Hanya Orang yang Tertutup Matahatinya yang Dapat Terbujuk Manuver Muhaimin Iskandar

Mahaguru. Itulah gelar yang akan diberikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk almarhum Abdurrahman Wahid, sang pendiri.

“Kalau bahasa di kampus istilahnya profesor,” kata Muhaimin di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, kemarin. Gelar itu akan disematkan pada puncak acara HUT ke-12 PKB yang akan datang.

“Ya moga-moga dengan penghargaan Mahaguru ini semua orang-orang di PKB meneladani langkah-langkah Gus Dur dan ada kebersamaan dari para pengurus dan kader,” sambung Muhaimin.

Pernyataan Muhaimin ini terbilang aneh. Bukankah ia yang pernah menistakan Gus Dur sedemikian rupa dan mengabaikan peranan besar Gus Dur di partai itu?

Apakah gerangan niat dan maksud di balik gelar Mahaguru untuk Gus Dur yang akan diberikan Muhaimin itu?

Adalah AS Hikam, salah seorang sahabat dan mantan menteri di Kabinet Persatuan Nasional pimpinan Gus Dur, yang membedah misteri di balik gagasan Muhaimin tersebut. Doktor ilmu politik dari University of Hawaii ini juga pernah menjadi pengurus PKB sebelum akhirnya memilih keluar setelah melihat ketidakbecusan kepemimpinan di PKB pasca Gus Dur.

Berikut ulasan AS Hikam.

MANUVER politik Muhaimin Iskandar untuk mengapropriasi Almaghfurlah Gus Dur dalam rangka rebutan posisi kepemimpinan PKB patut menjadi perhatian bukan saja dari para pendukung partai ini, tetapi juga bagi semua orang yang menginginkan kembalinya moralitas sebagai landasan berpolitik di negeri ini.

Secara legal dan politis formal, barangkali apa yang dilakukan oleh MI adalah sebuah manuver politik yang wajar-wajar belaka, sebab ia sedang berada dalam posisi defensif menghadapi carut marut internal partai dan kemungkinan suram bagi partai ini dalam kompetisi pada 2014 yad.

PKB yang sekarang dianggap legitim dan menjadi bagian dari koalisi parpol pendukung pemerintah itu diakui atau tidak sedang mengalami krisis legitimasi, termasuk legitimasi moral, baik dari pendukungnya maupun masyarakat. Upaya MI dkk dengan mengembalikan citra partai sebagi partai yang menghargai dan menghormati para pendirinya, khususnya GD, tentu adalah sebuah gagasan dan kerja yang sah adanya.



Namun dari sisi pertanggungjawaban moral yang sering dikatakan sebagai landasan parpol berbasis NU ini, prilaku MI sangatlah perlu dipersoalkan, untuk tidak langsung mencurigai sebagai sebuah manipulasi politik kelas tinggi. Siapapun tahu, bahwa MI adalah figur yang paling bertanggungjawab dalam perpecahan internal yang pada akhirnya melucuti sang pendiri partai dari seluruh jabatan formal di partai dengan menggunakan legitimasi hukum dan politik setelah ia berkolaborasi dengan penguasa.

Demikian pula, MI adalah sosok yang dengan sangat dingin membiarkan (atau malah menyutradarai) partai yang dikenal memiliki kredo sebagai pendukung reformasi dan rekam jejak progresif dalam mengawal demokrasi, kemudian menjadi sebuah parpol yang ultra-pragmatis dan tidak memiliki visi yang jelas dalam menghadapi permasalahan strategis bangsa. Apa yang digagas dan dilaksanakan oleh MI dkk dalam beberapa tahun setelah pecahnya DPP PKB, adalah gagasan dan kiprah yang secara diametral bertentangan dengan gagasan dan kiprah GD selama beliau masih hidup!



Namun, MI dengan tidak malu-malu menjungkirbalikkan semuanya dan justru melakukan appropriasi simbol tokoh yang paling dihormati – bukan saja oleh PKB dan NU tetapi juga rakyat Indonesia – sedemikian rupa vulgarnya, sehingga seolah-olah tidak pernah terjadi episode yang telah menjadi sebab bagi kemerosostan dan mungkin kehancuran partai itu.

Bahkan MI ingin bergerak lebih jauh dengan mengesankan kepada publik bahwa apa yang disebut sebagai proses islah itu adalah sesuatu yang sudah tak ada masalah, sementara kenyataannya proses tersebut lebih merupakan sebuah iming-iming dan pepesan kosong politis belaka. Dengan demikian, appropriasi simbolis terhadap GD tak lebih dan tak kurang hanyalah langkah politik yang digelar tanpa mempedulikan moralitas dan juga etiket sedikitpun, hanya karena Mi tidak lagi dapat mempertahankan legitimasinya di kalangan pendukung PKB dan kaum nahdliyyin.



Akibat yang akan dialami oleh PKB dan MI bisa jadi justru akan berbalik dari apa yang diharapkannya. Justru para pendukung fanatik dan yang tidak fanatik terhadap GD akan semakin memperoleh landasan dan legitimasi moral untuk menjauhi dan menolak PKB dan MI dkk.

Bagaimanapun juga masih segar dalam ingatan kolektif mereka bagaimana Almaghfurlah yang telah berupaya untuk mengorbitkan MI dan meriskir dijauhi oleh para masyayikh dan para tokoh PKB, ternyata kemudian diperlakukan seperti habis manis sepah dibuang. Alih-alih MI dkk melanjutkan apa yang menjadi visi dan kiprah GD perjuangan menegakkan demokrasi dan membuat partai ini menjadi mercusuar yang menerangi kegelapan di Republik ini, justru di bawah MI PKB menjadi hanya pelengkap dari kekuasaan dan hampir tanpa kontribusi apapun dalam memperjuangkan kepentingan rakyat pada umumnya, dan konstituen partai pada khususnya.



Bagi saya, manuver MI tak lebih dari sebuah upaya sia-sia untuk menegakkan benang basah. Aprropriasi simbolik terhadap figur GD bukan saja menjadi semacam karikatur yang menggambarkan rasa bersalah dari MI dkk terhadap beliau, tetapi lebih dari itu, ia adalah sebuah potret PKB di bawah MI dkk yang kini semakin jauh dari cita-cita dan perjuangan beliau yang selalu menjunjung tinggi akhlaqul karimah atau budipekerti yang luhur dalam berpolitik.

Hanya orang yang tertutup matahatinya yang dapat terbujuk oleh manuver politik seperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s