Parpol Dinilai Sibuk Urusi Pengerahan Massa

Dua pengamat politik, masing-masing Prof Ibramsyah dari Universitas Indonesia dan Teguh Santosa, MA dari UIN Jakarta menyatakan, kesalahan utama partai politik saat ini adalah gagap dalam menjaring calon presiden (capres) dan lalai memberikan edukasi kepada para kadernya, akibatnya mutu legislatif di negeri ini kian rendah.

“Selama ini partai politik cuma sibuk mengurusi pengerahan massa. Tidak pernah fokus menjalankan mekanisme rekrutmen secara baik, bahkan mereka seperti kasak-kusuk sendiri dalam memilih capres,” kata Teguh Santosa, saat soft launching LSM President Center, di Jakarta, Selasa (20/11).

LSM President Center sebuah lembaga independen yang berfungsi memberikan edukasi dan wawasan kepada para kader partai, para calon kepala daerah, termasuk calon presiden dan calon wakil presiden.

Hal serupa juga disampaikan oleh Ibramsyah. Dalam kaitan ini kedua akademisi ini berpendapat bahwa saat ini sangat dibutuhkan adanya sebuah lembaga independen yang berfungsi melakukan edukasi terhadap para kader partai, para calon kepala desa, bahkan terhadap para calon presiden dan wakil presiden. “Lembaga seperti ini bagus sekali, karena akan ikut meramaikan demokrasi politik di negeri ini,” katanya.

Menurut Teguh Santosa, President Center bisa menjadi lembaga think thank yang independen, seperti di Amerika Serikat ada yang namanya Brookings Institute, Carnegie Institute, atau misalnya CSIS, ini adalah lembaga swasta yang bergerak di bidang survei. Sedangkan President Center fokus pada pelatihan kepemimpinan.

“Lembaga seperti ini memang harus ada, di partai politik fungsi seperti ini mestinya kan dijalankan oleh Litbang partai. Tapi umumnya Litbang partai tidak concern untuk persoalan seperti ini. Lagi pula partai politik perlu lembaga yang obyektif dan bisa membantu dalam hal rekrutmen dan edukasi, nantinya hasilnya bisa diharapkan meningkatkan kwalitas legislatif,” paparnya.

Di tempat yang sama, Ketua Forum President Center, Didied Maheswara mengatakan, partai politik dalam merekrut capres, calon kepala daerah, dan calon anggota legislatif jangan hanya mengedepankan kompetisi didasarkan kekuatan uang, kekuatan beriklan, dan aspek pencitraan tapi minus akan substansi kompetensi dari masing-masing calon.

Ditegaskan Maheswara, selama ini pola rekrutmen partai sangat tertutup dalam memilih capres, dan yang dipilih pun selama ini hanya ketua umum atau ketua dewan pembina.

“Mereka bukan pemimpin yang ideal di mata rakyat, tapi hanya ideal di mata partainya sendiri. Kalau seperti itu terus pola rekrutmennya, jadikan saja mereka presiden partai,” tegas Didied. (fas/jpnn)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s