Gracias Fidel

Santa Clara, Ibukota Villa Clara, Kota Che Guevara. Sekitar 260 kilometer dari Havana ke arah tenggara. Didirikan tahun 1689.

Pertempuran Santa Clara di akhir Desember 1958 menjadi penentu kemenangan Revolusi Kuba. Adalah Che Guevara bersama pasukannya, di fase terakhir pertempuran berhasil melumpuhkan kereta baja berisi tentara cadangan dan peralatan tempur yg dikirim Fulgencio Batista utk memperkuat pasukannya yg sedang menghadapi pasukan Fidel Castro di Santiago de Cuba.

Gracias Fidel

Perang Dagang Ini Harus Dikapitalisasi

BERADA di ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut di pegunungan timur Peru, Machu Picchu diperkirakan dibangun di era Raja Pachacuti yang berkuasa di Inca dari tahun 1438 sampai 1472. Pada pertengahan abad ke-16 bersamaan dengan kedatangan bangsa Spanyol, komplek Machu Picchu ditinggalkan dan perlahan menjadi reruntuhan.

Di tahun 1911 arkeolog dari Universitas Yale, Amerika Serikat, Hiram Bingham III, menemukan reruntuhan Machu Picchu dan mengeksposnya sehingga menjadi tujuan wisata dunia. Di tahun 1983, UNESCO menyatakan Machu Picchu sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.

Machu Picchu hanya satu dari sejumlah sumbangan Peru pada peradaban dunia. Sumbangan lainnya yang sangat terkenal, dan masih jarang diketahui, adalah kentang.

Belum banyak yang tahu kentang tanaman asli Peru. Menurut Dutabesar Republik Peru, Julio Cardinas, negaranya memiliki lebih dari 3.000 jenis kentang. Sedemikian seriusnya Peru pada kentang, sebuah lembaga studi khusus didirikan untuk budidaya kentang. Namanya Centro Internacional de la Papa, atau Pusat Kentang Internasional.

Perang Dagang Ini Harus Dikapitalisasi

Nenek Kim Jong Un

Sebenarnya topik ini sudah tidak (begitu) menarik utuk dibicarakan. Menurut saya.

Tapi masih ada teman yang bertanya, apakah benar yang tampil dalam peresmian pabrik pupuk di Sunchon pada May Day yang lalu adalah benar-benar Kim Jong Un.

Saya jawab: iya dong.

“Bagaimana dengan giginya yang tak sama?” tanya kawan ini.

Nenek Kim Jong Un

Dua Wajah Kim Jong Un

Hari ini beberapa teman mengirim sebuah foto yang membandingkan “dua wajah” Kim Jong Un.

Satu disebutkan diambil dari kegiatan peresmian pabrik pupuk di Sunchon, pada Hari Buruh, 1 Mei lalu.

Sementara satu lagi dari foto lama Kim Jong Un.

Dua Wajah Kim Jong Un

Kim Jong Un di Sunchon

Di Hari Buruh, 1 Mei 2020, Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un meresmikan pabrik pupuk di Sunchon, Provinsi Pyongan Selatan.

Kemunculan Kim Jong Un ini mematahkan berbagai spekulasi dan fantasi mengenai kesehatan dan keselamatan jiwanya yang ramai dibicarakan dalam dua pekan terakhir.

Kim Jong Un di Sunchon

Terkait Pengaruh Arab Spring Untuk Saudi, Teguh Santosa: Tidak Bisa Dipaksakan Dengan Resep Generik

Peristiwa Arab Spring sedikit banyak mengubah lanskap politik dan sistem ketatanegaraan di sejumlah negara Arab, baik di Timur Tengah maupun Afrika Afika.

Hingga kini “gelombang perubahan” itu pun masih menyisakan persoalan, seperti di Suriah dan Yaman.

Hal ihwal mengenai akhir dari Arab Spring yang bermula di tahun 2011 ini dibahas dalam diskusi daring yang diselenggarakan Pusat Kajian Tajdid Institute, Jumat sore (1/5).

Diskusi menghadirkan tiga pembicara, yakni pengamat Timur Tengah dan Dunia Islam, Hasibullah Satrawi; Presiden Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko, Teguh Santosa; dan Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP Persis, Yusuf Burhanuddin. Diskusi dipandu oleh Prof. Atip Latipulhayat.   

Terkait Pengaruh Arab Spring Untuk Saudi, Teguh Santosa: Tidak Bisa Dipaksakan Dengan Resep Generik

Lewati Arab Spring Tanpa Pergantian Rezim, Teguh Santosa: Maroko Berhasil Perbesar Pengaruh Di Afrika

Selain mampu melewati Arab Spring tanpa gejolak politik yang berarti, Kerajaan Maroko juga berhasil mengembalikan posisi sebagai pemain utama di benua Afrika.

Sejak era Perang Dingin, khususnya pada pertengahan 1970an, Maroko diganggu kelompok separatis yang ingin memisahkan diri. Kelompok separatis ini ditampung di negara tetangga Aljazair, dan pada masa Perang Dingin mendapat dukungan dari blok Timur, dalam hal ini Uni Soviet, Aljazair, dan Libya.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko, Teguh Santosa, keberhasilan Maroko membuktikan diri sebagai negara yang menghormati prinsip-prinsip demokrasi membuat negara itu tampil lebih percaya diri dalam memperjuangkan keutuhan wilayah.

Lewati Arab Spring Tanpa Pergantian Rezim, Teguh Santosa: Maroko Berhasil Perbesar Pengaruh Di Afrika

Hebatnya Maroko, Melakukan Mitigasi Jauh Sebelum Arab Spring

Gelombang perubahan di negara-negara Arab yang dikenal dengan istilah Arab Spring masih menyisakan sejumlah persoalan hingga saat ini.

Dari sekian banyak negara yang sempat dihumbalang Arab Spring, Kerajaan Maroko di Afrika Utara termasuk yang dapat melaluinya dengan baik.

Maroko tidak mengalami gejolak politik yang mengakibatkan kejatuhan rezim seperti yang terjadi di Tunisia, Libya dan Mesir, serta beberapa negara Arab di Timur Tengah.

Hebatnya Maroko, Melakukan Mitigasi Jauh Sebelum Arab Spring

Terkait Pengaruh Arab Spring Untuk Saudi, Teguh Santosa: Tidak Bisa Dipaksakan Dengan Resep Generik

Peristiwa Arab Spring sedikit banyak mengubah lanskap politik dan sistem ketatanegaraan di sejumlah negara Arab, baik di Timur Tengah maupun Afrika Afika.

Hingga kini “gelombang perubahan” itu pun masih menyisakan persoalan, seperti di Suriah dan Yaman.

Hal ihwal mengenai akhir dari Arab Spring yang bermula di tahun 2011 ini dibahas dalam diskusi daring yang diselenggarakan Pusat Kajian Tajdid Institute, Jumat sore (1/5).

Diskusi menghadirkan tiga pembicara, yakni pengamat Timur Tengah dan Dunia Islam, Hasibullah Satrawi; Presiden Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko, Teguh Santosa; dan Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP Persis, Yusuf Burhanuddin. Diskusi dipandu oleh Prof. Atip Latipulhayat. 

Dalam pandangannya, Teguh mengajak untuk melihat kembali proses perubahan yang telah terjadi di Uni Soviet dan Yugoslavia pada awal 1990an. Secara umum dapat dikatakan bahwa perubahan di Eropa Timur itu telah menemukan akhir, walaupun untuk beberapa kasus akhir dari perubahan itu menjadi awal bagi persoalan baru yang muncul.

Berkaca pada Uni Soviet, Teguh mengatakan ada dua kata kunci penting yang menjadi syarat perubahan, yakni glasnost atau keterbukaan dan perestroika atau restrukturisasi struktur politik dan ekonomi.

Dia juga mengatakan, perubahan di suatu negeri, seperti kata Bung Karno, terikat pada hukum natur dan kultur. Dengan demikian tidak ada resep yang bisa dianggap generik dan diberlakukan untuk semua kasus.

“Model yang generik saya kira tidak bisa digunakan. Kita jangan jadi seperti Samuel Huntington dan Francis Fukuyama yang mengidolakan satu model, kemudian memaksa model itu untuk diimplementasikan di negeri-negeri yang lain. Itu menghasilkan chaos,” ujar Teguh yang juga dosen hubungan internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini.

Teguh berharap, perubahan lanskap politik di Arab Saudi terjadi secara alamiah. Dia tidak ingin melihat perubahan yang sangat drastis dan bisa mengubah secara total sistem politik negeri para pangeran itu.

Di sisi lain Teguh menilai natur dan kultur khas yang dimiliki Arab Saudi dan keluarga kerajaan akan mencegah perubahan lanskap politik secara drastis.

“Saya berharap ada sistem koreksi internal dari kalangan keluarga kerajaan mereka sehingga mereka bisa memperbaiki apa yang mereka rasa masih kurang,” ujar Teguh.

Senada dengan itu, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP Persis, Yusuf Burhanuddin, mengatakan sejauh ini yang ditampilkan dalam “reformasi” ala pangeran Muhammad bin Salman (MBS) masih bersifat simbolik. Misalnya memberikan kesempatan kepada wanita untuk mengendarai mobil dan berpergian tanpa pengawalan muhrim. Juga membuka tempat hiburan seperti kafe dan kasino.

Alumni Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, ini juga menilai bahwa faktor keluarga kerajaan Arab Saudi sangat menentukan perubahan. Seperti Teguh, ia berharap perubahan di Arab Saudi tidak terjadi secara drastis.

Manuver Di Laut China Selatan Bukti China Konsisten Abaikan Hukum Internasional

Di tengah wabah mondial virus corona baru atau Covid-19, Republik Rakyat China (RRC) konsisten mengangkangi hukum internasional dan memancing ketegangan di wilayah perairan yang mereka klaim sebagai milik mereka.

Dalam beberapa hari belakangan ini, dunia menyaksikan konsentrasi armada China di perairan Laut China Selatan. Secara sepihak China juga memberikan nama untuk 25 pulau, beting, terumbu, serta 55 gunung dan punggung laut di perairan itu.

Manuver Di Laut China Selatan Bukti China Konsisten Abaikan Hukum Internasional

Apa Kabar Kim Jong Un

SAYA menerima pertanyaan mengenai kondisi kesehatan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un.

Apakah benar seperti yang ramai diberitakan media massa dan diinformasikan di jejaring media sosial? Ada yang mengatakan kondisi kesehatan Kim Jong Un kritis. Ada yang mengatakan, ia sudah meninggal dunia.

Saya tentu tidak benar-benar tahu “faktanya”.

Tetapi dari upaya yang saya lakukan untuk “mendekati fakta”, saya menyimpulkan situasinya tidak seperti yang ramai dibicarakan itu.

Apa Kabar Kim Jong Un

Arief Budiman, Negara, dan Pembangunan

Lahir di Jakarta, 3 Januari 1941, Soe Hok Djin yang lebih dikenal dengan nama Arief Budiman, meninggal dunia hari ini, 23 April 2020, setelah menjalani perawatan lebih dari satu minggu di Rumah Sakit Ken Saras, Kabupaten Semarang.

Arief Budiman menderita sakit cukup lama, di antaranya parkinson. Kesehatannya mulai menurun sejak ia pensiun dari Universitas Melbourne, Australia, tahun 2008. Beberapa tahun kemudian, bersama sang istri Leila Ch. Budiman, ia kembali ke Salatiga.

Arief Budiman, Negara, dan Pembangunan

Mitigasi

Lelaki kedua dari kiri yang sedang membetulkan letak kaca mata di dalam foto ini adalah Dutabesar Kim Changbeom.

Ketika foto diambil, di akhir 2017, diplomat karier ini bertugas di Kantor Walikota Seoul, di Korea Selatan. Dia menjadi diplomat senior yang membantu Seoul menjalin kerjasama dengan kota-kota lain di dunia.

Kini ia adalah Dutebesar Republik Korea untuk Republik Indonesia.

Hari itu, Dubes Kim Chanbeom mengajak kami ke sebuah tempat yang istimewa.

Mitigasi

Terkurung

Saya pernah terkurung di dalam lift.
Di sebuah hotel di Marrakesh, Maroko. Awal Desember 2014.

Saya sendirian. Dalam perjalanan ke lantai 4. Lift berhenti di antara lantai 2 dan lantai 3. Tidak lama, hanya sekitar 10 menit. Atau 15 menit.

Seperti tidak ada harapan, seperti tidak akan datang pertolongan.

Terkurung

Situasi Pyongyang (Covid-19)

Saya minta bantuan seorang teman di Pyongyang untuk memotretkan situasi di ibukota Korea Utara itu.

Jumat kemarin saya terima lima foto yang diambil teman ini pada Kamis sore sekitar pukul 17.00 waktu setempat.

Foto-foto tersebut memperlihatkan Pyongyang dalam situasi yang seperti biasa. Jalanan yang relatif sepi, kendaraan yang lalu lalang, dan beberapa warga yang berjalan kaki.

Beberapa hari lalu sempat beredar kabar yang mengatakan situasi di Korea Utara dan khususnya Pyongyang tidak terkendali diamuk virus corona dari Wuhan.

Sebelum meminta bantuan teman ini, saya menerima beberapa link berita mengenai situasi Pyongyang akhir-akhir ini. Ada yang mengatakan mayat-mayat bergelimpangan di tengah kota tidak terurus, juga ratusan tentara Korea Utara terinfeksi. Kabar yang paling seru mengatakan Kim Jong Un telah melarikan diri.

Situasi Pyongyang (Covid-19)

Karena Keris Diponegoro

SONY DSC

Kabar gembira itu kini menuai perdebatan. Antara lain, apakah yang dikembalikan itu adalah benar-benar keris Pangeran Diponegoro yang digondol Belanda?

Kening awam berkernyit. Tertekuk-tekuk. Kini ada dua keris yang dibicarakan. Keris Naga Siluman dan Keris Nagasasra. Belum tertutup kemungkinan, nama-nama keris yang dikatakan sakti mandraguna lainnya akan segera bermunculan. Milik pangeran ini dan pangeran itu.

Karena Keris Diponegoro

Mereka Harus Berdamai dengan Sejarah

SETELAH Uni Soviet bubar di akhir 1991, Republik Armenia terkunci di sisi selatan Kaukasus, diapit Georgia di utara, Iran di selatan, Azerbaijan di timur, dan Turki di barat.

Armenia negara yang terbilang muda. Namun sesungguhnya, sejauh sejarah dapat mencatat, peradaban Armenia telah berdiri sejak sekitar 6.000 tahun lalu. Pada puncak keemasannya, Armenia meliputi wilayah yang cukup luas yang terbentang dari Laut Kaspia di timur hingga Laut Mediterania di barat.

Kini, setelah terkunci, Armenia menjadi junction point, titik persimpangan. Itu istilah yang digunakan Dutabesar Armenia untuk Indonesia, Yang Mulia Dziunik Aghajanian, dalam perbincangan dengan Republik Merdeka di kantornya, belum lama ini.

Mereka Harus Berdamai dengan Sejarah

Tidak Ada yang Membahayakan Integrasi Anda

DUBES Republik Armenia, Dziunik Aghajanian, mulai bertugas di Jakarta bulan Juni 2018. Selain untuk Indonesia, wanita kelahiran Yerevan, 10 Oktober 1966, ini adalah juga Dubes Armenia untuk Malaysia dan ASEAN.

Sebelum bertugas di Jakarta, antara Maret 2011 sampai Maret 2018, Dubes Aghajanian bertugas sebagai Dubes Armenia di Kerajaan Belanda.

Juga antara 2011 sampai 2018, Dubes Aghajanian bertugas sebagai Perwakilan Tetap Republik Armenia di Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).

Tidak Ada yang Membahayakan Integrasi Anda

Mayjen Kohler

Namanya Johan Harmen Rudolf Kohler. Pangkat terakhir mayor jenderal. Tiba di Aceh tgl 8 April 1873, enam hari kemudian dia tewas ketika memimpin pasukannya mengepung Masjid Baiturrahman.

Jantungnya dirobek peluru laskar Aceh yg melindungi kesucian rumah Allah dan kemerdekaan bangsa Aceh. Mayatnya dibawa ke Singapura, lalu ke Batavia dan dimakamkan di Tanah Abang, di tempat yg kini dikenal sebagai Museum Taman Prasasti.

Mayjen Kohler

Drama dari UMNO

LIHATLAH foto ini. Dari kiri ke kanan: Muhyiddin Yassin, Anwar Ibrahim, Mahathir Mohamad, dan Najib Razak.

Keempatnya masih merupakan politisi United Malays National Organisation (UMNO) yang didirikan Datuk Oon Jafar, Tunku Abdul Rahman dan kawan-kawan mereka pada 11 Mei 1946 sebagai alat perjuangan mencapai kemerdekaan Malaysia.

Foto ini diperkirakan diambil di tahun 1997, tak lama sebelum Mahathir Mohamad yang ketika itu Perdana Menteri memecat Anwar Ibrahim dari posisi Wakil Perdana Menteri.

Drama dari UMNO

Copy Terakhir Di Tepi Amu Darya

Amu Darya, sebuah sungai di Asia Tengah, mengalir sepanjang 2.400 kilometer dari satu titik di Pegunungan Pamir di persimpangan Himalaya, Tian Shan, Karakoram, Kunlun, dan jajaran Hindu Kush, di ketinggian 6.000 meter dapl, menuju Danau Aral, menjadi pemisah sekaligus penghubung Afganistan dengan Tajikistan dan Uzbekistan.

Buku #DiTepiAmuDarya adalah rekaman perjalanan saya ketika meliput konflik di Afganistan tahun 2001. Keinginan menyeberangi Amu Darya tak terlaksana sampai rezim Taliban tumbang.

Buku itu diterbitkan tahun 2018.

Copy Terakhir Di Tepi Amu Darya

Kleinhüningen

Di Kleinhüningen

Pecinta ilmu kejiwaan atawa psikologi tentu sering membaca dan mendengar nama ini: Carl Gustav Jung. Lahir 26 Juli 1875, dan meninggal dunia 6 Juni 1961.

Saya dan dia dipisahkan jarak sejauh 100 tahun.

Tidak seperti Sigmund Freud yang memperlakukan psikologi sebagai bagian dari ilmu alam dan memandangnya secara mekanik, Jung memberikan perhatian pada sejarah individual dan kolektif yang dipadukan dengan semangat individu mencari jati diri.

Freud yang pernah menjadi mentor Jung percaya bahwa libido adalah faktor pendorong utama kejiwaan. Jung tidak sepakat. Ia memandang energi kejiwaan jauh lebih luas dari urusan itu.

Kleinhüningen

Mansudae

Patung raksasa pendiri Korea Utara, Kim Il Sung, setinggi 22 meter di bukit Mansu atau Mansudae di tengah kota Pyongyang.

Di dalam gambar ini, patung Kim Jong Il di sebelah kirinya tidak terlihat. Foto saya ambil dari sisi Istana Presidium Majelis Rakyat Tertinggi Korea. Monumen di Mansudae selesai dibangun pada 1972. Awalnya, hanya ada patung Kim Il Sung.

Mansudae

Reruntuhan Masjid Agung di Hudaibiyah

Sekitar 22 kilometer ke arah barat Mekah. Inilah reruntuhan Masjid Ar Ridhwan yang konon dijadikan lokasi penandatanganan perjanjian Hudaibiyah bulan Maret 628 M atau Dzulkaidah 6 H.

Hudaibiyah adalah nama tempat dimana masjid itu berada. Nama lainnya adalah Asy Syumaisi, diambil dari nama orang yang menggali sumur di tempat itu.

Di tahun 628 M itu, sebanyak 1.400 umat Muslim dari Madinah berangkat ke Mekah, hendak melakukan ibadah Umrah. Namun pihak Quraisy yang menguasai Mekah menahan mereka.

Reruntuhan Masjid Agung di Hudaibiyah

Patung Pendirian Partai, Pyongyang

Monumen Pendirian Partai Pekerja Korea di salah satu sudut kota Pyongyang.

Tiga fitur utamanya adalah palu, kuas, dan arit, yang masing-masing melambangkan tiga elemen masyarakat penggerak revolusi Korea, pekerja, cendekiawan, dan petani.

Terletak di Jalan Munsu, Distrik Taedonggang, monumen ini selesai dibangun dan diresmikan pada 10 Oktober 1995, pada peringatan 50 tahun Partai Pekerja Korea, yang dilambangkan dengan ketinggian monumen 50 meter.

Pada bagian luar sabuk di monumen itu tertulis kalimat “Panjang umur pemimpin dan organisatoris kemenangan rakyat Korea, Partai Pekerja Korea!”

Sementara di bagian dalam sabuk terdapat mural yang menjelaskan tiga babak penting: akar sejarah partai, persatuan rakyat di bawah partai, dan visi masa depan partai yang progresif.

Foto saya ambil dalam kunjungan ke Pyongyang di bulan April 2012.

UU Pers Tidak Perlu Masuk Omnibus Law

SELAMAT malam kawan semua. Ini pandangan saya terkait keberadaan dua pasal UU 40/1999 tentang Pers di dalam draft RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

Pandangan ini saya sampaikan memanfaatkan peluang yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada siapapun untuk memberikan masukan atas draft RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

Sejak awal saya menyadari bahwa Presiden Jokowi dalam periode kedua ini ingin memastikan investasi di Indonesia dapat berjalan dengan baik, lancar, dan aman. Investor untung, negara, dan rakyat juga ikut untung. Tidak ada yang buntung.

Secara umum ada beberapa persoalan di dalam negeri  yang kerap diduga menjadi penyebab investasi tidak lancar, yang sering dianggap sebagai faktor yang membuat investor asing jadi ragu-ragu untuk menanamkan modal mereka di Indonesia.

Di samping tentu saja ada beragam persoalan lain yang tidak terkait langsung dengan situasi dan kondisi di Indonesia, misalnya kepentingan geopolitik dan geostrategis tempat darimana  investor berasal.

UU Pers Tidak Perlu Masuk Omnibus Law

Wingitnya Kediri, Dari Jayabaya Sampai Jokowi

Arc de Triomphe Dari Kediri/Dolanae.com

ENTAH siapa yang memulai cerita itu. Di tengah sebagian masyarakat ada semacam kepercayaan bahwa Kediri adalah kota yang harus dijauhi oleh penguasa negeri.

Konon katanya, tiga pemimpin Indonesia, Bung Karno, Pak Harto, dan Gus Dur, terjungkal tak lama setelah mengunjungi Kediri yang berada di Jawa Timur, sekitar 700 kilometer dari Jakarta.

Karena kepercayaan akan wingitnya Kediri itu pula, Menteri Sekretaris Negara Pramono Anung mewanti-wanti Presiden Joko Widodo agar tak mendatangi Kediri.

Wingitnya Kediri, Dari Jayabaya Sampai Jokowi