Menanti Siapa yang Dapat Menghentikan Semua Kegilaan Ini

SULIT untuk mengetahui perkembangan terakhir pemilihan umum di negara bagian Chuuk, Federasi Mikronesia.

Tak mudah untuk memasuki kantor KPU Chuuk tempat penghitungan suara dilakukan. Tidak ada pernyataan resmi dari pihak KPU Chuuk. Tidak ada informasi yang dapat diandalkan. Semua serba tertutup. Kotak suara dari 105 TPS yang ada di seantero Chuuk dibawa dalam keadaan terkunci ke kantor KPU, dan di tempat itulah penghitungan suara dilakukan untuk menghindarkan kecurigaan dan ketegangan di antara faksi-faksi politik.

Proses penghitungan suara dalam pemilihan gubernur dan anggota Kongres Chuuk berbeda dengan proses penghitungan suara dalam pemilihan anggota Kongres Nasional. Dalam pemilihan anggota Kongres Nasional penghitungan suara dilakukan di TPS. Hasilnya dikirimkan petugas TPS lewat radio disusul oleh dokumen berita acara penghitungan suara yang dikirim lewat jalur laut.

Tak ada satu koran pun yang diterbitkan di Chuuk. Satu-satunya koran yang dapat ditemukan di Chuuk adalah Kaselehile Press yang terbit di negara bagian Pohnpei, ibukota Federasi Mikronesia. Koran itu pun terbit dua minggu sekali dan selalu tiba terlambat di Weno. Juga tidak ada stasiun televisi atau televisi kabel dari negara lain atau dari negara bagian lain di Federasi Mikronesia. Satu-satunya media massa adalah sebuah stasiun radio milik pemerintah berbahasa Chuuk.

Sampai Rabu malam (4/2) anggota pemantau pemilu Asia Pacific Democracy Partnership (APDP) hanya memperoleh informasi dari mulut ke mulut mengenai hasil sementara penghitungan suara. Informasi seperti ini tentu tidak bisa diandalkan.

Kabarnya lagi, tidak semua kotak suara datang tepat waktu. Beberapa kotak suara baru tiba Rabu (4/3), sehari setelah pemilihan berlangsung.

Dari pengamatan di sejumlah TPS, surat suara untuk pemilihan gubernur dan anggota Kongres Chuuk dijadikan satu, berupa dua lembar kertas ukuran folio. Pemilih mencontreng satu nama kandidat gubernur, satu nama kandidat Senator dan satu nama anggota DPR, lalu melipat kertas suara itu dan memasukkannya ke dalam kotak berwarna abu-abu.

Tidak ada aturan pasti mengenai cara melipat surat suara. Setiap pemilih bisa dengan sesuka hati melipat kertas suara yang telah dicontreng. Ada yang merasa cukup dengan lipat dua, ada yang merasa harus melipatnya hingga sekecil mungkin.

***

Hasil pemilihan gubernur Chuuk menjadi fokus perhatian utama. Siapa yang akan menjadi gubernur Chuuk berikutnya? Siapa orang yang mampu menghentikan semua kegilaan yang terjadi di Chuuk selama ini?

Sampai tadi malam tidak ada informasi akurat mengenai hal ini.

Di restoran Hotel Truk Stop seorang wanita yang punya hubungan keluarga dengan salah seorang kandidat gubernur, Redley Killion, bertanya pada seorang pejabat pemerintah Chuuk. Menurut si pejabat, untuk sementara Killion berada di tempat terakhir. Dia berkali-kali menekankan bahwa penghitungan suara belum selesai.

Redley Killion adalah mantan wakil presiden Federasi Mikronesia tahun 1999 sampai 2007. Alumni jurusan ekonomi University of Hawaii at Manoa (UHM) ini sebelumnya adalah anggota Kongres at large dari tahun 1987.

Masih untuk sementara pula sang incumbent, Wesley W. Simina, berada di tempat pertama dibayang-bayangi oleh sang underdog Gillian Doone.

Simina menjabat sebagai gubernur empat tahun lalu. Seperti Killion, Simina juga alumni UHM dari fakultas hukum dan sebelum menjadi gubernur bekerja sebagai pengacara. Seorang mahasiswa mengatakan dia dan teman-temannya empat tahun lalu mendukung Simina.

Mereka menganggap sebagai seorang pengacara yang paham hukum Simina dapat diandalkan untuk membenahi korupsi yang merajalela hingga ke lembaga penegak hukum. Tapi belakangan, kata si mahasiswa ini, dia dan teman-temannya kecewa. Kegilaan politik telah mengubah segalanya. Simina larut dan hanya dalam waktu singkat Simina yang diharap bisa menjadi solusi menjelma menjadi bagian dari persoalan.

Setelah makan siang saya bertanya kepada seorang petugas restoran. Dia mengulangi keterangan yang telah saya “curi-dengar” sebelumnya bahwa Simina dan Doone sedang head to head. Tapi beda tipis, dan masih menunggu kotak suara dari pulau-pulau lain, selain KPU Chuuk sedang melakukan penghitungan suara pemilih absensia.

Tak lama kemudian saya berpapasan dengan pejabat pemerintah yang tadi membicarakan hasil sementara penghitungan suara dengan salah seorang kerabat kandidat.

“Bagaimana perkembangan terakhir, Sir?” tanya saya.

Gillian berada di posisi puncak, jawabnya. Beda tipis dengan Simina, sambungnya, sambil menambahkan bahwa petugas penghitung suara kini sedang istirahat.

“Kalau tidak malam ini, maka besok akan selesai,” katanya lagi.

Dia juga mengatakan bahwa proses penghitungan suara untuk kandidat anggot Kongres Nasional berjalan lancar tanpa masalah. Dan hampir dipastikan semua incumbent menang.

Malam hari saya mendengar informasi lain lagi. Doone kini berada di tempat ketiga. Surat suara dari pulau-pulau lain terutama di luar Chuuk Lagoon yang berdatangan sepanjang siang kemarin menambah jumlah perolehan suara Killion.

Seorang teman pemantau pemilu mengatakan dirinya memperoleh informasi dari sumber yang tidak dapat disebut kredibel yang menyebutkan bahwa proses pemungutan suara akan diulang.

Entahlah. Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s