Menjadi Muslim di Pojok Kota Moskwa

SEPASANG suami istri paruh baya yang duduk di deretan belakang tersenyum ramah ketika saya membidikkan kamera ke arah mereka. Sang suami di sebelah kanan mengenakan jas hitam. Semacam lencana berbentuk bintang bersegi banyak tersemat rapi di dada kiri. Adapun sang istri mengenakan jilbab dan blazer merah marun dengan setangkai kembang plastik oranye yang juga disematkan di dada kiri.

Pin bendera kecil biru-putih-hijau yang mereka kenakan menandakan sepasang suami-istri ini berasal dari Republik Bashkortostan, satu dari 21 republik yang merupakan subjek-federal dari Republik Federasi Rusia. Bashkortostan berada di tenggara Federasi Rusia, berbatasan dengan Republik Tatarstan dan Republik Udmurtia, Oblast atau Provinsi Orenburg dan Provinsi Chelyabinsk, serta Krai atau Daerah Otonom Perm. Secara geografis, Bashkortostan terletak di antara Sungai Volga yang terkenal itu dan Pegunungan Ural yang juga dikenal sebagai tembok lain yang memisahkan Eropa dan Asia.

Walau tak ada catatan resmi namun kerap disebutkan sebagian besar dari sekitar 4 juta warga Bashkortostan memeluk agama Islam yang telah berkembang di kalangan bangsa Baskhir, Tatar dan bangsa-bangsa lain di kawasan perbatasan Eropa dan Asia itu sejak abad ke-10 silam.

“Anda darimana?” begitu kira-kira tanya sang istri dalam bahasa Rusia yang saya artikan sendiri.

“Indonesia,” jawab saya singkat.

Mendengar jawaban itu keduanya saling pandang dan tersenyum lebar lalu berkata dalam bahasa Rusia yang saya tidak mengerti diselingi beberapa kata dalam bahasa Arab yang kurang lebih berarti ucapan syukur dan pujian pada reputasi Indonesia sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Tangan tangan keduanya ditepuk-tepukkan ke dada kiri, tanda menghormati.

Identitas dan ikatan di antara individu dengan sesama individu atau kelompok memang sesuatu yang diandaikan dan diciptakan oleh pikiran, atau state of mind. Faktanya di sebuah tenda putih di pojok kota Moskwa yang disulap menjadi ruang pertemuan, yang dinding-dindingnya dipenuhi berbagai kalimat yang dikutip dari Al Quran dan hadist Rasulullah SAW yang dituliskan bukan dalam aksara Arab tapi Cyrillic-Rusia, yang wanita-wanitanya mengenakan jilbab, pikiran saya menyadari (baca: menciptakan kesadaran) sebagai bagian dari komunitas Muslim, yang merdeka.

Di luar tenda, dalam perjalanan menuju ke tempat ini, dari stasiun Metro Arbatskaya menuju Pobedi Park, lalu membelah Taman Kemenangan di Bukit Poklonnaya, pikiran saya menciptakan kesadaran sebagai bagian dari komunitas manusia yang juga merdeka. Di sisi lain, pekerjaan pikiran ini membuktikan bahwa pada dasarnya manusia bukanlah makhluk soliter yang tahan hidup menyendiri.

Sungguh pikiran manusia sangat kreatif dalam menciptakan berbagai bentuk keterikatan dan hubungan dengan sesama manusia yang ditemukan dalam perjalanan. Beberapa dari hubungan yang dibangun itu konsisten, beberapa lainnya tidak konsisten. Bagian yang inkonsisten inilah yang melahirkan konflik, perang, penaklukan, dan penjajahan seperti diceritakan dalam kitab-kitab sejarah.

Alunan musik mengalun lembut menemani santap malam usai berbuka puasa. Antrean makanan di barisan belakang masih terlihat cukup panjang. Beberapa wanita melayani tamu-tamu yang lebih tua, seperti sepasang suami-istri dari Republik Bashkortostan tadi.

Mereka membawakan nampan yang berisi salad, sup, kari kambing, dan sejenis makaroni. Ini adalah hidangan makan malam. Adapun hidangan pembatal puasa yang disajikan di atas meja berupa kurma, manisan dan roti serta air mineral.

Para imam dan pemuka komunitas Muslim Rusia dan Moskow yang hadir mengenakan tutup kepala yang lebih menonjol. Mereka duduk di barisan depan. Kepala Mufti Rusia, Seikh Ravil Gaynutdin, tampak begitu berwibawa dengan baju gamis plus sorban putih yang dikenakannya.

Bagian paling depan yang dimaksudkan sebagai panggung kini terlihat kosong. Beberapa saat sebelum azan berkumandang, sekelompok orang Chechen dari Republik Chechnya menyanyikan lagu-lagu dan menarikan tari-tari kebanggan mereka.

Seperti Bashkortostan, Chechnya yang berada di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia merupakan salah satu republik di bawah Republik Federasi Rusia. Keduanya dipisahkan jarak yang cukup jauh, namun seperti Bashkortostan, mayoritas penduduk Chechnya yang menurut sensus 2010 berjumlah sekitar 1,3 juta jiwa juga beragama Islam.

Negeri ini terletak di utara Pegungunan Kaukasus, berbatasan dengan Republik Dagestan, Republik Ingushetia, Republik Kalmykia dan Daerah Otonom Stavropol. Di sebelah selatan, Chechnya juga berbatasan dengan Georgia yang memisahkan diri dari Uni Soviet dan menolak bergabung dengan Federasi Rusia.

Chechnya, seperti halnya negeri-negeri di kawasan itu memiliki sejarah yang panjang yang amat dibanggakan orang-orang Chechen. Tanda-tanda pemukiman tertua di negeri itu ditemukan dari masa sekitar 125 ribu tahun yang lalu. Dari berbagai peninggalan diperoleh informasi bahwa leluhur orang-orang Chechen yang hidup di gua pada masa itu memiliki kemampuan menciptakan dan memainkan berbagai peralatan batu, menggunakan api dan menggunakan kulit hewan antara lain untuk menghangatkan tubuh mereka.

Di sekitar Danau Kezanoi ditemukan pemukiman manusia yang diperkirakan berasal dari 40 ribu tahun sebelum masehi. Dinding gua di kawasan itu dipenuhi berbagai lukisan. Juga ditemukan artefak dan benda-benda arkelogi lain yang membuat kalangan ahli menyimpulkan bahwa pemukiman di kawasan Danau Kezanoi didiami manusia selama 8 ribu tahun lamanya.

Kekaisaran Rusia membutuhkan perang panjang selama lebih dari 50 tahun untuk menaklukkan Chechnya dan negeri-negeri lain di sekitarnya. Sedemikian panjang Perang Kaukasus itu, berlangsung antara 1817 dan 1864. Pejuang-pejuang Chechen baru sungguh-sungguh takluk di periode 1870an. Setelah kekuasaan Kaisar Nikolas II hancur, Chechnya mendapatkan kembali kemerdekaannya, dan pada 1922 kelompok elit Chechen bergabung dengan kaum Bolshevik membentuk Uni Soviet.

Di tahun 1936 Joseph Stalin menggabungkan Chechnya dengan negeri tetangga Ingush dan menjadikan republik baru itu sebagai negeri otonomi di bawah Uni Soviet. Setahun menjelang Perang Dunia Kedua berakhir, sekitar satu juta orang Chechen dan Ingush dibuang ke Siberia dan Asia Tengah karena dianggap berkolaborasi dengan Jerman. Setelah Nikita Khrushchev berkuasa, barulah mereka diperbolehkan kembali ke tanah kelahiran mereka. Namun banyak yang memilih tetap berada di Siberia dan Asia Tengah atau mengembara ke negeri-negeri lain di Uni Soviet.

Setelah Uni Soviet bubar di tahun 1991 sebagian dari yang berkelana itu meninggalkan negeri-negeri Asia Tengah, seperti Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Kazakhstan, yang memilih tak ikut dalam Federasi Rusia. Orang-orang Chechen ini kembali ke tanah kelahiran leluhur mereka. (Bersambung)

Advertisements

1 thought on “Menjadi Muslim di Pojok Kota Moskwa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s