Q&A on Yudhoyono’s WikiLeaks

Berikut adalah tanya-jawab mengenai pemberitaan mengenai isi kawat diplomatik Kedubes AS yang dibocorkan WikiLeaks, dituliskan Philip Dorling dan dimuat The Age dan Sydney Morning Herald.

Pertanyaan disampaikan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat.

Bagaimana dampak positif dan negatif dari berbagai pemberitaan di media tentang kasus WikiLeaks bagi perkembangan politik dan perubahan sosial di Indonesia?

Dampak positif: dapat menjadi saluran informasi alternatif yang berguna bagi publik untuk melengkapi berbagai informasi yang multidimensi dan multiperspektif sehingga pemahaman publik relatif lebih utuh.

Dampak negatif: bila tak disertai media literacy yang memadai informasi seperti itu dapat dianggap sebagai kebenaran tunggal dan mutlak. Sementara sejatinya, semua informasi darimana pun sumbernya sudah barang tentu perlu ditelaah lebih lanjut.

Mengingat kunjungan Budiono ke Australia dan Jusuf Kalla ke Jepang, yang mana saat itu bertepatan dengan pemberitaan tentang Yudhoyono. Apakah pemberitaan Sydney Morning Herald dan The Age tentang “Yudhoyono Abused Power” merupakan praktek dari teori agenda setting media?

Menurut hemat saya, agenda setting memang merupakan salah satu fungsi media massa. Apapun yang diberitakan atau tidak-diberitakan media massa adalah bagian dari fungsi agenda setting itu. Jadi, tidak hanya terbatas pada pemuatan artikel yang ditulis Philip Dorling di The Age dan Sydney Morning Herald. Masalahnya adalah, apakah agenda setting yang sedang dimainkan kedua media itu di balik pemuatan artikel Dorling? Ini yang perlu diteliti dan dicari tahu lagi.

Menurut Anda dari mana WikiLeaks memiliki data se-autentik itu mengenai pemberitaan “YAP”?

Saya kira, bagi publik Indonesia, berbagai kasus yang disebutkan di dalam artikel Dorling, mulai dari tekanan politik SBY untuk lawan-lawan politik, megaskandal danatalangan Bank Century senilai Rp 6,7 triliun yang melibatkan Boediono, atau bisnis keluarga Cikeas, dan seterusnya, sama sekali bukan merupakan hal-hal yang baru dan aneh. Publik Indonesia, terutama yang beririsan langsung atau tidak langsung dengan wilayah politik dan kekuasaan, sudah sering membicarakan hal itu.

Artikel Dorling tersebut berisi informasi yang disampaikan Kedubes AS untuk Washington DC (diplomatic cable) yang diperoleh dan dibocorkan WikiLeaks. Kedubes AS memperoleh informasi-informasi itu dari sumber-sumber informasi Indonesia. Baik dari berbagai pemberitaan di media massa, maupun dari pihak-pihak tertentu yang memiliki kaitan langsung dengan suatu kasus yang “diwawancarai” Kedubes AS.

Mengenai autentik atau tidaknya informasi yang dikirimkan via diplomatic cable Kedubes AS itu, saya ingin memberikan catatan sebagai berikut: tidak semua informasi yang dikirimkan Kedubes AS ke Washington DC bersifat final. Ada yang masih merupakan bagian dari perkembangan sebuah kasus yang belum selesai dan memiliki kekuatan hukum dan politik yang mengikat. Namun yang jelas berbagai kasus yang disebutkan di dalam kawat diplomatik itu memang benar telah dibicarakan publik Indonesia jauh hari sebelum dibocorkan WikiLeaks dan dituliskan Philip Dorling serta dimuat media massa Australia.

Menurut Anda apakah peran media tentang pemberitaan Yudhoyono di Koran harian The Age dan Sydney Morning Herald sangat memengaruhi (perubahan sosial) khalayak.

Sangat memperngaruhi. Selama ini pembicaraan mengenai “abuse of power” pemerintahan SBY dan kelompok di sekelilingnya hanya menjadi konsumsi segelintir orang di luar pemerintahan. Pembicaraan mengenai ketidakmampuan pemerintahan SBY-Boediono menangani berbagai persoalan domestik pun tidak mendapat tempat yang luas di tengah masyarakat. Hanya sekelompok aktivis yang mau membahasnya. Apresiasi yang disampaikan pihak-pihak luar negeri selama ini dianggap sebagai salah satu senjata politik SBY-Boediono untuk menangkis serangan pihak lawan.

Namun setelah artikel Dorling dimuat di The Age dan SMH, masyarakat internasional mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dan tidak benar yang sedang berlangsung di Indonesia. Keraguan terhadap kapasitas, kapabilitas dan integritas SBY-Boediono pun mulai bermunculan di masyarakat internasional. Setelah The Age dan SMH, beberapa media massa asing juga melakukan hal yang kurang lebih sama. Misalnya Al Jazeera, Wall Street Journal dan Reuters juga Los Angeles Times.

Ini akan menggerogoti kewibawaan SBY-Boediono di mata dunia. Ini dapat menghapuskan kebanggaan Indonesia yang dipercaya menjadi anggota G-20 juga ketua Asean.

Apakah semua yang diberitakan oleh Koran harian The Age termasuk “YAP” dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya kepada khalayak?

Dapat. Saya hendak memberikan sedikit catatan mengenai hal kebenaran di dalam jurnalistik. Menurut hemat saya, kebenaran di dalam dunia jurnalistik bukanlah kebenaran Illahiah yang bersifat final dan tunggal, melainkan kebenaran fungsional yang menjawab pertanyaan dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Begitu juga dengan artikel Dorling dan pemberitaan media massa asing setelah itu. Begitu juga dengan pemberitaan media massa nasional dan lokal.

Menurut Anda apakah koran harian The Age dan Sydney Morning Herald sudah masuk dalam kategori media yang bebas dan bertanggung jawab?

Menuurut saya, secara relatif kedua koran Australia itu dapat dimasukkan kedalam kategori media bebas dan bertanggungjawab.

Mengenai sikap media massa industri, saya ingin memberikan catatan sebagai berikut: tidak ada media massa yang terbebas dari bias. Begitu juga dengan The Age dan SMH.

Demikian jawaban saya. Bila masih ada yang kurang jelas, please feel free untuk menghubungi saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s