Menakar Relasi Eropa-China: Dialektika Kekuasaan di Tengah Anarki Global

Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute

HUBUNGAN antara Eropa dan China telah memasuki etape yang baru dan bermetamorfosis menjadi jauh lebih kompleks dan sarat akan kepentingan strategis.

Secara historis, Eropa dan China pernah memiliki masa saling ketergantungan yang menguntungkan. Namun, pasca-Perang Dingin, narasi kebangkitan China mulai dipandang berbeda oleh Uni Eropa. Dari sekadar mitra dagang, China perlahan bertransformasi menjadi “pesaing sistemik,” sebuah label yang mencerminkan kecemasan kolektif di Brussels akan pergeseran keseimbangan kekuatan dunia.

Dalam kerangka realisme klasik Hans Morgenthau, kita melihat bahwa perilaku negara sangat ditentukan oleh animus dominandi, hasrat untuk berkuasa yang melekat pada sifat manusia. Bagi Morgenthau, politik internasional adalah perjuangan abadi untuk meraih power. Dalam konteks ini, Eropa berupaya mempertahankan hegemoninya melalui institusi, sementara China memperluas pengaruhnya melalui proyeksi ekonomi global.

Ketika kita bergeser ke neorealisme Kenneth Waltz, fokus kita berpindah dari sifat manusia ke struktur sistem internasional yang anarkis. Dalam dunia yang anarkis, tidak ada otoritas pusat yang menjamin keamanan. Oleh karena itu, Eropa dan China secara rasional terus memupuk kapabilitas mereka. Keamanan menjadi tujuan utama, dan setiap langkah pihak lain dipandang dengan kecurigaan sistemik.

Realisme struktural John Mearsheimer memberikan pandangan yang lebih tajam: dunia adalah panggung tragis di mana negara-negara besar ditakdirkan untuk bersaing demi hegemoni regional. Menurut Mearsheimer, China sebagai rising power secara otomatis akan menantang dominasi Amerika Serikat, dan Eropa terjebak di tengah pusaran ketegangan ini sebagai sekutu tradisional AS yang juga memiliki ketergantungan ekonomi besar pada China.

Dalam sektor ekonomi, hubungan ini sedang mengalami erosi kepercayaan yang mendalam. Kebijakan de-risking yang diusung Eropa bukan sekadar taktik dagang, melainkan upaya mitigasi terhadap kerentanan rantai pasok. Ketergantungan pada China dianggap sebagai “senjata” yang bisa dimatikan sewaktu-waktu, terutama setelah melihat bagaimana krisis global mendisrupsi pasar.

Pada dimensi politik, ketegangan ideologis juga mengemuka. Eropa yang berpijak pada nilai-nilai demokrasi liberal sering kali berbenturan dengan model tata kelola otoritarianisme China. Ketidakcocokan nilai ini menciptakan ruang ketidakpercayaan yang sulit dijembatani, terutama saat isu hak asasi manusia dan standardisasi teknologi global muncul ke permukaan.

Di sisi pertahanan, Eropa mulai merasakan desakan untuk lebih mandiri. Ketidakpastian politik di Amerika Serikat membuat Eropa menyadari bahwa mereka tidak bisa terus-menerus bersandar pada payung keamanan NATO. Namun, membangun otonomi strategis di tengah tuntutan anggaran militer yang terbatas adalah tantangan yang tidak mudah bagi negara-negara Eropa.

Hubungan yang Kompleks

Kompleksitas hubungan ini mencapai puncaknya dalam posisi “trilateral” yang melibatkan Amerika Serikat. AS, sebagai hegemoni global yang sedang mempertahankan statusnya, menekan Eropa untuk mengambil sikap tegas terhadap China. Ini adalah dilema besar bagi Eropa: mengikuti perintah Washington berarti mengorbankan pasar China yang krusial, sementara mendekat ke China berarti merusak fondasi aliansi transatlantik.

China memahami dilema ini dengan baik. Strategi diplomasi mereka sering kali bersifat memecah belah, dengan membangun hubungan bilateral yang kuat dengan negara-negara Eropa tertentu untuk meredam kesatuan suara Uni Eropa. Inilah yang oleh kaum realis disebut sebagai upaya untuk menetralkan potensi koalisi lawan sebelum mereka bersatu sepenuhnya.

Dalam struktur anarkis ini, setiap tindakan untuk meningkatkan keamanan satu pihak sering kali dirasakan sebagai ancaman oleh pihak lain—sebuah “dilema keamanan” klasik. Ketika Eropa memperketat investasi strategis, China memandangnya sebagai proteksionisme. Sebaliknya, ketika China memperkuat pengaruh melalui investasi infrastruktur, Eropa melihatnya sebagai infiltrasi geopolitik.

Ketergantungan yang Membelenggu

Kita tidak bisa memungkiri bahwa ketergantungan ekonomi telah menciptakan “belenggu” yang mencegah konflik terbuka. Namun, realisme mengajarkan kita bahwa ketika kepentingan nasional yang vital terancam, ketergantungan ekonomi sering kali dikalahkan oleh kebutuhan akan keamanan nasional. Keberlangsungan negara (state survival) akan selalu berada di atas kemakmuran pasar.

Eropa berada dalam persimpangan jalan yang sulit. Di satu sisi, mereka ingin menjadi kekuatan global yang mandiri (strategic autonomy), namun di sisi lain, realitas kekuatan militer global masih didominasi oleh Washington dan potensi ekonomi masa depan yang terkonsentrasi di Asia. Keinginan untuk netral di tengah rivalitas AS-China tampak seperti angan-angan belaka.

Mearsheimer berpendapat bahwa negara besar akan selalu berusaha menjadi hegemon regional untuk memastikan keamanan mereka. Dalam konteks ini, kebangkitan China di Asia adalah keniscayaan yang akan terus direspons oleh AS dan sekutunya. Eropa, mau tidak mau, harus menempatkan diri dalam peta kompetisi yang tidak lagi memberi ruang bagi posisi “di tengah-tengah.”

Persaingan teknologi, terutama di bidang kecerdasan buatan, semikonduktor, dan energi hijau, telah menjadi garis depan baru dalam relasi ini. Bukan lagi soal tarif bea masuk, melainkan soal siapa yang memegang kendali atas tulang punggung ekonomi masa depan. Di sinilah persaingan menjadi bersifat “zero-sum,” di mana keuntungan satu pihak dianggap sebagai kerugian pihak lain.

Eropa, dengan segala warisan masa lalunya, kini tengah berupaya memformulasikan kebijakan yang cukup pragmatis untuk tidak terjepit. Namun, tanpa persatuan internal yang kuat, Eropa akan selalu mudah menjadi bidak dalam permainan catur antara dua kekuatan raksasa yang sedang memperebutkan narasi abad ini.

Cermin Realisme yang Jujur

Realisme mungkin terdengar sinis, namun ia memberikan cermin jujur mengenai bagaimana dunia bekerja. Di balik retorika kerjasama dan multilateralisme, kepentingan nasional yang keras tetaplah penggerak utama. Hubungan Eropa-China akan terus didera oleh ketidakpastian, karena kedua pihak sama-sama sadar bahwa mereka sedang bermain dalam sistem yang tidak menyediakan tempat untuk “kemenangan bersama” yang permanen.

Kita harus memperhatikan bahwa kebijakan pertahanan Eropa kini mulai mengintegrasikan isu ekonomi sebagai bagian dari keamanan nasional. Investasi China di pelabuhan-pelabuhan strategis atau infrastruktur telekomunikasi di Eropa kini diperiksa dengan lup pembesar. Ini adalah bukti bahwa persepsi ancaman telah melampaui batas-batas militer konvensional.

Di sisi lain, China pun tidak tinggal diam. Mereka memperkuat kemampuan latent power-nya, mencoba membangun alternatif sistem finansial dan teknologi yang tidak bergantung pada Barat. Ini adalah langkah antisipatif agar China tidak lagi rentan terhadap sanksi atau tekanan dari Eropa maupun Amerika Serikat di masa depan.

Dinamika ini menunjukkan bahwa hubungan Eropa-China adalah refleksi dari perubahan struktur kekuasaan dunia. Transisi dari dunia unipolar yang dipimpin AS menuju tatanan multipolar atau bipolar baru telah menciptakan ketidakpastian yang memaksa semua aktor untuk mendefinisikan ulang posisi strategis mereka.

Eropa saat ini tampak sedang berupaya mencari titik keseimbangan di antara pragmatisme ekonomi dan idealisme politik. Namun, sejarah politik internasional sering kali menunjukkan bahwa ketika waktu krisis tiba, pragmatisme ekonomi cenderung dikorbankan demi pertahanan dan keamanan nasional.

AS, sebagai pemain ketiga dalam relasi ini, terus berperan sebagai katalisator. Tekanan Washington kepada Brussels sering kali memaksa Eropa untuk mempercepat keputusan yang sebenarnya enggan mereka buat. Ini adalah bentuk coercive diplomacy yang lazim ditemukan dalam sistem internasional yang kompetitif.

Kita harus mencatat bahwa setiap langkah yang diambil Eropa akan memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap arsitektur keamanan global. Jika Eropa memutuskan untuk benar-benar berpisah dari China secara ekonomi, dunia akan terfragmentasi menjadi dua blok yang saling tidak percaya. Ini akan meningkatkan risiko konflik secara eksponensial.

Diplomasi Musim Semi Beijing

Kompleksitas trilateral yang dihadapi Eropa semakin nyata jika kita melihat dinamika geopolitik paling mutakhir. Dalam sebuah manuver diplomasi tingkat tinggi, Beijing bertransformasi menjadi titik temu dari semua kekuatan besar dunia. Hanya dalam hitungan hari, Presiden Xi Jinping menjamu Presiden AS Donald Trump, yang kemudian segera disusul oleh kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dua pertemuan ini laksana dua sisi mata uang dari realisme struktural yang jujur.

Dalam pertemuan tatap muka dengan Donald Trump, China memperkenalkan jargon baru, yaitu “stabilitas strategis yang konstruktif”. Dari kacamata realisme, ini adalah upaya manajemen rivalitas agar tidak eskalatif menjadi konflik terbuka (zero-sum).

Meskipun Washington dan Beijing sepakat membentuk lembaga baru seperti U.S.-China Board of Trade dan Board of Investment untuk mengelola perdagangan non-sensitif—serta kesepakatan komersial terkait rantai pasok mineral kritis, pembelian pesawat Boeing, dan produk pertanian—kompetisi mendasar kedua negara tidaklah surut. Gencatan senjata tarif ini adalah bentuk ambiguitas yang saling menguntungkan (mutually useful ambiguity).

Dampaknya bagi Eropa: Langkah pragmatis AS ini menempatkan Eropa dalam posisi yang semakin canggung. Ketika Eropa gencar mengampanyekan kebijakan de-risking atas desakan transatlantik, AS justru melakukan pembicaraan bilateral langsung yang pragmatis dengan China demi keuntungan domestik mereka sendiri. Ini mengonfirmasi kekhawatiran realis: dalam sistem anarki, setiap negara pada akhirnya akan mendahulukan kepentingan nasionalnya (self-help).

Hanya berselang beberapa hari setelah Trump meninggalkan Beijing, Vladimir Putin tiba untuk merayakan 25 tahun Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Bertetangga yang Baik. Pertemuan ini mengirimkan sinyal tegas ke Washington dan Brussels bahwa poros Moskow-Beijing tetap solid dalam cita-cita membangun tata kelola global baru yang multipolar demi mengikis hegemoni Barat.

Secara latent power, Rusia semakin bergantung pada China sebagai penyelamat ekonomi perang mereka (di mana komoditas energi, terutama minyak dan rencana pipa gas Power of Siberia 2, menjadi tulang punggungnya). Namun, kaum neorealis juga melihat bahwa kemitraan ini memiliki batasan yang rasional. China tetap berhati-hati. Beijing menolak ketergantungan energi yang berlebihan pada satu negara (Rusia). Selain itu, China tetap memposisikan diri sebagai pihak netral dalam konflik Ukraina dan enggan menjadi arsitek utama proses perdamaian, guna menjaga akses ekonominya ke pasar Barat (termasuk Eropa).

Dinamika ini mempertegas dilema keamanan (security dilemma) Eropa yang diulas di atas. Berdekatan jalannya kedua pertemuan tersebut menunjukkan bahwa China sedang memainkan peran penyeimbang (balancing) yang canggih. Xi Jinping menggunakan hasil pertemuannya dengan Trump sebagai posisi tawar saat bertemu Putin, sekaligus menunjukkan kepada Eropa bahwa China adalah poros yang sangat menentukan arah angin global.

Bagi Eropa, “Diplomasi Musim Semi Beijing” ini adalah alarm keras. Ketika AS-China bisa mencapai kesepakatan pragmatis dan China-Rusia terus mempererat kemitraan strategisnya, Uni Eropa berisiko hanya menjadi penonton atau bahkan korban dari kalkulasi politik para raksasa.

Jika Eropa tidak segera mengkonsolidasikan persatuan internalnya dan merumuskan makna strategic autonomy secara konkret, mereka akan terus terombang-ambing: kehilangan keuntungan ekonomi dari China, namun di saat yang sama, komitmen payung keamanan dari Washington pun selalu bergantung pada arah politik domestik AS yang transaksional.

Kekuatan yang Membatasi

Apakah mungkin ada jalan tengah? Beberapa pemikir realis berpendapat bahwa keseimbangan kekuatan yang stabil—bukan perdamaian abadi—adalah hasil terbaik yang bisa dicapai. Jika Eropa, China, dan AS bisa saling memahami batasan kekuatan satu sama lain, konflik terbuka mungkin dapat dihindari melalui balance of power.

Realisme struktural mengingatkan kita bahwa niat baik saja tidak cukup. Struktur sistemlah yang memaksa negara-negara untuk berperilaku kompetitif. Oleh karena itu, hubungan Eropa-China akan terus dibayangi oleh ketegangan struktural selama belum ada kesepakatan baru mengenai pembagian pengaruh global.

Sebagai penutup, tantangan terbesar bagi Eropa bukanlah China itu sendiri, melainkan kemampuan Eropa untuk bersatu dan memiliki pandangan yang tunggal. Selama Eropa masih terpecah antara kepentingan nasional masing-masing negara anggota, mereka akan terus menjadi sasaran manuver kekuatan luar.

Hubungan masa depan antara Eropa dan China akan ditentukan oleh keberhasilan masing-masing pihak dalam mengelola ketidakpastian. Apakah mereka akan terjebak dalam perang dingin baru, atau berhasil merajut kesepahaman yang berbasis pada realitas kekuatan yang seimbang? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Namun, satu hal yang pasti: dunia yang kita tinggali hari ini tidak akan kembali ke masa lalu. Ketegangan, persaingan, dan upaya untuk meraih dominasi adalah realitas yang harus kita hadapi. Dalam panggung geopolitik yang luas ini, setiap langkah besar selalu diikuti dengan risiko besar.

Sebagai analis, kita dituntut untuk tetap waspada. Membaca dinamika antara Eropa, China, dan AS bukan hanya soal membedah kebijakan, tetapi soal memahami arus bawah sejarah yang sedang bergeser. Mari kita terus memantau, menganalisis, dan bersiap menghadapi perubahan-perubahan yang akan datang.

Mungkinkah Eropa menemukan posisi strategis yang benar-benar independen di tengah tarik-menarik antara kepentingan ekonomi dengan China dan loyalitas keamanan kepada Amerika Serikat, ataukah ketergantungan struktural akan selalu mendikte kebijakan luar negeri mereka? []

Leave a comment