Pemimpin Umat Harus Berjiwa Pluralisme

Seorang pemimpin umat di masa depan dengan melihat situasi sekarang harus memiliki wawasan pluralisme yang mengedepankan toleransi saling pengertian dan juga saling membangun. Hal ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa Indonesia bukanlah negara agama. Semua perbedaan agama, suku dan ras harus menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang lebih baik, damai dan adil di masa mendatang.

Dikutip dari Investor Daily.

Demikianlah kesimpulan seminar pluralisme di seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang dengan thema “Penghayatan Pendidikan Imamat Dalam Wawasan Pluralisme, pada Sabtu (23/7).

Hadir sebagai pembicara adalah anggota Komisi II DPR Basuki Tjahya Purnama (Ahok), Wapemred Harian Kompas Trias Kuncahyono, Cendikiawan NU dan Chairman Moderate Moslem Society Zuhaeri Misrawi, Tokoh GKI Taman Yasmin Bogor Markus Kurniawan Hidayat, dan Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah Teguh Santosa. Bertindak sebagai moderator adalah Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta Maryatmo.

Teguh Santosa mengatakan, kemiskinan adalah persemaian atas munculnya sebuah konflik horizontal. “Dan konflik itu bukanlah karena agama tetapi ketidakadilan. Namun karena situasi politik, konflik tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan pihak tertentu,” katanya di hadapan peserta yang sebagian besar adalah lulusan Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan.

Sedangkan Zuhaeri Misrawi mengatakan, tokoh agama seperti pastur, imam atau romo harus mengenali tradisi dan budaya orang lain, selain itu pastor juga harus menjiwainya. “Dengan demikian, jemaatnya juga akan punya jiwa yang plural dan terbuka untuk memahami orang lain. Dan pluralisme dalam kehidupan beragama dan berbangsa merupakan suatu keniscayaan. Apabila pluralisme diharamkan, maka masa depan bangsa ini sangat mengkhawatirkan,” kata lulusan Mesir ini.

Sementara bagi Markus Kurniawan Hidayat yang berasal dari GKI Taman Yasmin Bogor, pluralisme tidak perlu ditawarkan lagi. Namun demikian, meskipun hidup berbangsa dilandasi Pancasila yang mengandung nilai kebhinekaan, pluralisme tidak diterima dengan berbagai alasan. Ditambahkannya, belajar dari peristiwa pencabutan IMB GKI Taman Yasmin Bogor oleh Walikota Bogor, semua pihak harus mengedepankan pluralisme dengan cara lebih membuka diri dan terbuka kepada semua elemen.

Bagi Trias Kuncahyono, pastor harus melek teknolgi dan informasi. “Dengan mengetahui berbagai permasalahan melalui internet, informasi terkini terkait dengan pluralisme dapat disikapi dengan arif. Oleh karenanya semakin banyak mengetahui informasi seperti ini, pastor diharapkan terdorong untuk melakukan tugasnya membela keadilan dan membangun pluralisme di segala dimensi kehidupan,” ujar penulis buku “TAHUN 33” ini.

Bila semua saran dari sejumlah pembicara dari seminar itu bisa dilakukan, tentu kekaguman masyarakat luar Indonesia terhadap kebhinekaan bangsa ini bisa dipertahankan.

“Jika semua pemuka agama termasuk pastor menjaga kebhinnekaan sebagai pilar bangsa, kita semua tidak takut akan terjadi ketidakadilan oleh mayoritas kepada minoritas. Menghapus ketidakadilan adalah tugas dari para pemuka agama,” ujar Basuki Tjahya Purnama atau Ahok.

Ditambahkan mantan Bupati Belitung Timur itu, untuk menghapus ketidakadilan para pastor disarankan untuk tidak alergi terhadap politik. Sehingga ketika ketidakadilan terjadi, para pastor dapat melakukan sesuatu. Oleh karena itu, Gereja harus berprinsip dan memegang teguh nilai-nilai lulurh Pancasila. “Kita harus membangun bangsa Indonesia bukan dengan charity atau bantuan sosial tetapi dengan keadian sosial, ” ujarnya.

100 tahun seminari
Dalam penjelasannya, Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, Sumarya SJ mengatakan seminar ini diadakan dalam rangka 100 tahun Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan Magelang yang jatuh pada 2012.

Sebagai sekolah yang mengkhususkan diri mendidik para calon pastor (imam, romo) – pemuka agama Katolik, Seminari memandang perlu untuk mempersiapkan anak didik berwawasan pluralisme. Langkah ini dianggap penting untuk menghadapi era baru di mana pluralisme adalah suatu value yg harus dipelihara dan dijaga.

Dengan demikian, Sumarya SJ menjelaskan, para calon pastor masa depan dapat membawa umatnya ke suatu sikap toleransi, saling pengertian di antara agama-agama dan kepercayaan yang ada diIndonesia.

“Sikap saling memahami, toleransi tentu akan menjaga kebhinekaan, keberanekaragaman yang merupakan nilai luhur Indonesia, sebagaimana ditanamkan oleh para pendiri negara ini,” katanya.

Sumarya SJ yg sebelumnya adalah rektor SMA Kolese Kanisius, Jakarta ini, melihat bahwa jika seluruh calon pemuka agama_agama di Indonesia mendapatkan pendidikan pluralisme sejak dini, konflik horisontal yang berlatarbelakang agama dapat dihindari.

“Masa depan Indonesia yang damai, tentram dan bersatu akan menjadi harapan kita semua dgn tumbuhnya nilai pluralisme dalam diri para pemuka agama, yg sekarang dalam masa pengkaderan,” demikian Sumarya SJ. (*/gor)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s