Maradona Itu Argentina

Hari ini, 30 Oktober, Diego Armando Maradona berulang tahun. Yang ke-59.

Seorang penyiar radio mengumumkannya. Dia suka Maradona, suka bola karena Maradona. Dia juga menyebut soal gol tangan tuhan Maradona dalam pertandingan melawan Inggris di perempat final Piala Dunia 1986. Saya kira sang penyiar segenerasi kita.

Continue reading “Maradona Itu Argentina”

Mewujudkan Mimpi Emas Jokowi

PRESIDEN Joko Widodo membuka pidato pelantikannya dengan sebuah mimpi: Indonesia maju pada 2045.

Indikator kemajuan Indonesia yang dimimpikan itu, pertama pendapatan per kapita Rp 320 juta per tahun; kedua, PDB sebesar 7 triliun dolar AS; dan ketiga Indonesia masuk dalam kelompok G-5. Juga dimimpikan angka kemiskinan mendekati nol.Tak ada salahnya bermimpi. Banyak hal besar diawali dengan mimpi.

Indonesia maju pun sudah dimimpikan berkali-kali. Sejak jaman penjajahan, dan berbuah kemerdekaan. Pemerintahan SBY di tahun 2007 juga merumuskan mimpi kemajuan Indonesia. Tahun yang dijadikan patokan adalah 2030, 15 tahun lebih awal dari mimpi yang disampaikan Jokowi barusan.

Continue reading “Mewujudkan Mimpi Emas Jokowi”

Hubungan Jokowi-Prabowo Spesial, Biduk Lalu Kiambang Bertaut

Pemilihan Presiden bulan April 2019 lalu sesungguhnya bukan pertarungan pribadi antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Melainkan pertarungan gagasan untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Adapun Jokowi dan Prabowo memiliki hubungan yang sangat spesial. Prabowo bukan sosok asing bagi Jokowi. Prabowo yang mempromosikan Jokowi dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2012.

“Di tahun pertama periode 2014-2019, Jokowi berkunjung ke kediaman Prabowo di Hambalang. Mereka naik kuda. Jokowi nyaman bersama Prabowo,” kata Pemimpin Umum RMOL Network, Teguh Santosa, dalam diskusi di CNN Indonesia, ditulis Sabtu (19/10).

Teguh menggambarkan hubungan Jokowi dan Prabowo itu dalam pepatah Melayu yang berbunyi: biduk lalu kiambang bertaut.

Continue reading “Hubungan Jokowi-Prabowo Spesial, Biduk Lalu Kiambang Bertaut”

Fragmen Revolusi

Saya pernah bertanya pada Dubes Kuba di Jakarta, Nirsia Castro Guevara, ada apa dengan Che Guevara dan Fidel Castro? Mengapa Che meninggalkan Kuba? Apakah karena Castro tak dapat menerima kritik Che pada Uni Soviet yang menurutnya adalah emporium juga?

(Walau memiliki kata Castro dan Guevara di namanya, namun Dubes Nirsia Castro Guevara tidak memiliki hubungan darah dengan keduanya.)

***

Bisa Anda gambarkan hubungan antara Che Guevara dan Fidel Castro?

Setelah kemenangan revolusi kami, Che Guevara ditunjuk sebagai menteri perindustrian dan gubernur bank nasional. Dia juga mewakili negara kami di banyak forum internasional.

Tetapi di sisi lain, sebenarnya Che Guevara juga punya satu keinginan, yakni melanjutkan perjuangan melawan kolonialisme dan membebaskan negeri-negeri yang masih berada di bawah penjajahan asing. Dia ingin melanjutkan perjuangan membebasakan negeri-negeri itu. Dia merasa bahwa sudah menjadi tugas dan kewajibannya untuk membantu mereka.

Dia sempat menulis sebuah buku tentang perang gerilya. Di dalam buku itu dia menuliskan pengalaman melawan diktator Kuba dan berharap pengalaman itu dipelajari oleh sebanyak mungkin orang.

Ketika merasa saatnya sudah tepat untuk meninggalkan Kuba, Che Guevara pergi ke Kongo untuk membantu gerakan kemerdekaan di sana. Tetapi karena situasi di Afrika tidak mendukung, dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Bolivia.

Dari Bolivia dia kembali sebentar ke Kuba. Kali ini dia mengajak kelompok kombatan yang ikut bersama dirinya pada masa revolusi Kuba. Bersama mereka, Che Guevara kembali ke Bolivia dan setelah itu kita tahu apa yang terjadi. Dia ditangkap tentara pemerintahan diktator Bolivia, dan dieksekusi pada 9 Oktober 1967.

Apakah ada pesan terakhir Che Guevara sebelum meninggalkan Kuba? Apa yang dikatakannya?

Hubungan Che Guevara dan Fidel Castro sangat tulus. Bila kita membuka dokumen sejarah, sebelum meninggalkan Kuba, Che Guevara menulis sebuah surat perpisahan untuk Fidel dan rakyat Kuba. Surat itu tidak rilis sampai kematiannya dipastikan.

Mengapa tidak segera dirilis dan diumumkan oleh Fidel Castro?

Menurut Fidel Castro, kalau surat itu diumumkan tak lama setelah Che Guevara meninggalkan Kuba, maka pihak lawan akan mengetahui bahwa Che Guevara tidak berada di Kuba melainkan sedang berada di tempat lain untuk melakukan perlawanan. Ini tentu akan berbahaya bagi keselamatan Che Guevara.

Jadi, Fidel Castro memutuskan menyimpan surat itu sampai kabar kematian Che Guevara terbukti. Fidel Castro membacakan surat itu dalam sebuah upacara untuk mengenang Che Guevara.

Di dalam surat itu Che mengatakan, kira-kira begini kalau diterjemahkan, “Saya memiliki tugas yang tidak bisa Anda lakukan. Saya ingin melanjutkan menyebarkan revolusi.”

Jadi bukan karena mereka memiliki perbedaan pandangan terkait hegemoni Uni Soviet?

Bukan karena itu. Mereka adalah dua sahabat yang kerap berdiskusi dan memiliki saling pengertian dan ketulusan dalam perjuangan.

Di Institut Che Guevara semua rekaman perjalanannya termasuk ke Indonesia dipamerkan oleh keluarga.

Apakah Che Guevara dianggap sebagai pahlawan nasional?

Ya, tentu saja. Bahkan hari-hari ini kami sedang memperingati kematian dirinya. Di Kuba murid-murid di sekolah diajarkan untuk mengikuti keteladanan Che Guevara.

***

Che Guevara ditangkap pasukan Bolivia dan dieksekusi di dalam ruang kelas di sebuah sekolah di La Higuera, 9 Oktober 1967. Sembilan peluru menghujam tubuhnya.

Mendengar kabar kematian Che, Fidel awalnya menolak untuk percaya.

Tentara Bolivia memotong kedua tangan Che dan mengirimkannya ke Argentina, lalu ke Kuba untuk mengkonfirmasi kematian Che.

Tubuh Che Guevara dimakamkan di sebuah tempat yang dirahasiakan. Di tahun 1995 seorang pensiunan tentara Bolivia membongkar misteri kuburan Che dan beberapa temannya.

Tahun 1997 kuburan itu dieskavasi, dan tulang belulang Che dibawa ke Kuba, ke tempat peristirahatan terakhirnya di Santa Clara.

Untuk Hentikan Gerakan Sosial Keadilan Harus Dihadirkan

GERAKAN sosial, seperti protes, demonstrasi, bahkan pemberontakan sekalipun, dipicu oleh ketidakadilan baik secara politik, ekonomi, hukum, dan sebagainya, yang dirasakan sebagian warganegara.

Pihak yang berkuasa seringkali memandang kekecewaan pihak yang merasa diperlakukan tidak adil sebagai kemarahan atau kebencian. Karena memandang gerakan sosial sebagai kebencian, seringkali penguasa menghadapinya dengan coercive.

Continue reading “Untuk Hentikan Gerakan Sosial Keadilan Harus Dihadirkan”

Anies Baswedan Gubernur Yang Menyenangkan

Di tengah kesibukan menjalankan tugas, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyempatkan diri menemui siswa SD Laboratorium, Pondok Kopi, Jakarta Timur yang berkunjung ke kantornya di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa pagi (15/10).

Kunjungan itu adalah bagian dari kegiatan pendidikan luar ruang. Mereka datang didampingi Kepala SD Ibu Isnarti MM dan sejumlah guru, juga Ketua Komite Sekolah Ibu Intansari Fitri dan sejumlah anggota Komite Sekolah. Plt. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Syaifullah, juga ikut hadir mendampingi.

Anies Baswedan gubernur yang menyenangkan. Anak-anak SD Laboratorium awalnya tampak tegang dan kaku sejak memasuki kompleks kantor Gubernur DKI Jakarta. Apalagi saat mereka dipersilakan duduk di deretan kursi berformasi tapal kuda di ruang rapat pimpinan di bagian dalam Pendopo.

Wajah mereka terlihat jadi jauh lebih rileks, saat Anies Baswedan muncul di hadapan mereka dengan senyum lebar. Anies menyapa anak-anak yang sudah rapi menunggunya.

Continue reading “Anies Baswedan Gubernur Yang Menyenangkan”

Havana Onana

Saya tak menyangka kemarin sore akan mendengarkan sebuah kisah romansa dari sejarawan asal Brisbane, Australia, Greg Poulgrain.

Saya mengenal Greg beberapa tahun lalu. Dia menghubungi kami, menjajaki kemungkinan membuat film dokumenter dari salah satu buku yang ditulisnya, The Incubus of Intervention.

Buku itu berkisah tentang persaingan atau pertarungan kepentingan antara Presiden AS John F. Kennedy dan Direktur CIA Allen Dulles. Dari sekian pertarungan di antara keduanya ada yang melibatkan Indonesia dan Bung Karno. Kontestasi berakhir bersama dengan tewasnya JFK pada November 1963.

Kisah yang luar biasa; membicarakan kepentingan-kepentingan abadi aktor negara dan aktor non-negara superpower di negeri-negeri bekas jajahan yang baru memerdekakan diri di era dekolonisasi.

Continue reading “Havana Onana”