Cerita tentang Duet Ani Yudhoyono dan Prabowo Subianto Menguat

Baru tahun 2010. Tetapi pembicaraan mengenai siapa yang akan menjadi presiden berikutnya lewat Pilpres 2014 sudah jadi hal yang biasa kita dengarkan di tengah masyarakat, terutama kalangan politisi yang hidup dan matinya memang tergantung pada dinamika di arena politik.

Fenomena ini memperlihatkan banyak hal, yang dari sedemikian banyak hal itu dapat disimpulkan menjadi hanya satu hal: ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang ada sekarang.

Ketidakpuasan itu pun sesungguhnya terbagi ke dalam dua golongan besar. Pertama, ketidakpuasan politik di kalangan kelompok-kelompok yang kalah dalam kompetisi politik yang lalu, juga di kalangan kelompok-kelompok yang tersisih dan tidak dilibatkan dalam pemerintahan atau kekuasaan. Kelompok pemilik ketidakpuasan jenis pertama ini berharap agar siklus politik bergerak cepat sehingga mereka memiliki peluang untuk berkuasa, dan bagi yang tersisih, sehingga mereka dapat membalaskan dendam untuk selanjutnya, kalau mungkin, menjadi penguasa berikutnya.

Ketidakpuasan kedua patutlah kita sebut sebagai ketidakpuasan ekonomi. Ketidakpuasan ini berkembang luas di kalangan masyarakat yang tidak terlibat langsung di dalam arena politik, kecuali hanya berperan memberikan suara ketika pemilihan umum digelar. Ketidakpuasan jenis kedua inilah yang sesungguhnya lebih substansial manakala kita membicarakan relasi antara politik dan kesejahteraan rakyat, dan mengandaikan kedua hal itu mestinya memilihi relasi yang positif.

Rakyat kita memang dibikin masygul oleh fenomena politik yang berkembang di atas panggung. Misalnya, tabung gas meledak di banyak tempat dan menelan korban jiwa, sementara menteri yang terkantuk-kantuk di tengah rapat kabinet karena menghabiskan malam menonton pertandingan final Piala Dunia hanya mohon maklum belaka.

Kalau persitiwa menteri molor itu terjadi di Jepang, mungkin hari ini kita sudah kehilangan sejumlah menteri yang memilih bunuh diri untuk mengkompensasi rasa malu akibat gagal memperlihatkan bakti. Untunglah ini hanya di Indonesia!

Dari sekian banyak cerita yang berkembang menjelang atau menyongsong pesta politik atau pestanya kaum politisi di tahun 2014 nanti, cerita tentang upaya keluarga Cikeas mempertahankan kekuasaan adalah yang paling menarik untuk diikuti.

Periode 2009-2014 ini adalah periode terakhir bagi Presiden SBY. Setelah itu, yang bisa dilakukannya adalah mempersiapkan pengganti dari kalangannya sendiri. Ini bisa berarti dari partai politik yang didirikannya, Partai Demokrat, atau dari kelompok militer tempat ia dibesarkan, atau dari kalangan keluarga.

Sebentar terdengar kabar bahwa ia tengah mempersiapkan kawan dekatnya seorang purnawirawan jenderal, sebentar terdengar bahwa yang dipersiapkannya adalah tokoh sipil. Kabar yang juga kuat menyebutkan bahwa ia lebih tertarik untuk mendukung istrinya sendiri, the first lady Ani Yudhoyono.

Dalam hitungan banyak aktivis, seperti Adhie Massardi, kemungkinan Ani Yudhoyono maju dalam Pilpres 2014 terbuka sangat lebar. Dan kemungkinan ia menang dalam pilpres itu juga terbuka sangat lebar.

“Sukes atau tidak sukses upaya Ani Yudhoyono mencalonkan diri dalam Pilpres 2014 sangat tergantung dari performa pemerintahan suaminya. Bila di akhirnya kekuasannya, pemerintahan SBY dikesankan, sekali lagi dikesankan, sebagai pemerintahan yang sukses, maka langkah Ani Yudhoyono melanjutkan kekuasaan SBY akan jauh lebih mudah,” ujar aktivis Gerakan Indonesia Bersih (GIB) dan sejumlah elemen civil society lainnya.

Tetapi, sambung Adhie, bila elemen civil society mampu membuka topeng pencitraan dan memperlihatkan wajah asli pemerintahan ini, maka langkah Ani Yudhoyono menuju RI-1 akan terseok-seok.

Cerita yang yang juga terdengar dari kalangan Istana beberapa waktu terakhir ini berkaitan dengan hubungan antara SBY dan Prabowo Subianto yang semakin menghangat. Disebutkan bahwa di kalangan Istana kini ada sejumlah wacana, termasuk di dalamnya wacana untuk menduetkan Ani Yudhoyono dengan Prabowo Subianto yang dalam Pilpres 2009 lalu mendampingi Megawati Soekarnoputri.

Wacana ini diperbincangkan dengan cukup serius di kalangan politisi dari berbagai kelompok politik. Dalam pertemuan tidak sengaja penulis dengan beberapa politisi di sebuah hotel di Jakarta Selatan tadi malam, cerita ini pun sempat diulas. Dan semua pihak sepakat, bahwa derajat kemungkinannya cukup tinggi.

Dan hari ini, kemungkinan tentang duet itu semakin kuat setelah publik mendengar bahwa Prabowo Subianto yang kembali memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) didampingi politisi Partai Demokrat Djafar Hafsah yang ditunjuk ebagai sebagai ketua Badan Pertimbangan dan Organisasi. Djafar menggantikan pejabat sebelumnya, Siswono Yudohusodo yang merupakan kader Partai Golkar.

Djafar memang mengatakan bahwa pertimbangannya bergabung dengan Prabowo di HKTI bukan karena pertimbangan politik, apalagi untuk kepentingan Pilpres 2014. Tetapi, kecurigaan bahwa duet Prabowo dan Djafar di HKTI ini ditujukan untuk menguasai suara kaum tani tidaklah dapat dibendung begitu saja, bukan.

Dari sudut pandang Adhie Massardi, misalnya, dapatlah kita simpulkan bahwa menguasai kaum tani adalah cara terbaik untuk memperkuat kesan, sekali lagi kesan, bahwa pemerintahan SBY berhasil mewujudkan semua janji ekonomi yang disampaikannya di arena politik. Dan kesan itulah yang dibutuhkan oleh, misalnya Ani Yudhoyono, untuk dengan mudah melanjutkan pemerintahan SBY.

Tetapi, karena tahun 2014 masih empat tahun lagi, pembicaraan duet Ani Yudhoyono dan Prabowo Subianto ini bisa jadi insinuatif juga. Tetapi (lagi), di dalam perjalanan dadu politik, semua angka memiliki peluang yang sama.

Demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s