Fitnah Wal Jamaah (Tak Bermaksud Memojokkan)

Selamat atas hari pers sedunia…

Pada satu sisi, saya secara pribadi mengakui adanya kemajuan kemerdekaan pers di Indonesia dan seiring dengan itu saya juga mengakui adanya manfaat adanya kemerdekaan pers sebagai alat kontrol, terutama bagi kekuasaan dan penciptaan good governance di negeri ini. Bayangkan dengan adanya pers yang independen dan berani, semakin orang mikir lebih dari dua kali untuk berbuat yang neko-neko.

Tulisan ini merupakan komentar yang disampaikan seorang pembaca yang menggunakan nama Maya (bukan Maya Soetoro, kan?) atas posting berjudul Jangan Biarkan Kemerdekaan Pers Terampas. Maya meminta agar jurnalis merenungkan kembali arti kebebasan pers, jangan sampai atas nama kebebasan pers jurnalis tega memakan bangkai saudara sendiri. Di akhir tulisan Maya mengatakan, komentarnya ini tidak dimaksudkan untuk memojokkan (korps jurnalis). Semoga bermanfaat.

Tapi disisi yang laen, ada juga (dan itu banyak) yang menggunakan kemerdekaan pers itu untuk tujuan-tujuan yang kurang (tidak) mulia dan bahkan keji. Pers digunakan untuk menyerang dan menjatuhkan lawan-lawan politik dan lawan bisnisnya. Pers, atas nama kebebasan (bahkan sebetulnya atas nama bayaran), melakukan investigasi yang mendalam guna mencari kesalahan dan pada ujungnya menjatuhkan pihak yang diinvestigasi agar citranya menjadi buruk.

Atas nama kebebasan dan kemerdekaan pers pula, para wartawan dengan bebas secara bebas menyerang pihak lain dengan fitnah, setelah dikejar dengan sumber dari mana, kembali dia mengelak bahwa kami berkewajiban melindungi dan merahasiakan narasumber kami. Bahkan kadang-kadang sempat terbersit di benak saya, dengan adanya kemerdekaan pers ini koq seakan-akan Indonesia ini sudah melegalkan faham “FITNAH WALJAMAAH”, dimana pemfitnah ini sudah menjadi trend dan dilembagakan serta dilindungi undang-undang. Semoga ini tidak terjadi. Tapi mohon juga jadi renungan rekan-rekan wartawan, jangan sampai atas nama kebebasan, semua rame-rame dengan sengaja tega “memakan bangkai saudaranya”, naudzubillahi mindzalik.

Selain itu seakan-akan para wartawan ini menjadi orang yang kebal hukum/above the law. Betapa tidak, selalu saja kalau sedikit saja ada pembatasan yang menyangkut kebebasan (baca: kebablasan) pers, pasti semua wartawan membicarakan dan menggugatnya. Yang menjadi konsens dan kekhawatiran para wartawan hanya adanya ancaman hukuman. Sekanan-akan mereka menginginakn agar tidak ada lagi aturan sekecil apapun terhadap pekerjaan mereka dan jangan sampai kami ini dihukum karena kami adalah raja sekarang. kalau ada wartawan yang terkena kasus, pasti rekan seprofesinya dengan segala daya dan upaya menciptakan opini bahwa wartawan ybs pasti benar dan yang menjadi lawan pasti salah.

Demikian mas timur, tidak bermaksud memojokkan tapi sekedar beropini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s