Predator

0300
Amerika tak punya satu serdadu pun yang kehebatannya menyerupai Rambo. Di Afghanistan, serdadu Amerika berada puluhan kilometer di belakang garis pertempuran. Mereka duduk di depan komputer. Mengatur semua serangan dari bunker ber-AC. Bukit dan gua di pegunungan Tora Bora dibombardir Amerika sesuka hati. Mereka kira, dengan menghancurkan Tora Bora, Osama bin Laden, pemimpin Al Qaeda, orang yang bagi Amerika paling bertanggung jawab terhadap hancurnya menara WTC di New York sana, akan keluar dan menyerahkan diri. Kalau pun tidak, tewas bersama runtuhan dinding gua.

Satu dekade terakhir, lompatan teknologi perang Amerika luar biasa. Dunia menyaksikan, sekaligus menjadi korban, kecanggihan teknologi perang itu. George W Bush Cs tak lagi membutuhkan pengadilan untuk menghabisi riwayat orang yang dianggapnya sebagai musuh.

Di bunker-bunker yang sejuk itu, jauh dari sengatan matahari dan angin dingin gurun yang menggigit, serdadu Amerika menentukan titik kordinat sasaran dengan bantuan teknologi global position system (GPS). Lalu, klik, target dikunci, dan klik lagi, bom ditembakkan.

Terkadang bom itu harus dijatuhkan dari langit. Pun tak dibutuhkan manusia untuk tugas ini. Instal saja bom itu pada pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicles (UAV). Di darat, serdadu Amerika menentukan titik kordinat sasaran. Dalam hitungan menit, bisa juga detik, orang yang diinginkan mati, mati.

Contoh paling mutakhir yang memperlihatkan kehebatan militer Amerika pasca perang Afghanistan adalah pembantaian Salim Sinan al Harethi di Yaman bulan November lalu. Laki-laki yang dituduh Amerika sebagai gembong Al Qaeda ini tewas bersama lima temannya. Toyota yang dikendarai Harethi musnah diterjang misil pintar Hellfire Amerika.

Dari mana datangnya misil itu? Dari langit, diluncurkan pesawat tanpa awak bernama RQI Predator.

Ukuran Predator kecil saja. Panjangnya 27 kaki, lebar bentangan sayap 45 kaki. Kemampuan terbangnya 16 jam. Predator dilengkapi semacam kamera yang bisa menangkap apapun gerakan sang target. Terlepas dari kecanggihan teknologi perang itu, Amerika tepuk tangan. Bagi mereka, tugas telah dilaksanakan. Target telah dimusnahkan selamanya dari muka bumi.

Bayangkan bila beberapa pesawat Predator hilir mudik di atas langit sana. Mereka mengincar tokoh-tokoh yang dianggap musuh oleh Amerika. Presiden Irak Saddam Hussein, pemimpin spritual Iran Imam Khomenei, Presiden Korea Utara Kim Jong Il, Presiden Syria Bashar Al Assad dan pemimpin Hizbullah Sayyid Hasan Nasrullah Al Hussein. Bisa jadi Presiden Prancis Jacques Chirac dan Kanselir Jerman Gerhard Schroder yang menghambat rencana Amerika menyerang Irak, juga masuk dalam daftar orang yang mesti dibantai.

Tapi, bukan tidak mungkin, Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Perdana Menteri Spanyol Jose Maria Aznar, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi dan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon juga tengah diincar mesin pembunuh Amerika. Seorang saja dari mereka terbunuh, Amerika mendapat alasan baru untuk semakin menggila. Irak, Korea Utara, Iran, Hizbullah, Al Qaeda jadi kambing hitam paling empuk untuk disalahkan.

Daftar ini bisa bertambah panjang. Nama Ketua UNMOVIC Hans Blix, Ketua IEAE Mohammad El Baredai dan Sekjen PBB Koffi Anan mungkin juga ada di dalamnya. Bagaimana dengan tokoh-tokoh lain, seperti Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad? Mungkin. Presiden Korea Selatan yang baru dilantik, Roh Moo Hyun juga mungkin bakal dibantai. Bagi Amerika aksi seperti ini bukan persoalan sulit. Bagai kentut saja kok.[t]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s