Ketika Politik jadi Bisnis Keluarga

760px-flag_of_federated_states_of_micronesiasvgDISAIN Kongres Federasi Mikronesia terbilang unik.

Kongres terdiri dari empat “anggota at large” mewakili masing-masing negara bagian yang dipilih setiap empat tahun sekali, dan sepuluh anggota yang dipilih setiap dua tahun sekali berdasarkan sistem proporsional. Walau tampak seperti memiliki dua kamar, Senat dan DPR, namun Kongres Federasi Mikronesia bersifat unikameral.

Presiden dan wakil presiden Federasi Mikronesia dipilih anggota Kongres dari empat “anggota at large” dengan suara terbanyak. Dengan demikian presiden dan wakil presiden berasal dari dua negara bagian yang berbeda.

Dari sepuluh anggota Kongres, lima kursi dimiliki Chuuk sebagai negara bagian dengan jumlah penduduk terbanyak (hampir 50 persen), diikuti Pohnpei (tiga kursi), Yap (dua kursi) dan Kosrae (satu kursi).

coat_of_arms_of_the_federated_states_of_micronesiaHari ini (3/3) pemerintah Federasi Mikronesia menggelar pemilihan umum sela untuk memilih sepuluh anggota Kongres. Pemilihan digelar serentak di empat negara bagian, Kosrae, Pohnpei, Chuuk, dan Yap.

Khusus untuk negara bagian Chuuk, pemilihan umum hari ini bersifat istimewa karena digelar bersamaan dengan pemilihan anggota kongres negara bagian (state), juga pasangan gubernur dan wakil gubernur Chuuk.

Tidak seperti Kongres Federasi Mikronesia, Kongres Chuuk memiliki dua kamar, sepuluh Senator yang mewakili lima Senatorial Region dan 28 anggota DPR yang dipilih berdasarkan sistem proporsional berdasarkan jumlah penduduk di setiap Representative District.

Tak ada partai politik formal di seluruh Federasi Mikronesia, termasuk di Chuuk. Masyarakat masih percaya pada kekuatan hubungan keluarga, klan dan desa asal keturunan. Politik di seluruh Mikronesia, dan terutama sekali di Chuuk, dijadikan urusan keluarga atau family business. Tingkat keikutsertaan rakyat pada pemilu pun terbilang tinggi, 80 persen.

Juga, dan ini yang paling mengagetkan, tidak ada media massa di Chuuk ini. Tidak ada koran, tidak ada televisi sama sekali. Koran atau lebih tepat di sebut newsletter Hiu Chuuk yang hanya memiliki sirkulasi terbatas berhenti beroperasi tiga tahun lalu. Jaringan televisi kabel malah sudah berhenti sejak beberapa tahun sebelumnya. Satu-satunya koran yang saya lihat berasal dari Phonpei, itu pun koran dua mingguan. Hanya ada satu radio pemerintah, yang menurut mahasiswa yang selalu menemani saya keliling kota, radio paling membosankan yang dia tahu. Isinya melulu propaganda pemerintah.

Sulit membayangkan demokrasi tanpa media massa, bukan?

Pemantau pemilihan umum dari Asia Pacific Democracy Partnership (APDP) akan diturunkan ke sejumlah distrik pemilihan yang terpencar di banyak pulau yang berada di dalam Chuuk Lagoon.

Saya dan dua rekan pemantau akan mengunjungi pemilihan di Pulau Polle yang berada paling barat di dalam Chuuk Lagoon.

Boat kami akan berangkat beberapa saat lagi, jadi tulisan singkat ini saya cukupkan sampai disini. Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s