, Sultan-Mega bertemu se ka ligus makan malam bersama, di Ke­raton Yogyakarta sekitar pukul 19.00 WIB.

Di depan kader PDIP, Taufik tak ragu me muji Sultan dan Mega. Dia men­ceritakan pertemuan kedua tokoh itu se perti dua sahabat lama. Dua-duanya ada lah anak pahlawan nasional, yaitu (alm) Sukarno dan (alm) Sri Sultan Ha mengku Buwono IX.

Taufik mengatakan tidak pernah ada isu politik yang secepat ini meluas hing ga mendunia, yakni pasangan Mega-Bu wono. Dia berharap warga Indonesia bi sa mendukung duet pasangan ini. Sua sana pembekalan kader berlang sung sangat gegap gempita dan riuh ren dah dengan tepuk tangan. Apalagi saat Taufik menyebut Sultan atau Me ga.

Di tengah pidato, tiba-tiba sim pa tis an PDIP dari salah satu wilayah di Yog yakarta membentangkan spanduk ber tuliskan dukungan terhadap pa sang an Megawati dan Sri Sultan sebagai ca pres dan cawapres 2009. Taufik kemu dian meminta mereka naik ke pang gung. Spanduk itu langsung diben tang kan di panggung. Malahan, salah se orang peserta membacakan keras-keras tu lisan dalam spanduk tersebut. Isinya: DPC PDIP Kulonprogo mendukung Sri Sul tan Hamengku Buwono X men dam­pingi Ibu Megawati sebagai wakil pre si den RI periode 2009-2014. Yel-yel du kungan Mega-Buwono pun meng gema.

Taufik Kiemas tersenyum melihat ke ja dian itu. Kepada kadernya, dia me nga takan, “Mbak Mega anak pejuang, Ngar so Dalem ke X juga anak pejuang. Ngarso Dalem juga reformis, Mbak Mega juga reformis. Apa yang akan di kerjakan, mereka berdualah yang paling ta hu,” kata suami Megawati itu.

Sultan yang berada di dalam forum itu tersenyum menanggapi Taufik Kie mas dan aksi para kader PDIP. Saat di daulat berpidato, dia mengatakan ka pa sitasnya hadir di acara itu bukan sebagai ka der partai, melainkan gubernur Yog yakarta. Rupanya Sultan khawatir ada yang mengartikan kehadirannya se ba gai kampanye.

Dalam pidatonya, Sultan meng ha rap kan PDIP bisa jadi rumah demokrasi yang nyaman dari berbagai kelompok, aga ma, etnis, dan golongan. “Pancasila se bagai ideologi terbuka harus terus-me nerus disegarkan oleh kader PDIP, se hingga selalu hidup di kalbu ma sya rakat dan dapat menjadi filosofi bang sa,” katanya.

Terkait kepartaian, dia mengatakan bah wa dalam undang-undang sudah di amanat kan tujuan dibentuknya parpol ada lah untuk mewujudkan kese­jah teraan rakyat. “Dalam konteks itu, ke kuasaan bukanlah tujuan, tetapi sekadar alat untuk mencapai tujuan,” katanya.

Partai politik, kata Sultan, adalah wa hana yang tepat untuk membentuk mo ralitas kader. “Bukan kader yang sekadar tebar pe sona, tapi unjuk kinerja membangun bang sa yang memberi nilai manfaat lang sung untuk wong cilik,” kata Sul tan. Masuk Keraton Mega Berkebaya

Pertemuan antara Mega dan Sultan berlangsung di Keraton Yogyakarta. Putri Bung Karno itu mengenakan kemeja orange. Dia datang bersama suaminya, Taufik Kiemas dan beberapa pengurus PDIP.

Mega disambut Sultan yang me nge nakan batik cokelat. Keduanya, me­nuju Kraton Geni. Pertemuan ber lang sung tertutup. Sekitar 30 menit ke­mu dian, keduanya keluar dari ruangan dan berjalan menuju Pendopo Srimanganti. Tau fik Kiemas mengikuti langkah ke dua nya. Sultan lalu beranjak ke atas po dium memberikan sambutan.

Dia berpesan kepada wartawan bah wa pertemuan itu tidak jangan dikait-kaitkan dengan suasana politik. “Perlu di ingat bahwa pertemuan kami dan Ibu Me ga jangan selalu diartikan sebagai per temuan politik. Banyak yang di bahas di antaranya masalah sosial, bu daya dan kemanusiaan,” tutur dia.

Menurut Gubernur Yogyakarta itu, baik orang tuanya maupun Bung Karno ada lah pendiri bangsa yang berteman baik. “Kedua orang tua kami sama-sa ma pendiri bangsa yang berteman baik, dan diabadikan dalam sebuah gambar,” ujar nya.

Usai sambutan, Sri Sultan mem berikan sebuah foto kepada Mega wati. Foto itu peristiwa silam, saat kedua orang tua mereka, yakni Sukarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX diabadikan di masa perjuangan. Usai memberikan foto itu, Megawati, Taufik Kiemas dan rombongan PDIP dihibur dengan tari-tarian dan budaya khas Yogyakarta.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

One thought on “Taufiq Kiemas Proklamirkan Mega-Buwono”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s