Inilah Sebab Ekonomi Tak Berkelamin di Indonesia

Di dalam UUD 1945 telah ditegaskan bahwa ciri perekonomian nasional Indonesia berorientasi pada kesejahteraan rakyat yang mirip dengan paham welfare state di belahan bumi lain.

Persoalannya, sejumlah UU yang menjabarkan Konsitusi justru memiliki semangat yang bertolak belakang.

Hal ini disampaikan Dr. A. Prasetyantoko dalam bedah buku “Konstitusi Ekonomi” karya Jimly Asshidiqie yang digelar Sabang Merauke Circle di Hotel Borobudur, Rabu petang (18/8).

“Berbagai produk perundangan-undangan dan peraturan pemerintah, peraturan menteri, dan berbagai kebijakan yang muncul kemudian tidak lagi berorientasi pada kesejahteraan sosial. Dalam bahasa yang lugas, watak perundangan dan kebijakan kita cenderung bersifat liberal dengan mengedepankan semangat pasar,” ujar Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya itu.

Dia menyebut UU 22/2001 tentang Migas sebagai salah satu produk hukum di bawah Konstitusi yang memiliki semangat berseberangan dengan Konstitusi. UU seperti ini dilahirkan oleh semangat pertarungan politik yang pragmatis.

“Bila ternyata terjemahan Konstitusi dasar dalam perundangan yang lebih teknis di bawahnya mengandung deviasi (perbedaan) yang besar, hal tersebut menandakan bahwa pertarungan politik dan kekuasaan dimenangkan oleh kelompok yang memiliki pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran pendiri bangsa,” demikian ujarnya.

Advertisements

1 thought on “Inilah Sebab Ekonomi Tak Berkelamin di Indonesia”

  1. Sangat menarik membaca tulisan tersebut diatas.TTg model ekonomi yang digagas oleh founding father, ekonomi panca sila ( se-olah2 ) yang dijalankan oleh orde baru, dan model ekomi yang kita nikmati sekarang.
    Menurut UUD 1945 negara adalah sebagai penguasa untuk mengatur ekonomi. Kalau yang menguasai negara itu berbeda filosofie politik, maka akan berbeda pula kesejahteraan ekonomi rakyatnya. Ekonomi dan politik tidak bisa terpisahkan kenyataannya. Politik orla yang dipandegani oleh soekarno, dimana uud1945 sebagai undang dasar RI,dan Panca Sila sbg filsafat negara dan nasakom adalah factor rieel untuk melaksanakan garis kebijaksanaan politik negara. Dlm pidato kenegaraan Soekarno tahun 1965, ttg berdikari. Pada prinsipnya tiga pilar untuk kejayaan RI. Yaitu berdaulat dlm politik, berdikari dlm ekonomi dan berkepribadian dlm kebudayaan.Kita sendiri merasakan waktu itu bagaimana kehidupan bangsa indonesia, kita makan jagung, bulgur, ketela dan lain sebagainya.Dlm politik soekarno selalu menegaskan, kita bukan bangsa tempe, walaupun tempe itu enak rasanya. Tapi kita tidak didekte oleh orang luar, tidak tergantung dng negara lain, tetap dan selalu berkepribadian Indonesia.Orla selalu menekankan ttg sosialisme, sosialisme pasti jaya. Itu retorikanya ode lama.Dng jatuhnya soekarno tumbangnya komunis di Indonesia ( Ini yang dikehendaki oleh imperialis kolonialis barat ) , kegandrungan orla untuk ekonomi sosialis hanya impian belaka. Andaikan masih berjalan mungkin Indonesia akan sama dng Cina, dimana amerika harus bersimpuh dng Ind. Model ekonomi Orde baru lain lagi dng model ekonomi orla. Pengertian sosialisme itu ( sampai sekarang) itu tabu. Terlarang!. Karena kata2 itu ada hubungannya dng komunis, yang mana Amerika sangat membencinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s