Ahmadou Ould Souilem: Perjuangan Polisario Sudah Selesai

Agustus tahun lalu Ahmadou Ould Souilem memutuskan untuk kembali ke Maroko. Ia meninggalkan kamp pengungsi Tindouf di Aljazair, tempat ia dan kawan-kawannya merajut mimpi melepaskan diri dari Maroko.

Souilem adalah salah seorang pendiri kelompok separatis Popular Front for the Liberation of Saguia el Hamra and Rio de Oro (Polisario) yang dideklarasikan tahun 1973, di saat tanda-tanda kebangkrutan Spanyol yang mengambil Sahara dari Maroko semakin nyata di depan mata.

Sebegitu penting Souilem bagi Polisario dan Republik Demokratik Arab Saharawi (SADR) yang didirikan partai itu di tahun 1976. Di republik itu ia menjabat berbagai posisi penting. Menteri sekretaris negara adalah jabatan terakhir Souliem sebelum kembali ke pangkuan Kerajaan Maroko.

Beberapa waktu lalu, bersama beberapa rekan dari Indonesia, saya sempat bertemu dengan Souilem di kediamannya di pinggir kota Rabat. Berikut petikan wawancara itu:

Apa alasan pendirian Polisario tahun 1973 silam?

Polisario dibentuk pertama kali untuk menghadapi kolonialisasi Spanyol. Bila berhasil mengusir Spanyol, maka Polisario akan membawa Sahara kembali ke Maroko seperti sebelum masa kolonialisasi. Sayangnya, telah terjadi kesalahpahaman antara pihak Polisario dengan Maroko dan Mauritania. Kedua negara ini mengira bahwa Polisario ingin menguasai Sahara dan menjadikannya sebagai negara yang terpisah.

Konflik opini dengan pihak Maroko, khususnya, dimanfaatkan Aljazair untuk menciptakan kebencian di kalangan Saharawi terhadap Maroko. Saat itulah, Polisario membawa orang-orang Saharawi di Sahara Barat ke kamp Tindouf di Aljazair. Saharawi pun saat itu seperti berada di antara dua api; pihak Maroko yang salah memahami dan Aljazair yang memanfaatkan keadaan itu. Tetapi, lambat laun orang-orang Saharawi yang menetap di Tindouf memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Karena bagaimanapun juga kita bisa terlibat konflik dengan pemerintah, tetapi tidak dengan negara dan diri kita sendiri.

Untuk artikel yang ditulis Souilem di Global Post dapat dilihat pada link ini.

Bagaimana dengan Republik Demokratik Arab Saharawi (SADR)?

SADR adalah konsekuensi dari kesalahpahaman antara elit Polisario dengan pemerintah Maroko ketika itu. Tetapi yang Anda perlu pahami, SADR tidak didirikan oleh orang Saharawi di tanah mereka, melainkan di Aljazair. Selain itu ketika dideklarasikan, orang Saharawi masih berada di Sahara Barat. Di saat bersamaan, Polisario memproklamasikan SADR di tiga negara lain, Libya, Madagaskar, dan Afrika Barat. Itu adalah jebakan yang sengaja dipasang Aljazair setelah memanipulasi konflik antara Polisario dan Maroko.

Saya sendiri sedang berada di Sahara ketika SADR diproklamasikan. Abdelaziz (Presiden SADR dari 1976 hingga kini) sedang berada di Tindouf tetapi tidak menghadiri deklarasi. Deklarasi SADR dilakukan oleh sekelompok orang (faksi) di Polisario yang dipimpin oleh El Wali Mustapha Sayed, salah seorang pendiri dan sekretaris jenderal Polisario. SADR diproklamasikan di Ibukota Aljazair.

Kerajaan Maroko yang berdiri sejak abad ke-8 akhirnya takluk di tangan kolonial Eropa pada tahun 1912. Dalam perjanjian yang ditandatangani di Fes tahun itu, Perancis dan Spanyol membagi dua wilayah Maroko. Perancis mendapatkan bagian utara dan bagian selatan dikuasai Spanyol.

Tahun 1956 Perancis meninggalkan Maroko. Sementara Spanyol angkat kaki tahun 1975. Konflik antara Maroko dengan sekelompok Saharawi bermula dari masa ini. Kelompok Saharawi yang mendirikan Polisario melarikan diri ke kamp Tindouf di Aljazair. Perang di antara kedua kubu berakhir di tahun 1991.

Menyusul pembicaraan damai yang kembali dilakukan di PBB dalam beberapa tahun terakhir ini, semakin banyak orang Saharawi yang kembali ke kampung halaman mereka di Maroko.

Kapan Anda memiliki keinginan untuk meninggalkan Polisario?

Saya memiliki perasaan ingin kembali ke Maroko sejak akhir 1980an, tepatnya 1988. Saat itu terjadi kerusuhan besar-besaran di Tindouf. Beberapa pendiri Polisario mulai berpikir untuk membawa pulang orang-orang Saharawi ke Sahara Barat. Tetapi upaya ini tidak mungkin dilakukan karena di kawasan itu sedang terjadi perang antara Maroko dan Polisario yang disponsori Aljazair. Upaya mengembalikan orang-orang Saharawi mulai bisa dilakukan setelah gencatan senjata tahun 1991.

Kapan terakhir kali Anda bertemu Abdelaziz?

Sekitar 15 hari sebelum kembali ke Maroko, dalam sebuah rapat rutin. Tetapi jauh sebelum itu saya sudah menyampaikan keinginan kembali ke Maroko secara terbuka. Keputusan ini tidak dipengaruhi pemerintah Maroko.

Sejumlah LSM internasional menyebutkan bahwa kamp Tindouf kini menjadi basis kelompok teroris…

Sampai terakhir saya berada di Tindouf, saya tidak mengetahui apakah jaringan Al Qaeda ada di Tindouf. Tetapi, dengan mempertimbangkan keadaan di sekitar Tindouf yang begitu bebas dan liar, anggota Al Qaeda bisa saja bergerak dengan bebas. Kemudian, kondisi kehidupan orang-orang Saharawi di Tindouf yang begitu keras memungkinkan penyusupan. Keputusasaan di kalangan pemuda yang sebelumnya mendapatkan pelatihan militer dari Polisario dan Aljair, memungkinkan mereka direkruti oleh Al Aqaeda.

Souilem lahir di Dakhla, 10 Juni 1951. Ia menyelesaikan pendidikan dasar sampai sekolah menengah atas di tempat ia dilahirkan. Tamat dari SMA tahun 1966 Souliem memilih bergabung dengan Polisario. Ia pernah menjadi dutabesar SADR untuk Panama, Angola, Afrika Selatan dan Timur Tengah.

Dari pernikahannya, Souilem memiliki tujuh orang anak, enam di antaranya adalah perempuan. Ketujuh anaknya yang lahir di Tindouf mengikuti langkah Souliem kembali ke Maroko.

Benarkah orang Sahara di Maroko mengalami diskriminasi?

Tidak ada diskriminasi sama sekali. Maroko memiliki satu konstitusi dan hukum yang berlaku sama di manapun di Maroko. Orang-orang Saharawi memiliki perwakilan di pemerintahan. Ketua Senat yang merupakan orang terkuat ketiga di Maroko adalah orang Saharawi. Di Parlemen secara umum ada sekitar 60 orang Saharawi dari sekitar 300 anggota Parlemen. Maroko memiliki 16 wilayah dan di Sahara Barat sendiri ada dua wilayah.

Saya bisa sebutkan bahwa Dubes Maroko di Dominika, Ibrahim Massa, adalah orang Saharawi, juga Dubes di Norwegia, Yahdih Bouchaab, Dubes di Sudan, Mohamed Taleb Khiar, dan Dubes di Australia, Maalainine Daba, serta Dubes di Angola, Mostapha Bouh.

Sejak reformasi 1999 tidak ada tahanan politik, begitu juga dengan penyiksaan terhadap tahanan. Tetapi tentu saja kadang-kadang ada tindakan yang berlebihan yang dilakukan oleh petugas yang terlibat konflik dengan tahanan. Kalau pun itu terjadi, itu bukan karena kebijakan pemerintah.

Tentu saja masih banyak masalah yang dihadapi Maroko, seperti juga masalah yang dihadapi negara lain. Tetapi, kita bisa melihat kemajuan-kemajuan dalam bidang tertentu. Setiap hari, misalnya, kita melihat orang-orang asing mengunjungi Sahara. Ini membuktikan di Sahara Barat kehidupan juga berlangsung dengan normal dan aman.

Itulah yang membuat sampai hari ini orang-orang Saharawi yang berada di Tindouf pulang ke Sahara Barat. Alasan mengapa mereka kembali tidak semata-mata karena kebutuhan materi atas pertimbangan sosial dan ekonomi. Tetapi lebih karena mereka mencari hak dasar mereka yang selama ini hilang. Hak untuk memiliki identitas, hak untuk memiliki negara, hak untuk bersuara.

Bagaimana Anda mengetahui sebagian besar orang Saharawi memilih bergabung dengan Maroko?

Saya adalah kepala suku. Dan saya mengetahui keinginan anggota suku saya. Di akhir 1980an PBB mengidentifikasi orang-orang Saharawi yang ada di kawasan itu. Hasilnya: 86 ribu orang Saharawi memilki hak memilih dalam referendum. 43 ribu tinggal di Maroko (Sahara Barat). Sebanyak 30 ribu tinggal di Tindouf dan sisanya berada di beberapa negara khususnya di Mauritania dan Spanyol. Dari 30 ribu orang Sahara di Tindouf, 10 ribu kembali ke Maroko.

Bagaimana dengan tuntutan LSM internasional agar tembok yang “memisahkan” Sahara dan Aljazair dirubuhkan?

Tembok itu dibangun di wilayah Maroko, dan lebih sebagai alat untuk melindungi diri. Ia adalah konsekuensi dari perang. Walaupun telah ada gencatan senjata, namun bukan berarti tentara Maroko tidak perlu menjaga kawasan perbatasan. Sebagai sebuah negara yang berdaulat, tentulah Maroko akan melakukan tindakan apapun untuk mempertahankan wilayah.

Bila ada yang menginginkan agar tembok itu diruntuhkan, saya menyarankan kepada mereka untuk mendesak agar penyebab yang membuat tembok itu berdirilah yang harus dihancurkan.

Tembok ini sama sekali tidak sama dengan tembok yang dibangun Israel mengelilingi pemukiman Palestina. Untuk kasus Sahara, hanya di sisi barat Maroko (yang berbatasan dengan Aljazair) yang dijaga dengan ketat. Sementara perbatasan di timur, utara dan selatan terbuka dengan bebas. Bahkan orang-orang Saharawi yang melarikan diri dari Tindouf menggunaan tembok itu.

Apa harapan Anda terhadap masyarakat Indonesia?

Saya berharap Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia tidak bisa dikelabui pihak manapun dalam kasus ini. Indonesia memiliki peradaban yang besar, memiliki semua potensi, politik, ekonomi, dan SDM untuk memahami dan mengambil keputusan yang objektif.

Secara fisik, Indonesia memang berada jauh dari Maroko. Tetapi secara psikologi dan mental, jarak kedua negara sebetulnya tidak jauh. Saya percaya Indonesia dapat objektif dan memiliki opininya sendiri. Bukan hanya dalam masalah ini, tetapi dalam masalah lain di dunia Islam. Lihatkan invasi yang dilakukan terhadap Irak. Walaupun dibungkus dengan berbagai alasan, kita akhirnya tahu bahwa alasan itu semuanya palsu untuk membodohi kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s