Kemana Joe Biden Membawa Barack Obama

BARACK Obama memilih Joseph Joe Biden sebagai calon wakil presiden yang akan mendampinginya dalam pemilihan presiden bulan November.

Beberapa saat lalu saya diwawancarai Karlina Amkas dari Voice of America (VoA) di Washington DC dan Kus dari Elshinta di Jakarta mengenai keputusan Obama itu.

Pertanyaan kuncinya adalah, apakah Joe Biden, senator gaek berusia 65 tahun dari Delaware itu, akan menguntungkan atau merugikan Obama? Bukankah Biden sebelumnya dikenal sebagai salah seorang yang meragukan kemampuan Obama sebagai presiden? Tidakkah kedua tokoh itu memiliki pandangan-pandangan politik yang berbeda? Dan, dengan Biden di sisi Obama mau dibawa kemana kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat?

Setelah dimuat di blog ini, tulisan ini juga dimuat di www.myrmnews.com.

Tadinya Biden adalah salah seorang calon anggota presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. Ia mengundurkan diri setelah pemilihan di Iowa, 3 Januari lalu. Dalam primary election itu dia hanya mendapatkan 1 persen suara.

Biden menduduki kursi Senator Delaware saat usianya baru 29 tahun, di tahun 1972. Dia pernah menjadi ketua Komisi Luar Negeri Senat (2001-2003). Dia juga pernah memimpin Komisi Hukum Senat (1987-1995). Salah satu jejak yang ditinggalkan Biden sebagai pemimpin Komisi Hukum adalah Violent Crime Control and Law Enforcement Act tahun 1994 yang juga dikenal sebagai Biden Crime Law.

Ini adalah undang-undang kriminal terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Dalam UU ini pemerintah Amerika Serikat menyediakan 100 ribu polisi baru dan 9,7 miliar dolar AS untuk penjara-penjara di seantero negeri, dan 6,1 miliar dolar AS untuk program pencegahan kriminalitas.

Biden, seperti juga banyak politisi Amerika Serikat, tadinya adalah pendukung perang Irak. Dia bahkan sempat meminta agar pemerintahan George W. Bush menambah jumlah tentara Amerika Serikat di Irak, dan ikut menghujat Saddam Hussein sebagai ancaman besar yang harus dihabiskan.

Belakangan, sikap Biden mengenai perang Irak berubah. Dia mulai mengkritik perang Irak, dan mengatakan bahwa salah satu alasannya ikut dalam pemilihan presiden Amerika Serikat adalah untuk menghentikan perang di Irak.

Bulan November 2006 dia ikut menyiapkan strategi “jalan ketiga” untuk mengakhiri kerusuhan di Irak pascainvasi Amerika Serikat. “Jalan ketiga” ini berdiri diantara pendekatan yang digunakan pemerintahan Bush dan desakan agar pasukan Amerika Serikat ditarik dari Irak. Pendekatan “jalan ketiga” juga menyarankan agar Irak menjadi negara federal, sehingga konflik segitiga yang melibatkan suku Kurdi, Syiah dan Sunni di negeri itu berakhir. Namun sepintas “jalan ketiga” ini lebih dekat kepada politik perang Bush.

Well, pengalaman Biden yang luas itulah yang tampaknya menjadi faktor utama mengapa Obama akhirnya memilih Biden. Pengalaman yang bahkan jauh lebih banyak dari Senator New York dan mantan first lady Hillary Clinton yang menjadi salah satu kandidat kuat cawapres Partai Demokrat selain Senator Indiana Evan Bayh, dan Gubernur Virginia Tim Kaine.

“Lack of experiences both in domestic and foreign policy.” Itulah kritik untuk Obama yang sampai saat ini masih sering terdengar. Tidak ada yang meragukan kharisma dan kemampuan Obama membangkitkan kembali kepercayaan dan harapan publik Amerika Serikat terhadap sistem politik negara itu.

Obama ibarat oase yang mendadak hadir di padang pasir politik Amerika Serikat. Publik Amerika Serikat begitu antusias menyambut kehadirannya. Di Hawaii, contohnya, kaukus Partai Demokrat bulan Februari lalu diikuti oleh 37 ribu anggota Partai Demokrat. Sekitar 75 persen mendukung Obama.

Rekor terakhir dalam hal keikutsertaan anggota Partai Demokrat pada rapat partai di Hawaii terjadi tahun 1988, ketika Jesse Jackson yang juga berkulit hitam ikut mencalonkan diri. Saat itu kaukus Partai Demokrat di Hawaii hanya diikuti oleh 4 ribu anggota partai.

Sebelum kaukus bulan Februari lalu, DPD Partai Demokrat di Hawaii hanya berani memasang target 15 ribu peserta kaukus. Sementara koran lokal Honolulu Advitiser memmperkirakan lonjakan hanya menyentuh angka 12 ribu. Faktanya, jumlah anggota Partai Demokrat yang menghadiri kaukus karena pesona Obama (dan juga Hillary Clinton) berkali-kali lipat dari perkiraan itu.

Tetapi, kharisma saja tentu tidak cukup untuk tetap menjadikan Amerika Serikat sebagai adikuasa di dunia. Jalan pikiran seperti ini tidak hanya dimiliki oleh kaum konservatif Amerika Serikat. Kelompok yang kritis dan muak dengan pemerintah Bush dan dominasi kelompok konservatif pun pada hakikatnya memiliki pandangan seperti itu.

Obama adalah preacher, sementara Amerika Serikat sedang membutuhkan pemimpin yang betul-betul mampu menghadirkan kembali cita-cita Amerika Serikat, menjadi negara yang tidak hanya besar dan disegani negara lain, tetapi juga melindungi warga negaranya baik secara politik maupun ekonomi. Dengan demikian wajar saja bila Biden, seperti banyak orang lainnya, sempat meragukan Obama.

Dari sisi Obama, keputusan memilih seorang politisi senior yang telah memakan begitu banyak asam garam politik adalah sebuah kemestian yang tak dapat dihindarkan. Idealisme Obama harus dipadukan dengan pragmatisme yang memungkinkan ia dapat memimpin negara itu dengan baik: membuat Amerika Serikat menjadi lebih ramah bagi warga negaranya dan warga dunia, tanpa harus meninggalkan posisi puncak sebagai polisi dunia.

Tetapi pengalaman dan pragmatisme Biden bisa juga berakibat sebaliknya, membawa Obama ke arah konservatisme baru.

Saya percaya, time will prove. Jadi kita lihat saja nanti.

Untuk sementara begini dulu. Saya harus berangkat ke Kapiolani Park. Hari ini masyarakat Indonesia di Hawaii akan berkumpul untuk merayakan HUT ke-63 Republik Indonesia. Dalam gathering nanti saya diminta membacakan teks proklamasi. Sementara itu, di ujung perayaan akan digelar pemilihan ketua Permias Hawaii periode 2008-2009. Sebelumnya, saya harus membacakan laporan pertanggungjawaban saya selama setahun terakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s