Pejabat Taiwan: Indonesia Perlu Belajar Dari Malaysia, Hati-hati Jebakan China

385233_09331313072018_9306939d-3e24-4f0e-8e69-1e6d72911111

BERBAGAI program kerjasama yang ditawarkan Republik Rakyat China (RRC) mesti dipelajari dengan lebih teliti. Sepintas, China seakan menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan.

Tetapi pengalaman di sejumlah negara memperlihatkan bahwa kerjasama yang didorong ambisi China menciptakan blok One Belt One Road (OBOR) itu seringkali terbukti sebagai janji kosong, atau bahkan jebakan.Read More »

Dubes Kim Changbeom: Indonesia Adalah Partner Alami Korea

497271_07081711072018_Dubes_Korsel-1

DUTABESAR Republik Korea atau Korea Selatan, Kim Changbeom, senang bisa kembali ke Indonesia. Dia menganggap Indonesia adalah negeri keduanya, dan penugasannya di Jakarta kali ini seperti pulang kampung saja.

Alumni Seoul National University (SNU) yang meraih gelar doktor dari John Hopkins University ini ditugaskan pertama kali ke Indonesia pada 2003-2005. Sebelum itu dia bertugas di Kedubes Korsel di Amerika Serikat (1998-2001), Pakistan (1993-1995), dan Jepang (1987-1995).Read More »

Menuju Pilpres 2019, Ini Tugas Media dan Lembaga Survei

IMG_3195Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018 memperlihatkan watak asli kompetisi politik yang pragmatis. Apa yang sebelumnya diyakini sebagai nilai dan kepentingan absolut ternyata bisa dinegosiasikan.Read More »

Teguh Santosa: Kunjungan Kohler Gestur Positif Ciptakan Perdamaian di Sahara Barat

Marrakesh 2014

SONY DSC

SONY DSC

Kunjungan Utusan Pribadi Sekjen PBB Horst Kohler ke wilayah Sahara di selatan Maroko dipandang tepat dan merupakan gestur positif dalam konteks membangun pondasi perdamaian abadi.

Dalam kunjungan itu Kohler dapat menyaksikan komitmen pemerintah Maroko membangun dan mensejahterakan kawasan yang juga dikenal sebagai Sahara Barat.

Demikian dikatakan Koordinator Solidaritas Indonesia untuk Sahara (Soli Sahara) Teguh Santosa dalam keterangan kepada media.Read More »

PWI dan ACJA Teken Kerjasama dalam Kerangka Belt and Road dan Poros Martim Dunia

2018 06 PWI ACJA1

2018 06 PWI ACJA2

HAL paling esensial yang harus dimiliki setiap wartawan dalam melaksanakan tugas kewartawanannya adalah itikad baik. Mengandalkan kemajuan teknologi tanpa mengiringinya dengan itikad baik bisa membuat wartawan dan media massa menjadi produsen informasi yang dipenuhi ujaran kebencian dan kebohongan. Read More »

Kim Jong Un Bertemu Donald Trump, Intuisi Rachmawati Terbukti

1529403481

Di Indonesia, nama Rachmawati Soekarnoputri tidak bisa dipisahkan dari Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara.

Putri Bung Karno inilah yang kembali menghangatkan hubungan kedua negara yang sempat dingin di era Orde Baru. Pada tahun 2000 Rachma mengunjungi Pyongyang, ibukota Korea Utara, dan selanjutnya mendirikan dan memimpin Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara.

Di tahun 2001, bersamaan dengan peringatan hari lahir Bung Karno yang ke-100, Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) yang didirikan dan dipimpin Rachma menyerahkan Star of Soekarno kepada sejumlah tokoh dunia, di antaranya Kim Il Sung sang pendiri Korea Utara.

Tokoh dunia lain yang menerima Star of Soekarno di tahun 2001 itu adalah Ho Chi Min dari Vietnam, Jawaharlal Nehru (India), Sun Yat Sen (China Taipei), Norodom Sihanouk (Kamboja), George Washinton (Amerika Serikat), Josep Broz Tito (Yugoslavia), Ahmed Ben Bella (Aljazair), Charles De Gaulle (Prancis), Yaser Arafat (Palestina), Nelson Mandela (Afrika Selatan), Saddam Hussein (Irak), dan Ki Hajar Dewantara (Indonesia).

Di tahun 2015, YPS kembali menyerahkan Star of Soekarno. Kali ini hanya kepada empat tokoh dunia. Mereka adalah Mahathir Mohamad (Malaysia), Hugo Chavez (Venezuela), Fidel Castro (Kuba), dan Kim Jong Un (Korea Utara).

Dari keempat tokoh itu, hanya Mahathir Mohamad yang menerima Star of Soekarno secara langsung dalam upacara penganugerahan di Hotel Borobudur Jakarta, bulan September 2015. Tiga tokoh lainnya diwakili oleh Kedutaan Besar negara masing-masing di Indonesia.

Setelah penyerahan di Jakarta, Rachma mengutus Sekjen PPIK, Teguh Santosa, mengantar Star of Soekarno untuk Kim Jong Un ke Pyongyang. Di Pyongyang, Star of Soekarno itu diterima Presiden Korea Utara Kim Yong Nam dalam sebuah upacara resmi di Istana Presidium Tertinggi Rakyat Korea.

“Waktu kami memutuskan menyerahkan Star of Soekarno kepada Kim Jong Un banyak yang mencemooh kami. Saya dihujat banyak orang, disebut sudah hilang akal karena menyerahkan penghargaan yang menggunakan nama proklamator kemerdekaan Indonesia untuk seorang diktator seperti Kim Jong Un,” cerita Rachmawati ketika dikunjungi media di kediamannya di Jalan Jatipadang Raya, Jakarta Selatan, Minggu (17/6).

Menurut Rachma, dirinya tidak mundur karena dia yakin hujatan seperti itu hanya datang dari kalangan yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengetahui apa yang sedang terjadi di Semenanjung Korea.

“Mereka yang menghujat hanya mendapatkan informasi sepihak dari media Barat yang sarat kepentingan Barat, tanpa memiliki pengalaman berinteraksi dengan publik Korea Utara dan pemimpin-pemimpin Korea Utara,” sambung Rachma lagi.

Rachma jalan terus dan tidak berpikir sedetik pun untuk berhenti. Dia dan PPIK terus menjalin hubungan baik dengan pihak Korea hingga kini. Bulan April lalu, bersama budayawan Jaya Suprana, Rachma mengundang pianis muda Korea Utara untuk tampil dalam konser perdamaian di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Sambung Rachma, setelah pertemuan antara pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong dengan Presiden Korea Selatan Moon Jaein dan Presiden AS Donald Trump, publik baru memahami bahwa ada sisi lain Korea Utara yang selama ini sengaja dikaburkan oleh pihak Barat.

“Korea Utara bukan bangsa dan negeri barbar yang ingin mengobarkan peperangan dan menyebarkan ketakutan. Negeri itu dibangun untuk tujuan-tujuan damai. Tetapi tentu saja, mereka lebih mencitai kemerdekaan. Manakala negara mereka diancam oleh pihak lain, mereka merasa berkewajiban untuk menghadapi agresor,” ujar Rachma lagi.

Ketika memberikan penjelasan ini, Rachma didampingi Sekjen PPIK Teguh Santosa yang melaporkan jalannya pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump di Singapura, pekan lalu.

Dalam kesempatan itu, Teguh mengatakan, secara pribadi dirinya salut dengan intuisi Rachmawati dalam melihat perkembangan politik global.

“Mbak Rachma seperti memiliki indera keenam dalam melihat perkembangan politik global. Pertimbangan-pertimbangan politik beliau, khususnya mengenai Korea Utara, terbukti benar,” ujar Teguh.

“Terkait dengan proses perdamaian di Semenanjung Korea, kami menilai, pihak Amerika Serikat harus membuktikan pernyataan Donald Trump yang ingin menghilangkan wargames dan kebijakan mereka yang selama ini menekan Korea Utara,” demikian Teguh Santosa. [***]