Inilah Empat Tanda Kehancuran Ekonomi Indonesia

Terlepas dari berbagai klaim pertumbuhan ekonomi yang kerap disampaikan pemerintah, pada kenyataannya perekonomian nasional bergerak ke arah jurang dan dapat terjun bebas menuju kehancuran.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya Dr. A. Prasetyantoko yang menjadi pembicara dalam diskusi mengenai konstitusi ekonomi di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu petang (18/8) mencatat empat hasul analisis para bankir dan investor yang memperlihatkan arah perjalanan perekonomian nasional yang sesungguhnya.

Pertama, katanya, meskipun potensi rezim petumbuhan tinggi akan tercapai, namun sesungguhnya yang mengalami pertumbuhan adalah sektor yang sedikit menyerap tenaga kerja, seperti sektor jasa, keuangan, dan perdagangan. Sebaliknya, sektor yang berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, seperti pertanian, pertambangan dan manufaktur, justru mengalami kemunduran.

Kualitas pertumbuhan yang tidak baik ini pun dapat ditelusuri dari penyaluran kredit yang ternyata lebih banyak diberikan untuk sektor yang tidak memproduksi barang, konsumsi dan spekulasi keuangan.

Faktor kedua, pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia masih bertumpu pada komoditas primer, dan belum masuk ke sektor advanced industry. Ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia masih sangat tergantung pada sumber daya alam yang apabila tidak dikelola dengan baik akan mempercepat kehancuran. Apalagi, pertumbuhan ekonomi yang tergantung pada esktraksi sumber daya alam sangat tidak stabil. Selain itu, bila Indonesia kehabisan sumber daya alam, misalnya minyak bumi, maka kehancuran akan semakin cepat menghampiri.

Selanjutnya, ketergantungan anggaran pada harga komiditas minyak di pasar dunia seperti yang masih kita alami merupakan sebuah ancaman yang dalam waktu singkat dapat berbuah petaka.

Ketergantungan Indonesia pada minyak bumi berawal dari era 1970-1980, ketika minyak bumi Indonesia laku di pasar Eropa dan Amerika. Persoalannya, Indonesia sama sekali tidak membangu refinary product, dan lebih senang menjual minyak mentah yang harganya ketika itu cukup tinggi. Ketika keadaan berbalik seperti yang terjadi saat ini, maka status Indonesia pun berubah menjadi net importer yang tergantung pada supply minyak bumi dari luar.

Tanda kehancuran ekonomi terakhir yang dicatat Dr. A. Prasetyantoko adalah ketimpangan pembangunan daerah. Ironisnya, sejumlah data memperlihatkan bahwa daerah-daerah yang memiliki angka gizi buruk tinggi merupakan daerah penghasil komoditas ekonomi penting. Sumatera Utara yang menjadi salah satu sentra minyak sawit Indonesia misalnya, masuk dalam kelompok ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s