Kemiskinan Adalah Persemaian Konflik Horizontal

Seorang pemimpin umat di Indonesia harus memiliki pola pikir yang berwawasan pluralisme. Hal itu penting mengingat Indonesia bukanlah negara yang memiliki satu agama.

Tribunnews.com – Sabtu, 23 Juli 2011 17:31 WIB
Laporan Wartawan Tribun Jogja M Huda

Selain itu dari ribuan pulau yang tersebar di berbagai penjuru tanah air, dari situ pula muncul berbagai suku, etnis, dan kebudayaan, mengharuskan penduduknya untuk tetap mempertahankan Pancasila yang dibangun oleh segenap rakyat Indonesia dalam bingkai Bhineka Tunggal Eka.

Demikian kesimpulan seminar kebangsaan yang bertajuk “Penghayatan Pendidikan Imamat dalam Wawasan Pluralisme”, yang digelar di Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan Magelang, Sabtu (23/7/2011).

Hadir sebagai pembicara antaralain, Cendekiawan NU dan Chairman Moderate Muslim Society, Zuhaeri Misrawi, Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah, Teguh Santosa, Anggota Komisi II DPR RI, Basuki Tjahya Purnama atau Ahok, Tokoh Masyarakat dari GKTI Taman Yasmin, Bogor, Markus Kurniawan Hidayat, dan Wapemred Harian Kompas, Trias Kuncahyono. Dan bertindak sebagai moderator, adalah Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta, Maryatmo.

Tegus Santosa mengatakan, “Bahwa kemiskinan adalah persemaian atas munculnya sebuah konflik horisontal,”.

Menurutnya, kemiskinan yang melanda Indonesia adalah penyebab utama maraknya konflik horisontal yang ada di tengah masyarakat. Dan bukanlah persolan agama yang sebenarnya menjadi penyebabnya.

Pancasila adalah sebuah tesis yang sangat ilmiah dan bisa diwujudkan buktinya, sayangnya saat ini kebanyakan mengganggap itu tidak ada artinya, hal itu disebabkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hidup. Dan mereka hanya memahaminya dalam bentuknya saja tidak dalam arti yang sebenarnya.

Dalam seminar yang sebagian besar peserta adalah dari anak didik Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan, dan beberapa tokoh perwakilan agama itu, Zuhaeri Misrawi mengatakan bahwa seorang Patur harus mengenali tradisi dan budaya orang lain, selain itu Pastur juga harus menjiwainya. “Karena sebenarnya pastur mempunyai jiwa yang plural dan terbuka untuk memahami orang lain, “ katanya.

Menurutnya, pluralisme dalam kehidupan beragama merupakan suatu suatu keniscayaan. Apabila pluralisme diharamkan, maka masa depan bangsa ini semakin menghawatirkan.

Markus Kurniawan Hidayat juga menambahkan, mulai saat ini hendaknya pastur harus membuka diri dan terbuka kepada semua elemen.

Trias Kuncahyono juga mengutarakan, bahwa Pastor harus melek teknologi dan informasi, kalau pastur tidak paham teknologi maka dia akan ketinggalan, karena banyak ilmu bisa dicari di sana, dan bisa memperoleh informasi yang cepat, “Bahkan lebih maju dari pasturnya,” ucapnya.

Kemudian lanjutnya, Pastor juga harus pintar, kalau pastur yang pintar tentunya umatnya juga pintar. Dan Pastor harus tetap suci, karena dia akan menjadi contoh bagi umatnya.

Namun pendidikan generasi tetap nomor satu untuk membentuk masa depan pemimpin bangsa. “Jangan menutup gereja rapat-rapat, harusnya perlu lebih terbuka, tunjukkan keterbukaan dan kepedulian pada umat,” tuturnya.

Ia menegaskan, masyarakat asing sebenarnya sangat kagum pada pancasila, karena bisa mempertahankan berbagai suku, etnis dan agama dalam satu payung.

Hal lain diungkapkan oleh Basuki Tjahya Purnama atau Ahok, ia mengatakan Pastor jangan alergi pada politik, karena selama ini gereja ketika ada peristiwa justeru menjauh dari politik, sehingga ketika terjadi ketidakadilanpun mereka tidak mau bersuara, karena seolah-olah persoalan ini bukan urusannya, dan mereka masih beranggapan bahwa gereja hanyalah melakukan kegiatan bhakti sosial semata.

“Kita hidup bernegara berhak untuk memeluk agama apapun tapi ketika kita bernegara harus menjadi satu dalam payung Pancasila. Bukankah dalam sila kelima bunyinya “keadilan sosial”, tapi dalam hidup bernegara di Indonesia, gereja harus berprinsip pada Pancasila. Tapi apabila gereja hanya melakukan bantuan sosial semata, maka bukankah justeru itu melanggar sila ke lima,” katanya.

Karena lanjut Ahok, kalau gereja hanya melakukan bantuan sosial itu tidak akan menyelesaikan masalah, namun harus melawan ketidakadilan itu. “Ingatlah di sila kelima bunyinya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan rakyat seagama,” ucapnya.

Terkait adanya seminar ini, ia manambahkan, kegiatan ini merupakan awal yang baik di Seminari, dan untuk calon tokoh-tokoh muda di sini, kata Ahok, jangan takut menyuarakan kebenaran, tidak boleh takut memperjuangkan Pancasila. “Saya berharap seluruh agama di Indonesia ini apapun alirannya, kalau mau ada di Indonesia harus mau memperjuangkan Pancasila terutama sila ke lima. Bagaimana bisa mengajarkan agama yang baik kalau dirinya sendiri tidak mengamalkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, Sumarya Sj menjelaskan seminar ini diselenggarakan dalam rangka 100 tahun Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan Magelang yang jatuh pada tahun 2012 mendatang.

Sebagai sekolah yang mengkhususkan diri untuk mendidik para calon pastur (imam,romo) dipandang perlu untuk mempersiapkan anak didik berwawasan pluralisme. Maka para calon pastur di masa depan dapat membawa umatnya ke suatu sikap toleransi, saling menghargai di antara keberagamaan dan kepercayaan di Indonesia. Jika seluruh calon-calon pemuka agama di Indonesia mendapatkan pendidikan pluralisme sejak dini, maka konflik horisontal yang berlatarbelakang agama dapat terhindari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s