Maya Soetoro-Ng Kampanye Sampai Serak

MAYA Soetoro-Ng tetap tersenyum walau sinar matanya mengisyaratkan lelah. Lehernya tenggelam ditutupi rangkaian lei—kalung bunga warna-warni khas Hawaii.

Dengan sabar Maya menyalami pendukung kakaknya, Barack Obama, yang siang tadi waktu Hawaii (Senin, 18/2) memadati kafetaria di Farrington High School, Honolulu.

Tulisan ini dimuat di myRMnews.

Seorang murid dari Punahou yang datang bersama orang tuanya, menghampiri Maya. Ia memberikan surat yang ditujukannya untuk Barack Obama. Maya menerima surat itu dan berjanji akan menyampaikannya kepad Barack Obama.

Ini adalah hari terakhir kampanye kubu Obama di Hawaii. Besok, Selasa (19/2) atau Rabu waktu Indonesia (20/2), Partai Demokrat yang berlambang keledai akan menggelar kaukus di Hawaii. Dalam kaukus ini warga negara yang tercatat sebagai anggota Partai Demokrat dapat memberikan suara untuk menentukan siapa yang mereka dukung; Senator New York Hillary Clinton yang mantan the first lady, atau Senator Illinois kelahiran Hawaii Barack Obama.

Sejauh ini, Barack Obama tengah memimpin perolehan jumlah delegasi, kelompok politisi Partai Demokrat yang akan menghadiri Konvensi Nasional bulan Agustus nanti. Dalam Konvensi Nasional itulah Partai Demokrat akan menentukan siapa yang mewakili partai itu pada pemilihan presiden AS.

Walau untuk sementara berhasil menumbangkan dominasi Hillary Clinton, Barack Obama berpesan kepada para pendukungnya di seantero negeri agar jangan lengah dan jangan sampai memandang sepele kaukus maupun primary election yang masih akan digelar di beberap negara bagian.

Kembali ke Maya.

Ketika tiba di depan saya, senyum Maya semakin mengembang. “Hai,” katanya dalam bahasa Indonesia.

“Aduh, suara saya serak nih,” katanya memegang lehernya yang ditutupi tumpukan lei.

Sebagai juru kampanye utama di Hawaii, Maya telah mengunjungi banyak tempat dan banyak pulau di Hawaii. Hari Sabtu lalu dia berkampanye di Maui. Sebelumnya, hari Jumat lalu dia berkampanye di depan civitas academica University of Hawaii at Manoa (UHM).

Seperti kedua orang tuanya, Lolo Soetoro dari Indonesia dan Stanley Ann Dunham dari Kansas, Amerika, Maya juga memperoleh PhD dari UHM. Suami Maya, Konrad Ng, juga meraih PhD di jurusan ilmu politik UHM.

Kini dia mengajar sejarah di sebuah sekolah khusus wanita, La Pietra. Kesibukannya di masa-masa kampanye membuat dia harus meninggalkan ruang kuliah dan murid-muridnya untuk sementara.

“Saya hari Sabtu kemarin ke Pulau Maui. Kampanye disana. Banyak orang,” Maya melanjutkan ceritanya, menjelaskan mengapa ia tampak kelelahan.

Dari Maui, hari Minggu kemarin Maya berkampanye di Kapiolani Park, Waikiki.

“Mbak Maya pasti capek sekali. Tapi kayaknya udah cocok kampanye untuk jadi anggota parlemen nih,” kata saya berkelakar.

Dia tersenyum menyambut kelakar itu, dan melanjutkan langkahnya menyapa para pendukung Barack Obama.

Waktu pertama kali bertemu di UHM dan tahu saya dari Indonesia, Maya memilih menggunakan bahasa Indonesia. Tetapi begitu saya mengajukan pertanyaan on the record, Maya mendahului saya bertanya.

“Mesti pakai bahasa Indonesia? Boleh gak pakai bahasa Inggris?”

Saya jawab, “Sure.” Puluhan pendukung Barack Obama memang sedang mengelilingi Maya ketika itu. Jadi, wajar saja bila Maya ingin agar peryataan-pernyataannya kepada media juga dimengerti oleh pendukung kakaknya.

Selain bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, Maya juga fasih berbahasa Spanyol. Dalam sebuah kesempatan Maya mengatakan, bahasa Spanyol ini untuk mengimbangi wajahnya yang memang mirip dengan wajah orang Latin.

“Barack Obama dapat dipercaya. Saya mengenal dia seumur hidup saya. Dan saya tahu bagaimana dia memperhatikan masyarakatnya,” kata Maya ketika didaulat berbicara di tengah para pendukung Barack Obama di Farrington tadi.

“Sejak masih kecil dia telah memberikan perhatian kepada orang-orang yang membutuhkan. Dia membantu saya, meyakinkan saya bahwa saya dapat menjadi orang yang lebih baik. Dia menolong kita, meyakinkan kita, untuk menjadi bangsa yang lebih baik,” sambungnya.

Banyak hal positif yang dimiliki Barack Obama, masih kata Maya. Antara lain adalah keberagaman budaya yang melahirkan dan membesarkannya.

“Dia belajar banyak dari kehidupan kita yang beragam dan penuh toleransi di Hawaii ini, dan dia bawa nilai-nilai itu untuk selanjutnya dia kembangkan dan bagikan kepada saudara kita di seluruh dunia.”

Obama mengunjungi Hawaii setiap tahun. Bukan karena di Hawaii dia dapat hidup enak, memakan makanan yang enak, sashimi yang segar, atau pantainya yang indah.

“Tetapi karena dia tahu, bahwa di Hawaii ini dia belajar banyak hal tentang keberagaman, dan penghormatan di tengah keberagaman,” demikian Maya.

2 thoughts on “Maya Soetoro-Ng Kampanye Sampai Serak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s