Pemimpin Harus Pluralis

Pemimpin di masa depan harus berwawasan pluralisme yang mengedepankan toleransi antarumat beragama, karena kenyataannya Indonesia bukanlah negara agama. Semua perbedaan agama, suku, dan ras harus jadi kekuatan membangun Indonesia yang lebih baik, damai, dan adil di masa mendatang.

Dikutip dari Sinar Harapan.

Demikian kesimpulan Seminar Pluralisme di Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, dengan tema “Penghayatan Pendidikan Imamat dalam Wawasan Pluralisme,” Sabtu (23/7). Acara seminar ini diadakan dalam rangka peringatan 100 Tahun Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan Magelang yang jatuh pada tahun 2012.

Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah Teguh Santosa mengatakan, kemiskinan adalah persemaian atas munculnya sebuah konflik horizontal. “Konflik itu bukanlah karena agama, tetapi ketidakadilan. Namun karena situasi politik, konflik tersebut kemudian dimanfaatkan kepentingan pihak tertentu,” tuturnya, di hadapan peserta yang sebagian besar adalah lulusan Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan.

Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) dan Chairman Moderate Moslem Society, Zuhaeri Misrawi, menegaskan tokoh agama seperti pastor, imam, atau romo harus mengenali tradisi dan budaya orang lain. Dengan demikian, jemaatnya juga akan berjiwa yang plural dan terbuka untuk memahami orang lain. Pluralisme dalam kehidupan beragama dan berbangsa merupakan suatu keniscayaan. Apabila pluralisme diharamkan, masa depan bangsa ini sangat mengkhawatirkan, pesan lulusan Mesir ini.

Markus Kurniawan Hidayat yang berasal dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin Bogor, mengingatkan tentang pluralisme yang tidak perlu ditawarkan lagi. Belajar dari peristiwa pencabutan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) GKI Taman Yasmin Bogor oleh Wali Kota Bogor, semua pihak harus mengedepankan pluralisme dengan cara lebih membuka diri dan terbuka pada semua elemen, tambahnya.

Adapun pembicara lainnya, Trias Kuncahyono, Wapemred Harian Kompas, menegaskan, pastor harus melek teknologi dan informasi. “Dengan mengetahui berbagai permasalahan melalui internet, informasi terkini terkait pluralisme dapat disikapi dengan arif. Oleh karena itu, makin banyak tahu informasi seperti ini, pastor diharapkan terdorong melakukan tugasnya membela keadilan dan membangun pluralisme di segala dimensi kehidupan,” ujarnya.

Apabila semua saran tersebut dilakukan, semua rakyat Indonesia tidak takut lagi akan terjadi ketidakadilan oleh kalangan mayoritas kepada minoritas. Menurut Basuki Tjahya Purnama (Ahok), anggota Komisi II DPR, para pastor disarankan untuk tidak alergi terhadap politik supaya ketika terjadi ketidakadilan, mereka dapat melakukan sesuatu.

Oleh karena itu, Gereja harus berprinsip dan memegang teguh nilai-nilai luhur Pancasila. “Kita harus membangun bangsa Indonesia bukan dengan charity atau bantuan sosial, tapi dengan keadilan sosial,” tegasnya.

Dalam penjelasannya, Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, Sumarya SJ, menjelaskan, acara seminar ini diadakan dalam rangka peringatan 100 Tahun Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan Magelang yang jatuh pada tahun 2012.

Sebagai sekolah yang mengkhususkan diri mendidik para calon pastor (imam, romo), maka pemuka agama Katolik dipandang perlu untuk mempersiapkan anak didik yang berwawasan pluralisme.

Dengan demikian, para calon pastor masa depan dapat membawa umatnya ke suatu sikap toleransi dan saling pengertian di antara agama-agama. Sikap saling memahami dan toleransi diwujudkan dalam bentuk menjaga keberagaman di Indonesia. (PR/Ayu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s