Islam di Rusia: Bagai Berjalan di Ladang Ranjau

MUNGKINKAH suatu hari nanti Federasi Rusia dipimpin seorang Muslim?

Mufti Muhammad Rahimov yang saya temui di satu-satunya masjid di Pyatigorsk, sebuah kota di Krai Stavropol, menganggukkan kepala.

“Sekarang ini, barangkali karena kurang memahami, banyak yang menganggap Islam sebagai sesuatu yang menakutkan. Tetapi pada suatua hari nanti, di saat Islam semakin dipahami, bukan tidak mungkin ada tokoh Muslim yang jadi perdana menteri atau presiden Rusia,” katanya.

“Lihatlah Barack Obama di Amerika Serikat. Bagaimanapun juga ia adalah keturunan laki-laki Muslim dari Kenya di Afrika. Kalau di Amerika Serikat saja perubahan paradigma seperti ini mungkin terjadi, maka seharusnya di Rusia lebih mungkin lagi,” sambungnya tersenyum.

Saya bertemu dengan Mufti Muhammad Rahimov pertengahan Agustus yang baru lalu dalam suatu jamuan berbuka puasa dan makan malam di Masjid Pyatigorsk. Baru tanggal 2 April lalu dia diangkat menjadi mufti ketiga di Rusia. Dua mufti lainnya adalah Ketua Dewan Mufti Syeikh Ravil Gaynutdin dan Tajjudin Talgat.

Persinggahan ke masjid yang didirikan tahun 2000 ini bisa dikatakan tidak sengaja. Saya dan dua teman dari Rakyat Merdeka Online, Achmad Supardi Adiwidjaya dan Dar Edi Yoga, sedang berjalan-jalan mengelilingi Pyatigorsk. Kami baru kembali dari kaki gunung Elbrus setelah melepas tim Ekspedisi Merdeka-RMOL di Kamp Emanuel yang berada pada ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari Pyatigorsk dibutuhkan perjalanan sekitar lima jam ke arah selatan untuk mencapai kaki gunung tertinggi di Eropa itu.

Saat artikel ini ditulis, seperti telah ramai diberitakan pendaki tunadaksa berkaki satu dari Indonesia, Sabar Gorky yang tergabung dalam tim Ekspedisi Merdeka-RMOL berhasil mencapai puncak Elbrus pada 17 Agustus. Kini para pendaki dan ofisial telah berada di tanah air. Misi dianggap sukses.

Namun ketika menyusuri jalanan di Pyatigorsk suasana hati saya sedikit banyak tak menentu membayangkan berbagai hambatan dan rintangan yang dihadapi para pendaki dalam upaya mereka mencapai puncak gunung di ketinggian 5.642 mdpl.

Achmad Supardi Adiwidjaya yang pernah tinggal di Rusia antara 1962 hingga 1990 menjadi penterjemah yang membuat komunikasi kami dengan warganegara Rusia jadi lebih mudah dan mengasyikkan.

Kepada supir taksi, tentu setelah diterjemahkan Ahmad Supardi Adiwidjaya, saya bertanya, adakah masjid di Pyatigorsk, dan bila ada dimana letaknya.

Awalnya saya cukup ragu Pyatogorsk punya masjid. Maklumlah, untuk ukuran Rusia, kota ini dan Krai Stavropol tidak tergolong sebagai daerah dengan jumlah umat Muslim yang signifikan. Bandingkan dengan Ingushetia yang 98 persen dari total penduduknya beragama Islam, atau Chechnya (95 persen), Dagestan (82 persen), Karbardino-Balkarya (68 persen), Bashkortostan (54 persen), Tatarstan (54 persen), Karachayevo-Cherkessya (51 persen), Adygeya (26 persen), Osetia Utara (20 persen), dan Moskow yang juga 20 persen.

Tetapi tak disangka supir taksi yang kami tumpangi adalah seorang Muslim. Ia dengan bersemangat membelokkan Lada putih itu, berbalik arah dan membawa kami ke kawasan pemukiman yang tampak berbeda dibandingkan dengan kawasan di sekitar Hotel Intourist tempat kami menginap di sebelah Taman Lenin.

Masjid Pyatigorsk terletak di sekitar persimpangan Jalan Skvoznoy (semoga saya tak salah membaca kartu nama yang diberikan Sekretaris Mufti, Omarov Said) yang rimbun oleh pepohonan. Secara umum ada empat bangunan utama di dalam kompleks itu. Bangunan pertama di sebelah kiri adalah kantor Mufti Stavropol dan ruang pertemuan yang besar. Di seberangnya adalah madrasah dan pertokoan yang menjual berbagai barang keperluan ibadah umat Muslim, mulai dari Al Quran dan berbagai kitab sampai perlengkapan shalat. Masjid terletak di bagian dalam ditandai dengan kubah besar berwarna hijau. Bangunan terakhir yang paling kecil adalah dapur yang terletak di belakang kantor Mufti Stavropol.

Pyatigorsk adalah salah satu kota di Krai Stavropol yang terletak di utara Kaukasus, di antara Laut Kaspia dan Laut Hitam. Krai Stravopol berbatasan dengan sejumlah republik yang memiliki penduduk Muslim dalam jumlah signifikan tadi, yakni Republik Dagestan, Republik Chechnya, Republik Ingushetia, Republik Osetia Utara, Republik Kabardino-Balkaria, dan Republik Karachayevo-Cherkessya. Satu lagi republik yang memiliki mayoritas penduduk beragama Islam di kawasan itu adalah Republik Adygeya yang dikelilingi Krai Krasnodar di barat Krai Stavropol. Dua republik lain yang juga memiliki penduduk beragama Islam dalam jumlah signifikan terletak ratusan kilometer di arah timur, di sekitar Sungai Volga dan Pegunungan Ural, yakni Republik Bashkortostan dan Republik Tatarstan.

Secara keseluruhan diperkirakan sekitar 20 juta warganegara Rusia adalah pemeluk agama Islam. Ini membuat negeri beruang putih itu menjadi negara Eropa yang paling banyak memiliki umat Muslim. Di saat bersamaan, Moskow pun merupakan kota di Eropa yang memiliki penduduk terbanyak. Menurut sensus 2002 yang dikutip The Economist dari sekitar 10 juta warga Moskow sebesar 20 persen di antaranya atau sebanyak 2 juta jiwa adalah penganut agama Islam.

Sudah lima tahun Mufti Rahimov memimpin Masjid Pyatigorsk. Masjid itu melayani umat Islam di seluruh Krai Stavropol. Awalnya hanya ada sekitar 20 orang yang aktif di masjid. Setelah lima tahun berlalu, kini jamaah aktif masjid itu tak kurang dari 1.000 orang.

Utara Kaukasus, khususnya Chechnya, Dagestan, dan Ingushetia, dikenal sebagai kawasan panas. Sebegitu panas sampai-sampai Lonely Planet yang menerbitkan buku saku Russia edisi Maret 2009, yang saya bawa kemana-mana dalam kunjungan ini, tak meng-cover ketiga republik itu. Buku tentang Rusia yang walau disebut buku saku tapi cukup tebal ini merupakan edisi terakhir sejak diterbitkan pertama kali tahun 1996.

“Periode aktif dari konfik Chechen sudah berakhir, atau bisa jadi konflik itu kini berada pada tahap dormant (istirahat). Bagaimanapun Anda memandangnya, perjalanan ke timurlaut Kaukasus sama seperti berjalan di atas ladang ranjau: ia terlihat tenang sampai Anda salah langkah,” jelas Leonid Ragozin.

“Ketiga republik itu saat ini sama berbahayanya,” sambung dia lagi.

Tahun lalu, di saat Idul Fitri atau yang oleh Muslim Rusia juga dikenal dengan nama Uraza Bayram, sebuah serangan teroris terjadi di kawasan itu. Sejumlah orang dilaporkan tewas. Dalam pertemuan dengan Ketua Dewan Mufti Rusia Syeikh Ravil Gainutdin di Masjid Raya Moskow ketika itu, Perdana Menteri Federasi Rusia Vladimir Putin menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas kejadian kesekian di Kaukasus Utara.

Mengutip pernyataan tokoh dan pemuka masyarakat di kawasan Kaukasus Utara yang ditemuinya, Ravil Gainutdin mengatakan bahwa para pemuka dan tokoh masyarakat Kaukasus Utara tidak akan membiarkan Federasi Rusia terpecah belah.

“Dan saya pastikan,” sambungnya, “semua ulama Muslim dan pemeluk agama Islam mendukung eksistensi Rusia sebagai sebuah negara yang utuh, kuat dan dihormati di dunia. Dan di masa depan, kami akan melanjutkan perlawanan terhadap kelompok ekstremis dan teroris yang menggunakan agama sebagai dalih.”

Bulan Juni lalu, serangan teroris kembali terjadi di Dagestan. Kali ini korbannya adalah Rektor Institut Teologi Kaukasus Utara, Maksud Sadikov, yang digambarkan diplomat Indonesia di Rusia, M. Aji Surya, sebagai jembatan penghubung antara Muslim Indonesia dan Rusia. Maksud Sadikov tewas setelah tubuhnya dihujani tembakan. Beberapa hari sebelum itu, ia berkunjung ke KBRI Moskow untuk mempersiapkan perjalanan beberapa mahasiswanya yang akan belajar ke Universitas Islam Negeri (UIN) di Jakarta, Jogjakarta dan Malang.

Serangan teroris membuat dakwah Islam di kawasan Kaukasus Utara sedikit banyak mengalami hambatan.

“Kami kehilangan banyak kader ulama. Mereka tewas dibunuh kelompok teroris. Kami harus bekerja keras untuk menciptakan kader-kader ulama yang baru,” ujar Mufti Muhammad Rahimov mengomentari aksi kaum fundamentalis yang masih sering terjadi hingga kini.

Sementara itu, sebutnya lagi, upaya membentuk kader ulama pun tak mudah. Pasalnya, kemajuan teknologi informasi di masa kini pun dimanfaatkan kaum radikal untuk menyebarkan paham sempit mereka. Tak jarang, rekruitmen teroris dilakukan via dunia maya.

“Mereka betul-betul memenuhi internet. Sementara generasi muda sulit atau tidak bisa membedakan mana Islam yang benar serta mana pemahaman yang sempit dan radikal. Kami harus bekerja keras menciptakan ulama yang bekerja untuk umat, bukan untuk tujuan politis sempit,” ujarnya lagi.

Malam itu di Masjid Pyatigorsk, hampir semua dari puluhan jamaah yang hadir dalam buka puasa, shalat Maghrib, Isya dan Tarawih adalah pemuda. Semogalah mereka ini yang dapat menghilangkan citra Kaukasus Utara sebagai ladang ranjau. (Bersambung)

2 thoughts on “Islam di Rusia: Bagai Berjalan di Ladang Ranjau”

  1. islam adlah agama yang tidak mengenal tempat, latar belakang, suku dan apapun itu. karena islam adalah agama yang rahmatan lil aamin dan islam adalah agama yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya. dan semoga allah memudahkan penyebaran islam di negara-negara adigdaya. amieeen

  2. apa kalian lupa rukun iman yang pertama? iman kepada ALLAH SWT.. taat dan patuh kepada ajaran dan hukum-hukum ALLAH SWT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s