Sulitnya Mencari Nama Calon Bayi

NAMA bayi, tentu saja, juga menjadi topik hangat menjelang kelahiran anak ketiga kami.

Dan faktanya, sampai hari ini kami masih belum menemukan nama yang menurut kami tepat. Beberapa bulan lalu, saat jenis kelamin bayi diperkirakan perempuan, saya dan istri sudah menyiapkan nama “Bintang Kamila Santosa”.

Nama itu, diusulkan oleh istri saya, terdengar begitu indah. Kami bertahan dengan nama itu sampai akhirnya dokter “memvonis” jenis kelamin bayi adalah laki-laki (walaupun mungkin saja saat dilahirkan nanti akan berbeda dengan perkiraan mesin USG).

Lantas, apa nama yang kira-kira cocok untuk bayi laki-laki kami?

Saat ini ada beberapa kandidat nama. Mulai dari “Tan Angkasa Santosa” yang oleh beberapa orang di keluarga kami dianggap terlalu komunis merujuk pada nama “Tan Malaka” (ibu mertua membela dengan mengatakan bahwa Tan Malaka adalah orang Minang), sampai “Tio Abraham Santosa” yang disarankan salah seorang adik saya yang terkesan dengan nama salah seorang muridnya, “Abraham Tio”.

Di luar dugaan, istri saya malah menyenangi “Tio Abraham”. Nama itu mengingatkan dia pada “Tio Pakusadewo” atau “Tio Fanta Pinem”, pesohor dari era 80-an. Kebetulan, istri dan saya adalah penggemar hal-hal yang berbau eighties.

Profesor Nevy Soguk, kelahiran Turki berdarah Turki-Kurdi yang kini memegang paspor Amerika Serikat menyarankan nama “Teguhan Muhammad Santosa”. Kata “Han”, demikian Prof. Soguk, bernilai “noble” dalam budaya Turki. Seperti kata “Syah” pada budaya Parsi.

Saya sendiri sempat berpikir untuk memberikan nama “Teguh Muhammad Santosa”. Ya, nama saya dengan tambahan “Muhammad” di tengahnya. Setidaknya, kalau disingkat akan tetap TMS, seperti “Timur Muhammad Santosa”.

Oh ya, hal ihwal nama “Timur Muhammad Santosa” dapat dilihat disini.

Tetapi kata beberapa orang, “Mikir dikit dong kalau ngasih nama anak. Masa mau mudahnya saja.” Hehehe.

Memulai nama anak laki-laki dari huruf “T” tanpa sadar saya jadikan semacam tradisi keluarga yang harus dipertahankan: seperti nama papa saya, saya dan adik saya.

Mengapa harus begitu? Entahlah. Menggelikan.

Sampai akhirnya, sebelum saya berangkat ke Hawaii, saya dan istri sepakat akan “menabrak” tradisi (menggunakan kata berawalan “T”) bila sampai detik terakhir tidak menemukan kata yang tepat.

Sambil bercanda, istri saya berkata, “Paling tidak jangan lewat 40 hari. Soalnya, kalau ngurus akta kelahiran lewat 40 hari mesti bayar denda.”

Hehehe.

Sepanjang siang hari ini, sambil mempersiapkan laporan pertanggungjawaban sebagai ketua Permias Hawaii yang harus saya sampaikan hari Sabtu nanti ( 23 Agustus 2008 ) di Kapiolani Park, saya menyempatkan diri mencari nama yang enak untuk calon bayi kami.

Di sebuah website, saya menemukan panduan untuk memberi nama pada bayi.

Dan, aturan pertama adalah: jangan terpaku pada tradisi keluarga! Kalau suka pada satu nama, ya sudah.

Tetapi, tidak bisa juga memberi nama hanya karena kita, orangtua, suka pada satu nama. Panduan berikutnya menyebutkan agar kita juga mempertimbangkan masa depan. Jangan sampai nama yang diberikan itu membebani anak di masa yang akan datang.

Inisial nama pun mesti dipertimbangkan. Itu panduan berikutnya. Banyak orangtua yang tidak memperhatikan ihwal inisial. Tetapi terkadang inisial nama bisa membikin malu si anak, dan membuatnya merasa jadi aneh.

Selain itu, sebisa mungkin menggunakan nama yang “belum ada” di keluarga. Boleh-boleh saja memberi nama anak sesuai nama salah seorang anggota keluarga. Tetapi, ini seringkali menimbulkan kebingungan. (Well, apakah ini berarti “Teguh Muhammad Santosa” harus tergusur dari nominasi?)

Latar belakang etnisitas juga penting untuk dipertimbangkan. Baby Name Guide, website yang membantu orangtua pencari nama anak, misalnya, membagi database mereka berdasarkan 21 kategori kebangsaan. Mulai dari American, Anglo-Saxon, Arabic, Celtic, Chinese, Hawaiian, German, sampai Yunani, juga ada nama berbau mitologi.

Ada panduan lain yang juga penting diperhatikan: jangan terlalu kreatif dengan nama calon bayi.

Mempertimbangkan ejaan alternatif untuk nama anak, adalah hal yang wajar. Tetapi disarankan untuk mempertimbangkan apakah nama (kata) itu memang ada, ada mengada-ada.

Panduan ini ada benarnya juga. Sering kali kita menemukan nama yang terlalu kreatif dengan maksud “eksklusif” tetapi malah jadi “aneh”. Kalau sudah begini, biasanya orang lain akan selalu kesulitan untuk menyebutkan nama sang anak, apalagi untuk menuliskannya.

Saya saja, kadang-kadang sering “gatal” bila nama saya, “Santosa”, ditulis “Santoso”. Saya tak merasa “Santosa” lebih baik dari “Santoso”. Hanya saja, “Santoso” bukan nama saya. Nah, di ijazah Unpad saya tertulis “Santoso”. Untuk memperbaiki hal itu, pihak kampus mengeluarkan surat pernyataan yang menjelaskan bahwa yang benar adalah “Santosa”.

That’s fine. Tetapi akibatnya, setiap kali saya memfotokopi ijazah S-1 dari Unpad, saya juga harus memfotokopi pernyataan errata itu.

Farah juga pernah protes di sekolahnya, saat gurunya memanggil nama belakangnya “Santoso”.

Khusus bagi pecinta nama berbau Arab, ejaan nama yang terlalu kreatif sering kali malah mengubah arti. Di halaman ini, Anda bisa menemukan kata-kata dalam bahasa Arab yang disarankan agar tidak digunakan sebagai nama anak.

Sementara di halaman ini, Anda dapat mempelajari etika memberi nama anak dari sudut pandang Islam.

Saran terakhir dari panduan memberi nama anak yang saya baca di Baby Name Guide menyarankan agar orangtua memberikan nama tengah yang bermakna khusus kepada anaknya. Untuk urusan nama tengah ini, menurut BNG, bolehlah orangtua sedikit lebih kreatif. Tetapi ingat, jangan karena ingin kreatif lantas mempersulit anak di masa depan, dan lebih dari itu mengubah arti nama dengan sangat drastis.

6 thoughts on “Sulitnya Mencari Nama Calon Bayi

  1. @anggara
    aloha. merujuk pada tulisan sebelumnya, insya allah baby kami akan lahir bulan depan, via operasi caesar. doakan agar bayi dan ibunya dalam keadaan sehat pascapersalinan.

    sayang sekali, kita tidak sempat bertemu di jakarta. tapi kalau tidak salah ingat, i did call you, ya…

  2. Bagaimana kalau namanya Aslan Bintang Kejora…?
    atau Attila Ali Angkasa.

    kalau tan angkasa dianggap kom, gimana kalau dinamai ilyas angkasa (ilyas husein itu nama lain tan malaka dan didengar cukup islami, hehehehe)

  3. Aslan itu singa. tapi kalau nanti lahir pada september, ngga pantes dinamai aslan… gimana kalau namanya arihta….. bahasa karo… artinya bersatu kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s